Juna berniat ke balai kota setelah sejenak makan di depot langganannya. Dan demi menghindari penumpukan jalan, sebuah jalan tikus akhirnya jadi alternatif yang dia tempuh demi tiba di gedung megah tersebut.
Dia pun memacu motor kencang agar nggak sampai telat ikut demo. Tapi belum sempat keluar dari jalan tikus, sebuah monster unik tau-tau dijumpainya hingga bikin perhatian ia beralih melihat ke mana dan apa yang dituju spesies berbentuk kambing itu.
Juna pun segera menghubungi Eran lewat chat, dan nggak lama berselang...
"Hei, siapa kam?" 💙
Mendengar teriakan Juna, makhluk yang kayaknya monster Dinasti Kegelapan ini serta-merta menoleh. Tapi beda sama situasi yang udah-udah, kreatur itu justru tunggang langgang begitu ketemu mata dengan cowok serba biru tersebut.
"Tunggu!" Juna pun bergegas menggeber motor untuk mengejar kreatur incarannya itu.
El Cepak sendiri nggak lupa pasang headset bluetooth di kuping, guna berjaga kalau-kalau Riders lain menghubungi di misi pengejaran dadakannya ini.
"Halo, Er," benar aja, Eran ternyata merespon dan bicara langsung via udara.
"Kam sama Elang kah di TKP? Kalau iya bilangin dia, ada monster menuju ke sana, amanin segera semua demonstran! Aku lagi otw kejar tuh monster." 💙
Sementara Juna sibuk di misi jalanannya, ide yang dia luncur ternyata manjur membawa para cewek masuk balai kota. Dan agar nggak mengundang kecurigaan, mereka berdua pun bersikap biasa dibantu dua buah apel pemberian Mama Rana tadi pagi.
"Eh, Ran, coba ki lihat!" Rein menyikut pelan Rana untuk memberi kode El Pirang menoleh.
"Kenapa sih?" 💛
"Ededeh, ki nggak curigakah ke FO satu itu? Dari tadi kulihat, 3 kali dia mondar-mandir ke belakang." 💜
"Terus kenapa?" Rana kelihatan belum ngerti arah omongan Rein.
"Rana, menurut ki wajar kah, orang ke toilet 3 kali dalam sepuluh menit?" Rein pun akhirnya lugas, hingga Rana sadar ada sosok yang pas untuk mereka berdua curigai.
Rana dan Rein lalu kembali pura-pura makan agar target mereka nggak curiga. Dan saat sekali lagi sang cewek masuk koridor, mereka berdua auto menyelinap dan langkah senyap hingga tiba di toilet yang posisinya agak tersembunyi.
"Kami udah tau," bisik Rana seraya pura-pura cuci apel yang sisa setengah di tangannya. "Mau ngaku sendiri, atau kami paksa?"
"Di mana ki sembunyiin Pak Walikota?" Rein pun menimpal Rana, sambil ikut cuci tangan dengan posisi mengapit tuh cewek asing.
Perempuan itu hanya senyum, namun tanpa disangka, dia lantas menyerang Rana dan Rein untuk segera kabur ketika dua Riders itu tersungkur.
"Rein, ambil depan! Biar aku yang hadang di belakang." Rana pun ambil inisiatif, dan minta Rein split team agar lebih mudah menangkap gadis tadi.
Rana pun gercep ke belakang, tapi terhenti oleh percik korek sakti di kantongnya.
"Lupain Cantik! Lebih baik bantu para cowok di luar! Mereka sedang mengurus monster." 🧝
Rana pun mengangguk, dan langsung alih mata mencari Rein yang mungkin udah ada di sana.
======
Suasana luar memang chaos. Monster kambing yang tadi dikejar Juna, kini telah masuk lokasi demo dan menabraki massa termasuk Elang yang turut menghadang juga.
Eran dan Juna pun bergegas menolong agar bisa bareng mengejar itu monster. Beruntung di waktu yang tepat, para cewek hadir dalam wujud transformasi dan sukses menyetop sang monster lewat palu godam milik Rein.
"Kita bisa langsung bunuh kam, tapi kita tau, kam nggak niat menyerang." Juna buka suara, sambil bergerak mengepung ruang di sekeliling sang monster.
