"Come on, ini kesempatan untukmu." seorang pria plontos tampak ngecap di salah satu meja resto bonafit kota. Sementara di kursi sebelah, Elang tampak serius dengan sebuah selebaran yang tergenggam di tangannya.
"Lomba drone nasional itu bisa jadi ajang pembuktianmu, namamu bakal terangkat sebagai salah satu jagoan drone kota ini." belum puas sama reaksi Elang, pria itu pun koar-koar lagi dengan nada lebih gencar dari sebelumnya.
"Gimana ya, Om?" Elang pun merespon usai merasa beres membaca tuh selebaran. "Saya sih sebenarnya ayo aja kalau ada event kayak gini, cuma masalahnya, sekarang kondisinya beda, tugas-tugas kuliah saya makin numpuk tahun ini, susah ditinggal."
"Cuma sebulan ini, Lang, nggak perlu khawatir sama studimu." pria tersebut terus kompor agar Elang mau ikut lomba yang ia endorse.
"Saya pikirin dulu deh, Om, biar saya cocokin sama jadwal di kampus saya." 💚
"Ya udah, tapi jangan lama-lama! Batas akhir pendaftaran dua hari lagi lho." meski asam, om buncit itu tetap menerima nego yang diaju El Gondrong padanya.
Mereka berdua lantas berpisah seiring keluar dari pintu tuh restoran. Elang sendiri berniat mampir ke tongkrongan, mana tau seluruh rekan Riders-nya lagi di sana dan bisa diminta pendapat soal tawaran lomba yang dia terima tadi.
"Manteman..." Elang kontan menyapa, namun Rein, Eran, Juna, dan Rana, kompak merespon pakai tatapan yang kurang bersahabat.
"Bubar, bubar." Rana tiba-tiba berdiri, menjauhi Elang disusul tiga Riders lain di meja mereka.
"Manteman, mau ke mana?" Elang yang heran spontan bertanya, tapi nggak dihirau satupun sahabatnya yang langsung pergi tanpa bicara.
Elang pun pulang bawa galau akibat reaksi yang dia terima tadi. Sepanjang jalan dia terus berpikir, dan tau-tau overthink sendiri mengira itu berkaitan dengan tawaran lomba yang ia terima.
Situasi itu sendiri terlihat oleh Pak Bayang, yang lantas minta Cantik dan Aji berunding menentukan rencana mereka berikutnya.
"Sepertinya ada yang lagi ribut nih." 😈
"Benar, Yah, ini kesempatan." Aji sumringah juga melihat situasi Elang dan para Riders kini.
"Ya udah kalau gitu, selesaikan aja sekarang, tunggu apa lagi?" timpal Cantik pakai intonasi suara sarat dengan nafsu tinggi.
"Sabar, Nona Kecil, Ayah ada rencana yang lebih mengesankan." Pak Bayang pun minta mereka dekat, untuk kemudian menerangkan semua yang telah Beliau susun lewat bisikan ke telinga dua anak itu.
"Gimana? Oke gas nggak?" 😈
"Keren banget, Yah, Aji suka." Imaji pun acung jempol tanda support penuh ide Pak Bayang.
"Good, kalau gitu segera bikin monsternya!" 😈
"Siap, Yah." Imaji pun mengangguk, dan bergegas mengambil kuas ajaib yang selalu dia simpan dalam sakunya.
======
Elang langsung membuka Facebook setiba ia di kamar tidurnya. Hatinya betul-betul kacau, lantaran para Riders memperlakukannya bak anak tiri di tongkrongan mereka tadi siang.
Elang pun menetralisir diri dengan scrolling sebentar cari hiburan online. Tapi alih-alih adem, otak tuh anak justru makin kepikiran karena postingan Eran membawa sebuah foto familiar ke wall miliknya.
"Kan, benar." Elang auto berkesimpulan usai melihat caption 'boo...🤮' di postingan Eran tersebut.
El Gondrong lantas balik ke tongkrongan, dan berharap teman-temannya ada semua supaya lebih mudah klarifikasi soal tawaran lomba untuknya itu.
"Manteman." Elang berusaha menyapa ketika telah melihat keberadaan Volt Riders.
"Dia lagi, ayolah bubar!" kali ini Pangeran yang mengomando, tapi cepat ditahan Elang yang menghalang sebelum rekan-rekannya keluar.
"Kalian kenapa sih? Salahku apa ke kalian?" 💚
"Kenapa? Kita cuma lagi mau main berempat, hak apa kau mau ikut campur urusan kami?" ❤️
"Bukan gitu, Er, aku cuma minta kejelasan," Elang masih kalem mengorek perubahan sikap teman-temannya. "Kalian ini ada apa sih? Gini banget sama aku?"
"Suka-suka kita lah, kita mau ajak kau atau nggak, itu bukan urusan kau." Eran kontan terkipas, dan reflek mendorong Elang hingga hampir jadi baku hantam antara mereka.
