"Saudara pemirsa, baru-baru ini pemerintah kota merencanakan pembangunan gedung pencakar langit di wilayah cluster elit 'Mada Warna'. Pembangunan itu nantinya akan didanai tiga investor lokal, dan akan berlokasi di lapangan Calsedony yang selama ini kerap dijadikan sarana berolahraga publik. Menurut Walikota..."
"WHAT?" Rana sangat gemas saat menekan keypad 'off' remote TV. "Nggak salah tuh kebijakan? Bisa-bisanya gusur fasum demi bangunan yang dipakai segelintir orang aja. Nggak beres udah nih."
"Tok tok tok..." cerocosan Rana baru berhenti kala pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Siapa?" 💛
"Bibik, Non, disuruh Tuan panggil Non Rana turun."
Inilah titik lemah Rana, dia sanggup ngeyel dengan siapapun, namun jika Papanya yang memanggil, dia nggak bisa berkutik apalagi sampai menyanggahnya balik.
"Belum tau aja tuh Walkot kalau mahasiswa turun. Dia pikir bisa gitu, bikin-bikin aturan aneh seenaknya?" 💛
"Duh, gadis Papa kenapa sih? Pagi-pagi udah sewot aja." Papa Rana kontan tersenyum melihat putri semata wayangnya ngedumel.
"Iya, Ran, nggak baik marah pagi-pagi, jauh rezeki nanti." timpal Mama Rana, sambil tetap manja menempel di dada lakinya yang masih atletis.
"Gimana Rana nggak kesal, Pa, Ma," Rana pun berujar, walau tetap bersungut terbawa panas yang nangkring di kepala. "Masa Calsedony mau digusur gitu aja? Terus Rana jogging di mana nanti? Program diet Rana belum 100% fit nih."
"Rencana pembangunan gedung pencakar langit itu?" Papa Rana langsung ngeh dengan sebab-musabab sang anak misuh. "Papa dan Mama juga nonton kok tadi."
"Kalau menurut Mama sih, memang agak aneh, Ran, udah tau fasum satu-satunya, malah mau diganti fasum lain." setidaknya kita tau gen kritis Rana datang dari mana.
"Tapi kita mau bilang apa, Ran, itu tanah kan dari dulu memang milik pemerintah, mau dijadiin apa juga, itu hak mutlak mereka."
"Tapi nggak gedung juga kali, Ma, kasihan warga, nggak bisa ikut rasain pajak mereka sendiri." darah muda Rana menentang tegas sikap 'nrimo' Mamanya itu.
"Mau gimana lagi, Ran? Namanya hak milik, susah kita lawan." Papa Rana lebih condong mengikuti sang istri ketimbang pola pikir progresif anaknya.
"Permisi, Tuan," si Bibik bikin keluarga Rana teralih dari obrolan pagi mereka.
"Sarapannya udah siap di meja."
Ortu Rana pun gandengan ke meja makan, diekori sang gadis yang tetap manut walau masih kurang puas idenya belum diterima utuh.
"Udah ya, Pa, Ma, Rana ngampus dulu, ada kelas pagi ini." Rana pun pamit, sembari cium tangan ke dua orang penting di hidupnya itu.
"Jangan lupa buahmu nih! Katanya masih program diet." Mama Rana pun bergerak, dan membungkus beberapa apel sebagai bekal anak gadisnya menuju kampus.
======
"Aku setuju dengan kau, Ito, kebijakan Walkot untuk Calsedony memang kelewat batas." di tongkrongan Volt Riders, Pangeran jadi suara pertama yang menyokong Rana soal kabar tadi pagi.
"Aku juga, biar gimana, relokasi perlu pertimbangan matang. Nggak bisa asal dilakukan." Rein pun menyambut opini dua kawan karibnya itu.
"Memang sih tuh tanah pemerintah. Tapi ini jelas beda. Suka nggak suka, Calsedony berstatus RPTRA, perlu diskusi publik buat nentuin kebijakan di sana." 💛
"Dan harus ada solusinya juga. Tanpa solusi, tuh kebijakan nggak beda sama penelantaran sih." Elang pun memperkuat opini yang mengitari circle Riders kini.
"Kok aku curiga ya? Jangan-jangan Dinasti Kegelapan ada main di balik ini." begitulah Juna. Jarang banget ngomong, tapi sekali buka suara, susah buat rekan-rekannya nggak kaget.
"Darimana pula kau dapat kesimpulan?" ❤️
"Asumsi aja sih, Er, sebab aku perhatiin, ini kebijakan lain banget dari sebelumnya." Juna menjawab kalem keheranan Eran barusan.
"Benar juga sih, bisa jadi mereka terlibat." Rana segera pasang badan membenarkan argumen yang disampaikan Juna.
"Tapi kepentingan mereka apa, Ito? Kau kan tau selama ini mereka fokusnya bikin onar aja." ❤️
"Mungkin mereka punya rencana baru lagi, Er," Elang coba kasih Eran alternatif. "atau jangan-jangan, tuh gedung mau mereka jadiin markas baru lagi, biar lebih gampang serang kota sewaktu-waktu."
