BAB 5
POV SAKA
Matahari menggantung tepat di titik kulminasi, seolah terpaku mati di langit yang memutih oleh terik yang menyengat.
Cahayanya jatuh tegak lurus tanpa penghalang, memanggang atap-atap seng sekolah dan jalanan aspal hingga uap panas menguar ke udara,
menciptakan gelombang fatamorgana yang bergetar samar di kejauhan. Di jam seperti ini, waktu terasa melambat, merayap dengan enggan di antara detak jarum jam dinding sekolah yang berdebu dan suara gesekan sepatu di lantai semen yang kasar.
1378Please respect copyright.PENANA8WDReuuswE
menandakan sebuah peralihan yang dinanti-nanti dari hiruk-pikuk dunia pendidikan yang melelahkan menuju suaka bernama rumah.
Angin yang berhembus tidak membawa kesejukan, melainkan hawa kering yang menerbangkan debu-debu halus ke wajah-wajah lelah yang menanti kebebasan.
Jam dinding di atas papan tulis menunjukkan pukul 13.00 tepat. Pak Dewa, guru Fisika kami yang terkenal tegas namun sering membuat lelucon garing, akhirnya menutup buku paket tebalnya.
Suara kapur tulis yang beradu dengan papan hitam berhenti, menyisakan debu putih yang melayang-layang di sorotan cahaya matahari yang menembus jendela kaca nako.
Kipas angin di langit-langit berputar lemah dengan bunyi krekk-krekk yang ritmis, seolah ia pun sudah kehabisan tenaga untuk melawan hawa panas yang terperangkap di ruang kelas X IPA 2 ini.
Udara di dalam kelas terasa sangat pengap dan berat. Bau keringat remaja yang sudah beraktivitas sejak pagi bercampur dengan bau kertas buku, debu kapur, dan sedikit aroma makanan dari kantin yang terbawa angin.
Kemeja seragam putihku terasa lengket di punggung, menempel tidak nyaman setiap kali aku mengubah posisi duduk. Aku melirik ke sekeliling.
Teman-temanku sudah dalam posisi siap siaga. Buku-buku catatan yang penuh dengan rumus-rumus rumit sudah dirapikan ke dalam tas ransel.
Pulpen dan pensil sudah masuk ke dalam kotak pensil. Kaki-kaki mereka bergoyang tidak sabar di bawah meja.
Teng... Teng... Teng...
Bel panjang berbunyi tiga kali, nyaring dan memekakkan telinga. Suara itu bergema di lorong-lorong sekolah, memantul di tembok-tembok beton, menjadi tanda pembebasan mutlak bagi ratusan siswa SMA Negeri 1 Ubud.
1378Please respect copyright.PENANAOSWkLODzoV
"Baik, anak-anak. Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Jangan lupa kerjakan tugas halaman 45, dikumpul minggu depan. Om Santih, Santih, Santih, Om,"
ucap Pak Dewa menutup pelajaran.
"Om Santih, Santih, Santih, Om,"
jawab kami serempak dengan suara yang jauh lebih bersemangat daripada saat menjawab pertanyaan tentang Hukum Newton tadi.
Suara kursi yang digeser serentak terdengar bergemuruh seperti suara ombak yang menghantam karang. Dalam hitungan detik, suasana kelas yang tadinya hening menahan kantuk berubah menjadi pasar yang riuh.
Tas-tas disandang, obrolan meledak di sana-sini. Aku menutup buku catatan dengan pelan, memastikan pulpenku tidak tertinggal di laci meja yang penuh coretan nama-nama band dan rumus matematika.
Aku mengusap wajahku yang terasa berminyak. Rasanya ingin sekali segera menyiram muka dengan air dingin.
"Ka, dadi bareng sing?"1378Please respect copyright.PENANACCd4ceM17E
(Ka, boleh bareng tidak?)
Suara itu datang dari samping mejaku. Aku menoleh. Itu Wayan Adnyana, atau Yan, sahabat sebangkuku sejak SMP. Penampilannya sudah sangat berantakan.
Kemeja seragamnya sudah keluar sebagian dari celana, dasinya miring, dan wajahnya mengkilap oleh keringat.
Rambut ikalnya sedikit mencuat ke sana kemari karena ia sering mengacak-acaknya saat pusing mengerjakan soal rumus tadi.
"Bareng kija? Kan galian montor iraga patuh, di parkiran belakang,"
1378Please respect copyright.PENANA5dr9u4yy4w
(Bareng ke mana? Kan parkiran motor kita sama, di parkiran belakang,)
jawabku sambil menyandang tas ranselku yang terasa berat di satu bahu.
"Maksud tiang, bareng jalan ked parkiran. Tiang males jalan padidi, liu anak kelas dua di koridor. Yén ajak ci kan aman, sing ada ané bani macem-macem,"
1378Please respect copyright.PENANAU6V8xDwD9E
(Maksud saya, bareng jalan sampai parkiran. Saya malas jalan sendiri, banyak anak kelas dua di koridor. Kalau sama kamu kan aman, tidak ada yang berani macam-macam,)
1378Please respect copyright.PENANApOf9pVfoDT
jawabnya sambil nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang sedikit gingsul.
Yan memang badannya agak kurus, jadi dia sering merasa tidak percaya diri kalau harus melewati gerombolan kakak kelas yang sedang nongkrong.
