Chapter 2. Gairah yang mulai bangkit.
Dunia seakan berhenti sejenak. Aku menatap mereka bergantian, berharap ini hanya semacam lelucon pahit. Tapi tak ada tawa, tak ada penyangkalan. Hanya keheningan yang menggantung berat.
“Menikah?” suaraku nyaris tak keluar. “Dengan siapa?”
“Namanya Marwan,” kata Ayah akhirnya. “Anak kenalan Ayah dulu waktu mondok. Sekarang dia kerja di Kementerian Agama. Orangnya baik, mapan. Dan… keluarganya bersedia membantu kita keluar dari masalah ini.”
Aku ingin marah. Ingin berteriak. Tapi suaraku tertelan oleh rasa sesak yang menumpuk di dada.14757Please respect copyright.PENANAs9YK1I9Uo6
“Yah, Bu… aku belum kenal dia. Aku bahkan belum pernah lihat wajahnya.”
Ibu memelukku pelan, suaranya lirih seperti angin yang kehilangan arah.14757Please respect copyright.PENANA0Wdiq680m4
“Kami tahu, Nak. Tapi kadang hidup nggak selalu memberi waktu buat memilih. Kamu bisa belajar mengenalnya nanti… yang penting, keluarga kita bisa selamat.”
Air mataku jatuh tanpa sempat kutahan. Malam itu aku menangis dalam diam, menatap langit-langit kamar masa kecilku. Di luar sana, suara azan Isya bergema, seolah mengingatkanku bahwa di balik semua yang terasa tak adil, mungkin ada rencana Tuhan yang lebih luas dari sekadar rasa takutku malam itu.
14757Please respect copyright.PENANAMi4PxgRjDs
Malam itu aku menangis bukan hanya karena harus menerima kenyataan yang datang tiba-tiba, tapi karena ada seseorang di Bandung yang menunggu pesan dariku — seseorang yang mencintaiku dengan tulus.
Bimo.
14757Please respect copyright.PENANAj9NRmxFcFN
Nama itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa sesak. Lelaki sederhana yang kutemui di minimarket tempatku bekerja. Ia staf bagian administrasi, yang setiap pagi selalu menyapa dengan senyum yang membuat hari-hariku lebih ringan. Dari caranya berbicara, dari perhatiannya yang kecil tapi tulus — aku tahu, dia benar-benar menyayangiku.
14757Please respect copyright.PENANAzRZuAsjwF5
Hubungan kami tak pernah berlebihan. Kami pacaran yang wajar-wajar saja. Paling jalan bareng. Makan di rumah makan favorit. Nonton film. Tapi kami slaing mencintai.
14757Please respect copyright.PENANALBz02K4XDC
Dan kini, semua itu harus aku akhiri.
14757Please respect copyright.PENANAbVQ1qRfvDc
Aku menatap layar ponsel di tanganku malam itu, lama sekali. Jemariku gemetar di atas papan ketik. Berkali-kali kutulis pesan, lalu kuhapus lagi. Tak ada kata yang cukup untuk menjelaskan. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya bahwa aku harus menikah dengan pria lain demi menyelamatkan keluargaku? Bagaimana aku menjelaskan bahwa ini bukan karena aku berhenti mencintainya — tapi karena hidup memaksaku memilih antara cinta dan tanggung jawab?
14757Please respect copyright.PENANAktIlrvS1qf
Akhirnya kutulis pesan singkat.
14757Please respect copyright.PENANA90xMbCmpHK
“Bim… maaf, aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita. Aku harus nurut sama orang tuaku. Aku akan menikah. Aku harp kamu mengerti.”
14757Please respect copyright.PENANAe5vd2e789m
Pesan itu kukirim dengan tangan gemetar. Detik berikutnya terasa seperti menghantam dadaku sendiri. Tak lama kemudian, ponselku bergetar — namanya muncul di layar. Tapi aku tak sanggup mengangkat. Suaranya… aku tahu, jika kudengar suaranya, aku tak akan kuat menolak.
14757Please respect copyright.PENANAMEEoX02fUb
Air mataku mengalir lagi. Dalam hati aku berkata, maaf, Bimo. Mungkin cinta yang baik bukan selalu tentang bersama. Kadang cinta harus pergi agar sesuatu yang lebih besar bisa diselamatkan.
14757Please respect copyright.PENANAmiclCUEdZV
Keesokan harinya, aku mematikan nomor lamaku. Semua yang berhubungan dengan Bandung seolah terputus. Dari kejauhan, kuharap Bimo mengerti, walau aku tak sempat menjelaskan semuanya.
