"K-kamu?" kaget jadi ekspresi awal Mahaguru saat Elang tunjukin bunga temuannya.
"Aku harap kamu jujur, Nak, kamu habis dari hutan larangan ya?" giliran Elang yang kaget dengan pertanyaan menohok El Mentor.
"Maaf, Mahaguru, aku cuma..." 💚
"Nggak perlu, Nak, aku paham." Mahaguru serta-merta menyela omongan Elang.
"Asal kamu tau, bunga ini sangat langka. Dia cuma tumbuh sekali dalam seratus tahun." Mahaguru mulai menerangkan tentang bunga tersebut pada Elang.
"Bunga ini namanya sumax, ini tumbuhan obat yang biasa dipakai hilangin bau badan di masa lalu." 🧝
Elang manggut pelan, dan serius menyimak semua yang dijelaskan Mahaguru padanya.
"Elang, kamu dengar!" Mahaguru Dewa berdiri, dan menghampiri Elang yang masih terpukau sama sumax di depan matanya.
"Mungkin perlakuan teman-temanmu hari ini, bikin kamu jadi kurang enak hati, tapi walau gimanapun, kamu tetap bagian Volt Riders, tanggung jawab menjaga kota ada di bahumu, dengan atau bahkan tanpa mereka." 🧝
"Apa arti aku tanpa mereka, Mahaguru? Kita udah komit bakal terus sama-sama apa pun yang terjadi." 💚
"Memang itu tujuanku menyatukan kalian. Aku senang kamu ingat itu." Mahaguru Dewa pun tersenyum, dan balik menuju kursi yang tadi sempat dia duduki.
"Tapi satu hal harus kamu ingat, namamu Elang, bukan bebek." 🧝
"Maksud Mahaguru?" 💚
"Bantu rekan-rekanmu dulu, nanti kamu paham." 🧝
Mahaguru pun mengambil beberapa tangkai sumax, dan langsung menyerahkan ke Elang yang telah bangkit untuk transformasi.
======
Seperti biasa, Volt Riders dengan gampang melumpuhkan pasukan kuyuk binaan Cantik. Mereka pun menargetkan si monster sigung, namun terlihat kewalahan dan malah jadi bulan-bulanan karena tuh monster kebal pada senjata mereka masing-masing.
"Hah, kalian mukul apa nyubit sih? Nggak ada rasa sama sekali." si monster meremehkan, sembari lantas jongkok seakan hendak buang air di depan tubuh nggak berdaya Riders.
"Gantian ya!"
Kreatur itu pun mulai ngeden, dan dalam sekejap, asap liar berhamburan memenuhi lokasi kedua pihak bertarung.
"Huek, huek, aaaaakh..." para Riders seketika mual setelah asap kuning tersebut menyusup hidung mereka. Lebih dari itu, paparan busuk asap barusan juga bikin leher mereka tercekik hingga terasa berat kala bernafas.
"Yes, hihihi." Cantik justru bersorak melihat Volt Riders se-menderita itu. "Ayo, sigung, jangan bikin aku menunggu."
Sang monster pun bersiap memberi serangan terakhir, namun tiba-tiba....
"Slep, slep..." Dua benda asing tau-tau bikin bokong sang monster mampet hingga gagal total mengeluarkan asap.
"Tunggu apalagi, Sigung? Ayo lakukan." Cantik tampak nggak sabar menyaksikan si monster nggak kunjung mengeksekusi.
"Aku nggak bisa, bokongku tersumbat nih." keluh sang sigung yang tentu bikin Cantik tambah heran sekaligus jengah.
Asap pun pudar perlahan, dan sosok hijau muncul menjawab heran kedua makhluk tersebut.
"Kenapa? Susah BAB ya?" sosok yang tentu Elang itu, langsung meledek ketika melihat lawannya kesakitan.
"Butuh obat? Nih kukasih." Elang pun melepas sisa sumax di tangannya, dan melempar benda itu dibantu tenaga angin nunchaku yang ia genggam.
Aksi yang terbukti nyata, dan langsung bikin tuh monster hilang keseimbangan dihajar secara keras dan bertubi-tubi.
Elang pun nggak menyia-nyiakan peluang, dan segera mengarahkan nunchaku tepat di batang leher sang sigung.
"Kamu bikin kawan-kawanku kehabisan nafas, kamu juga harus rasain itu." 💚
Elang pun berlari mengitari sang monster, dan sekejap kreatur tersebut hancur luluh dengan keadaan pucat dan tercekik.
Cantik kontan shock dan hanya bisa tepuk jidat, seperti halnya Pak Bayang yang melihat semua dari Istana Kegelapan.
"Apa-apaan itu, Aji? Bodoh banget tuh bocil, mau aja bantu orang yang nggak hargain dia." 😈
Seperti biasa, Imaji selalu kelimpungan kalau Pak Bayang uring-uringan gini.
"Kopi mana kopi? Aku butuh ketenangan!" 😈
======
Elang tiba di rumah dalam kondisi gontai bak kehilangan semangat hidup. Dia benar-benar ada di titik nadir, lantaran Volt Riders tetap cuek bebek walau udah dia selamatkan dari sihir 'Dinasti Kegelapan' tadi.
Lomba drone tempo hari pun perlahan mulai El Gondrong lupakan. Bagi dia, teman-teman seperjuangannya jauh lebih penting daripada reputasi semu yang belum jelas fungsi buat dia.
Sejurus Elang mendorong nafas usai pintu utama rumahnya terbuka. Dia lalu menekan saklar lampu depan, tapi kemudian...
"Ctas, ctas, ssssh..." ledakan confetti tiba-tiba terdengar diiringi nyanyian dari arah belakang Elang.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, Mas Gondrong, happy birthday to you." 💙💛❤️💜
Sejenak Elang ngowoh mempelajari situasi yang sedang terjadi. Rana, Rein, Juna, Eran, serta selapis black forest di antara mereka. Apalagi ini?
"Hei, Lang, hei." Rein kontan kibas tangan agar Elang berhenti melongo dan membaur sama keadaan.
"Kenapa ma ki melamun? Ini ultah ki kan?" 💜
"Kalian..." Elang habis kata merespon semua yang dihadirkan padanya.
"Selamat ya, Lang, dan maaf kasar pada kau seharian ini." Eran pun merapat dan langsung menyalami si gondrong yang masih belum 100% sadar.
"Ayo, kawan, duduklah!" ❤️
"Kalian ngapain, segitunya kasih aku kejutan." 💚
"Kam tanyalah bebinian kita, mereka tuh yang ngide." jawab Juna sambil gantian menunjuk dua gadis di tengah-tengah mereka.
"Gih, Lang, tiup lilin!" Rana pun menyodorkan black forest mereka ke hadapan wajah Elang.
"Doa jangan lupa!" lanjut Rein yang seketika disambut Elang lewat gestur positifnya.
Lilin pun padam, diiringi tepuk tangan Riders buat rekan gondrong mereka itu.
"Oke, Manteman, waktunya party." Eran lantas mengajak pindah, dan tanpa banyak omong menyambung smartphone pada loud speaker dekat TV Elang.
"Kuy, Lang." walau antusias, Rana tetap nggak lupa jika ini adalah acaranya Elang.
5 anak muda itu pun suka ria bareng, terbawa jedag-jedug yang menggaung dari handphone pintar Eran.
***
ns216.73.216.101da2


