Rein baru mengakhiri aktivitas akademisnya di salah satu kelas teknik arsitektur. Namun alih-alih bergegas pulang, cewek manis itu justru tampak sibuk sama sepotong art paper seolah ada desain penting yang ia kerjakan di situ.
"Ededeh, istirahat dulu ah, Pak Sani ada-ada aja ji, kasih tugas tegaga otak." Rein.regang badan, tapi diiringi omelan pada sosok yang ia sebut 'Pak Sani'. Mungkin itu pengajarnya di kampus.
Rein pun mulai utak-atik ponsel pintarnya, dan ketika buka google, sebuah top news tiba-tiba mengalihkan mata Rein dan bikin tuh cewek menyipit saking penasaran sama isi berita.
"Ini kan wahana yang lagi viral itu? Asyik juga kali ya, main ke sana." Rein tampak antusias, hingga jemarinya lebih lincah mencolek layar sentuh gawai tersebut.
"Agaro Saba'na, mulani jancimu...*)" belum kelar seperempat, petualangan online Rein tau-tau tertahan oleh panggilan video dari Eran.
"Ededeh, Kalian semua ngapain itu?" Rein tampak geli melihat empat temannya tengah dalam setelan pabrik.
"Tau si Eran, orang lagi tidur, dibangunan." 💚
"Bangunin, Lang." Eran, Rana, Juna, dan jelas Rein, sampai koor mengoreksi plesetan kata Elang tadi.
"Tapi Elang benar juga sih, Er, kamu ngapain siang-siang VC? Iseng amat." Rana heran juga sama tingkah nggak biasa Eran ini.
"Aku cuma mau tanya, Manteman, kalian pada sibuk nggak malam ini?" Pangeran step by step menjelaskan niatnya menelepon. "Kalau kosong, kita ke labirin di pasar malam kota gimana? Itu lho, yang lagi viral sekarang."
"Boleh tuh, Er, kebetulan aku habis baca-baca juga soal tuh wahana, masuk media nasional udah." dapat diterka, Rein paling semangat menerima tawaran Eran tersebut.
"Tapi kan rumahku jauh, Manteman? Kalian sih enak, tinggal lompat ke sana." Juna terlihat bimbang sama sikap yang harus dia ambil.
"Ya udah, kita kumpul dulu di tongkrongan, nanti dari sana, kita konvoi deh pasar malam bareng." Elang coba kasih usul, walau mata tuh anak masih kelap-kelip efek ngantuk yang belum 100% lepas.
"Betul, Jun, kita kumpul dulu aja di tempat biasa." Eran langsung ACC ide dari Elang. "Itu pasar start-nya jam 7, mungkin sekitar setengah 8 lah kita kumpul."
"Ededeh, setengah 8 masih terlalu cepat, Er, aku mau sholat isya' dulu, jam 8 ajalah, bisa aku jam segitu." Rein seketika nego agar Eran merevisi waktunya.
"Iya, Er, aku jam segitu juga masih makan bareng ortuku, mereka nggak mungkin kasih izin." Rana rupanya satu suara sama Rein soal perizinan orang tua.
"Ya udah, deal jam 8 ya, Manteman?" ❤️
"Oke..." Volt Riders serta-merta acung jempol menyetujui waktu yang diputusin Eran.
Mereka pun segera berkemas, tapi namanya mau senang-senang, ada aja pihak julid yang berusaha supaya pesta rusak tanpa bekas.
"Hehehe, akhirnya datang juga." Pak Bayang tampak gembira melihat rencana Volt Riders dari jauh.
"Mudah banget ya, Yah, jebak mereka." Imaji turut senang melihat wajah bersemi Ayahnya.
"Terus langkah berikutnya?" walau ikut sumringah, Cantik tetap fokus sama misi yang kini diusung sang Ayah.
"Langkah berikutnya?" Pak Bayang menyulut rokok yang telah dia pegang sejak tadi. "Ambil salah satu budakmu di kandang!"
Pak Bayang lalu ganti melirik Aji usai Cantik melaksanakan instruksinya.