"Ci né, awak dogén gedé, bayu cenik,"1378Please respect copyright.PENANAEKKRvclr68
(Kamu ini, badan saja besar, nyali kecil,)
1378Please respect copyright.PENANAMbOm9iOxzV
ledekku sambil menepuk bahunya.
1378Please respect copyright.PENANAOlV9QuSRwH
"Nah, jalan suba. Panes né,"1378Please respect copyright.PENANAA49cjwTDsg
(Ya sudah, ayo jalan. Panas ini,)
1378Please respect copyright.PENANATOIYet8iZe
ajaknya tidak sabar.
Kami berjalan keluar kelas. Koridor sekolah sudah penuh sesak seperti antrean sembako. Seragam putih abu-abu mendominasi pemandangan sejauh mata memandang.
Suara riuh rendah percakapan ratusan siswa berdengung di telinga. Ada yang tertawa keras, ada yang berteriak memanggil temannya, ada juga yang mengeluh kepanasan.
Beberapa siswa laki-laki yang nakal sudah melepaskan kancing baju bagian atas mereka dan mengipas-ngipas dada dengan buku tulis.
Siswi-siswi perempuan berjalan berkelompok sambil memegang tisu, menyeka keringat di dahi agar bedak mereka tidak luntur.
1378Please respect copyright.PENANAns6pSpsAIE
Aku berjalan santai dengan Yan di sampingku. Kami harus berdesak-desakan sedikit saat menuruni tangga utama menuju lantai dasar.
Panas matahari siang langsung menyengat kulit begitu kami keluar dari naungan atap gedung kelas. Cahayanya begitu silau sampai aku harus menyipitkan mata.
1378Please respect copyright.PENANAPDW7TxnYck
Saat kami melewati jalan setapak di depan perpustakaan, langkahku otomatis melambat. Ada magnet tak kasat mata yang menarik perhatianku ke arah sana.
Di bawah pohon ketapang besar yang daunnya lebar-lebar dan memberikan naungan teduh, ada bangku beton panjang. Di sana, duduk seorang gadis yang membuat duniaku seolah berhenti berputar sejenak.
1378Please respect copyright.PENANABmb47lTpGH
Itu Ni Luh Ayu Cempaka. Teman seangkatanku, tapi dia di kelas X Bahasa.
Luh Ayu sedang duduk sendirian, sebuah buku novel tebal terbuka di pangkuannya. Ia menunduk, rambut lurusnya yang sebahu jatuh menutupi sebagian wajahnya.
Rambut itu hitam legam dan berkilau tertimpa bintik-bintik cahaya matahari yang menerobos sela dedaunan. Ia menjepit sisi kiri rambutnya dengan jepit rambut sederhana berwarna biru muda,
memperlihatkan leher jenjangnya yang berwarna sawo matang bersih. Seragam putihnya terlihat pas di tubuhnya yang mungil namun mulai membentuk lekuk remaja, kontras dengan rok abu-abunya yang rapi.
Ia tidak memakai banyak perhiasan, hanya sebuah gelang tridatu (benang tiga warna: merah, putih, hitam) yang melilit di pergelangan tangan kanannya, sebuah penanda identitas dan perlindungan yang umum bagi kami.
1378Please respect copyright.PENANAi1RopS0OVf
Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ia menyelipkannya kembali ke belakang telinga dengan gerakan yang anggun dan tidak dibuat-buat. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Ehem, tolih terus. Ajak ngorta, kadén demen. Awas ilerin,"
1378Please respect copyright.PENANAzqfblo21lg
(Ehem, lihat terus. Ajak ngobrol sana, katanya suka. Awas ileran,)
1378Please respect copyright.PENANAWlTHRI7yqZ
bisik Yan tiba-tiba sambil menyikut pinggangku cukup keras.
Aku tersentak dan mendelik pada Yan, menyuruhnya diam dengan isyarat mata.
1378Please respect copyright.PENANAmv2V60oHik
"Ssst, meneng ci. Nyanan ia ningeh,"
1378Please respect copyright.PENANA2fCX1iSV6M
(Ssst, diam kamu. Nanti dia dengar,)
1378Please respect copyright.PENANAwM47jcGUTv
desisku pelan.
Tapi kakiku entah kenapa melangkah mendekat ke arah bangku itu, mengkhianati perintah otakku untuk terus berjalan ke parkiran.
Bayanganku jatuh menutupi halaman buku yang sedang dibacanya. Luh Ayu mendongak. Matanya yang bulat dan bening menatapku. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, lalu berubah menjadi senyuman sopan.
"Eh, Saka. Sampun mulih?"
1378Please respect copyright.PENANAdJOYSCj1K1
(Eh, Saka. Sudah mau pulang?)
1378Please respect copyright.PENANATvqrd9J0Fg
sapanya.
1378Please respect copyright.PENANAjarzsfAaXY
Suaranya pelan dan halus, tipikal gadis Bali yang dibesarkan dalam tata krama keluarga yang ketat. Suara yang menyejukkan di tengah panasnya hari.
1378Please respect copyright.PENANAui3qELyZak
"Nggih, Luh. Nunggu jemputan?"
1378Please respect copyright.PENANAkfDv3vFuNH
(Iya, Luh. Nunggu jemputan?)
