BAB 6:
1938Please respect copyright.PENANA37q8FgaMDM
POV SAKA
1938Please respect copyright.PENANA5XtNWoCzuo
Purnama malam itu menggantung di langit seperti sebuah mata raksasa yang tidak pernah berkedip, memandikan seluruh pulau dengan cahaya perak yang dingin dan agung.
Di atas atap-atap rumah kami, genting tanah liat yang biasanya kusam oleh debu dan lumut kering kini berkilau samar, seolah dilapisi serbuk kaca yang ditaburkan oleh tangan tak kasat mata dari kahyangan.
Angin malam tidak berhembus kencang, hanya bergerak perlahan menyusup di antara celah dedaunan pohon kamboja di sudut pekarangan, membawa aroma dupa yang telah terbakar habis dan menyisakan keheningan yang terasa begitu purba.
seakan waktu berhenti sejenak untuk membiarkan para dewa turun dan memberkati tanah yang lelap dalam buaian doa.
Malam itu adalah malam Purnama Kadasa, salah satu bulan purnama yang dianggap paling suci dalam kalender Bali.
Cahayanya terasa lebih terang dan energinya dipercaya lebih kuat dibandingkan purnama-purnama lainnya.
Sejak sore hari, kesibukan di rumah kami sudah terasa, namun kesibukan itu berjalan dalam ritme yang tenang, teratur, dan khidmat, jauh dari hiruk-pikuk pekerjaan duniawi biasanya.
Aku baru saja selesai mandi. Air sumur yang dingin membuat badanku terasa segar setelah seharian beraktivitas. Di dalam kamarku yang lampunya bersinar kuning hangat, aku mulai mengenakan pakaian adat untuk ke pura.
Aku membuka lemari kayu jati, mengambil kamen (kain sarung) berwarna putih bersih dengan tepi songket benang emas yang hanya kupakai di hari-hari raya besar.
Aku melilitkan kain itu di pinggangku, memastikan lipatannya rapi dan kencang, lalu mengikatnya dengan simpul yang kuat agar tidak melorot saat berjalan atau duduk bersila nanti.
Setelah itu, aku melapisi bagian luarnya dengan saput (kain penutup luar) berwarna kuning cerah bermotif kotak-kotak samar. Perpaduan warna putih dan kuning adalah simbol kesucian dan kebijaksanaan, warna yang wajib dikenakan saat Purnama Kadasa.
1938Please respect copyright.PENANAS00X8lnNq7
Baju kemeja putihku yang berbahan katun sudah disetrika licin oleh Mémé tadi siang. Aku mengancingkannya satu per satu sampai ke leher. Kainnya terasa kaku namun bersih dan wangi pewangi pakaian.
Terakhir, dan yang paling penting, adalah udeng. Aku mengambil udeng putih dari gantungan. Aku melilitkannya di kepala, membentuk simpul di depan, dan menekan sedikit bagian tepinya di pelipisku.
Tekanan lembut dari ikatan udeng itu memberikan rasa fokus dan kesiapan mental untuk bersembahyang. Aku becermin sejenak, merapikan sedikit rambut yang keluar, lalu menarik napas panjang.
Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju Bale Dangin. Di sana, aku melihat Bapa dan Mémé sudah siap. Pemandangan mereka berdua malam ini membuat hatiku terasa hangat. Penampilan mereka sangat serasi.
1938Please respect copyright.PENANA3wRQF23Whi
Bapa I Wayan Tara, tampak sangat gagah. Postur tubuhnya yang tegap dan berotot terbalut kemeja safari putih lengan pendek. Ia mengenakan kamen putih polos dan saput putih yang serasi.
Udeng putih di kepalanya terikat sempurna, membingkai wajahnya yang tenang dan berwibawa. Kulitnya yang sawo matang terlihat kontras dengan pakaian serba putihnya, membuatnya terlihat bersih dan bersinar.
Ia sedang berdiri sambil merapikan letak keris kecil yang terselip di punggungnya, aksesoris pelengkap untuk upacara besar.
Sementara itu, Mémé, Ni Made Sekar, terlihat sangat anggun. Aura penarinya seolah semakin memancar malam ini. Ia mengenakan kebaya putih berenda halus yang pas di badan,
memperlihatkan lekuk tubuhnya yang masih terjaga. Kain kamennya bermotif bunga emas yang rumit. Sebuah selendang (senteng) berwarna kuning cerah melilit pinggangnya yang ramping, terikat kuat namun cantik.
Rambut panjangnya yang hitam dan tebal disanggul rapi dengan model sanggul Bali modern (lekuk), dihiasi dengan bunga cempaka kuning segar dan satu tangkai bunga sandat hijau.
Aroma wangi bunga cempaka itu tercium sangat kuat, menyebar ke seluruh beranda bale bahkan dari jarak dua meter.
"Saka, mai malu. Tulungin Bapa ngaturang canang di lebuh,"
1938Please respect copyright.PENANAYXSwUqWlcN
(Saka, sini dulu. Bantu Bapak menaruh sesajen di depan gerbang,)
1938Please respect copyright.PENANAxfvKzXO3pf
panggil Bapa dengan suara pelan dan tenang.
1938Please respect copyright.PENANAzRKZoJnyU4
"Nggih, Pa. Tiang ambil dupa dumun,"
1938Please respect copyright.PENANAF5PHQqbduS
(Iya, Pa. Saya ambil dupa dulu,)
1938Please respect copyright.PENANAcvLHKAt4fg
jawabku.
1938Please respect copyright.PENANAVxyUwgNkqI
Aku berjalan ke meja kecil tempat persiapan banten. Aku mengambil tempat dupa yang terbuat dari kuningan, mengambil tiga batang dupa beraroma cendana, lalu menyalakannya di api lilin kecil yang tersedia.
Asap putih tipis langsung mengepul, membawa wangi yang menenangkan. Aku membawa dupa itu dan mengikuti langkah Bapa berjalan melintasi halaman pasir menuju gerbang angkul-angkul.
Udara malam terasa sejuk menyentuh kulit leherku yang terbuka. Langit benar-benar bersih, bulan purnama bersinar bulat sempurna tanpa halangan awan sedikit pun.
