Elang, Juna, Rana, dan Rein tampak lagi asyik di tongkrongan mereka. Ditemani minuman pesanan masing-masing, empat anak muda tersebut akrab dan saling membahas topik receh yang lagi hits di circle mereka.
Canda tawa pun mengalir hingga separuh gelas masing-masing habis. Eran pun hadir paling akhir, tapi anehnya justru hanya mojok dan nggak pesan apapun seperti yang Riders lain lakukan.
"Kenapa tuh anak?" wajar sih Elang khawatir. Penampilan dekil plus rambut acak-acakan kayaknya cukup memastikan Eran sedang nggak baik-baik aja hari ini.
"Tau." jawab Juna seraya lantas beralih mata ke 2 cewek di sebelahnya. "Coba kam berdua tanya!"
Rana dan Rein lalu beranjak bareng pada Eran yang tampak lagi bad mood parah. Dan begitu mereka udah dekat tuh cowok...
"Kamu kenapa, Er? Ada masalah ya?" 💛
"Nggak apa-apa." Eran pun menjawab, tapi tanpa menengok sedikitpun pada Rana yang tadi bertanya.
"Ededeh, bisanya ki bilang nggak apa-apa." Rein pun menyambar saking menilai jawaban Eran ngaco. "Coba kah lihat diri ki, di sebelah mana kita harus percaya ki nggak apa-apa?"
"Cerita aja, Er, kita semua siap kuping kok, buat masalahmu." 💛
Eran pun menyerah, dan mulai cerita bahwa dirinya lagi konflik soal kuliah dengan sang ibunda.
"Jadi besok aku harus pulang. Aku harus bicara biar ibuku paham keadaanku di sini." ❤️
Eran pun berlalu, meninggalkan rekan-rekan Riders-nya tanpa sedikitpun menyapa Elang serta Juna.
"Rupanya ada yang mau jalan jauh besok." di Istana Kegelapan, seperti biasa, Pak Bayang kepo terhadap pasukan yang dia sebut 'bocil' itu.
"Apa ini saatnya Cantik turun?" Cantik pun mengajukan diri merusuh kedamaian kota kembali.
"Not yet, belum giliranmu." tolak Pak Bayang, sambil lalu berbalik ke Aji yang tampak fokus mengamati portal.
"Aji." panggilan Pak Bayang tentu bikin Imaji alih fokus menengok sang Ayah.
"Eh, iya, Yah." 🥊
"Buat satu monster bertenaga biar tuh bocil bisa ditahan! Jangan sampai dia ketemu dan berbicara dengan ibunya, Ayah paling benci kerukunan keluarga." 😈
"Baik, Yah." ujar Aji, sambil lantas merogoh kuas sakti yang senantiasa tergenggam lima jarinya.
======
Pagi-pagi banget, Eran udah tampak ganteng dengan style bak lawyer ibukota. Ditemani ransel dan koper berisi notebook, El Klimis terlihat berdiri sembari melirik arloji untuk memastikan masih 'on the track' saat tiba di kampung halaman nanti.
"Udah jam segini kok bus belum pada lewat ya?" dilihat dari level keluhan, sepertinya Eran udah cukup lama stuck di titik berdirinya kini.
Sebenarnya sih, Eran bisa bawa motor agar nggak berbelit menempuh pulang kampung dia. Namun karena jarak yang cukup jauh, tuh anak memilih cari aman dan menumpang bus demi menghindari hal kurang enak sepanjang perjalanan berlangsung.
Eran pun merogoh saku dan berniat carter ojol sebagai ganti. Namun baru aja tangannya pegang ponsel...
"Aaaakh..." tubuh Eran kontan terpental akibat ledakan yang terarah padanya.
"Mau ke mana pagi-pagi? Musim hujan lho ini, jangan jauh-jauh, nanti masuk angin." monster kura-kura seketika hadir mengejek Eran usai ledakan.
El Klimis sama sekali nggak menggubris, dan lantas transformasi mereaksi sikap monster iseng tersebut.
Duel pun berlangsung seru walau si monster tampak lebih dominan. Dan kala Eran mulai rada terpojok...
"Hiyaaa, hiyaaa..." Elang, Rein, Juna, dan Rana bergiliran menendang mundur badan sang monster.