1378Please respect copyright.PENANA5Iivrl7Swd
tanyaku.
1378Please respect copyright.PENANA8PEpowi27W
Aku berusaha mati-matian agar suaraku terdengar santai dan berat, padahal tanganku mencengkeram tali tas ransel dengan sangat erat untuk menyalurkan kegugupan.
1378Please respect copyright.PENANA4Li8wnI6rC
Luh Ayu menutup novelnya dan meletakkannya di samping duduknya.
1378Please respect copyright.PENANA8aBXcBeHj4
"Nggih, nunggu Beli Gedé. Kari ada kuliah koné di Dénpasar, niki telat dikit. Macet koné di Batubulan,"
1378Please respect copyright.PENANAwqIPtqaEha
(Iya, nunggu Kakak Gede. Masih ada kuliah katanya di Denpasar, ini telat sedikit. Macet katanya di Batubulan,)
1378Please respect copyright.PENANAfI6AKT6NWX
jawabnya.
1378Please respect copyright.PENANA7wTT4bu1RW
Ia sedikit memiringkan kepala saat berbicara, sebuah gestur yang manis.
1378Please respect copyright.PENANADGVmKUslnY
"Oh, kenten. Panes niki, Luh. Ten mending di kantin nunggu? Di kantin kan ada es téh,"
1378Please respect copyright.PENANAJ6AVnz1wt5
(Oh, begitu. Panas ini, Luh. Tidak mending di kantin nunggu? Di kantin kan ada es teh,)
1378Please respect copyright.PENANAnB1jLFSZ3B
tawarku, mencoba memberikan perhatian kecil.
1378Please respect copyright.PENANABvJo7ssavA
"Ten, ramé ring kantin. Ribut, ten bisa maca buku. Dini gén, ngalihin angin. Dini kan agak dingin betén punyan kayuné,"
1378Please respect copyright.PENANA5OiQTRxzlW
(Tidak, ramai di kantin. Ribut, tidak bisa baca buku. Di sini saja, mencari angin. Di sini kan agak dingin di bawah pohon kayu,)
1378Please respect copyright.PENANAbWQTwFlRdm
ia tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lebih lebar, memperlihatkan lesung pipi kecil di pipi kanannya yang selama ini hanya bisa kukagumi dari jauh.
Yan di belakangku berdeham keras, memberikanku kode bahwa kami harus segera pergi atau dia akan mati kepanasan.
1378Please respect copyright.PENANAQwuM7zgsEt
"Nah, tiang duluan nggih, Luh. Tiang suba antiang Bapa di jumah. Ten dadi mulih telat,"
1378Please respect copyright.PENANAp0gDUMgOTX
(Ya sudah, saya duluan ya, Luh. Saya sudah ditunggu Bapak di rumah. Tidak boleh pulang telat,)
1378Please respect copyright.PENANAV8g4pVqQoe
pamitku.
1378Please respect copyright.PENANAA3qqipsxOY
Aku tidak berani mengobrol terlalu lama. Aku takut kehabisan topik pembicaraan dan malah terlihat bodoh di depannya. Cukup sapaan singkat ini saja sudah membuat hariku terasa lebih baik.
"Nggih, hati-hati Saka. Salam buat Yan,"
1378Please respect copyright.PENANADBmMrKF3lw
jawabnya sambil melirik sekilas ke arah Yan.
1378Please respect copyright.PENANA0YeNOrBCWv
Yan nyengir kuda dan melambaikan tangan.
1378Please respect copyright.PENANAVoy77vo9qq
"Nggih, Luh. Mari,"
1378Please respect copyright.PENANAg8IuiDkLOu
katanya sok akrab.
1378Please respect copyright.PENANA5NlKPyAy0j
Aku dan Yan melanjutkan jalan menuju parkiran motor di belakang sekolah. Begitu kami agak jauh, Yan langsung tertawa.
"Ci, jeg kaku gati. Cara robot kekurangan oli. 'Nggih, Luh. Nunggu jemputan?' Mimih, basa-basiné standar sajan,"
1378Please respect copyright.PENANA0bkqgxlCxj
(Kamu, kaku sekali. Kayak robot kekurangan oli. 'Iya, Luh. Nunggu jemputan?' Wah, basa-basinya standar sekali,)
1378Please respect copyright.PENANAomkn809tIV
komentar Yan sambil menirukan gaya bicaraku dengan nada mengejek.
1378Please respect copyright.PENANA74TqKUwAne
"Mén daripada ci? Ngomong gén sing bani. Palingan ci cuma bisa nyengir cara jaran,"
1378Please respect copyright.PENANAJ2y5yyhaoy
(Daripada kamu? Ngomong saja tidak berani. Palingan kamu cuma bisa nyengir kayak kuda,)
1378Please respect copyright.PENANAIEbWNDrn1H
balasku membela diri, meski dalam hati aku mengakui kalau aku memang gugup setengah mati.
