Juna hanya menatap kosong seraya pangku tangan dalam rasa putus asanya. Sementara di sisi seberang, Riders lain memilih pasif dan cuma menatap lantaran segan bertanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Dia sedang terpukul, merasa gagal jaga Rana dan terutama desanya dari Dinasti Kegelapan." Mahaguru pun menerangkan, tapi mesti sambil berbisik supaya terhindar dari gesekan mental Juna. "Kalian lihat ini!"
Mahaguru Dewa pun menjentikkan jari, dan kini kondisi desa Juna bisa terlihat oleh tiga anak muda berkekuatan super tersebut.
"Terus kita mesti gimana, Mahaguru?" Elang coba konsultasi sebelum menentukan sikap.
"Ededeh," alih-alih sang mentor, justru Rein yang merespon pertanyaan Elang barusan. "jelas kita mesti tolongin Rana, Lang, mau apa lagi?"
"Gimana caranya, Genduk?" 💚
"Sederhana, berangkatlah ke desa Juna, cari monster yang celakain Rana, habisi begitu ketemu!" Mahaguru Dewa pun bersuara kasih solusi mereka bertiga.
"Tapi Juna..." Eran tampak belum rela melihat rekannya masih didera gundah.
"Biarin dulu dia dengan batinnya, kamu nggak perlu khawatir." tandas Mahaguru Dewa untuk meringankan beban pikiran El Klimis.
"Kalian fokus aja ke misi kalian! Masalah Juna, biar aku yang handle, sebentar juga beres."🧝
Eran, Elang, serta Rein pun yakin, dan segera bersiap menghadapi tantangan di area desa Juna.
======
"Juna." Mahaguru Dewa akhirnya menegur usai hampir setengah jam membiarkan Juna. "Ini."
"Apa ini, Mahaguru?" walau menerima, Juna tetap bertanya isi bungkusan yang ia ambil dari El Mentor.
"Kunci untuk kalahin monster yang kamu hadapi tadi." 🧝
Mendengar penjelasan Mahaguru, trauma Juna kontan muncul kembali.
"Juna, dengar!" Mahaguru yang paham, seketika berusaha memotivasi mental anak asuhnya tersebut.
"Semua yang terjadi belakangan, itu bukan salahmu, sungai di desamu, Rana yang lagi terjebak, semua itu ulah 'Dinasti Kegelapan'." 🧝
"Aku udah gagal total, Mahaguru, aku gagal jaga itu semua, aku betul-betul hina di depan Rana, warga kampung." 💙
"Nggak, Jun, kamu salah." Mahaguru Dewa dengan mantap menggeleng dan tersenyum.
"Justru kamu sangat berhasil karena berani ambil resiko buat yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu." 🧝
Juna sejatinya masih cukup minder, tapi oleh Mahaguru Dewa...
"Kembali ke desamu! Bantu kawan-kawanmu menghadapi tuh monster." sang Mahaguru lantas menggenggam tangan Arjuna, sebagai isyarat dirinya percaya dengan potensi yang dimiliki tuh cowok.
"Aaaaaaakh..." Eran, Rein, dan Elang terpental bareng usai terkena serangan dari fulmar.
"Atraksi bagus, fulmar." Cantik rada genit saat memberi tuh monster pujian.
"Kayaknya kita nggak perlu buang-buang waktu lagi, habisi aja mereka." 🌹
Si fulmar pun bersiap, namun waktu ludah minyaknya udah di ambang bibir...
"Aaaaaaaakh, aaaaaaaaaakh," sebuah bubuk misterius mendadak masuk dan bikin mulut tuh monster kepedasan tanpa sebab.
"Ada apa, Fulmar?" Cantik pun ikut bingung, tapi segera itu terjawab oleh kehadiran Juna yang begitu gagah.
"Mulut kam udah hancurin kampung dan kawan-kawan terbaikku, sekarang saatnya kam bayar itu." 💙
Juna pun merentang tangan ke angkasa, dan panah andalannya seketika berada di tangan kiri dia kini.
Satu anak panah pun lepas, walau ditujukan buat pancingan belaka oleh Juna. Volt Riders pun memanfaatkan momen, dan menyusul langkah si biru memanggil senjata andalan mereka masing-masing.
"Ladies first, Manteman." palu Rein jadi yang pertama menghambat gerak seteru mereka itu.
"Mantap, Nduk, sekarang giliranku." Elang pun melepas nunchaku-nya, yang tanpa ampun membungkam paruh sang fulmar detik itu juga.
Eran sejatinya tau ini waktu yang tepat memberi si fulmar eksekusi akhir. Namun demi membuat Arjuna kembali pede, dia pun memilih menahan pedang dan memberi si biru kesempatan untuk menuntaskan semua.
Juna pun menarik busur panahnya lagi, dan dalam sekali bidik, riwayat sang monster pun tamat oleh satu letusan yang mencabik habis tubuhnya.
Semua minyak pun sirna seiring kematian si monster fulmar. Termasuk Rana, yang juga bebas dari jeratan minyak di tubuh mungilnya.
"Rana..." Juna pun merapat, disusul Riders lain yang hanya jalan ringan di belakangnya.
"Juna, kamu selamatkan aku?" Rana tiba-tiba agresif, dan langsung memeluk tubuh kekar Juna saking bahagianya.
"Kamu benar-benar pahlawan, Jun, bangga aku punya teman kayak kamu." 💛
"Iiiiiiiiiiiiiiiih, kenapa selalu gini?" Cantik hanya bisa menggerutu, seperti halnya Pak Bayang yang terbawa jengkel di Istana Kegelapan.
"Kok bisa, Aji? Kok bisa? Kita udah gerak dari dalam tapi tetap aja kalah sama bocil rebahan itu. Ah, mana obat tensi Ayah? Ayah butuh." 😈
======
"Dengan mengucap rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, saya, Cahyadi Indra Ang, owner 'Kirana Group', dengan ini meresmikan peletakan batu pertama pabrik pengalengan ikan di Desa Banyu Hanyar."
Gemuruh tepuk tangan menyambut pidato seorang bapak sipit di areal kampung Juna.
Sementara di sisi belakang, Eran, Elang, Juna, dan Rein, terlihat kalem menyaksikan Rana yang duduk di bangku VIP sisi kiri panggung.
"Oh iya, satu lagi," bapak itu pun berbalik, dan memanggil Rana untuk merapat ke sisi depan podium.
"Atas rekomendasi putri kesayangan saya ini, saya putuskan membawa salah seorang anak hebat dari ini desa, untuk jadi konsultan saya selama pembangunan berlangsung nanti."
Pria yang rupanya Papa Rana itu pun hela nafas, untuk kemudian...
"Anak itu bernama Arjuna Is Mahayana."
Eran, Rein, dan Elang seketika tepuk tangan sambil memandang Juna penuh kagum. Rana sendiri terlihat heboh, dan terus mengompor El Cepak agar maju menghampiri panggung utama acara tersebut.
"Maju sana! Tunggu apalagi kau?" tegas Eran melihat Juna masih terpaku di kursi yang lagi ia duduki.
"Maju, Jun, pamali cuekin panggilan orang, apalagi ini orang tua." Elang pun turut mendesak supaya Juna bergegas naik panggung.
Juna akhirnya bergerak, dan segera menyapa Papa Rana yang memang menantinya sejak pertama kali memanggil tadi.
***
ns216.73.216.23da2