Cahayanya membuat bayangan pohon kamboja tercetak jelas di tanah.1938Please respect copyright.PENANA0UkpCGfzKY
Kami membuka pintu gerbang kayu. Di luar pagar, jalanan desa cukup sepi.
Hanya ada beberapa tetangga di kejauhan yang juga sedang melakukan hal yang sama di depan angkul-angkul rumah mereka. Suara anjing menggonggong terdengar jauh.
Cahaya bulan begitu terang sehingga kami hampir tidak membutuhkan lampu jalan untuk melihat trotoar dan tugu di depan rumah.
Bapa mengambil sebuah canang sari dari nampan yang dibawanya. Ia mengangkatnya sedikit setinggi dahi (ngayab), komat-kamit mengucapkan mantra pelan, lalu meletakkannya di atas tugu penunggu karang (pengijeng karang) yang ada di sebelah kanan pintu masuk.
Setelah itu, ia mengambil bunga jepun (kamboja) yang dicelupkan ke dalam mangkuk kecil berisi air suci (tirta), lalu memercikkannya ke arah canang tersebut sebanyak tiga kali.
"Né, asepang, Ning,"
1938Please respect copyright.PENANAaAz1cE6pgZ
(Nih, asapi, Nak,)
1938Please respect copyright.PENANASxZFn9MxVV
perintah Bapa.
1938Please respect copyright.PENANAUOUc3JHmUC
Aku mengangguk. Aku menggerakkan tangan kananku yang memegang dupa, mengayunkan asap dupa itu ke arah pelinggih tugu karang sebanyak tiga kali dengan gerakan memutar searah jarum jam.
Asap dupa bergerak naik, seolah mengirimkan sari-sari doa dan persembahan itu ke langit, menyampaikannya kepada penjaga gaib pekarangan rumah kami.
Setelah tugu karang, Bapa meletakkan satu canang lagi di tanah, di sisi kiri gerbang, sebagai persembahan untuk Buta Kala agar tidak mengganggu keharmonisan rumah.
Ia menuangkan sedikit arak dan berem (minuman fermentasi beras ketan) dari botol kecil ke tanah. Bau alkohol manis tercium sekilas sebelum hilang terbawa angin.
Gerakan Bapa sangat tenang, terukur, dan penuh penghayatan. Tidak ada gerakan yang terburu-buru. Sikapnya mencerminkan kepribadiannya yang stabil dan protektif terhadap keluarga.
Melihat punggung lebarnya saat ia berjongkok meletakkan canang, aku merasa sangat aman.
1938Please respect copyright.PENANAhYTUtKVfTf
"Selesai di lebuh. Jalan jani ke Sanggah,"
1938Please respect copyright.PENANAE2CRSvudWW
(Selesai di depan. Ayo sekarang ke Pura Keluarga,)
1938Please respect copyright.PENANAPFhYEwpwqh
ajak Bapa sambil berdiri dan merapikan kainnya.
1938Please respect copyright.PENANAaC6UqCEqUF
Kami masuk kembali, mengunci gerbang, dan berjalan menuju Sanggah (pura keluarga) yang terletak di pojok timur laut (kaja-kangin) pekarangan, posisi yang paling suci menurut tata ruang Bali.
Mémé sudah menunggu di sana. Ia sedang menata gebogan buah (susunan buah yang tinggi) di depan pelinggih utama.
Lantai pura yang terbuat dari batu sikat sudah dialasi tikar pandan yang halus. Cahaya di area Sanggah terasa magis.
Selain cahaya bulan, ada beberapa lampu minyak kecil yang diletakkan di setiap pelinggih, apinya berkelip-kelip tertiup angin malam, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di ukiran batu paras.
Kami bertiga duduk bersila (untuk laki-laki) dan bersimpuh (untuk Mémé) di atas tikar.
Kami mengambil sikap asana, menenangkan tubuh dan pikiran. Mémé menyalakan dupa lagi dalam jumlah yang lebih banyak, lalu membagikannya kepada aku dan Bapa.
Masing-masing kami memegang dupa di sela jari-jari tangan yang mencakup di depan dada.
Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara serangga malam jangkrik dan belalang yang bernyanyi di semak-semak, serta denting halus genta dari pura desa di kejauhan yang terbawa angin, menandakan Pemangku Desa juga sedang memimpin persembahyangan.
Kami mulai merapalkan mantra Trisandya bersama-sama.
"Om bhur bhuvah svah, tat savitur varenyam..."
Suara berat Bapa, suara lembut Mémé, dan suaraku menyatu dalam harmoni rendah yang menggema di tembok-tembok pura kecil kami.
Aku memejamkan mata, merasakan getaran suara mantra itu merambat di dada. Ada perasaan damai yang luar biasa menyusup ke dalam hati.
rasa aman berada di tengah keluarga yang utuh, duduk bersama di bawah naungan leluhur yang kami puja. Bau dupa yang wangi, udara yang sejuk, dan kebersamaan ini membuat segala masalah sekolah atau rasa penasaran remajaku menguap sejenak.
1938Please respect copyright.PENANAUZCwNbsCBH
Selesai Trisandya, kami melanjutkan dengan Panca Sembah (lima kali sembah). Sembah puyung (tangan kosong), sembah dengan bunga untuk Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Siwa Aditya, sembah untuk Leluhur, sembah memohon anugerah, dan ditutup dengan sembah puyung lagi sebagai ucapan terima kasih.
Terakhir, Mémé mengambil tempat tirta (air suci). Ia memercikkan tirta ke kepala kami masing-masing sebanyak tiga kali, lalu menuangkan sedikit ke telapak tangan kami untuk diminum tiga kali, dan dibasuhkan ke wajah.
Air itu terasa sangat dingin dan segar, seolah membersihkan pikiran yang keruh. Kemudian, Mémé mengambil cawan berisi bija (butiran beras yang dibasahi air suci).
Ia menempelkan butiran beras itu di kening kami (di antara kedua alis), dan menelannya sebutir di pangkal tenggorokan.
