Chapter 1. Menikah karena perjodohan
17951Please respect copyright.PENANAS47vIZl455
Suara azan Subuh terdengar sayup-sayup menembus dinding kamarku, tapi mataku sudah lebih dulu terbuka. Entah mengapa, tubuh ini seperti sudah menghafal iramanya — bangun pelan, melangkah menuju tempat wudu, lalu bersujud dalam heningnya sepertiga malam.17951Please respect copyright.PENANAP2VsOilDjK
Air wudu yang dingin menyentuh kulit, membangunkan seluruh kesadaran. Rasa kantuk tersapu bersih bersama doa-doa yang meluncur lirih dari bibir, seperti bisikan yang hanya ingin kudengar sendiri.
Usai salam terakhir, aroma lembut sabun bayi menyelinap dari kamar sebelah. Aisya. Bayiku yang baru berusia satu setengah tahun itu masih terlelap, dengan kedua tangan terangkat di atas kepala — seolah sedang berdoa dalam mimpi. Aku tersenyum kecil, lalu membetulkan selimut yang hampir tersingkap. Napasnya teratur, damai sekali.
Kadang aku masih sulit percaya, bahwa di usiaku yang sudah tiga puluh lima tahun, aku akhirnya memeluk peran ini — menjadi seorang ibu. Ada masa ketika harapan itu terasa begitu jauh. Sejak menikah di usia dua puluh tujuh, tahun demi tahun berlalu tanpa tanda-tanda kehamilan. Doa yang kupanjatkan selalu sama, tapi waktu seakan tak berpihak. Hingga akhirnya, doa itu dijawab dengan tangisan kecil yang kini menjadi pusat semestaku.
Dari arah depan rumah, samar-samar kudengar suara langkah kaki yang kukenal betul. Irama yang tak asing. Karena itu adalah Marwan suamiku yang baru pulang dari masjid. Dia memang rajin sholat subuh di Masjid
“Assalamu’alaikum,” suara berat Marwan memecah kesunyian Subuh yang baru beranjak terang.
“Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menoleh, tersenyum kecil. “Tumben cepat pulang? Biasanya papah itu nongkrong dulu di serambi masjid, bahas politik.”
Dia tertawa, menurunkan pecinya dan meletakkannya di atas meja makan yang masih berantakan dengan piring-piring semalam. Aroma sabun bayi bercampur dengan wangi masakan sederhana dari dapur. Cahaya pagi menembus tirai, memantulkan sinar lembut di wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis lelah.
“Kangen sarapan buatan istri salehah,” katanya ringan, tapi matanya menatapku penuh makna.
Aku tergelak pelan, mengaduk telur di wajan. “Hahaha… pagi-pagi udah mulai ngegombal, ya.”
“Ngegombal buat istri sendiri kan pahala,” balasnya cepat, menatapku dengan senyum yang masih sama seperti dulu — senyum yang dulu menenangkan saat kami sama-sama menunggu kabar yang tak kunjung datang.
“Pahala besar ya, kalau gombalnya sambil bantu nyapu,” godaku, pura-pura serius.
Dia tertawa lepas, lalu berjalan ke arah jendela. Dari sana, ia menatap halaman kecil di depan rumah kami — pohon mangga yang ditanamnya tiga tahun lalu mulai berbuah. Ia selalu bilang, pohon itu ditanam sebagai pengingat doa yang tumbuh lambat tapi pasti, seperti harapan kami dulu.
17951Please respect copyright.PENANAZLutYHDklr
Kami duduk berdua menikmati sarapan sederhana — nasi hangat, telur dadar, sambal kecap, dan teh manis. Sementara itu, suara Aisya mulai terdengar dari kamar. Tangisannya lembut, seperti panggilan kecil yang penuh rindu.
“Aisya sudah bangun, ya. Giliran papah deh,” kataku sambil tersenyum menggoda.
Marwan berdiri sambil terkekeh. “Siap, tugas ganti popok dulu sebelum berangkat kerja.”
Aku mengintip dari dapur, melihat betapa hati-hatinya Marwan mengangkat putri kecil kami. Pemandangan sederhana itu membuat dadaku hangat. Hidup kami mungkin tak berlimpah harta, tapi rasanya cukup — bahkan lebih dari cukup.