"Dan kamu, transfer sebagian sihirmu! Biar tuh budak gampang menjebak bocil-bocil rebahan itu di labirin kita." 😈
======
Sesuai kesepakatan, para Riders meluncur saat jam menunjukkan angka 20. Awalnya iring-iringan berlangsung lancar, tapi di tengah jalan, Elang tiba-tiba kena masalah dan mengharuskannya menepi agar situasi lalu lintas nggak sampai terganggu.
"Eran, Rein..." Elang coba cari bantuan, namun sia-sia karena orang yang dia panggil terus melesat meninggalkannya.
"Piye tho iki?" dalam keputusasaan, Elang hanya bisa jalan gontai menuntun motornya ke area trotoar.
"Lho, Lang," beruntung nggak sampai 3 menit, Rana serta Juna ikut melintas dan putar balik melihat Elang duduk lemas di trotoar. "kamu kenapa?"
"Motorku overheat, Ran, perlu diademin dulu sebelum lanjut." 💚
"Kok bisa?" Juna heran mendengar jawaban yang dikemukakan Elang.
"Tau, Jun, mungkin gara-gara tadi siang aku taruh gitu aja di luar. Ngantuk banget sih aku habis kuliah tadi." 💚
Sejatinya Juna pengin geleng kepala melihat teledor Elang ternyata belum hilang. Tapi karena dia tau El Gondrong lagi susah, dirinya pun memilih empatik dan duduk bareng Rana menanti motor Elang membaik.
"cessssssssss..." percik korek Elang seketika membangkitkan El Gondrong dengan wajah kaget.
"Mahaguru." Elang mengajak Juna dan Rana rapat, sebelum menekan pemantik si korek guna komunikasi dengan Mahaguru Dewa.
"Segera ke markas! Ada berita yang harus kusampaikan." 🧝
Juna dan Rana bergerak begitu portal cahaya timbul. Beda sama Elang, karena...
"Terus motorku?" 💚
"Bawa aja! Siapa tau Mahaguru ada solusi." jawab Rana lugas, sebelum masuk portal disusul 2 lelaki yang menemaninya.
======
"Jadi mereka udah ke sana ya?" Mahaguru Dewa tampak berubah saat Juna bilang Eran dan Rein lagi on the way ke labirin yang viral itu.
"Memang kenapa sih, Mahaguru? Kayaknya serius banget." jidat licin Rana sampai ikut kerut saking heran melihat El Mentor.
Mahaguru Dewa nggak langsung jawab, dan sejenak mengutak-atik gadget seolah ada info penting tersimpan di benda canggih tersebut.
"Kalian lihat ini!" 🧝
Elang, Rana, dan Juna serentak merapat, dan seketika melotot saat tau ada sejumlah orang hilang ketika main di wahana labirin itu.
"Ini valid kan, Mahaguru?" Elang bersikap bodoh lagi mempertanyakan sumber berita El Mentor.
"Mana mungkin kukasih kalian hoax, Lang, itu semua valid." untung Mahaguru sabar meladeni pertanyaan sembrono Elang. "Pihak berwajib pun kabarnya mulai concern sama kasus ini. Tapi entah kapan mereka gerak, aku juga nggak paham."
"Terus hubungannya sama kita?" 💛
"Aku mencium 'Dinasti Kegelapan' ikut main di sini. Labirin itu bukan wahana umumnya." Mahaguru pun menerangkan segala praduganya ke Rana.
"Jika dikaitkan sama kabar orang hilang tadi, mudah kusimpulkan ini permainan Bayang. Dia jagonya ilusi optik." 🧝
"Wiw wiw wiw..." sirine di markas mendadak bunyi diiringi migrain El Mentor yang kumat. Saking kuatnya tuh migrain, sang Mahaguru nyaris roboh andai nggak ditahan Elang dan Juna di situ.
"Segera meluncur, anak-anak! Selamatin semua, termasuk Eran dan Rein."🧝
"Tapi motorku..." Elang masih aja mikir motor ngadatnya.
"Kam ikut aku aja, Lang, boncengan." Juna pun inisiatif supaya Elang nggak bikin waktu terbuang.
***
*) Jancimu Taro'e (Voc : Tadjuddin Noer, Composer : Tony L, 1980)
ns216.73.216.23da2