"Ngapain kalian di sini?" Eran terang bingung sama kemunculan rekan-rekan Riders-nya.
"Kita cuma khawatir, Er, barangkali kamu masih sedih." tandas Elang mewakili isi benak para Riders lain.
Obrolan sendiri nggak bisa lama, karena lawan mereka masih cukup kokoh dan sangat mendesak untuk ditumbangkan.
Lima Riders pun menyerang secara gantian, namun cangkang sang monster masih terlalu kuat terhadap berbagai senjata yang mereka pegang.
"Boleh juga," ujar monster itu, tentu dengan sarkas mengejek kegagalan Volt Riders menjatuhkannya. "Gimana kalau giliranku sekarang?"
Monster itu lantas menyungkupkan tangan, dan tanpa diduga ekornya berubah panjang hingga beberapa senti ke belakang.
Si monster pun memutar badan, dan dalam sekali serang, tuh kreatur lantas menghantam Elang, Rein, serta Arjuna sekaligus.
Alhasil, tiga Riders itu balik ke mode normal. Dan lebih celaka lagi, gerakan ketiganya juga mendadak lamban seperti kura-kura di dalam akuarium kaca.
"Manteman..." Rana kontan panik dan segera mendekati mereka. Sementara sisi lain, Eran hanya mampu terpaku walau diiringi tatapan geram melihat tuh monster begitu menguras emosi.
"Kenapa diam, anak muda? Itu yang terjadi di bus-bus yang kamu cari, makanya nggak ada lewat dari tadi."
"KURANG AJAR, aku bersumpah akan habisi kau dengan tanganku sendiri." rutuk Eran sembari menunjuk tajam ke arah si monster kura-kura berdiri.
"Silakan kalau bisa." sang monster justru kian jumawa melihat Pangeran makin naik darah. "Sekarang aku mau lanjut dulu, nggak punya waktu ladeni ocehan kosongmu itu, sampai jumpa ya?"
Monster itu seketika lenyap, meninggalkan Volt Riders yang kini harus kehilangan tiga punggawanya.
======
"Untuk apa kalian datang? Nggak perlu kalian ikut campur urusan pribadiku." Eran langsung ngamuk setiba Riders di markas Mahaguru Dewa.
"Kok kamu malah marah? Kita cuma niat jaga kamu. Kita khawatir kamu kenapa-napa." balas Kirana sengit menghadapi amarah El Klimis.
"Jaga apanya? Yang ada sekarang, justru aku yang jaga kalian." Eran jadi kian buas merasa egonya dipatah Rana.
"Tapi, Ran..." 💛
"Rana!" Mahaguru pun turun tangan, sambil menggeleng minta Rana stop meladeni Eran.
"Udahlah, kalian nggak perlu ikut campur lagi. Biar aku urusi tuh monster, nggak perlu kau sok-sok bantu." ❤️
Eran lantas meninggalkan markas, hingga Rana berbalik menghadap El mentor yang tampak masih duduk tenang.
"Mahaguru." 💛
"Biarin, dia sedang tertekan, kamu nggak perlu lawan." 🧝
"Tapi, Mahaguru, kita cuma mau bantu, nggak ada sama sekali..." Rana masih aja ngeyel.
"Kalau gitu lebih baik kamu bantu aku sini! Kita cari bareng kelemahan tuh monster." Mahaguru pun memotong, dan langsung menyuruh Rana rapat melihat rekam tarung awal mereka di portal.
Sementara di sudut Istana Kegelapan.
"Hahaha, kura-kuramu itu memuaskan." Pak Bayang gagal membendung puji saking senang dengan performa monster Imaji. Yang dipuji sendiri hanya merespon pakai senyum simpul di bibir.
"Iiiiiiiiiiiih, Ayah, masa Aji terus? Giliran Cantik kapan?" Cantik tampak iri melihat sang Ayah yang terkesan pilih kasih.
"Iya, Nona Kecil, iya." Pak Bayang pun merespon anak gadis kesayangannya itu. "Bawa kuyuk piaraanmu! Jaga monster selama proses penghancuran kota."
"Nah gitu dong, makasih ya, Ayah sayang." 🌹
Cantik pun menyiapkan pasukan, sebelum lantas turun mencari titik monster yang bakal ia kawal.
***
ns216.73.216.101da2