Setelah semua beres, aku mengenakan jilbab panjang berwarna lembut. Di meja, ada tumpukan buku pelajaran anak-anak di PAUD Al-Firdaus yang menantiku. Hari ini mereka akan belajar huruf hijaiyah — ba, ta, tsa.
Aku tak sabar melihat wajah-wajah polos itu mencoba melafalkannya dengan semangat dan tawa kecil yang menular.
Seperti biasa, setelah sarapan dan membereskan rumah seadanya, kami bersiap untuk berangkat. Dua motor sudah terparkir di halaman — satu milik Marwan, satu lagi milikku. Kami belum mampu membeli mobil. Maklum, aku hanya seorang ustadzah di PAUD Al-Firdaus, dan Marwan bekerja sebagai PNS biasa di Kementerian Agama. Penghasilan kami tidak besar, tapi cukuplah untuk hidup sederhana dan bersyukur setiap harinya.
Aisya sudah kugendong dengan alat gendong bayi yang praktis di bahu. Anak itu tampak anteng, memainkan ujung jilbabku sambil bergumam pelan. Wangi bedaknya berpadu dengan udara pagi yang masih segar.
Marwan memeriksa alat gendong bayi agar aman bagi Aisya. Kami melaju beriringan di jalan yang belum begitu ramai. Angin pagi terasa sejuk di wajah, suasana seperti ini selalu membuatku tenang.
Tak lama kemudian, kami tiba di persimpangan kecil — jalan di mana kami biasanya berpisah setiap pagi. Marwan belok ke arah pusat kota menuju kantornya, sementara aku mengambil jalan ke arah selatan menuju rumah mertua. Letaknya tidak jauh dari PAUD tempatku mengajar.
Begitulah rutinitas kami. Karena aku hanya mengajar sampai pukul sebelas, biasanya menjelang zuhur aku sudah bisa pulang. Jadi, setelah jam mengajar selesai, aku akan menjemput Aisya di rumah mertua sebelum kembali ke rumah. Itu sebabnya kami selalu berangkat dengan dua motor — supaya masing-masing bisa menyesuaikan waktu pulang sendiri.
Sebelum berpisah, Marwan sempat menoleh sebentar, memperlambat laju motornya.17951Please respect copyright.PENANASTmTZegtKY
“Mah,” katanya, suaranya agak meninggi karena deru mesin. “Nanti aku pulang agak telat, ya. Ada lembur mendadak, katanya mau ada kunjungan dari kantor wilayah.”
Aku menatapnya sekilas sambil tetap memegang kendali motor. “Iya, insyaAllah. Hati-hati di kantor.”
Dia mengangguk, lalu melaju perlahan ke arah jalan besar. Aku terus ke arah sebaliknya, dengan Aisya yang kini tertidur di gendongan, kepalanya bersandar di dadaku.
Di antara suara motor dan desir angin, hatiku terasa hangat. Hidup kami memang sederhana, tapi rasanya penuh — setiap pagi seperti ini selalu jadi pengingat, bahwa kebahagiaan kadang sesederhana punya seseorang yang peduli dan mengucap “hati-hati di jalan.”
Perjalananku ke rumah mertua hanya butuh sekitar lima menit. Jalan yang kulewati masih basah oleh embun membuat pagi terasa begitu damai.
Rumah mertua tampak tenang di ujung jalan — rumah bercat krem dengan halaman kecil yang ditanami bunga kertas. Ibu mertua sudah duduk di teras, seperti sudah hafal rutinitas kami setiap pagi.
“Assalamu’alaikum, Bu,” sapaku sambil menurunkan Aisya dari gendongan.17951Please respect copyright.PENANAX9OzM9qhQy
“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawabnya dengan senyum hangat. “Wah, cucu nenek sudah wangi pagi-pagi, ya?”
Aisya terkekeh kecil saat dipeluk neneknya, tangannya yang mungil memegang dagu sang nenek dengan antusias. Aku menyerahkan tas kecil berisi perlengkapan Aisya — botol susu, popok, dan selimut tipis.
