"Dita, Yana, Kak Juna pulang." Juna balik ke rumah seraya menenteng ransel dan ember berisi hasil tangkapannya.
"Eh, Kakak." Ardita pun menyambut, sambil kemudian bantu menyusun semua bawaan sang Kakak di teras.
"Ariana mana?" 💙
"Biasa, Kak, main wan kakawalannya." jawab Ardita singkat, sembari menata ulang seluruh ikan yang ada dalam ember Juna.
"Oh iya, Kak, ada yang tunggu Kakak tuh di belakang."
"Siapa?" Juna jelas kaget mendengar laporan adik kesayangannya itu.
"Kakak lihat aja sendiri, bungas lho,." bisik Ardita seraya tersenyum jahil sebelum balik ke dapur bareng ember di tangannya.
Juna pun bergegas menuju belakang, dan setiba dia di situ...
"Oh, kam tho, kirain siapa." 💙
"Pantas kamu betah tinggal di sini, teduh gini suasananya." Rana kelihatan takjub dengan kondisi sekitar rumah Juna.
"Tumben kam ke sini, ada angin apa?" Juna pun menanyakan segera maksud El Pirang mampir ke rumahnya.
"Oh ya, ini, Jun," Rana mengeluarkan sebuah dokumen, dan langsung menyodorkannya agar dilihat segera oleh El Cepak.
"Papaku tugasin aku buat survey lokasi, Jun, kan papaku mau buka pabrik tuh, di desa ini, nah jadi..." penjelasan Rana terpotong oleh dua gelas teh manis yang lagi dibawa Ardita.
"Oh iya, thanks ya, Dek." tukas Rana hangat menerima suguhan minuman tersebut.
"Inggih, Kak ai, sama-sama." ujar Dita sopan, tapi kemudian...
"Rambut Kakak bagus ya, pina biji jagung."
"Hus, kam tuh." Juna kontan menegur lisan Dita yang dirasa kurang elok. "Masuk sana!"
"Maaf ya, Ran, adikku memang gitu, sukanya ceplas-ceplos." Juna pun minta maaf setelah sang adik lari balik badan.
"Nggak apa-apa, Jun, biasa gitu tuh." 💛
"Oh ya, sampai mana tadi?" Juna mengingatkan lagi suasana sebelum teh manis Ardita datang.
Keduanya pun balik ke topik utama, tapi kini ada yang lagi nyengir kuda mendengarkan obrolan mereka nun jauh di sana.
"Hehehe..."😈
"Ayah kayaknya senang banget hari ini." 🥊
"Jelas, Aji, coba kamu lihat dua bocil itu." Pak Bayang kelihatan antusias sama pancingan Aji tersebut. "Ini jelas kesempatan, bocil-bocil itu bisa kita kerjain pakai proyek mereka sendiri."
"Memang rencana Ayah apa?" 🥊
"Gambar dulu monster yang mampu keluarin minyak! Turunin dia ke desa itu." 😈
"Habis itu?" Aji tampak belum mencerna utuh omongan Pak Bayang barusan.
"Habis itu kita susupkan Cantik, biar dia yang bikin warga desa benci tuh dua bocil laknat." 😈
"Oh gitu, oke." Aji pun bergegas, diiringi licik seringai dari mulut Pak Bayang yang mulai hitam.
======
Tiga hari berlalu, Rana pun balik ke kampung Juna membawa seperangkat perabotan di tas ranselnya. Hari ini mereka memang janjian, dan berencana melakukan survey lebih dalam ke area tanah yang akan jadi lokasi konstruksi ketika pabrik mulai dibangun nanti.
Rana sendiri sebetulnya dalam mood bagus selama perjalanan dari kampus tersebut. Namun kala tuh cewek udah tiba di tujuan...
"Ada apa tuh rumah Juna ramai-ramai?" 💛
Rana pun mempercepat langkah kaki karena terdorong penasaran yang tiba-tiba. Ia lantas merapat segera ke Juna, dan menyadari rekan cepaknya itu lagi bermasalah sama sejumlah warga yang berkerumun di sana.
"Mohon maaf, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, ada apa ya di sini?" Rana yang paham Juna terpojok, seketika menolong sang teman dan mulai jua turut berbicara.
"Mbak siapa? Nggak usah ikut campur deh, urusan kampung sini."
"Mohon maaf banget, Bu, saya bukan mau ikut campur." Rana tetap berusaha santun di depan mata penuh api warga. "Saya hanya tanya, ada masalah apa sama kawan saya ini? Kok kalian marah ke dia? Setau saya dia baik lho."
"Baik apanya?" ganti seorang bapak-bapak yang kini protes. "Asal Mbak tau ya, gara-gara cara menjala Juna, sungai sekarang tercemar limbah, kita jadi kesulitan air bersih belakangan ini."
Rana pun mengonfirmasi tanpa suara, tapi Juna hanya angkat bahu tanda dia juga nggak paham sama situasi yang kini terjadi.
"Udah, usir aja nih anak"' seorang wanita pun berteriak, yang seketika disambut lidah-lidah lain dengan sisip kata kasar buat El Cepak.
