"Apa-apaan kalian tadi? Udah merasa hebat dengan kostum dan korek sakti kalian?" 🧝
Volt Riders hanya bisa tunduk mendengar amuk Mahaguru Dewa. Ia benar-benar berang kali ini.
"Kalian kukasih semua itu, bukan berarti kalian auto sempurna, nggak, masih banyak yang harus dipelajari sebelum bisa kalahin 'Dinasti Kegelapan', paham?" 🧝
Mahaguru pun duduk dan menarik nafas panjang supaya emosinya bisa reda. Dan usai meneguk air dalam kendinya...
"Sekarang nggak tawar-tawar lagi, kalian harus ikut denganku!" 🧝
Riders pun mau nggak mau jalan dengan Eran di posisi terdepan. Mereka lantas tiba di satu area berkabut, di mana El Mentor tampak berdiri tenang memunggungi satu pintu besi berukuran lumayan besar.
"Kalian lihat ini!" seru sang Mahaguru sambil menguak pintu di depan mereka tersebut.
Pintu pun terbuka perlahan, namun diiringi jerit para Riders yang siwer mendadak akibat cahaya warna-warni yang muncul dari balik itu pintu.
"Apa pula itu, Mahaguru?" saking tajamnya, Eran sampai harus mengelap kacamata yang dia lagi pakai.
"Mainan baru kalian, dengan senjata ini, baru kalian dapat menghadapi monster Bayang di luar sana." 🧝
Volt Riders terlihat penasaran, tapi nggak seorang pun berani dekat lantaran masih khawatir 'surprise' lain di balik ini.
"Cuma untuk memilikinya, kalian nggak bisa sembarangan." benar kan, ada lagi. "Bukan hanya fisik, jiwa kalian pun harus menyatu ke senjata-senjata itu." 🧝
"Gimana caranya, Mahaguru? Kita aja baru lihat itu sekarang." Rana memberanikan diri mewakili rasa ingin tau kawan-kawannya.
"Laksanakan topo bisu di dalam! Pegang senjata-senjata itu, rasakan apa yang mereka mau dari diri kalian." 🧝
Volt Riders terang bingung sama penjelasan Mahaguru Dewa. Otak mereka sama sekali nggak nangkap, dan akhirnya membatu gitu aja di titik mereka berdiri saat ini.
"Tunggu apalagi? Ayo masuk! Masih belum kapok dipermalukan 'Dinasti Kegelapan'?" Mahaguru Dewa kembali memperlakukan para Riders dengan tegas.
Elang pun jadi yang pertama melangkah disusul Rein, Eran, Rana dan Juna sebagai penutup.
"Diamlah dulu beberapa saat, pada waktunya nanti, aku akan balik melihat kesiapan kalian." 🧝
Volt Riders pun mengangguk, tapi sebelum El Mentor benar-benar menutup pintu...
"Satu lagi, selama proses topo bisu, jangan ada yang bicara, apapun alasannya!" 🧝
Elang nyaris dibawa kepo, tapi disumpal segera Rein yang lantas menceleng nggak mau El Gondrong ceroboh lagi.
Mahaguru Dewa pun meninggalkan mereka begitu pintu telah ditutup. Orang tua itu lalu semedi dalam kamar pribadinya, dan kembali setelah sekitar empat jam melalui ritual yang ia jalani tadi.
"Buka mata kalian! Kalian udah lulus." ucap Mahaguru Dewa, yang disambut Volt Riders dengan nafas penuh kelegaan.
"Sekarang cabut senjata-senjata itu! Mereka resmi milik kalian." 🧝
Meski sedikit kepayahan, lima anak muda itu tetap dapat melaksanakan instruksi dari El Mentor barusan.
Kelimanya pun tampak kagum memandang senjata-senjata di tangan mereka. Juna dengan busur panah, Rana dengan tameng kembar, Eran dengan sebilah pedang, Rein dengan palu godam, dan Elang memegang erat dua nunchaku di tangannya.
Saking antusiasnya, Volt Riders langsung menyebar dan insiatif sendiri latihan bareng senjata-senjata mereka. Tapi Mahaguru Dewa nggak lagi mempersoalkan, karena pada dasarnya memang itu tujuannya menyuruh mereka menempuh topo bisu.
"Cukup!" Mahaguru Dewa lali menjeda usai merasa mereka cukup lihai memakai senjata masing-masing.
"Kembalilah ke kota! Situasi mulai kacau di sana." 🧝
Mahaguru pun menjentik jarinya, dan seperti biasa, sebuah portal muncul memberi akses Volt Riders kembali ke kota.
======
Sesuai perkataan Mahaguru Dewa, suasana kota memang carut-marut sekembalinya Volt Riders dari markas. Tiap sisi kota diisi cekam, lantaran sang monster kayak nggak tertahan menebar teror ke warga yang ditemuinya.