"Jujur sama kami, apa tujuanmu ke sini?" Elang ikut tanya, walau nadanya ketus diiringi tampol ke muka tuh kreatur. Masih keki akibat diseruduk barangkali.
"Apa salahku? Aku hanya diutus Bos Bayang cari Nona Kecil."
"Oh ya?" meski pasang muka memelas, si monster tetap nggak bikin Rana simpatik dan jatuh kasihan padanya.
"Kamu kira kita bakal percaya gitu?" 💛
"Tolong lepasin, aku bukan tandingan kalian."
"Ededeh enak banget minta lepas," Rein ikut sinis dengan cara sang kreatur memohon.
"Ki bisa jamin apa? Minta bebas gitu aja." 💜
"Percayalah aku nggak akan melukai orang. Aku cuma pengin balik ke Istana, laporin kegagalanku sama Bos Bayang."
Para Riders spontan saling tatap kayak minta pertimbangan satu sama lain. Satu sisi mereka melihat muka tulus si monster, tapi sisi lain jelas ada rasa nggak percaya lantaran Dinasti Kegelapan di balik hadir makhluk itu.
"Oke, kita percaya sama kau." Pangeran akhirnya ambil putusan usai adu mata sama kawan-kawannya.
"Tapi satu orang aja kau bikin lecet habis lepas. Kau tau akibatnya." ❤️
Eran pun minta Rein mengembalikan kondisi tanah, yang serta-merta disambut si monster dengan hilang usai menjauhi para Riders.
Sementara di Istana Kegelapan.
"Apa itu nggak berlebihan, Yah? Kasihan Kak Cantik, teriak-teriak terus dari tadi." 🥊
"Biarin, siapa suruh dia gerak sendiri." jawab Pak Bayang, sembari menjauhi arah teriakan Cantik yang kini terkunci di toilet belakang.
======
Satu kebenaran akhirnya terkuak. Walikota dan sejumlah staf memang kena sihir Cantik yang menyusup dengan mode pencari kerja. Dan seiring hilangnya tuh cewek, pengaruh pun praktis musnah dan bikin situasi kembali kondusif oleh para pejabat yang balik kayak mereka selama ini.
Kebijakan soal gedung pun serta-merta batal hingga Calsedony tetap jadi sarana olahraga. Keputusan itu disambut lega berlimpah, terutama Rana yang kelihatan paling sumringah di antara semua Riders dalam tongkrongan.
"Ah, akhirnya." 💛
"Akhirnya bisa lanjut program diet ya?" sahut Elang seraya memberi salah satu kopi ke Rein yang memang menitip tuh minuman.
"Lebih dari itu, Lang, status mahasiswa kita akhirnya berguna juga. Kita berhasil bantu warga mempertahankan hak mereka. Itu yang bikin aku senang." Kirana mengklarifikasi omongan Elang yang dia rasa kurang tepat.
"Semoga aja pemerintah lebih peka lagi cari tenaga. Karena baik buruk pemerintah, tergantung SDM di dalamnya." tandas Juna seraya menyedot jasuke yang sejak tadi pasrah di hadapannya.
"Tapi aku betul-betul salut, Manteman, kemarin jelas bukan perkara mudah, tapi kita sama-sama bisa melewati." Eran pun memuji kinerja Volt Riders dalam demo kemarin.
"Apalagi urusan sama tuh kambing, Er, terus terang aku masih dongkol habis dia tabrak." 💚
"Manteman, tunggu." perbincangan pun terjeda saat ponsel Rana berbunyi. "Iya, Pa."
"Kamu di mana? Jadi nggak temani Papa sama Mama sepedaan? Katanya masih diet sehat."
"Oh iya, Pa, sori, Rana lupa, tunggu ya!" Rana pun ingat, dan langsung berkemas begitu panggilan diakhiri sang Papa.
"Aku duluan ya, Manteman, ditunggu nih." 💛
"Iya, iya, met diet ya, Non." ceplos Elang usil, yang seketika disambut gelak oleh para Riders yang duduk di sana.
***
ns216.73.216.101da2