“Ibu nggak usah repot-repot, ya,” kataku pelan. “Aku cuma sampai jam sebelas, nanti sebelum zuhur aku jemput lagi.”17951Please respect copyright.PENANAUcm3KTLp9n
“Iya, Nak, tenang saja,” jawab ibu mertua sambil menimang Aisya. “Kamu fokus saja di PAUD. Biar Aisya sama nenek dulu.”
Aku mengangguk, mencium kening anakku sebelum berpamitan.17951Please respect copyright.PENANAJZVJndGBZs
“Assalamu’alaikum, Sayang. Nanti Ummi jemput lagi, ya,” bisikku.17951Please respect copyright.PENANAuhI3g6tOxh
Aisya hanya menggeliat kecil, lalu tersenyum samar.
Motor kunyalakan perlahan. Dari kaca spion, kulihat ibu mertua masih berdiri di teras, menggoyang-goyangkan Aisya dengan lembut. Pemandangan itu selalu membuatku merasa tenang setiap kali meninggalkan rumahnya.
***
Perjalanan ke PAUD tidak jauh — hanya sekitar sepuluh menit. Bangunan kecil bercat hijau muda itu sudah terlihat dari kejauhan. Di depannya, beberapa anak sudah berdiri di pagar bersama orang tua mereka. Suara tawa kecil mereka menyambut pagiku dengan semangat baru.
Aku memarkir motor di samping ruang guru, lalu masuk sambil memberi salam.17951Please respect copyright.PENANAAfq4uY3TzM
“Assalamu’alaikum, anak-anak!”
“Wa’alaikumussalam, Ustadzah Nayla!” jawab mereka serempak, suaranya nyaring dan penuh keceriaan.
Aku tersenyum. Suasana seperti ini selalu membuat lelah di rumah atau urusan lain seolah menguap begitu saja.17951Please respect copyright.PENANABlmqEfwHCp
Hari ini, kami akan belajar huruf hijaiyah — ba, ta, dan tsa. Aku menuliskannya di papan tulis dengan kapur putih, sementara anak-anak menirukan dengan mulut mungil mereka, sebagian masih terbalik antara huruf dan bunyi.
“Siapa yang bisa baca ini?” tanyaku sambil menunjuk huruf ba.17951Please respect copyright.PENANAW4YNq9qatE
Seorang anak laki-laki kecil mengangkat tangan dengan semangat. “Itu huruf... pa, Ustadzah?”17951Please respect copyright.PENANASBXpV3Dy8A
Aku terkekeh kecil. “Hampir benar, Sayang. Tapi bukan pa, ya, itu ba.”17951Please respect copyright.PENANAYdjX51NsKr
Anak-anak pun tertawa bersama.
Kelas kecil itu mungkin hanya ruangan sederhana dengan kipas tua di langit-langit dan meja kayu yang mulai kusam, tapi di dalamnya, aku selalu merasa damai.17951Please respect copyright.PENANAfl4MsNb7lD
Entah kenapa, setiap kali mendengar tawa anak-anak itu, rasa penat dan kekhawatiran tentang hidup terasa ringan.
***
Kadang, hidup berbelok arah justru di saat kita sama sekali tidak siap.17951Please respect copyright.PENANAbeeng8LBV3
Aku masih ingat jelas delapan tahun lalu — di usia dua puluh tujuh tahun — ketika semuanya berubah hanya dalam satu keputusan yang bahkan bukan keluar dari mulutku sendiri.
Saat itu, aku tak pernah membayangkan akan menjadi seorang ustadzah, apalagi istri dari lelaki yang hampir sepuluh tahun lebih tua dariku. Tapi begitulah takdir. Ia datang tanpa aba-aba, tanpa memberi waktu untuk menolak, berjalan lewat jalan yang bahkan tak pernah sempat kita gambar di dalam kepala.
Pernikahanku dengan Marwan bukan kisah cinta yang bersemi di taman kampus, bukan juga kisah dua hati yang saling menunggu di bawah hujan. Tidak romantis, tidak seperti cerita-cerita yang dulu kubaca diam-diam sebelum tidur.17951Please respect copyright.PENANAqUy20NQfLj
Pernikahan itu lahir dari perjodohan. Sebuah keputusan yang muncul di tengah badai — badai yang hampir menenggelamkan keluargaku.