"Dumogi rahayu, seger oger sekeluarga,"
1938Please respect copyright.PENANAeZcSJyUL95
(Semoga selamat, sehat walafiat sekeluarga,)
1938Please respect copyright.PENANAGEKiDYFxkS
gumam Mémé pelan sambil menatap kami bergantian dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Matanya berbinar memantulkan cahaya lilin.
1938Please respect copyright.PENANAL4COLsTB92
"Nggih, astungkara. Pang lancar rejekiné Bapa, pang seger Mémé, pang Saka pinter di sekolah,"
1938Please respect copyright.PENANAezZ5QQSdNE
(Iya, semoga terjadi. Biar lancar rejekinya Bapak, biar Ibu sehat, biar Saka pintar di sekolah,)
1938Please respect copyright.PENANAvwPHc4YhLI
sahut Bapa sambil tersenyum lebar, lalu menepuk lututku pelan.
1938Please respect copyright.PENANAG33MBOeUiG
Malam itu berakhir dengan kami duduk sebentar di teras Bale Dauh, masih dengan pakaian adat, menikmati terang bulan sambil minum teh hangat dan memakan jaja uli (kue ketan) sisa sesajen.
Obrolan kami ringan dan penuh tawa. Malam itu begitu sempurna, tanpa ada firasat sedikit pun tentang badai kelam yang sedang menunggu diam-diam di tikungan waktu, bersiap menghancurkan kedamaian ini.
1938Please respect copyright.PENANA1WQOYr5b3L
Seminggu kemudian, suasana khidmat Purnama telah berganti menjadi keriuhan persiapan hari raya Galungan yang semakin dekat.
Hari itu adalah hari Minggu, bertepatan dengan Penyekeban (hari persiapan mematangkan buah-buahan seperti pisang agar matang saat Galungan).
Namun, di rumah sahabatku, Yan, keluarga besarnya memutuskan mengadakan acara mebat (memasak tradisional Bali) lebih awal sebagai syukuran atas selesainya renovasi Bale Daja mereka sekaligus persiapan menyambut Galungan.
Sejak pagi buta, sekitar pukul lima, aku sudah berada di rumah Yan. Pekarangan rumahnya yang luas sudah penuh sesak oleh kaum laki-laki, mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, hingga kakek-kakek.
Suasana sangat ramai dan sibuk. Asap putih tebal dari pembakaran sabut kelapa untuk memanggang daging mengepul di udara, memerihkan mata namun membawa aroma daging panggang yang khas dan menggugah selera.
Suara talaenan (talenan kayu tebal) yang dihantam pisau besar (blakas) dan pisau cincang (mutik) terdengar bertalu-talu tanpa henti.
Tek-tek-tek-dug-tek-tek-tek!
Bunyi itu seperti musik ritmis yang kacau namun penuh semangat, sebuah orkestra dapur tradisional Bali.
Aku duduk di atas tikar pandan lebar yang digelar di halaman, bersama Yan dan beberapa pemuda seumuran kami lainnya.
Tugas kami sebagai "anak bawang" adalah pekerjaan yang relatif ringan namun membutuhkan kesabaran: memotong-motong kacang panjang dan memarut kelapa dalam jumlah banyak.
"Saka, alusang dikit ngeteb kacange. Bekne lakar anggo lawar putih, sing dadi kasar-kasar. Yén kasar nyanan gigin pekaké sing kuat ngilag,"
1938Please respect copyright.PENANAFCrSrZHgA3
(Saka, haluskan sedikit memotong kacangnya. Itu mau dipakai lawar putih, tidak boleh kasar-kasar. Kalau kasar nanti gigi kakek tidak kuat mengunyah,)
1938Please respect copyright.PENANAlOHHzbxRYw
tegur Yan sambil menyenggol lenganku dan tertawa.
1938Please respect copyright.PENANAqgVy5TBZYh
"Nggih, Pak Mandor. Niki sampun alus, kal sereg semut gén bé celingukan saking alusne. Tenang gén,"
1938Please respect copyright.PENANAZLH6jTybAU
(Iya, Pak Mandor. Ini sudah halus, kalau dilewati semut saja semutnya bakal bingung saking halusnya. Tenang saja,)
1938Please respect copyright.PENANAHMc4Z2QvmB
balasku bercanda sambil terus mengiris kacang panjang dengan pisau kecil setipis mungkin, membuat teman-teman lain tertawa.
Sementara kami sibuk dengan sayuran, para bapak-bapak yang lebih tua dan berpengalaman memegang kendali atas pengolahan daging, tugas yang dianggap lebih berat dan membutuhkan keahlian khusus.
Di bale sebelah, Pan Adnyana (ayah Yan) sedang sibuk mengaduk adonan darah babi segar di dalam baskom plastik besar. Ia mencampur darah itu dengan perasan jeruk limau, garam, dan rempah-rempah tertentu agar darah tidak menggumpal dan tetap cair.
Tangannya yang berlumuran darah merah pekat bergerak memutar dengan cepat.
Bapaku, I Wayan Tara, duduk di sebelah Pan Adnyana. Ia mendapatkan tugas numbak atau mencincang daging. Bapa memegang dua bilah blakas (golok) sekaligus di tangan kanan dan kirinya.
Di hadapannya, di atas talenan batang pohon asem yang keras, tumpukan daging babi merah segar (lamus) siap dicincang.
Dengan kecepatan tinggi yang mengagumkan, Bapa mulai mencincang.
1938Please respect copyright.PENANA8RSdNxSfWh
Tak-tak-tak-tak-tak!
1938Please respect copyright.PENANAuaD3z9wNRe
Gerakan tangannya sangat cepat dan berirama. Otot-otot lengan bawah dan bisepnya bergerak dinamis, menegang dan mengendur mengikuti irama cincangan.
Keringat bercucuran di dahi dan leher Bapa, membasahi kaos singlet putih yang dipakainya, namun ia tampak sangat menikmati pekerjaannya.
Ia sesekali berhenti untuk mengasah goloknya atau meminum kopi, lalu lanjut mencincang lagi.