14757Please respect copyright.PENANA8ADsk6MTxa
Beberapa minggu kemudian, Marwan resmi menikahiku dalam sebuah Akad Nikah di rumah kami. Aku duduk di samping Ibu, tangan dingin, wajah menunduk. Dalam diam, aku berjanji pada diriku sendiri — jika memang ini jalan yang harus kujalani, maka aku akan belajar mencintai dengan cara yang baru. Bukan cinta yang lahir dari debar, tapi dari kesabaran dan doa.
14757Please respect copyright.PENANAtQNb5hYhOl
Keluarga Marwan bukanlah keluarga kaya raya. Meski begitu mereka punya tabungan lumayan untuk bisa bantu ayah membayar uang calon jemaah umroh yang dibawa kabur rekan bisnisnya dalam usaha travel itu. Jadi kami memulai hidup berumahtangga dengan sederhana. Berkat koneksi Marwan di kantornya aku bisa mendapatkan pekerjaan sebagai Ustadzah di PAUD. Padahal aku tidak punya latar belakang pendidikan yang relevan untuk jadi pengajar anak-anak PAUD. Meski begitu aku bisa menjalankan pekerjaanku itu. Aku sangat bersyukur bisa menjadi ustadzah yang mengajar anak-anak yang masih polos.
14757Please respect copyright.PENANAIXg7obQ4xh
***
14757Please respect copyright.PENANAWFph5qUckE
Marwan bukanlah pria tampan seperti tokoh-tokoh drama Korea yang dulu sering kutonton saat kuliah. Tubuhnya biasa saja, bahkan sedikit lebih pendek dibanding rata-rata tinggi pria Indonesia. Tingginya pun hampir sama denganku. Seratus enampuluhan centi meter. Wajahnya tenang, tidak banyak bicara, dan jarang menunjukkan emosi berlebihan. Kalau berbicara, nadanya selalu pelan dan hati-hati — seolah setiap kata sudah dipertimbangkan lebih dulu sebelum keluar dari mulutnya.
14757Please respect copyright.PENANA8rkWgVJPen
Awalnya, aku canggung hidup dengannya. Kami seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi atap. Tidak ada romansa besar atau percakapan panjang seperti di film. Tapi hari demi hari, sedikit demi sedikit, ada hal-hal kecil darinya yang membuatku belajar untuk mencintainya.
14757Please respect copyright.PENANAIzBaoy9ztg
Waktu terus berjalan, seperti air sungai yang mengalir tanpa henti. Tanpa terasa, tahun-tahun pun berganti. Perlahan-lahan, pemahamanku tentang cinta mulai berubah. Cinta yang dulu kubayangkan di masa muda, yang penuh dengan debaran jantung dan kejutan-kejutan manis ala film, ternyata berbeda sama sekali dengan kenyataannya.
14757Please respect copyright.PENANA3msH4QWrkE
Cinta yang kubangun bersama Marwan tidak tumbuh dari hal-hal seperti itu. Ia justru hadir dalam keseharian yang paling sederhana. Rasa aman yang kurasakan setiap kali aku tidur di sampingnya. Kepastian bahwa ada seseorang yang selalu setia pulang ke rumah kami setiap hari. Cara dia dengan lembut mengingatkanku untuk tidak lupa sholat ketika aku sibuk dengan pekerjaan. Atau, tanpa diminta, dia mengambil alih mengganti popok Aisya di tengah malam hanya karena melihat mataku yang sudah sembap dan merah karena kelelahan. Cinta kami terbuat dari bahan-bahan yang nyata, kokoh, dan bisa dipegang, bukan dari angan-angan atau bayangan.
14757Please respect copyright.PENANACmp0eUyknq
Marwan adalah suami yang baik. Dia penyayang, bertanggung jawab, dan menjadi teman hidup yang aku andalkan. Tapi, seperti semua manusia, dia tidaklah sempurna. Dan ketidaksempurnaannya itu, seiring waktu, justru mendarat di area yang semakin lama semakin penting bagiku.
14757Please respect copyright.PENANAlO2vUSPGHh
Di awal pernikahan, aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, "Toh, ini adalah bagian dari kewajiban istri. Yang penting suami puas, aku harus ikhlas." Dalam pikiranku dulu, seorang wanita tidak pantas untuk mengejar kenikmatannya sendiri dalam hubungan intim. Tugasnya adalah melayani dan membahagiakan suami.