"Tenang, Bu, tenang semuanya!" Rana mau nggak mau tegas agar Juna tetap bisa aman.
"Oke, saya bakal ikut tanggung jawab, ibu-ibu dan bapak-bapak nggak usah khawatir." lanjut Rana mengembalikan kondisi ke mode sunyi lagi. "Kasih kami waktu tiga hari! Kami akan temukan sumber masalahnya."
"Tiga hari? Nggak salah kamu, Ran?" Juna kontan panik mengetahui syarat patokan El Pirang.
"Jika dalam tempo itu sungai kalian masih kotor, silakan usir keluarga dia dari sini." Rana kian menjadi hingga bikin Juna tepok jidat sendiri.
"Tapi kalau belum tiga hari, sungai jadi bersih lagi, kalian wajib minta maaf ramai-ramai ke kawan saya ini, gimana?" 💛
"Oke, 3 hari ya?" bapak-bapak yang bersuara di awal, gercep menerima tawaran sekaligus tantangan Rana ini.
"Iya, Pak, tapi sekarang, saya mohon bapak dan ibu bubar dulu! Stop serang kawan saya ini selama tiga hari." 💛
Para warga lantas bubar, walau tetap nggak lupa menitip sungutan untuk Juna dan kini Rana.
"Kam yang benar dong, Ran, masa cuma tiga hari sih?" Juna kembali komplain usai warga yang mendemonya berlalu.
"Sini, sini." Rana pun menggamit tangan Juna ke sisi samping kanan rumahnya.
Juna mau protes lagi, tapi batal oleh telunjuk Rana yang membungkam mulutnya.
"Dengar ya, Jun, dengar! Aku berani taruhan ini pasti ulah 'Dinasti Kegelapan', kamu ingat kan pas pertama kita ketemu Mahaguru?" 💛
Ingatan Juna kontan melayang ke masa itu, dan langsung bikin ia ngerti kenapa Rana kali ini optimis. "Oh iya ya."
"Gini deh, ada baiknya kita ke sana sekarang, kita lihat seberapa akurat analisa yang kubuat ini." 💛
Rana pun melangkah mantap ke jalan, tapi Juna...
"Buruan! malah cosplay moai di situ." Rana pun menegur Juna yang masih terus-terusan diam mematung.
======
Juna benar-benar tercengang melihat sungai tempatnya biasa menjala. Menaiki perahunya bareng Rana, lelaki itu menerima fakta pahit bahwa air sungai telah jadi kemerahan efek tumpahan minyak yang tercecer di sana.
Perahu pun kembali usai sekitar 30 menit berkeliling. Juna dan Rana lalu turun dari situ, untuk kemudian diskusi kecil membahas keterkaitan 'Dinasti Kegelapan' di balik ini semua.
"Kayaknya kam benar, Ran, ini ulah mereka." 💙
"Aku bilang apa? Nggak mungkin warga sipil pelakunya, pasti ada kekuatan yang bikin nih sungai sekotor ini." Rana pun menimpal segera pendapat yang disampaikan Juna tadi.
"Satu sih aku heran." Juna kembali menatap lekat sungai. "Mereka pakai apa untuk kotorin seluruh air? Nih sungai luas lho."
Baru selesai Juna ngomong, sebuah benda asing tiba-tiba jatuh dan meledak hingga bikin mereka rubuh.
"Hihihi..." Pasca ledakan, Cantik mendadak nongol bareng monster fulmar di sisinya.
"Udah kuduga, pasti kamu dalangnya." meski masih nyeri, Rana memaksa bangkit demi perlawanannya pada dua sosok jahat itu.
"Terus kenapa?" sinisme pun muncul sebagai jawaban Cantik untuk El Pirang. "Kalian pikir mudah gagalin rencana 'Dinasti Kegelapan'? Ngaca dulu nih."
Cantik pun mengarahkan cermin ajaibnya, tapi Juna dan Rana lebih sigap menghindari serangan tersebut kini.
"Ini udah serius, ayo." Juna pun mengambil korek sakti, dan langsung bertransformasi diiringi langkah Rana yang menyusulnya.
Mereka pun meladeni si fulmar usai 'regang otot' sama pasukan kuyuk. Tapi karena hanya berdua, tarung pun jadi kurang seimbang dan bikin mereka repot menemukan kelemahan kreatur satu ini.
"Ctak, ctak, rasain ini." fulmar menyemburkan senjata minyaknya, yang sangat disayangkan hanya bisa dihindari Juna usai lompat lebih cepat menjauhi cairan oranye tersebut.
"Rana..." Juna sontak memekik, dan lari ke tubuh Rana yang kini telah berlumur minyak.
"Segera kasitau yang lain, Jun! Minyak ini benar-benar lengket, aku nggak bisa gerak." pesan Rana sembari terus berupaya melepas baluran minyak yang melilitnya.
"Hihihi, rupanya masih sama." ledek Cantik sinis, sembari merapat ke monster yang lagi ia kawal.
"Ayo, fulmar, terbang!"
Cantik pun menaiki fulmar, meninggalkan Juna sendiri terbawa rasa bersalah lantaran gagal menjaga Rana dengan baik.
***
ns216.73.216.23da2