"Wayan, énggalang dikit. Basa genepé suba lebeng, tinggal nyampuh. Timpal-timpalé suba seduk nén,"
1938Please respect copyright.PENANAV7jpzyiDT7
(Wayan, cepatkan sedikit. Bumbu lengkapnya sudah matang, tinggal mencampur. Teman-teman sudah lapar ini,)
1938Please respect copyright.PENANAADvBMA35me
seru Pan Adnyana pada Bapaku sambil tersenyum.
1938Please respect copyright.PENANAKcClPCdqzF
"Siap, Bli. Tenang manten, niki sing kanti liman tiangé milu macincang. Mesin turbo niki,"
1938Please respect copyright.PENANARRnZM7XRfg
(Siap, Kak. Tenang saja, ini tidak sampai tangan saya ikut tercincang. Mesin turbo ini,)
1938Please respect copyright.PENANAKw5x9wnavz
jawab Bapa sambil tertawa lepas, suaranya menggelegar mengalahkan suara cincangan.
1938Please respect copyright.PENANAyP4e6AVgiz
Acara mebat ini bukan sekadar kegiatan memasak. Ini adalah wujud nyata dari konsep menyama braya, ikatan persaudaraan dan gotong royong dalam masyarakat Bali.
Di sini, di tengah asap dan bau bumbu, kami belajar bahwa makanan enak tidak datang secara instan. Ada proses panjang dan melelahkan di baliknya: memotong, memarut, mengulek bumbu (basa genep) yang terdiri dari belasan jenis rempah, memeras santan, memanggang, dan mencincang.
1938Please respect copyright.PENANArNMGubwemo
Hari itu kami membuat menu lengkap: Lawar (campuran sayur, daging cincang, kelapa, dan darah), Komoh (sup daging berbumbu tajam yang disajikan dalam mangkuk kecil), Sate Lilit (adonan daging dan kelapa yang dililitkan pada batang bambu atau serai), Sate Asem (sate daging tusuk), dan Tum (daging cincang berbumbu yang dibungkus daun pisang lalu dikukus).
Sekitar pukul sebelas siang, masakan mulai matang. Aroma lawar yang baru dicampur (ngaduk) tercium sangat kuat, perpaduan antara wangi bawang goreng, terasi bakar, kencur, lengkuas, dan cabai.
"Eh, Saka, Yan. Mai malu, cicipin lawar barake. Kurang uyah sing? Apa kurang sere?"
1938Please respect copyright.PENANA2hc5W4122w
(Eh, Saka, Yan. Sini dulu, cicipi lawar merahnya. Kurang garam tidak? Apa kurang terasi?)
1938Please respect copyright.PENANAC8YtVezWLK
panggil salah satu paman Yan yang bertugas sebagai juru aduk (juru patus).
1938Please respect copyright.PENANAOOmZ1C21wP
Kami segera meletakkan pisau dan mendekat.
Paman itu mengambil sedikit lawar merah dengan ujung jarinya dan menyuapkannya ke mulut kami bergantian. Aku mengunyahnya perlahan.
Rasanya meledak di lidah: pedas cabai yang nendang, gurih darah dan santan yang kaya, wangi rempah yang menyengat, serta tekstur daging cincang dan kulit babi yang kenyal renyah. Sempurna.
"Jaen, Paman. Pas gati. Lalahné pas, gurihné pas,"
1938Please respect copyright.PENANAM0FzQ5i72V
(Enak, Paman. Pas sekali. Pedasnya pas, gurihnya pas,)
1938Please respect copyright.PENANARjnSSnuyhU
kataku sambil mengacungkan jempol dengan mulut penuh.
Setelah semua masakan siap, tibalah saatnya megibung atau makan bersama. Kami duduk melingkar di lantai dalam kelompok-kelompok kecil (satu sela berisi 5-8 orang), beralaskan daun pisang atau nampan besar.
Nasi putih hangat yang masih mengepul dituang di tengah, dikelilingi tumpukan lauk pauk yang kami buat seharian.1938Please respect copyright.PENANAuLX5qLAPra
Bapa duduk di sebelahku dalam satu lingkaran.
Ia mengambilkan sate lilit tambahan dan menaruhnya di piringku (kami memakai piring kertas kali ini agar praktis).
"Dahar, Ning. Pang siteng. Tuni suba megae, jani harus madaar be liu,"
1938Please respect copyright.PENANAzdjp7oZhxu
(Makan, Nak. Biar kuat. Tadi sudah bekerja, sekarang harus makan daging banyak,)
1938Please respect copyright.PENANAsg6DhWBU1d
katanya sambil menepuk bahuku.
1938Please respect copyright.PENANA0OxB5HbFxS
Aku melihat wajah Bapa dari samping. Ia terlihat lelah, keringat membasahi rambutnya, tapi wajahnya memancarkan kepuasan.
Ia tertawa lebar saat Pan Adnyana menceritakan lelucon tentang seorang turis yang salah masuk ke kandang babi karena dikira spa lumpur.
Tawa bapak-bapak itu terdengar lepas dan jujur. Momen kebersamaan ini terasa begitu hangat, mengukuhkan rasa persaudaraan antar tetangga dan keluarga kami.
Aku merasa bangga menjadi bagian dari komunitas ini, dan bangga memiliki ayah seperti Bapa yang dihormati dan bisa bergaul dengan siapa saja.
Waktu berlalu cepat. Bulan berganti bulan. Musim kemarau mulai datang sepenuhnya, membuat debu jalanan Ubud semakin tebal dan udara malam menjadi lebih dingin dari biasanya.
Rutinitas sekolah berjalan seperti biasa, penuh dengan tugas dan ulangan. Namun, di tengah kebosanan rutinitas itu, Yan membawa kabar yang mengguncang rasa penasaranku.
Siang itu di kantin sekolah, Yan berbisik padaku dengan mata berbinar-binar.