Volt Riders pun mau nggak mau berburu waktu menghentikan segala penindasan yang ada. Bermodal senjata baru, mereka berlima buru-buru cari si kreatur dan menemukannya merusuh di area perempatan utama kota.
"Hihihi, masih ada yang penasaran rupanya." tentu Cantik masih setia mengawal monster itu berikut kebiadabannya.
"Turunin bicaramu, Nona! Sekarang saatnya pembuktian." Elang bergegas mencabut korek sakti, dan langsung memandu Riders lain melakukan transformasi energi bareng.
Cantik sendiri melepas pasukan kuyuk untuk menjaga jarak sang monster. Tapi lantaran level kelewat jomplang, pasukan anjing itu hanya jadi cemilan bagi anak-anak muda bertenaga tersebut.
Kelimanya pun gotong royong memulai balasan pada sang bison. Semula memang rada sulit karena kekuatannya jauh dibanding gabungan mereka.
"Nggak apa, Manteman, sekarang saatnya." meski terengah, Eran tetap menenangkan rekan-rekannya yang nyaris tumbang kedua kali.
Eran pun rentang tangan disusul oleh empat Riders yang lain. Seberkas sinar lalu muncul dari langit, diiringi kehadiran senjata yang mereka perjuangkan selama proses topo bisu di markas.
"Biar aku dulu, Manteman, rasain nih." Elang yang paling keki, seketika memutar nunchaku yang dia genggam kuat-kuat. Angin puyuh pun seketika muncul, dan bikin hilang keseimbangan si monster dan sekaligus juga Cantik.
Seperti prediksi Volt Riders, monster bison itu jelas nggak terima dan ingin membalas serangan Elang.
"Ki pikir semudah itu? Giliranku mi." Rein langsung menghentak palunya, hingga bikin sang bison nggak bisa gerak terjepit retakan tanah di sekitarnya.
"Good job, Rein, sekarang aku." Juna pun membidik anak panahnya, untuk menjamin si monster tetap terkurung di tempatnya kini.
"Oke, Manteman, mungkin ini saat kita kasih dia kehangatan." Rana pun mengarahkan perisainya ke matahari, dan memantul sinar ke tuh monster yang kontan teriak kena efek panas yang ia terima.
"Sentuhan akhir, bersiaplah, bengak, saatnya kau jadi barbeque." Eran pun menuntaskan semua dengan sekali tebas pedang miliknya.
"Awas aja kalian ya!" Cantik yang kesal, hanya mampu bicara dan langsung hilang begitu nafsu intimidasinya terlampiaskan.
======
Kemenangan pertama dirayakan para Riders dengan jalan-jalan bareng di taman. Suasana hari itu memang sangat menyenangkan, hingga mereka nyaman menikmati keindahan dan aneka wangi bunga di sekitar situ.
"Ah, es krim ibu kayaknya enak nih, satu, Bu!" Rana yang jalan paling depan, auto tergoda melihat ibu-ibu penjual es krim di depannya.
"Dua, Bu, saya juga." Rein nggak mau kalah, dan langsung menyusul langkah El Pirang ke tuh ibu-ibu.
"Hei, memang kalian aja yang mau? Kita jangan dilupakan dong." Eran pun bersuara mewakili isi hati para pria.
"Iya, paham kok." balas Rana tenang, yang lantas direspon Rein dengan tambahan buat mereka bertiga.
Mereka pun lanjut piknik dengan bekal es krim di tangan. Dan sambil melihat suasana sekitar, obrolan pun turut mengalir meliputi circle anak-anak istimewa itu.
"Besok-besok kurangi ki punya ceroboh tuh, nggak baik buat ki sendiri." ucap Rein tenang memberi nasehat agar Elang belajar menekan ego.
"Iya, Lang, kam bakal rugi sendiri. Main cantik aja sama Dinasti Kegelapan tuh." Juna menyambung cepat nasehat Rein barusan.
"Sebenarnya aku mau sih, Manteman, tapi gimana? Susah banget." 💚
"Lho, kamu nggak pandang kita?" Rana auto menukas guna Elang melihat rekan-rekannya. "Kamu nggak perlu sungkan, Lang, kalau kesulitan, bilang ke kita, bakal kita bantu kok."
Elang tersenyum simpul merespon jaminan Rana barusan.
"Janji di, nggak akan ceroboh lagi." Rein pun mengulur kelingking, yang tanpa basa-basi langsung disambut Elang walau dengan gestur sedikit malu.
Tapi dasar apes, baru juga re-start jalan, sepatu Elang nggak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang oleh entah siapa di sana.
Elang pun serta-merta terjengkang, dan es krim di tangannya jadi tumpah mencecer sebagian baju dan wajah dia.
"Ededeh, baru juga janji." meski rada kecewa, Rein terkikik juga melihat kondisi basah kuyup El Gondrong kini.
***
ns216.73.216.23da2