1378Please respect copyright.PENANASafbkvO2H1
"Yén tiang dadi ci, suba ajak tiang mulih bareng. 'Luh, timpalin tiang mulih yuk, nyanan Beli Gedé orahin gén Saka ané ngatehin'. Kéto harusné,"
1378Please respect copyright.PENANAb3YelrZ9cx
(Kalau saya jadi kamu, sudah saya ajak pulang bareng. 'Luh, temani saya pulang yuk, nanti Kakak Gede bilangin saja Saka yang nganter'. Begitu harusnya,)
1378Please respect copyright.PENANAZ8SaBmUjHT
celoteh Yan berteori.
1378Please respect copyright.PENANAabjst6Zvjj
"Teori ci. Coba ci ané ngomong, pasti sing pesu munyi,"
1378Please respect copyright.PENANAyw5BC3oUr7
(Teori kamu. Coba kamu yang ngomong, pasti tidak keluar suara,)
1378Please respect copyright.PENANAwBVLu14NNm
ledekku.
1378Please respect copyright.PENANAk4YmH6mL9W
Kami sampai di parkiran. Ratusan sepeda motor berjejer rapat seperti ikan sarden dalam kaleng. Mencari motor di sini adalah seni tersendiri.
Motor bebek Honda Supra milikku terjepit di antara motor matik besar dan motor sport. Butuh usaha ekstra untuk mengeluarkannya. Aku menarik behel belakang motor, menggesernya sedikit demi sedikit, berhati-hati agar tidak menyenggol spion motor lain.
Jok motor terasa sangat panas saat diduduki. Rasanya seperti memanggang pantat di atas wajan penggorengan.
1378Please respect copyright.PENANADBa2Wd1WBt
"Aduh, anget,"
1378Please respect copyright.PENANAIYyfwQtcxv
keluhku saat duduk.
1378Please respect copyright.PENANAB59jUwEgUH
Aku memakai helm standar, mengklik tali pengamannya sampai bunyi klik, lalu menyalakan mesin. Suara mesin motor menderu halus.
Yan sudah siap dengan motornya sendiri di sebelahku.
1378Please respect copyright.PENANAqW1FA4lJku
"Tiang duluan nah, Ka. Kal mampir mebeli bensin,"
1378Please respect copyright.PENANAjAu0vFPNn3
teriak Yan dari balik helmnya.
1378Please respect copyright.PENANA0OGVG8Ivdh
"Yoi, hati-hati,"
1378Please respect copyright.PENANAGBKVzhrWAa
jawabku.
1378Please respect copyright.PENANAEkfAJqhl4Q
Aku memutar gas perlahan, menjalankan motor keluar dari gerbang sekolah, bergabung dengan arus lalu lintas Ubud yang padat merayap.
Perjalanan pulang jam segini adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya. Jalanan utama Ubud, Jalan Raya Ubud, macet parah.
Bus-bus pariwisata berukuran raksasa memenuhi hampir seluruh badan jalan yang sempit. Asap knalpot hitam menyembur dari pantat bus, mengenai wajah pengendara motor di belakangnya.
Mobil-mobil travel berwarna hitam mengantre panjang, bergerak inci demi inci. Turis-turis asing dengan pakaian minim berjalan kaki memenuhi trotoar, beberapa menyeberang sembarangan tanpa melihat kiri kanan, membuat pengendara motor harus mengerem mendadak.
Aku harus menyelip-nyelip di antara celah sempit antara bodi mobil dan trotoar. Panas mesin kendaraan di sekelilingku bercampur dengan debu jalanan dan asap knalpot membuat kerongkongan terasa kering dan mata perih.
Klakson bersahutan-sahutan, menambah kebisingan siang itu. Aku melihat seorang turis bule sedang berdebat dengan sopir taksi di pinggir jalan, wajahnya merah padam karena matahari.
Di sisi lain, pedagang acung menawarkan sarung pantai kepada turis yang lewat. Inilah Ubud di siang hari, sebuah kekacauan yang terorganisir.
Namun, begitu aku berbelok ke kanan, masuk ke jalan desa menuju rumahku, suasana berubah drastis dalam hitungan detik. Hiruk-pikuk turis dan kemacetan tertinggal di belakang.
Pemandangan toko-toko seni dan butik pakaian berganti dengan tembok-tembok pekarangan rumah warga yang terbuat dari bata merah dan batu paras.
Pepohonan kelapa yang tinggi melambai-lambai di sisi jalan. Angin di sini terasa lebih bersih dan sejuk, tidak lagi berbau solar. Suara bising klakson berganti dengan suara angin yang bergesekan dengan daun pisang.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara desa yang familiar. Rasa penat sekolah perlahan mulai luntur. Motor melaju santai melewati balai banjar yang sepi, melewati pura desa yang berdiri megah, dan melewati beberapa anjing yang sedang tidur di pinggir jalan.
1378Please respect copyright.PENANAjHML3VH2iK
Sampai di depan rumah, aku mematikan mesin motor agar tidak berisik, lalu menuntunnya masuk melewati angkul-angkul (gerbang pintu masuk).
Roda motor bergemeretak pelan di atas tanah pekarangan yang berpasir. Halaman rumah terasa sangat teduh. Pohon mangga harum manis yang besar di sudut halaman memberikan naungan yang luas, melindungi tanah di bawahnya dari jamahan sinar matahari yang ganas.
Anjing kami, si Belang, anjing bali campuran dengan corak hitam putih, sedang tidur telentang di lantai teras Bale Dauh. Lidahnya menjulur sedikit keluar, napasnya terdengar hah-hah-hah kepanasan.