1938Please respect copyright.PENANAg8EkgXToyy
"Ka, ci nawang sing? Peteng minggu nén lakar ada 'Joged' di desa Kenderan. Tapi né lén, Ka. Né 'Joged Jaruh' uli Buleleng koné. Mainné di tegalan, sing di banjar. Pasti seru,"
1938Please respect copyright.PENANA5haMsEAKVR
(Ka, kamu tahu tidak? Malam minggu ini bakal ada 'Joged' di desa Kenderan. Tapi ini beda, Ka. Ini 'Joged Jaruh' dari Buleleng katanya. Mainnya di kebun, bukan di banjar. Pasti seru.)
1938Please respect copyright.PENANAEeyGkgnhR5
Awalnya aku ragu. Aku tahu apa itu Joged Jaruh,tarian yang sudah melenceng dari pakem, yang lebih menonjolkan erotisme.yang biasa aku tonton hanya dalam potongan video.
Ibuku adalah penari klasik yang sangat memegang teguh etika, dan aku tahu ia akan sangat marah jika tahu aku menonton hal seperti itu.
Namun, rasa penasaran remajaku, ditambah hasutan teman-teman sebaya yang bilang
1938Please respect copyright.PENANAgLHY9RCG2x
"rugi kalau tidak nonton"
1938Please respect copyright.PENANAr2lJYibfR9
akhirnya mengalahkan keraguanku. Aku ingin tahu seperti apa "dunia lain" yang sering aku tonton setiap malam secara langsung
Malam Minggu itu, sekitar jam tujuh malam, Yan datang menjemputku. Ia membawa motor Yamaha Nmax-nya yang besar.
Ia mengenakan jaket hoodie hitam dan celana jeans. Aku sudah siap dengan jaket denimku.
Aku merasa sangat gugup saat berpamitan pada Mémé.
"Mé, tiang jagi melali kejep ke jumah Yan. Wénten tugas kelompok Bahasa Inggris, harus ngaryanin video percakapan. Ten makelo, Mé,"
1938Please respect copyright.PENANAzXqaRhc42Y
(Bu, saya mau main sebentar ke rumah Yan. Ada tugas kelompok Bahasa Inggris, harus membuat video percakapan. Tidak lama, Bu,)
1938Please respect copyright.PENANA2CMUzibmVq
bohongku. Suaraku sedikit bergetar, jantungku berdebar kencang, takut Mémé yang biasanya sangat peka bisa membaca gelagatku yang mencurigakan.
1938Please respect copyright.PENANA9TxadIMvyh
"Nggih, hati-hati. Ingetang helm. Jan jam dasa harus suba jumah. Besok sekolah,"
1938Please respect copyright.PENANA1o6Be6KcmD
(Iya, hati-hati. Ingat helm. Nanti jam sepuluh harus sudah di rumah. Besok sekolah,)
1938Please respect copyright.PENANA434oIXPQgT
pesan Mémé tanpa curiga. Ia sedang duduk melipat baju di ruang tengah sambil menonton TV. Bapa belum pulang dari vila karena katanya ada tamu VIP yang check-in agak malam, jadi ia harus standby.
1938Please respect copyright.PENANAWoeacRCPKv
"Nggih, Mé,"
1938Please respect copyright.PENANAjbCvFRQmmg
jawabku cepat, lalu mencium tangannya dan bergegas keluar.
Aku naik ke boncengan Yan. Motor melaju menembus malam. Udara semakin dingin menusuk tulang saat kami menjauhi pusat Ubud yang ramai dan mulai naik ke daerah pinggiran yang lebih tinggi.
Jalanan aspal mulus berganti menjadi jalanan desa yang lebih sempit dan gelap, diapit oleh tebing tanah tinggi dan pepohonan bambu yang rimbun di kiri kanan.
Bayangan pohon bambu yang terkena lampu motor terlihat seperti raksasa yang membungkuk.
"Yan, saja né ada Joged Jaruh? Sing salah info ci? Dini sepi gati,"
(Yan, benar ini ada Joged Jaruh? Tidak salah info kamu? Di sini sepi sekali,)
1938Please respect copyright.PENANAmQ6IdgAz68
tanyaku setengah berteriak melawan suara angin.
1938Please respect copyright.PENANAJSmOQbhJAk
"Tenang gén, Ka. Info A1 nén. Temenku anak Kenderan ané ngorahang. Mula di tempat sepi mainné, pang sing kena grebek pecalang desa adat,"
1938Please respect copyright.PENANA5jLsD33pYq
(Tenang saja, Ka. Info A1 (akurat) ini. Temanku anak Kenderan yang bilang. Memang di tempat sepi mainnya, biar tidak kena grebek polisi adat,)
1938Please respect copyright.PENANAORBCVQK7SD
jawab Yan antusias, memacu motornya lebih kencang.
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan berliku, kami melihat keramaian di sebuah lapangan tanah yang cukup luas di tengah kebun kelapa.
Dari kejauhan, lampu sorot warna-warni terlihat menembus debu yang beterbangan di udara. Ratusan sepeda motor parkir sembarangan di antara pohon-pohon kelapa dan pisang.
Suara gamelan Rindik bambu yang dipadukan dengan Kendang dan Ceng-ceng terdengar sangat keras, namun temponya jauh lebih cepat dan agresif daripada gamelan Rindik yang biasa kudengar di lobi hotel tempat Bapa bekerja.
Kami memarkir motor di sela-sela semak dan berjalan menyelip masuk ke dalam kerumunan. Penontonnya mayoritas laki-laki, mulai dari remaja seumuran kami yang masih bau kencur sampai bapak-bapak tua ompong.
Bau rokok kretek yang pekat, bau keringat ratusan orang, dan aroma alkohol arak Bali yang menyengat hidungku bercampur menjadi satu atmosfer yang liar.
Di atas panggung sederhana yang terbuat dari bambu dan papan kayu, pertunjukan baru saja dimulai. MC berteriak-teriak dengan bahasa yang kasar dan memancing tawa penonton.
Lalu, musik gamelan menghentak keras.1938Please respect copyright.PENANALtH1L5E9hJ
Seorang penari wanita muncul dari balik terpal. Penampilannya sangat berbeda dengan penari-penari di sanggar ibuku.