Eran pun mengangguk, dan mulai sadar kawan-kawannya memang punya dasar kuat berbicara.
"Apa lebih baik kita konsul ke Mahaguru aja soal ini?" Juna mengusul, agar dugaan mereka punya status lebih valid.
"Bisa, Jun, kalau perlu minta Mahaguru punya pendapat, baru kita susun langkah." ide Juna seketika diamini El Hijab cepat.
Mereka pun sat set ke markas, tanpa sadar kalau Pak Bayang uring-uringan lantaran Cantik lenyap selama sepekan.
"Udah, Yah, nggak usah terlalu khawatir, Kak Cantik toh udah dewasa, ya kali dia kesasar." Aji coba menenangkan Pak Bayang yang terus hilir-mudik gelisah.
"Gimana Ayah nggak khawatir? Ini udah satu minggu, nggak biasanya Cantik hilang segini lama." 😈
"Terus kita mau gimana? Lapor ke polisi soal kehilangan Kak Cantik ini?" 🥊
"Ngaco kamu," persis tebakan Imaji, Pak Bayang jadi kian stres mendengar kata 'polisi' darinya.
"Lebih baik kamu bikin monster aja! Biar dia yang cari Cantik." 😈
Aji pun menurut, dan langsung imajinasi sembari putar tangan mengikuti rekaman otaknya.
======
"Sepertinya benar, pembangunan gedung itu cuma akal-akalan Dinasti Kegelapan di kota." akhirnya Mahaguru berpendapat usai freeze di depan para Riders.
"Lalu tujuan mereka apa, Mahaguru? Selama ini, kita taunya mereka cuma cari ribut aja, lewat monster ciptaan mereka." Pangeran masih ingin tau motivasi di balik sikap musuh abadi mereka.
"Entah," Mahaguru rupanya kurang ngerti juga niat yang sejak tadi jadi dugaan Volt Riders.
"Tapi pandanganku, bisa jadi itu trik biar keadaan chaos kayak yang mereka mau." 🧝
Mahaguru Dewa lalu minum air kendinya, sementara Volt Riders tampak penasaran ingin El Mentor kasih saran sebagai garis panduan langkah mereka.
"Ada baiknya kalian menyusup ke balai kota. Lihat seperti apa situasi di dalam, aku yakin ada hal nggak beres di balik itu kebijakan, seperti kalian juga." 🧝
======
Tiga hari berlalu, gelombang protes rupanya kian membahana. Warga lintas lapisan, terutama yang rutin memakai tuh lapangan, tipis-tipis bergerak menentang rencana yang dinilai sepihak tersebut.
Suasana pun mencekam terbawa massa yang mulai padat. Hal itu berimbas ke keseharian para Riders, seperti Juna yang harus putar arah agar nggak kena macet saat ingin ke kampusnya.
Di sisi lain, Eran aslinya diminta juga buat memimpin demo di lingkar aktivisnya. Tapi karena komit pada Volt Riders, dirinya pun menolak halus dan malah kasih tanggung jawab pada para aktivis junior di sana.
Para Riders sendiri terlihat lagi serius di tongkrongan. Lima anak itu memang lagi tukar pikiran, sambil menata pematangan taktik yang mereka susun sejak pertama kali isu bergulir.
"Jadi sebelum jam satu, kalian usahakan masuk dalam balai kota. Sementara aku, Elang, dan Juna, di antara demonstran melihat-lihat situasi di luar." seekstrim itu ternyata rencana Volt Riders.
"Tapi kita perlu alasan kuat, Er, biar bisa masuk sana. Itu gedung pemerintahan lho, keamanannya pasti ketat banget." 💛
"Rana benar, Er, apalagi keadannya gini. Pasti makin-makin udah penjagaan." Rein pun sepakat sama alasan yang diutarakan Rana.
"Kalian tinggal bilang mau urus izin atau surat apa kek, masa sih mereka nggak ACC?" 💚
"Ngomong sih gampang, Lang, praktek yang susah. Ya kali mereka percaya muka-muka bocil kita." Rana tampak kurang sreg dengan ide yang Elang kasih padanya.
"Atau gini aja, Ran, gimana kalau kam bawa nama Papa kam buat masuk sana?" sekali lagi Juna membawa ide yang bikin Riders ngepot jantung berjama'ah.
"Maksudmu apa ngomong gitu?" 💛
"Kam dengar dulu, jangan langsung emosi." Juna keep calm walau Rana setor muka lemon di hadapannya.
"Maksudku gini, kam ingat kan, sama pabrik yang dibangun Papa kam di desaku itu? Nah kam alasan aja mau urus izin tuh pabrik. Soal Rein, kam bisa bilang dia saudara kam dari kota lain, beres kalo?" 💙
"Keren tuh, Jun, boleh juga." Elang kontan memuji usul brilian Juna barusan.
"Ya udah, kalau gitu semua setuju ya?' Eran pun segera menertibkan diskusi Volt Riders ini.
"Artinya jam satu, semua udah siap di pos! Kita nggak punya banyak waktu, hari ini juga, kita harus ungkap semua." ❤️
***
ns216.73.216.101da2