Ia hanya membuka satu mata saat mendengar suara standar motorku diturunkan, ekornya bergoyang sekali dua kali tanda menyapa, lalu ia kembali memejamkan mata, terlalu malas untuk bangkit menyambut.
Suasana rumah terasa sangat tenang, kontras sekali dengan keriuhan di sekolah dan jalan raya tadi. Kedamaian langsung menyelimuti perasaanku.
Aku memarkir motor di tempat biasa, di bawah naungan atap garasi sederhana. Saat aku menoleh ke arah Bale Dauh, aku melihat pemandangan yang membuat hatiku hangat. Bapa dan Mémé sedang duduk bersantai di sana.
Bapa, I Wayan Tara, duduk bersila di lantai keramik teras yang sejuk. Ia mengenakan kain sarung kotak-kotak berwarna hitam putih dan kaus singlet putih bersih yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang.
1378Please respect copyright.PENANATJIWs9xJy1
Rambutnya basah dan disisir rapi ke belakang, tanda ia baru saja mandi. Kulitnya yang sawo matang terlihat segar. Di tangannya ada segelas kopi hitam dalam gelas belimbing yang asapnya masih mengepul tipis, dan di sela jari telunjuk dan tengahnya terselip sebatang rokok kretek yang menyala.
Wajahnya terlihat sangat rileks, matanya sedikit sayu tapi memancarkan ketenangan yang dalam, seolah seluruh beban pekerjaannya di vila hari ini sudah terangkat sepenuhnya dari pundaknya. Tidak ada guratan lelah yang biasanya kulihat saat ia pulang sore.
Mémé, Ni Made Sekar, duduk di kursi kayu panjang di dekat Bapa. Ia memakai daster batik longgar berwarna biru tua dengan motif bunga-bunga putih.
Pakaian rumahan yang sederhana namun terlihat pas di tubuhnya. Rambut panjangnya yang hitam dan tebal, yang biasanya digelung rapi saat mengajar tari, kini tergerai basah di punggungnya, menyebarkan aroma sampo yang segar.
Ia sedang menyisir rambutnya dengan sisir plastik jarang, menguraikan kekusutan dengan gerakan pelan dan sabar.
Wajah Mémé terlihat segar luar biasa. Pipinya sedikit merona kemerahan alami, bukan karena bedak atau perona pipi. Wajah itu terlihat bersinar, berbeda dengan wajah lelah yang biasa kulihat saat ia baru pulang mengajar tari malam hari.
Kulitnya terlihat lembap dan bersih. Aroma sabun mandi floral dan minyak kelapa tercium samar-samar terbawa angin sepoi-sepoi bahkan sampai ke tempatku berdiri.
Mereka berdua tampak sedang mengobrol santai, suara mereka pelan. Sesekali Mémé tertawa kecil, suara tawanya renyah, mendengar ucapan Bapa.
Ada aura kehangatan dan keintiman yang menguar kuat dari interaksi mereka, sebuah kedekatan suami istri yang membuatku merasa nyaman dan aman hanya dengan melihatnya.
1378Please respect copyright.PENANAFRyv2XctP1
Seolah-olah ada gelembung kebahagiaan yang melingkupi mereka berdua.
1378Please respect copyright.PENANAAHaMNVy2Eg
"Swastyastu, Pa, Mé. Saka mulih,"
1378Please respect copyright.PENANATJCtEKMwmR
(Om Swastyastu, Pa, Bu. Saka pulang,)
1378Please respect copyright.PENANAF0XKJHXErp
sapaku sambil melepas sepatu kets hitamku di anak tangga teras.
1378Please respect copyright.PENANAKkg2CLznIS
Mereka menoleh serempak. Bapa tersenyum lebar, senyum yang 1378Please respect copyright.PENANAMoLpPJRuM1
mencapai matanya.
1378Please respect copyright.PENANAzL2cyFBsw2
"Eh, Cening. Enggal mulih? Sing nongkrong malu ajak timpal-timpalé?"
1378Please respect copyright.PENANAQAtbdZhNSJ
(Eh, Nak. Cepat pulang? Tidak nongkrong dulu sama teman-teman?)
1378Please respect copyright.PENANAxxyhULElgm
tanya Bapa santai.
1378Please respect copyright.PENANAzq6OFdjGGR
"Ten, Pa. Panes gati di jalan. Macet masih di Monkey Forest, males tiang nongkrong. Mending mulih ngalihin angin,"
1378Please respect copyright.PENANAFfx65QcrZm
(Tidak, Pa. Panas sekali di jalan. Macet juga di Monkey Forest, malas saya nongkrong. Mending pulang cari angin,)
1378Please respect copyright.PENANAq5EUXOsrGP
jawabku sambil berjalan mendekat. Aku menyalami punggung tangan Bapa dan Mémé bergantian sebagai tanda hormat.
1378Please respect copyright.PENANAZtQtjTRdrS
Tangan Bapa terasa hangat, besar, dan kasar karena kapalan kerja keras, sementara tangan Mémé terasa dingin, lembut, dan halus.
Wangi minyak kelapa yang biasa ia pakai untuk merawat rambutnya tercium kuat dan menenangkan saat aku mencium tangannya. Itu wangi 'Ibu' yang selalu kurindukan.