Ia memakai kebaya brokat transparan berwarna merah menyala yang sangat ketat, memperlihatkan dengan jelas bentuk bra hitam di dalamnya. Kain kamen-nya dibelah sangat tinggi, hampir sampai ke pangkal paha.
memperlihatkan kakinya yang jenjang setiap kali ia bergerak. Riasan wajahnya sangat tebal dan mencolok, dengan lipstik merah darah yang berkilau.
"Wuih, tingalin to, Ka. Montok sajan,"
1938Please respect copyright.PENANAFLU4SskENR
(Wuih, lihat itu, Ka. Montok sekali,)
1938Please respect copyright.PENANA07HQQRkFyn
bisik Yan, matanya tak berkedip, mulutnya sedikit terbuka.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Ini pertama kalinya aku melihat penari Joged seperti ini secara langsung. Selama ini aku hanya melihat potongan video buram di HP
Suasana live ternyata jauh lebih intens dan memabukkan. Musik gamelan yang memacu adrenalin, sorak sorai penonton yang liar seperti binatang buas, dan gerakan penari yang provokatif menciptakan energi yang aneh.
Penari itu mulai bergoyang mengikuti irama rindik yang cepat. Pinggulnya berputar dengan cepat (ngegol), dadanya digetarkan (ngejots), dan matanya menatap liar dan menantang ke arah penonton.
Ia tidak menari dengan pakem tari Bali yang halus. Tidak ada keanggunan agem (sikap dasar) atau seledet (gerakan mata) yang penuh jiwa. Yang ada hanya gerakan fisik yang murni erotis, yang bertujuan membakar nafsu para lelaki yang menontonnya.
Teman Yan yang lain, Gung De, yang kebetulan ketemu di sana, sudah siap dengan HP-nya, merekam setiap gerakan dengan lampu kilat menyala.
"Lakar viral né. Pasti FYP,"
1938Please respect copyright.PENANAFSHlpkEOvj
(Bakal viral nih. Pasti FYP,)
1938Please respect copyright.PENANAtzbz2JhTcj
katanya sambil tertawa puas.
Sesi ibing-ibingan (menari bersama penonton) dimulai. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan perut buncit naik ke panggung. Ia mengenakan udeng yang dipasang miring, tanda ia mungkin sudah sedikit mabuk.
Ia mulai menari mendekati si penari. Gerakannya kaku tapi sangat agresif. Penonton bersorak riuh.
1938Please respect copyright.PENANAjBcCP4sSLs
"Masuk Pak Eko! Gas! Gas!"
1938Please respect copyright.PENANAWocYiKeJKX
teriak mereka memprovokasi.
1938Please respect copyright.PENANAJQ5zFYX9je
Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pria itu mulai menjamah. Tangannya yang besar dan kasar memegang pinggang si penari, lalu dengan berani turun meremas bokongnya.
Si penari bukannya marah atau menepis, ia malah tertawa genit dan menggoyangkan pinggulnya lebih dekat, menempelkan bokongnya ke selangkangan pria itu, melakukan gerakan menumbuk ke belakang yang vulgar.
Penonton berteriak histeris, separuh tertawa, separuh bernafsu.
1938Please respect copyright.PENANAnckK0ohB6i
"Anjay, wani sajan bapak to. Kurenané sing nawang kénkén,"
1938Please respect copyright.PENANARiWDhtOXRG
(Anjay, berani sekali bapak itu. Istrinya tidak tahu apa,)
1938Please respect copyright.PENANAEC7BbMMNwZ
komentar Yan sambil menggeleng-gelengkan kepala, takjub sekaligus ngeri.
Pria itu kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribuan.
Bukannya memberikannya ke tangan si penari atau memasukkannya ke kotak, ia dengan sengaja menyelipkan uang itu ke belahan dada si penari yang terbuka.
tangannya sengaja berlama-lama di sana, menyentuh kulit dada wanita itu. Si penari hanya tersenyum membiarkannya, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
1938Please respect copyright.PENANASBK7m0Ycvv
Pengibing kedua naik. Kali ini seorang pemuda kurus dengan rambut dicat pirang, terlihat jelas sedang mabuk berat. Jalannya sempoyongan.
Gerakannya lebih kacau dan tidak terkontrol. Ia mencoba mencium pipi si penari berkali-kali. Si penari menghindar dengan lincah sambil tetap bergoyang, memainkan godaan tarik ulur.
Pemuda itu makin penasaran dan agresif, ia mencoba memeluk si penari dari belakang dengan paksa dan tangannya bergerak liar ke arah dada.
Tiba-tiba, kejadian mengejutkan terjadi. Si penari berbalik cepat dengan refleks yang luar biasa. Bukannya menampar wajah pemuda itu, tangan kanannya dengan sigap menyambar ke bawah, mencengkram kuat "rudal" pemuda itu yang tertutup celana jeans ketat.
Cengkramannya terlihat sangat keras dan tanpa ampun.
1938Please respect copyright.PENANAmzGmItI7Zr
"Aduh! Aduuhhh! Ampun Mbok! Ampuuun!"
1938Please respect copyright.PENANAN7X6ntrncE
Teriak pemuda itu seketika, tubuhnya membungkuk, wajahnya merah padam menahan sakit yang luar biasa dan kaget setengah mati.
Mic di panggung menangkap teriakannya dengan jelas, menggema ke seluruh lapangan.
Penari itu menahan cengkramannya beberapa detik, lalu melepaskannya sambil tertawa terbahak-bahak ke arah mic, suaranya melengking.
"Nakal gati limané! Nakal nah, nakal! Né rasain ci! Pang kapok!"
(Nakal sekali tangannya! Nakal ya, nakal! Nih rasain kamu! Biar kapok!)
ejeknya sambil menunjuk-nunjuk wajah pemuda itu yang kini meringis kesakitan sambil memegangi selangkangannya.
Seluruh penonton meledak dalam tawa yang membahana. Tepuk tangan dan siulan menggema.
1938Please respect copyright.PENANAUFltmsdMlk
"Rasain ci! Kapok! Sok keras ci!"
1938Please respect copyright.PENANA4a5SCtlrNx
(Rasain kamu! Kapok! Sok keras kamu!)
teriak penonton mengejek si pemuda yang turun panggung dengan malu.1938Please respect copyright.PENANAsVZIMliSwq
Aku dan Yan ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian konyol itu.
