Di sudut lain, Eran dan Rein rupanya telah tiba di pasar malam yang mereka tuju. Tapi bukan gembira, mereka malah gelisah ketika sadar tiga temannya nggak jua muncul melengkapi formasi mereka di awal tadi.
"Udahlah, Rein, masuk aja dulu, biar mereka nyusul nanti." entah jengah atau sekedar jaga mood, Eran pun mendesak Rein usai kurleb 15 menit menanti.
"Ededeh, gimana ya?" Rein kelihatan ragu mengiyakan. "Aku nggak biasa berdua sama cowok gini."
"Bah, macam mana kau ini?" jantung Rein nyaris loncat mendengar Eran bernada agak membentak. "Kau kira aku bakal apa-apakan kau kah di dalam?"
"Bukan gitu, Er, aku cuma takut kalau-kalau ketemu orang yang kukenal di sini. Bisa jadi ghibah nanti." Rein pun menjelaskan supaya Eran nggak salah memahami penolakannya.
"Nggak perlunya kau takutkan itu, biar mereka aja, kau nggak perlu lebay mikirin omon-omon itu, mereka nggak kasih makan kau." ❤️
Di satu sisi, Rein sebenarnya mau jaga jarak untuk menjalani utuh kepercayaannya. Tapi di sisi lain, jiwa muda tuh cewek memang nggak bisa bohong ingin menikmati keseruan labirin secepatnya.
"Ayolah, keburu tutup nanti." ajakan berikutnya bikin Rein nggak kuasa lagi menolak Eran.
Mereka pun mulai masuk wahana, tapi makin ke dalam, suasana terasa makin cekam dan bikin keduanya rada goyah saat hendak lanjut.
"Ededeh..." lagi asyik berjalan, Rein mendadak kesakitan seperti menabrak sesuatu di situ.
"Hey, Bang, kenapa diam aja? Ayo buruan!" Eran menegur, tapi tiba-tiba orang di depan mereka berbalik dan menyerang dengan alat semacam jaring dari sela-sela jarinya.
Eran dan Rein sebetulnya sadar mereka lagi dalam bahaya. Tapi karena serangan sangat cepat, dua anak muda itu pun telat ngeles dan harus rela terbungkus kayak kepompong oleh jaring-jaring yang kini melilit mereka.
Sementara di luar wahana, 3 Riders lain telah tiba juga dari markas utama Mahaguru Dewa.
"Jun, Lang, di dalam kondisinya gelap, kalian masuklah dulu! Biar kubantu sama kekuatan matahariku dari sini." 💛
Juna dan Elang pun sepakat dengan ide Rana barusan. Mereka pun bagi posisi, dan mulai menyusup setelah El Pirang mengusap jari di area sekitar kelopak mata mereka.
"Hati-hati semua sama orang itu, dia 'Dinasti Kegelapan'." Elang lantang teriak, yang kontan bikin situasi gaduh oleh jerit para pengunjung wahana.
"Mana kawan-kawan kami?" alih-alih dijawab, Juna dan Elang justru hampir terjebak andai Rana nggak bergegas muncul dengan perisai yang ia miliki.
"Kalian nggak apa-apa kan?" Rana yang telah bertransformasi langsung konfirmasi setelah menyelamatkan dua rekan lelakinya itu.
"Jun, waktunya." Elang pun mengambil korek sakti, dan seketika transformasi bareng Juna menyusul Rana.
======
Elang, Juna, serta Rana terlibat duel dengan oknum yang menjebak Eran dan Rein. Jual beli serangan nggak mampu terelak, hingga mereka harus mengeluarkan senjata untuk menyetop gerak lincah sosok tersebut.
"Rana, cepat lempar!" seru Elang usai sukses menjepit tangan sang rival pakai nunchaku.
Rana pun menangkap sinyal Elang, dan tanpa basa-basi melepas 2 perisainya ke arah wajah sang musuh.
Oknum itu kontan berteriak akibat lemparan Rana tadi. Pecahan perisai pun meninggalkan puing, namun secara ajaib si kuning mampu mengembalikan lagi kondisi dengan ilmu ajaran Mahaguru Dewa.
"Mantap, Manteman, ini waktunya!" puji Juna ke dua kawannya, sembari lantas mencabut panah untuk menghabisi nyawa sosok itu secara permanen.
Kematian itu serta-merta membebaskan orang-orang dari kurungan jejaring di badan mereka. Termasuk Rein dan Eran, yang tanpa ampun terjengkang usai lepas dari rangkaian jaring yang membelitnya.
"Kalian nggak apa-apa?" Juna memastikan seraya lantas memapah Eran yang masih sempoyongan usai terjebak.
"Ayo ke markas! Kita jumpai Mahaguru Dewa." Rana pun berinisiasi, sambil membantu Rein agar berdiri lebih kuat di sela fisik yang belum 100% fit.
Sementara di Istana Kegelapan...
"Ini benar-benar bikin stres, bisa-bisanya bocil itu kalahin labirin rancanganku." tukas Pak Bayang usai sedikit menyeruput kopi hitam favorit dia.
"Mmm, Ayah, tapi apa..." 🥊
"No, Aji! Sekarang Ayah lagi nggak bisa mikir," usul yang mau disampaikan Aji kontan patah oleh gestur penolakan Pak Bayang.
"Lebih baik kamu carikan rokok, Ayah pusing banget sama yang Ayah lihat." 😈
======
"Brungtungtungtung." Juna, Rana, dan terutama Elang, langsung selebrasi begitu motor El Gondrong kembali pulih. Sementara di sudut lainnya, Eran dan Rein tampak turut senyum walau masih merasa bersalah telah meninggalkan mereka.
"Jadikan itu pelajaran, Eran, kurangi emosi dan lebih sabar dalam keadaan apapun." Mahaguru Dewa pun memberi nasehat, yang serta-merta...
"Dengar tuh ki." disambar Rein pakai nada jumawa.
"Kamu juga, Rein, jadikan itu pelajaran, yakini kata hatimu, jangan goyah oleh apapun, walau hal yang kamu suka." 🧝
"Dengar kau." Pangeran pun membayar lunas ledekan El Hijab padanya tadi.
"Udah, Manteman," Rana seketika ikut bicara menenangkan hati mereka berdua. "daripada ribut, mending traktir kita aja deh."
"Betul kata Rana tuh," Juna benar-benar sat set menyambar ide yang diaju El Pirang.
"Terutama Elang nih, dia berkorban paling banyak untuk kita." 💙
"Iya, iya, ki semua mau apa?" Rein akhirnya ngalah dan bersedia memberi apapun yang tiga kawannya itu inginkan.
"Mahaguru juga, makan apa malam ini?" Eran nggak lupa dengan keberadaan Mahaguru di sana.
"Pecel ayam aja, Mahaguru, yang big size." 💚
"Kam ngelunjak, Lang, mentang-mentang diutamain." Arjuna agak menyesal udah kasih kesempatan lebih ke Elang.
"Gimana? Wong aku suka kok." Elang justru mesam-mesem merespon kritik Juna untuk dia.
"Ya udah, kalian belikan tuh temanmu." putus Mahaguru Dewa, supaya Volt Riders nggak sampai debat kusir soal makanan. "Yang lain samain ya!"
"Ededeh, Lang, sini ki." sahut Rein gemas, sambil berlari ingin mengacak-acak rambut El Gondrong.
Elang yang sadar pun menghindar, hingga kejar-kejaran kecil akhirnya terjadi dan bikin yang lain tergelak tawanya masing-masing.
***
ns216.73.216.23da2