1378Please respect copyright.PENANAXloyO5x1k1
"Salin malu baju né, Cening. Suba kembus kéto. Mémé suba ngaé ajengan di paon. Ajak dadua mara suud madaar,"
1378Please respect copyright.PENANA4wWX3KvAMb
(Ganti dulu bajunya, Nak. Sudah basah begitu. Ibu sudah buat makanan di dapur. Kami berdua baru selesai makan,)
1378Please respect copyright.PENANAqBmQUn4OKE
kata Mémé sambil menunjuk punggung bajuku yang basah oleh keringat dengan sisirnya.
1378Please respect copyright.PENANAxZ6sBSxGIe
"Nggih, Mé. Tiang ka kamar malu,"
1378Please respect copyright.PENANAAC7pTxtrIK
(Iya, Bu. Saya ke kamar dulu.)
1378Please respect copyright.PENANAcDGdhRFoow
kataku
1378Please respect copyright.PENANAhbW6JYa4NY
Aku berjalan melintasi halaman menuju kamarku di Bale Daja. Kamarku terasa sejuk karena dindingnya tebal. Aku meletakkan tas ransel yang berat di meja belajar, lalu dengan cepat melepas seragam sekolahku.
Rasanya lega sekali terbebas dari kemeja yang lengket dan celana panjang kain yang panas itu. Aku menggantinya dengan kaus oblong hitam favoritku yang sudah agak belel tapi nyaman, dan celana pendek selutut.
Aku pergi ke kamar mandi luar di dekat dapur untuk mencuci muka. Aku membasuh wajahku berkali-kali dengan air sumur yang dingin. Rasa segar langsung menjalar ke seluruh saraf wajah, menghilangkan rasa kantuk dan penat akibat debu jalanan.
Aku mengeringkan wajah dengan handuk kecil yang tergantung di sana.1378Please respect copyright.PENANAXgUbH8v70v
Setelah merasa segar, aku kembali ke Bale Dauh. Mémé sudah tidak duduk di kursi panjang lagi.
Ia rupanya sudah masuk ke dapur saat aku ganti baju tadi, dan kini ia keluar membawa piring anyaman lidi yang dialasi kertas minyak, berisi nasi campur untukku.
Bapa masih duduk di posisinya yang nyaman, menikmati rokok dan kopinya.
"Né, Cening. Mémé ngaé pindang sisit sambal matah. Demenan Cening. Mumpung nu anget nasiné,"
1378Please respect copyright.PENANAI1Eni7aqz8
(Ini, Nak. Ibu buat pindang suwir sambal mentah. Kesukaanmu. Mumpung masih hangat nasinya,)
1378Please respect copyright.PENANAyGUZDL0Pr3
kata Mémé
1378Please respect copyright.PENANACVNd7KUC10
meletakkan piring itu di meja kayu kecil di depan tempat Bapa duduk bersila.1378Please respect copyright.PENANAL3PsXq4y5L
Aku melihat isi piring itu dan perutku langsung berbunyi krukk.
Tampilannya sangat menggugah selera. Nasi putih hangat yang pulen mengepulkan uap tipis. Di sampingnya ada jukut urab (sayur urap) dari bayam hijau dan tauge yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu kunyit dan bawang goreng.
Ada sepotong tempe goreng garing yang dipotong dadu. Dan menu utamanya: ikan pindang tongkol yang disuwir-suwir kasar, lalu dicampur (di-bejek) dengan irisan bawang merah, cabai rawit merah, sedikit terasi bakar, irisan batang serai muda, perasan jeruk limau, dan disiram minyak kelapa asli (lengis tandusan) yang aromanya sangat khas dan gurih.
Baunya saja sudah membuat air liurku menumpuk di rongga mulut.
1378Please respect copyright.PENANAZukF7mWmhn
"Wih, jaen niki. Suksma, Mé,"
1378Please respect copyright.PENANAlSlaAM7W9z
(Wih, enak ini. Terima kasih, Bu,)
1378Please respect copyright.PENANAi7B9iMneUz
kataku antusias. Aku duduk bersila di depan meja, berhadapan dengan Bapa. Aku mengambil gelas air putih, meminumnya sedikit, lalu mulai makan menggunakan tangan kanan.
Suapan pertama adalah surga. Rasa pedas cabai rawit, gurihnya ikan pindang, segarnya jeruk limau, dan aroma minyak kelapa meledak menjadi satu di dalam mulutku.
Tekstur ikan yang lembut berpadu sempurna dengan renyahnya tauge dan gurihnya tempe. Mémé memang juara kalau soal masakan rumahan sederhana seperti ini. Tidak ada restoran mahal di Ubud yang bisa mengalahkan rasa masakan tangan ibuku.
"Kénkén di sekolah, Ning? Ten ada masalah? Ujiané lancar?"
1378Please respect copyright.PENANAI4XXpG0BRc
(Bagaimana di sekolah, Nak? Tidak ada masalah? Ujiannya lancar?)
1378Please respect copyright.PENANAOV7gyAWuf2
tanya Bapa sambil mematikan rokoknya di asbak kayu berbentuk kura-kura, menghargai aku yang sedang makan.