Tapi di balik tawaku, ada perasaan aneh yang bergejolak. Jantungku berdegup kencang bukan hanya karena lucu, tapi karena rangsangan.
Ada dorongan liar dalam darah mudaku yang ingin naik ke sana, merasakan sensasi ngibing itu, menjadi bagian dari kegilaan malam ini. Aku membayangkan diriku di atas panggung, disentuh dan digoda oleh wanita itu. Darah mudaku bergejolak panas.
1938Please respect copyright.PENANAavAqw83oMX
Namun, di saat yang sama, bayangan wajah ibuku, Mémé, yang sedang mengajar murid-muridnya menari Legong dengan anggun, bermartabat, dan penuh sopan santun, terus muncul di kepalaku.
Dua gambaran wanita yang sangat bertolak belakang itu bertarung di benakku, menciptakan pertentangan batin yang hebat. Aku merasa berdosa telah menikmati tontonan ini, tapi mataku tidak bisa beralih.
1938Please respect copyright.PENANACXjw3vgJ9m
"Ci nyak ngibing, Ka? Mumpung sepi antrean,"
1938Please respect copyright.PENANA669ScQJzEq
(Kamu mau ngibing, Ka? Mumpung sepi antrean,)
1938Please respect copyright.PENANAVPhYrKs7kX
tanya Yan menantang, menyenggol bahuku.
1938Please respect copyright.PENANA9g9JK8Rg9V
"Sing ah, bani ci? Tiang sing ngaba pipis liu,"
1938Please respect copyright.PENANA5BgzLP7DgP
(Enggak ah, berani kamu? Saya tidak bawa uang banyak,)
1938Please respect copyright.PENANAnE9nyfUo4a
elakku beralasan, padahal dalam hati aku penasaran setengah mati namun nyaliku ciut.
1938Please respect copyright.PENANA3ctjSq6jk8
Kami menonton sampai jam sepuluh malam. Setelah puas melihat beberapa giliran pengibing dengan segala tingkah polah mereka yang aneh-aneh, dan setelah debu semakin tebal membuat napas sesak, kami memutuskan pulang.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Aku tidak banyak bicara, begitu juga Yan. Pikiranku penuh dengan bayang-bayang gerakan erotis tadi, suara gamelan yang memburu, dan aroma parfum murah si penari yang seolah menempel di ingatanku.
Aku merasa telah mengintip sebuah lubang kunci menuju dunia dewasa yang gelap, kotor, namun menggairahkan. Aku merasa sedikit "kotor", tapi juga merasa "dewasa".
Sampai di depan gang rumahku, aku turun dari motor Yan. Jam di tangan menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit.
"Suksma, Yan. Besok sekolah nggih. Orahin Gung De kirim videone,"
1938Please respect copyright.PENANAR7WaAfLAss
(Makasih, Yan. Besok sekolah ya. Bilangin Gung De kirim videonya,)
1938Please respect copyright.PENANAySoOeUuHTQ
kataku pelan.
1938Please respect copyright.PENANAwOP34EEfYI
"Yoi. Inget, rahasia negara."
1938Please respect copyright.PENANAlma8sHQ4gd
(Yoi. Ingat, rahasia negara.)
1938Please respect copyright.PENANASpBxMShtkK
sahut Yan sambil mengedipkan mata lalu tancap gas, suara knalpot Nmax-nya memecah keheningan malam desa.
1938Please respect copyright.PENANAU21nnbibYy
Aku berjalan kaki masuk ke gang, mengendap-endap masuk ke pekarangan rumah agar tidak menimbulkan suara gaduh.
Rumah terlihat gelap dari luar. Hanya lampu teras depan yang menyala redup kekuningan. Tumben sekali. Biasanya Mémé membiarkan lampu ruang tengah menyala terang sampai aku pulang dan masuk kamar.
Motor Bapa, Honda Astrea Grand, sudah terparkir di garasi, menandakan Bapa sudah pulang.
Perasaanku mulai tidak enak. Ada sesuatu yang salah dengan atmosfer rumah malam ini. Suasana rumah terasa terlalu hening. Berbeda dari keheningan damai saat kami sembahyang Purnama.
Ini adalah keheningan yang mencekam, berat, dan menekan dada. Tidak ada suara TV, tidak ada suara Mémé yang biasanya masih merapikan sesuatu.1938Please respect copyright.PENANA1p9xMOvCOn
Aku membuka pintu ruang tengah pelan-pelan. Ternyata tidak terkunci.
"Mé? Pa? Tiang mulih..."
1938Please respect copyright.PENANAvy62FjSYcZ
bisikku pelan.
1938Please respect copyright.PENANATkUMNhKrSz
Saat aku melangkah masuk dan mataku beradaptasi dengan cahaya remang-remang dari lampu dapur, aku melihat pemandangan yang membuat darahku membeku seketika.
Jantungku yang tadi berdebar karena gairah tontonan, kini berhenti berdetak karena teror.
Di lantai ruang tengah, tepat di dekat kaki meja makan kayu jati, Bapa tergeletak dalam posisi yang sangat aneh dan tidak wajar. Tubuhnya yang besar miring ke kiri, satu kakinya tertekuk kaku ke belakang seolah tersangkut.
Mémé sedang bersimpuh di sampingnya, mengguncang-guncang bahu Bapa dengan gerakan panik dan tak beraturan.
Wajah Mémé basah kuyup oleh air mata, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia terlihat sangat kecil dan rapuh di samping tubuh Bapa yang kaku.
"Beli! Beli Wayan! Bangun! Eling, Beli! Eling!"
1938Please respect copyright.PENANAZUnahdjnxs
(Kak! Kak Wayan! Bangun! Sadar, Kak! Sadar!)
1938Please respect copyright.PENANAxezquBFxMV
teriak Mémé dengan suara parau yang menyayat hati, suara keputusasaan murni.
1938Please respect copyright.PENANAllvRIuhNYR
Tas sekolahku terjatuh dari bahu, menghantam lantai dengan suara buk yang keras.