"Er, udah!" Rein kontan bereaksi, dan langsung menahan Pangeran agar gelud nggak sampai benar-benar terjadi.
"Elang, mending ki cabut deh! Kita lagi malas panjang urusan sama ki." 💜
"Tapi, Nduk, aku cuma..." 💚
"Kam tuh laki kan, Lang?" Juna pun terbawa emosi melihat Elang ngeyel nggak ada habis. "Kalau kam laki, mestinya kam tau kayak apa bicara sama bini. Sopan kah ngotot gitu ke Rein? Merasa jagoan kah kam?"
"Udahlah, Manteman, urusan nggak penting gini ngapain sih lama-lama? Lanjut ajalah!" Rana menutup pertengkaran, dan menerobos Elang yang kian patah mendapati para Riders justru tambah judes.
======
Eran, Rein, Juna, dan Rana beriring membawa dua motor berbeda. Eran didampingi Rein di motor merah miliknya, sementara Rana duduk berbonceng di motor biru yang dikemudikan Juna.
"Eh, Er, ki yakin kah dia nggak bakal baper? Kita agak berlebihan tadi." Rein menowel bahu Eran guna mengajak anak itu bicara.
"Tenang, Rein, ada saatnya nanti," jawab Eran singkat, sambil keep focus menyetir motor yang sedang ia bawa.
"Jun, kamu nggak pakai deodoran ya? Bau banget nih." di motor sebelah, Rana sedikit komplain saat hidungnya mengendus bau menyengat.
"Dih, enak aja," Juna kontan sewot dengan pertanyaan setengah intimidatif Rana. "Kam pikir kam doang yang kebauan? Aku juga."
Juna pun merapat ke Eran dan Rein demi cari tau soal bau tersebut. Tapi belum sempat dia dan Rana bertanya...
"Manteman, kalian keciuman bau aneh nggak sih?" malah Rein yang mengonfirmasi duluan tentang tuh aroma busuk ke mereka.
"Lho, kalian keciuman juga tho?" 💛
"Ededeh, apanya lagi? Dari tadi aku sama Eran sampai baku sangka siapa yang belum mandi hari ini." 💜
"Jelas, Manteman, pasti ulah geng busuk satu itu lagi. Nggak kapok kali mereka cari perkara sama kita." rutuk Eran melengkapi perasaan kawan-kawan Riders-nya kini.
"Eh, Manteman, lihat deh." Rein pun kasih kode, saat menangkap kepul asap dari arah belakang punggung mereka.
Asap itu lalu menghilang, dan dalam hitungan detik, berganti kemunculan Cantik didampingi monster sigung dengan bulir asap memenuhi bokongnya.
"Boleh juga analisa kalian, kalian cocok lho, jadi narasumber podcast channel YouTube." walau sedang mengenakan masker, aura genit Cantik memang mustahil buat ngumpet secara bulat-bulat.
"Nggak perlu basa-basi, Nona, kalau kau ingin macam-macam di kota ini, langkahi dulu kami. Manteman..." ❤️
Eran pun memimpin transformasi, dan bersiap melewati tantangan di depan mereka saat ini.
Sementara di sudut lebih terpencil, Elang yang masih sedih memilih menyepi di hutan lindung pinggir kota. Lokasi itu bukan daerah asing buat El Gondrong, karena semasa kecil ia memang sering main dalam wilayah penuh pepohonan tersebut.
Elang pun mulai main drone demi melupakan semua yang dia alami. Namun berhubung jiwa tuh cowok lagi lepas dari badan, drone yang ia setir malah oleng dan berakhir jatuh tertabrak pohon besar di areal hutan lebih dalam.
"Nasib," Elang hanya duduk mendapati drone itu rusak tiba-tiba. Namun belum empat menit meratap, beberapa tangkai bunga seketika menarik matanya dan bikin ia beralih meneliti tiap bagian secara lebih terperinci.
"Cessssss..." lagi asyik sama tuh bunga, korek sakti Elang tau-tau memercik dan bikin dia gercep merogoh kantong.
"Kamu di mana? Teman-temanmu dalam bahaya tuh, mereka perlu bantuanmu." Elang udah tebak, pasti Mahaguru Dewa yang memanggilnya kini.
"Mereka kayaknya udah nggak butuh aku lagi, Mahaguru, hari ini aja dua kali aku dicuekin mereka." Elang pun curhat mengadu situasi yang tengah dia alami.
"Apa lagi sih?" seperti biasa, Mahaguru cuma menggeleng saking kewalahan sama tingkah absurd anak asuhnya.
"Ya udah, ke sini aja! Kita bahas soal mereka di markas." 🧝
Elang auto menurut, dan serta-merta mencari area aman agar bisa ke markas tanpa dilihat siapa-siapa di situ.
***
ns216.73.216.165da2