1378Please respect copyright.PENANABh1bmOgXhx
"Biasa, Pa. Pelajaran Fisika maré, Pak Guruné galak cara macan. Tapi tiang bisa nyawab soalné. Rumusné suba hapal tiang,"
1378Please respect copyright.PENANAHS0NLz26Bp
(Biasa, Pa. Pelajaran Fisika tadi, Pak Gurunya galak seperti macan. Tapi saya bisa menjawab soalnya. Rumusnya sudah saya hafal,)
1378Please respect copyright.PENANA9iYNhSsguD
jawabku di sela-sela kunyahan.
1378Please respect copyright.PENANAJUtW6Znqry
"Bagus to. Melahang malajah. Pang sing cara Bapa, gegaené dadi tukang kebun, mapanasan sabilang wai,"
1378Please respect copyright.PENANAfQNwP45cJp
(Bagus itu. Belajarlah dengan baik. Biar tidak seperti Bapak, kerjanya jadi tukang kebun, kepanasan setiap hari,)
1378Please respect copyright.PENANAqpvO2xxFW1
kata Bapa merendah, menasihati dengan nada sayang.
1378Please respect copyright.PENANAzWgEHY6PgE
"Ah, Bapa né. Kan Bapa Manager Taman. Kerenan dikit adané,"
1378Please respect copyright.PENANA0UGAS9GHsE
(Ah, Bapak ini. Kan Bapak Manager Taman. Kerenan sedikit namanya,)
1378Please respect copyright.PENANAAfMhDMS7PB
candaku mencoba menghibur. Bapa tertawa renyah mendengar sebutan itu.1378Please respect copyright.PENANArTZeAl2A16
Mémé duduk di sampingku, di bibir lantai teras, memperhatikanku makan dengan tatapan keibuan.
Ia mengambil kipas tangan dari anyaman bambu yang tergeletak di meja dan mulai mengipasi tubuhku pelan-pelan dari samping. Angin dari kipas itu terasa sejuk di leherku yang masih sedikit berkeringat.
Perhatian-perhatian kecil seperti inilah yang membuatku selalu betah di rumah.1378Please respect copyright.PENANAr6UozWKOSS
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
1378Please respect copyright.PENANA7Tc6IPIS0L
"Pa, montor Bapané sampun seger? Tunian semengan kadén agak ngadat pas dipanasin?"
1378Please respect copyright.PENANAio7I4RdMcf
(Pa, motor Bapak sudah sehat? Tadi pagi kan agak macet pas dipanaskan?)
1378Please respect copyright.PENANAafnChGHQhv
tanyaku teringat motor Bapa yang tadi pagi batuk-batuk saat hendak berangkat kerja.
1378Please respect copyright.PENANAzytItREa1a
Bapa dan Mémé saling berpandangan sejenak. Ada komunikasi tanpa kata yang lewat di antara tatapan mereka. Lalu Bapa tersenyum simpul, senyum yang sedikit berbeda. Ada kilatan jenaka dan nakal di matanya yang ditujukan pada Mémé.
"Sampun, Ning. Maré Bapa suba 'service'. Suba ganti oli, suba 'lancar' jani. Mesinné suba alus, sing macet-macet buin,"
1378Please respect copyright.PENANA4fmq2LEPk0
(Sudah, Nak. Tadi Bapak sudah 'servis'. Sudah ganti oli, sudah 'lancar' sekarang. Mesinnya sudah halus, tidak macet-macet lagi,)
1378Please respect copyright.PENANAT2pnW3F563
jawab Bapa dengan penekanan dan intonasi yang sedikit aneh pada kata 'lancar' dan 'service'.
1378Please respect copyright.PENANA5Dkn1cSzam
"Patut ento. Yén jarang ganti oli, mesinné cepet usak. Harus rutin, pang awet,"
1378Please respect copyright.PENANAViiikP2g4h
(Benar itu. Kalau jarang ganti oli, mesinnya cepat rusak. Harus rutin, biar awet,)
1378Please respect copyright.PENANAWsfImbFV8U
komentarku, menanggapi dengan serius. Di kepalaku, aku hanya membayangkan mesin motor tua Honda Astrea Grand itu yang pistonnya berlumur oli baru.
1378Please respect copyright.PENANAidKDivV8t1
Mémé tiba-tiba tertawa kecil, suara hiki-hiki tertahan. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan,
menyembunyikan senyum malunya. Wajahnya terlihat semakin merona merah jambu. Ia memukul pelan paha Bapa dengan gagang kipas.
"Nggih, Cening. Bapan Cening mula rajin nyervis jani. Mumpung libur koné,"
1378Please respect copyright.PENANA26uys2XO9P
(Iya, Nak. Bapakmu memang rajin nyervis sekarang. Mumpung libur katanya,)
1378Please respect copyright.PENANAXDAzNdqGSg
sahut Mémé dengan suara yang mengandung tawa tertahan.1378Please respect copyright.PENANAmqkUwna5jG
Bapa hanya terkekeh pelan sambil menyesap kopinya lagi, matanya mengerling jahil ke arah Mémé
1378Please respect copyright.PENANAwHLbBajkz3
Aku tidak terlalu mempedulikan tawa aneh mereka atau atmosfer yang tiba-tiba menjadi sedikit geli itu. Fokusku kembali sepenuhnya pada suwiran ikan pindang yang pedas dan nasi putih yang nikmat. Mungkin mereka menertawakan tingkah laku si Belang, pikirku.