14757Please respect copyright.PENANAAMHx2MqKEx
Namun, pandanganku itu perlahan mulai berubah seiring waktu. Perubahan itu muncul beberaoa tahun terakhir terutama terasa setelah aku melahirkan Aisya. Seolah-olah ada saklar dalam diriku yang tiba-tiba dinyalakan. Aku merasa gairah dan hasratku yang dulu tidak begitu aku hiraukan dan bisa aku kendalikan kini malah makin meningkat. Aku mulai menginginkan lebih dari sekadar melayani suami.
14757Please respect copyright.PENANACYRoXQAFBi
Ini terjadi saat aku mulai merasakan bahwa berhubungan intiim itu enak juga dan aku mulai menikmati tapi hanya sebagai baru mulai menikmati sudah selesai. Semua berhenti sebelum kenikmatan yang sesungguhnya itu datang.
14757Please respect copyright.PENANAW2u934kEY2
Aku mulai menyadari kebutuhan untuk mendapatkan kenikmatan itu akhir-akhir ini. Tapi sayangnya Marwan tidak mampu memenuhinya. Gairahku yang mulai berkobar tidak diimbangi oleh kemampuannya. Dia selalu cepat selesai, seringkali di saat aku baru saja mulai menikmati dan ingin merasakan lebih lama.
14757Please respect copyright.PENANA3mD7IQoiyO
Marwan yang kini berusia empat puluh empat tahun—hampir sepuluh tahun lebih tua dariku—terlihat tidak mampu atau mungkin tidak menyadari kebutuhan baruku ini. Aku sering bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini karena perbedaan usia kami? Atau jangan-jangan, ini memang sudah sifat dasarnya yang memang kalem, tidak banyak bicara, dan kurang ekspresif dalam hal-hal seperti ini? Aku tidak pernah berani menanyakannya langsung.
14757Please respect copyright.PENANAf5pNQYaPiD
Setiap kali rasa frustrasi dan kekecewaan ini menggelembung dalam dadaku, datanglah perasaan bersalah yang menghantam. Aku melihatnya tidur dengan tenang di sampingku, wajahnya polos dan lelah setelah seharian bekerja. Atau aku ingat betapa sabarnya dia mengajari Aisya, putri kecil kami, mengucapkan "Bismillah" sebelum makan. Dia adalah ayah yang hebat dan suami yang setia. Bagaimana mungkin aku bisa mengeluh tentang sesuatu yang dianggap tabu ini, sementara dia telah memberiku kehidupan rumah tangga yang harmonis dan anak yang sehat?
14757Please respect copyright.PENANA2cp0aaKXzN
Jadi, seperti yang sudah-sudah, aku memilih untuk menelan dalam-dalam semua gejolak dalam hatiku. Di malam-malam yang sunyi, ketika rasa ingin itu datang, aku hanya memeluk bantal lebih erat, memejamkan mataku kuat-kuat, dan berusaha keras untuk mengalihkan pikiran.
14757Please respect copyright.PENANAMwzk9SGiU3
Aku mencoba mensyukuri semua berkah nyata yang ada di sekelilingku: keluarga yang utuh, suami yang baik, dan anak yang lucu. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari banyak hal, dan bahwa urusan ranjang bukanlah segalanya. Tapi, meski begitu, kadang masih ada bisikan kecil di hatiku yang bertanya, apakah mungkin memiliki semuanya—rasa aman dan gairah yang seimbang? Pertanyaan itu, untuk saat ini, hanya kubiarkan menggantung di udara, tanpa jawaban.
14757Please respect copyright.PENANA9KWYO3ReMr
14757Please respect copyright.PENANA54epQyMfjQ
Aku mencoba melupakan masalah soal ranjang itu dengan fokus pada rutinitas mengasuh Aisya dan mengajar di PAUD. Kusediakan senyum untuk anak-anak didikku dan pelukan hangat untuk bayiku. Untuk Marwan, kusediakan ketaatan dan perhatian seorang istri.
Aku tahu Marwan mencintaiku. Ia membuktikannya dalam setiap helaan nafasnya. Tapi cintanya seperti samudra yang tenang, tanpa ombak dan badai, tanpa gairah yang mengguncang. Kehidupan ranjang kami berjalan makin monoton dan... hambar.