Waktu itu, hidupku sederhana dan datar. Aku bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket di Bandung. Gajiku tak besar, tapi cukup untuk sekadar menyambung hidup dan mengirim sedikit uang ke rumah di Jakarta. Setelah lulus dari D3 Akuntansi di Bekasi, aku tak punya banyak pilihan. Kondisi ekonomi negara yang masih belum stabil membuat peluang mendapat kerja sulit. Tapi syukurlah aku bisa dapatkan pekerjaan meski hanya sebagai karyawan minimarket.
Hari-hariku nyaris selalu sama: bangun pagi, mengejar angkot, menyapa pelanggan dengan senyum yang kadang dipaksakan. Hidupku berjalan seperti garis lurus, tenang tapi tanpa arah. Sampai suatu sore, telepon dari Ibu datang dan mengubah segalanya.
“Nayla…” suara Ibu di seberang sana bergetar halus. “Kamu bisa pulang dulu, nggak, minggu ini?”
Nada suaranya membuat jantungku berdebar.17951Please respect copyright.PENANA2sw4g1oRCV
“Ada apa, Bu? Ayah sakit?” tanyaku cepat.
“Enggak, bukan itu,” katanya, buru-buru menenangkan. “Ibu cuma… pengin kamu pulang. Ada yang harus kita bicarakan.”
Aku menatap layar komputer di depan kasir. Angka-angka yang barusan kuproses terasa tiba-tiba tak berarti.17951Please respect copyright.PENANALT6de7Rp7S
“Baik, Bu. Aku pulang besok,” jawabku akhirnya, meski dalam hati ada sesuatu yang mencubit: firasat tak enak yang entah dari mana datangnya.
Keesokan harinya aku tiba di rumah dengan koper kecil. Jakarta selalu terasa pengap, tapi hari itu ada hawa lain di udara — semacam kekosongan yang menempel di dinding rumah kami.17951Please respect copyright.PENANATw3gK3MvvR
Ayah duduk di ruang tamu dengan wajah letih. Di ujung meja, koran terlipat rapi tapi dari sudutnya aku sempat membaca sepotong judul berita: “Kasus Penipuan Travel Umroh, Ratusan Jemaah Gagal Berangkat.”
Dadaku menegang.
Ibu menyambutku di dapur, berusaha tersenyum seolah semuanya baik-baik saja. Tapi dari caranya memotong bawang dengan tangan bergetar, aku tahu sesuatu memang tidak baik-baik saja.
Setelah makan malam, suasana rumah mendadak sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak lambat. Ibu menatapku lama, lalu menggenggam tanganku.17951Please respect copyright.PENANASAJjS0mByM
“Nayla… maaf ya, Nak. Ada hal penting yang harus kami bicarakan.”
Aku menatapnya, mencoba membaca air mukanya. “Soal apa, Bu?”
Ayah menarik napas panjang, seperti seseorang yang hendak menenggelamkan dirinya dalam kejujuran yang menyakitkan.17951Please respect copyright.PENANAdI2UeYGzNv
“Ayah sedang kena masalah,” katanya akhirnya. “Usaha travel umroh yang baru Ayah rintis bermasah Nak... rekan bisnis Ayah dalam usaha travel ini melakukan penggelapan. Uang calon jemaah dibawa lari. Banyak orang yang seharusnya berangkat bulan depan sekarang menuntut uang mereka kembali.”
Kata-katanya jatuh satu per satu seperti batu ke dalam air. Suara di ruang tamu lenyap, hanya desiran napasku sendiri yang terdengar.
“Ayah cuma punya satu cara buat menyelamatkan ini semua,” lanjutnya lirih. “Kamu, Nak.”
Aku menatapnya tak mengerti. “Aku? Tapi kenapa aku?”
Ibu menatapku dengan mata merah yang dipenuhi air. “Ada rekan Ayah yang bersedia membantu. Tapi…” suaranya bergetar, “…dia punya satu syarat.”
“Syarat?”
Ibu menggenggam tanganku lebih erat. “Dia ingin anaknya menikah dengan kamu, Nayla.”
17951Please respect copyright.PENANAe8TsVhgiaw
Bersambung
ns216.73.216.253da2