"Yan ngorahang lakar ada acara mebat di jumahné pas Penampahan Galungan, Pa. Tiang ajaka kema. Jeg maguling babi koné,"
1378Please respect copyright.PENANA6igY3ZO2T1
(Yan bilang mau ada acara masak-masak di rumahnya pas Penampahan Galungan, Pa. Saya diajak ke sana. Mau guling babi katanya,)
1378Please respect copyright.PENANAHfj3Rz4VYe
lapor ku, mengalihkan topik ke rencana minggu depan.
1378Please respect copyright.PENANALuZWjhOU3z
"Oh, di jumah Pan Adnyana? Nah, nyanan Bapa ngorta malu ajak Pan Adnyana. Yén ada galah, iraga kema mebantuan. Mula pantes iraga menyama braya,"
1378Please respect copyright.PENANAhXbwhmieVF
(Oh, di rumah Pan Adnyana? Ya, nanti Bapak ngobrol dulu sama Pan Adnyana. Kalau ada waktu, kita ke sana bantu-bantu. Memang pantas kita hidup bermasyarakat,)
1378Please respect copyright.PENANANYr1ZFRTyw
jawab Bapa menyetujui.
Selesai makan, aku meneguk habis segelas besar air putih. Rasa pedas di lidah perlahan hilang, digantikan rasa segar.
Perutku terasa kenyang dan nyaman. Angin siang yang berhembus konstan di Bale Dauh membuat mataku mulai terasa berat. Sindrom kekenyangan mulai menyerang. Mémé membereskan piring kotorku, membawanya ke dapur untuk dicuci.
1378Please respect copyright.PENANA7Gh3fYIRwP
"Saka medem malu kejep nggih, Mé, Pa. Ngantuk. Sing kuat mata tiangé,"
1378Please respect copyright.PENANAQAAzK3kW13
(Saka tidur dulu sebentar ya, Bu, Pa. Ngantuk. Tidak kuat mata saya,)
1378Please respect copyright.PENANAxFCQbdwsEf
kataku sambil menguap lebar, lalu tanpa permisi merebahkan diri begitu saja di lantai bale yang beralaskan tikar pandan yang halus.
Lantai semen di bawah tikar memberikan sensasi dingin yang merambat ke punggung, sangat nyaman di tengah cuaca panas ini.
1378Please respect copyright.PENANAESChjY7i2c
"Nggih, sirep ja. Nyanan sore mara bangun, tulungin Bapa nyampat di natah. Istirahat malu,"
1378Please respect copyright.PENANAkwK9Ou0kWg
(Iya, tidurlah. Nanti sore baru bangun, bantu Bapak menyapu di halaman. Istirahat dulu,)
1378Please respect copyright.PENANAHPJ6JAWYr9
kata Mémé lembut dari kejauhan, suaranya terdengar penuh kasih sayang.
Aku memejamkan mata. Dunia di sekelilingku perlahan meredup. Suara burung perkutut milik tetangga yang manggung
1378Please respect copyright.PENANAbVuv5ZZiVB
kur... ketekuk... kuk...
1378Please respect copyright.PENANAvGylNqXgHE
terdengar sayup-sayup dan berirama. Suara langkah kaki Mémé yang berjalan pelan di dapur, suara denting gelas Bapa yang diletakkan di meja, suara desau angin di daun kelapa, semua itu menjadi musik latar alami yang meninabobokan.
Dalam keremangan menuju alam mimpi, aku merasakan kedamaian yang sempurna. Perasaanku sangat ringan.
Tidak ada pertengkaran orang tua seperti yang sering diceritakan teman-temanku, tidak ada kekhawatiran tentang uang sekolah yang menunggak, tidak ada rahasia gelap yang terasa menyesakkan dada.
Rumah ini adalah bentengku yang paling aman. Bapa adalah tiang penyangga yang kokoh dan melindungi, dan Mémé adalah atap yang teduh dan menaungi.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan berdua di rumah sebelum aku pulang tadi hingga mereka terlihat begitu bahagia, bersinar, dan segar, tapi apapun itu, aku bersyukur mereka saling mencintai.
Keharmonisan mereka adalah udara yang kuhirup setiap hari di rumah ini, membuatku tumbuh tanpa rasa takut.1378Please respect copyright.PENANA1VzP9ddP5z
Perlahan, kesadaranku memudar, hanyut dalam tidur siang yang lelap tanpa mimpi, dibuai oleh angin lembah Ubud yang menyelinap masuk lewat celah-celah gerbang angkul-angkul,
menjaga tidur seorang remaja laki-laki yang belum tahu bahwa waktu tidak selamanya berpihak pada kebahagiaan yang abadi. Bayang-bayang pohon mangga semakin memanjang ke arah timur, menandakan matahari mulai tergelincir turun.
1378Please respect copyright.PENANAEeviiqkhbB
Di dalam keheningan pekarangan yang sakral itu, waktu seolah membeku sesaat, menyimpan potret keluarga kecil itu dalam bingkai kenangan yang kelak akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa dan paling dirindukan ketika badai takdir datang merenggut segalanya tanpa permisi dan tanpa belas kasihan.
ns216.73.217.128da2