***
14757Please respect copyright.PENANA5dYnNrInyp
Suatu malam saat melayani suami aku sudah mulai merasa enak. Aku selalu berharap ini akan berlanjut. Tapi seperti yang sudah-sudah Marwan telah selesai sebelum aku bisa merasakan lebih. Dia dengan cepat menumpahkan cairannya di dalam kemaluanku. Kali ini aku merasa perlu untuk mengungkapkan perasaanku kepada suamiku.
14757Please respect copyright.PENANA4Y9qFWube6
Dengan suara berbisik yang kuselipkan dengan nada manja, agar ia tidak tersinggung, kucoba membuka percakapan yang selama ini aku pendam dalam hati..
14757Please respect copyright.PENANA8SddjSvyh0
"Ih, Papah," keluhku, memainkan jari di dadanya yang masih berkeringat. "Kenapa gak ditahan-tahan dikit? Mamah baru mau nikmatin, eh Papah udah keluar aja."
14757Please respect copyright.PENANAFNXbyAK3QV
Marwan menatapku, matanya membelalak sedikit terkejut. "Tumben Mamah ngomong kayak gini," sahutnya, suaranya terdengar agak serak.
14757Please respect copyright.PENANACztMOaxDRQ
"Udah lama sih Mamah pengen ngomong," aku melanjutkan, memberanikan diri. "Mamah pengen banget... pengen sekali rasanya Papah bisa nahan sedikit saja, sampai Mamah juga merasakan enaknya."
14757Please respect copyright.PENANAxE9LDYLBL0
Wajah Marwan berubah. Kekagetan yang tadi tampak, kini berubah menjadi semacam kebingungan yang dicampur dengan sedikit sikap defensif. "Habis mau gimana lagi? Mamah tuh... enak banget. Papah jadi gak bisa tahan. Namanya juga laki-laki, kalau udah enak ya langsung keluar."
14757Please respect copyright.PENANARHWdZHszeZ
Aku mendekatkan wajahku, memelototinya dengan dramatis namun masih dalam bingkai bercanda. "Masak sih? Kalau beneran enak, harusnya kan malah dinikmati pelan-pelan, Papah. Bukan main keluar gitu aja, gak nunggu Mamah ikutan merasakan."
14757Please respect copyright.PENANAv0NHTzdiz6
"Ya Papah udah berusaha nahan, tapi kalau udah di titik itu, susah ditahan lagi," bantahnya, dengan senyum kecut yang tak mampu menyembunyikan perasaan tidak nyamannya.
14757Please respect copyright.PENANAtUn4eAy1h0
"Aduh, Papah ini... egois banget sih!" godaku sambil mendorong pundaknya pelan, berusaha menjaga suasana agar tetap ringan. "Coba deh dipikir, kan enaknya kalau berdua. Ditahan dikit aja sampe Mamah enak juga, nanti pasti lebih puas berdua."
14757Please respect copyright.PENANAT0sIAogaLp
"Ngomong sih gampang, Mah. Tapi kenyataannya emang susah. Kalau udah enak ya keluar, wajar kok."
14757Please respect copyright.PENANAU0zCifkXXt
"Tapi gak cepet-cepet amat kayak Papah sih," balasku, masih dengan nada menggoda, meski hatiku sudah mulai merasa sedikit kecewa dengan responsnya.
14757Please respect copyright.PENANAdVBfHY9bqf
Dialog itu pun berakhir tanpa penyelesaian. Marwan memelukku erat, mencium keningku, dan tak lama kemudian terdengar napasnya yang teratur menandakan ia telah tertidur. Aku terbaring di sampingnya, mata menatap langit-langit kamar yang gelap. Percakapan tadi mungkin gagal mencapai tujuannya, tetapi setidaknya aku telah membuka pintu itu. Sebuah pintu yang selama ini tertutup rapat, dan aku bertekad untuk tidak membiarkannya tertutup lagi.
14757Please respect copyright.PENANA2HVPOl6msY
Aku berbalik memandangi bayangan wajah Marwan yang tenang dalam cahaya remang-remang. Ini bukan tentang siapa yang salah atau siapa yang benar. Ini tentang dua orang yang belajar mencintai dengan cara yang berbeda, dan sekarang, saatnya bagi kami untuk menemukan bahasa cinta yang sama—bahasa yang memadukan kewajiban dengan gairah, kesetiaan dengan petualangan, dan keamanan dengan kejutan. Perjalanan kami belum berakhir; ini mungkin adalah babak baru yang justru akan membawa kami pada tingkat keintiman yang selama ini kurindukan.
14757Please respect copyright.PENANAOmfkbxz4Z1
Bersambung
ns216.73.216.253da2