1938Please respect copyright.PENANAnPvPCf6p92
"Pa! Mé!"
1938Please respect copyright.PENANA40z3lS0Dsw
teriakku, berlari mendekat dan menjatuhkan diri berlutut di sisi mereka.
Mémé menoleh padaku dengan mata merah bengkak yang penuh ketakutan.
1938Please respect copyright.PENANA2zvkG6LGp5
"Saka! Tulungin Mémé! Bapa tiba-tiba jatuh! Bapa sing nyaut, sing ngidang bangun! Tulungin, Ning!"
1938Please respect copyright.PENANAp81MnLU1yC
(Saka! Tolong Ibu! Bapak tiba-tiba jatuh! Bapak tidak menyahut, tidak bisa bangun! Tolong, Nak!)
1938Please respect copyright.PENANAxAsHoDRUWF
isak Mémé histeris, tangannya gemetar hebat saat memegang dada Bapa, mencoba merasakan detak jantungnya.
Aku menatap Bapa. Dan pemandangan itu menghantuiku. Wajah Bapa... wajah Bapa yang biasanya tenang dan gagah, kini terlihat menakutkan dan asing.
Mulutnya miring drastis ke satu sisi, tertarik ke bawah dengan kaku. Air liur kental menetes tak terkendali dari sudut bibirnya yang lumpuh, membasahi lantai.
Matanya terbuka lebar, tapi bola matanya berputar ke atas, hanya terlihat bagian putihnya yang kemerahan. Tatapannya kosong, tidak melihatku, tidak melihat Mémé.
Napasnya... Tuhan, napasnya terdengar mengerikan. Sangat berat, putus-putus, dan berbunyi ngorok kasar dari dalam tenggorokan, seperti orang yang tercekik air
Khhhrrrr... Grakkk... Khhhrrrr...
"Pa? Pa?"
1938Please respect copyright.PENANAmALo4qzLpp
Aku menepuk pipinya dengan tangan gemetar.
Dingin. Kulitnya terasa dingin dan basah oleh keringat jagung yang membanjiri seluruh tubuhnya. Tangan kirinya terkepal kaku di dada, jari-jarinya menekuk ke dalam seperti cakar, sementara tangan kanannya terkulai lemah tak bertenaga di lantai seperti daging mati.
"Pa, ngomong, Pa! Niki Saka! Pa!"
teriakku, suaraku bergetar hebat dan pecah. Ketakutan yang amat sangat, dingin dan tajam, menjalar dari ujung kaki ke kepala, menghilangkan semua sisa gairah, kesenangan, dan kenakalan remajaku dalam sekejap mata.
Aku merasa menjadi anak kecil yang tak tahu apa-apa lagi.
"Tuni Bapa mara mulih, lantas ngeluh sakit kepala, terus... terus... jeg jatuh buka kéné! Sing ada ujan sing ada angin! Saka, kénkénang nén Bapa?"
(Tadi Bapak baru pulang, terus mengeluh sakit kepala, terus... terus... langsung jatuh seperti ini! Tidak ada hujan tidak ada angin! Saka, bagaimana ini Bapak?)
Mémé terus menangis, bicaranya mulai tidak jelas, suaranya naik satu oktaf karena panik yang memuncak.
Aku mencoba berpikir jernih meski otakku macet.
"Mémé, tenang malu! Iraga harus bawa ke rumah sakit! Tiang lakar ngalih tulung!"
(Ibu, tenang dulu! Kita harus bawa ke rumah sakit! Saya akan cari bantuan!)
teriakku mencoba menguasai diri, meski air mataku sendiri sudah mulai menetes deras membasahi pipi.
Aku mencoba menyelipkan tanganku di bawah punggung Bapa, mencoba mengangkat tubuhnya.
"Pa, bangun, Pa!"
Berat. Sangat berat. Tubuh kekar yang biasanya menjadi pelindungku, yang beberapa bulan lalu masih kuat mencincang daging dengan dua golok, kini menjadi beban mati yang tak berdaya.
Aku menarik sekuat tenaga, tapi tubuh itu hanya bergeser sedikit. Aku merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa. Otot-otot Bapa tidak merespons. Ia telah menjadi tawanan dalam tubuhnya sendiri.
1938Please respect copyright.PENANAZigNFNIySh
Stroke. Kata itu belum terucap dari mulutku, tapi gejalanya menghantam pengetahuanku seperti palu godam. Aku pernah membacanya di poster puskesmas.
Mulut miring, kelumpuhan satu sisi, bicara tidak jelas, kesadaran menurun. Bapaku terkena stroke.
"Tulung! Tulung! Beli Made! Pan Kadek! Tulung!"
Teriakku sekuat tenaga ke arah pintu yang terbuka, berharap tetangga mendengar di tengah malam buta ini.
1938Please respect copyright.PENANARWOQDhV1QL
Malam itu, di lantai keramik ruang tengah yang dingin, di bawah lampu yang redup, dunia remajaku yang penuh warna seketika runtuh menjadi puing-puing.
Digantikan oleh suara napas Bapa yang tersengal-sengal menakutkan dan tangisan Mémé yang memilukan hati.
Itu adalah sebuah simfoni tragedi yang mengakhiri masa kecilku selamanya, mengubahku dari seorang anak yang baru pulang menonton joged menjadi seorang laki-laki yang harus memikul beban runtuhnya pilar keluarga.
Langit malam yang tadinya cerah penuh bintang saat aku berangkat, kini tertutup awan hitam pekat, menelan cahaya sisa bulan tanpa sisa.
Angin berhenti berhembus, menciptakan kevakuman udara yang menyesakkan dada dan mencekik leher.
Di dalam rumah sederhana itu, waktu tak lagi berjalan lambat seperti siang hari yang panas di sekolah; ia kini berlari kencang, menyeret nasib sebuah keluarga ke dalam jurang ketidakpastian.
gelap, dalam, dan menakutkan, di mana doa-doa suci Purnama beberapa bulan yang lalu seakan terlupakan dan tersapu oleh takdir yang kejam dan tak terduga.1938Please respect copyright.PENANAj0zXWqwhWW


