Luar biasa efek yang ditimbulkan si monster kura-kura. Bukan cuma bikin mobilisasi warga terhambat, ia pun sukses juga menyesakkan sudut jalan dengan memperlambat laju tiap kendaraan yang melintas.
Sang monster sendiri kian superior seiring kemunculan Cantik dan pasukan kuyuk. Lalu lintas pun jadi tambah kacau, lantaran para kuyuk iseng mengusili seluruh pengguna jalan yang terjebak sihir ekor panjang tuh monster.
"Hiyaaaaaa..." kekonyolan itu baru berhenti saat Eran lompat mendadak ke arah mereka.
"Kamu lagi," monster itu langsung meledek saat tau siapa yang menghampiri mereka.
"Aku nggak peduli setangguh apa kau. Yang jelas, pantang bagiku melanggar sumpah." Pangeran yang udah dalam wujud Riders pun serta-merta membalas sikap meremehkan itu monster.
"Kuyuk!" Cantik pun tanggap, dan bergegas memerintah pasukannya menyerang Eran saat itu juga.
Sementara di markas Volt Riders.
"Eh, Lang, mau ngapain?" Rana auto panik melihat Elang coba menggerakkan badannya.
"Haus, Ran, mau minum." Elang menjelaskan alasannya hendak pindah tempat pada Rana.
Rana pun menarik nafas, untuk kemudian mengambil air mineralnya buat menolong Elang melepaskan dahaga.
"Rana, lihat ini!" Mahaguru memanggil Rana, sesaat usai dia meletakkan tuh botol kembali ke meja.
"Yang mana, Mahaguru?" 💛
"Itu, coba kamu lihat lagi!" Mahaguru Dewa pun memberi telunjuknya supaya Kirana mudah membaca kode terselubung yang dia sodorkan.
"Oh iya, benar juga." Rana manggut-manggut sambil terus memperhatikan tiap detil yang ada dalam rekaman tersebut.
"Jadi tau kan, yang harus kamu lakukan?" 🧝
Ditembak gitu, rona Rana tau-tau drop kayak menahan sebuah kecemasan mendalam.
"Gimana ya? Takutnya Eran masih marah ke aku gara-gara tadi." 💛
"Nggak perlu setakut itu, Nak." Mahaguru menguatkan Rana yang ia lihat masih kurang stabil.
"Yang Eran lakukan tadi cuma emosi sesaat. Dia marah sama keadaan, bukan sama kamu ataupun mereka." 🧝
Rana lantas melihat kawan-kawannya yang masih terjebak sihir, dan akhirnya mengerti situasi lebih dari pertarungan egonya dengan Eran.
"Kembalilah! Eran butuh bantuanmu saat ini." 🧝
======
Di atas kertas, skill Eran jelas lebih baik dibanding semua kuyuk piaraan Cantik. Tapi karena dia bertarung sendiri, wajar jika anak itu kepayahan dan kecolong beberapa gebok oleh gerombolan muka-muka anjing tersebut.
Beruntung Rana hadir menetralisir serangan yang terus meneror Eran. Tapi bukan merasa tertolong, Eran malah...
"Bah, mau apa lagi kau ke mari? Aku kan udah bilang..." ❤️
"Kamu ingin satu lawan satu sama monster itu kan?" Rana menyepak salah satu kuyuk sebelum ia bicara. "Kalau gitu lakuin! Semua kuyuk ini biar aku yang urus."
"Ini lain soal..." jawab Eran sambil turut membanting kuyuk yang mencekiknya dari belakang.
"Kerjain aja! Tunaikan dulu sumpahmu." 💛
Prediksi Mahaguru lagi-lagi tepat. Walau masih agak gengsi, Eran tetap manut Rana dan fokus mencari sang monster guna dia hadapi segera.
Pertarungan pun terbelah dua sisi. Eran one on one sama si kura-kura, sementara Rana solo versus squad menghadapi kuyuk yang kini mengelilingi dirinya.
Rana pun atur nafas sebentar usai berjibaku menghabisi muka-muka anjing itu. Dia lantas menengok duel Pangeran, dan mendapati si merah tersudut lagi oleh cangkang monster yang terlalu kebal senjata.
"Eran, tebas buntutnya!" gelegar Rana auto membuyarkan sang monster yang lagi fokus memanjangkan ekor.
Pangeran pun gercep ambil peluang, dan tanpa ampun mengikuti saran Rana hingga bikin si monster gelagapan kehilangan senjata andalannya.
"Kenapa diam? nggak bisa putar-putar lagi?" Eran membalas lunas ejekan yang diberi sang monster padanya.
"Curang, beraninya pakai cheat."
"Aku cuma satu, kau banyak, siapa yang curang?" ❤️
Eran lantas menghampiri sang monster, dan mengakhiri riwayat hidupnya dengan tebasan tajam pada batang leher.
"YESSSSSS!!!" Rana menyambut tuh momen, berbanding terbalik sama Cantik yang lemas melihat satu lagi kreatur mati sia-sia di depan dua bola mata lentiknya.
Kematian itu serta-merta melepas sihir sang monster, termasuk ke Elang, Rein, dan Juna, yang kembali bebas walau sempat agak kaget efek musnahnya sihir dari tubuh mereka.
"Eh, bisa, Manteman, kita bisa gerak lagi." Elang kontan excited, dan langsung dance tipis begitu mereka balik kayak sedia kala.
"Nanti aja selebrasinya, anak-anak, datangi dulu Rana sama Eran, bilang terima kasih ke mereka." nggak pakai lama, Mahaguru Dewa langsung menegur dari singgasana tempat duduknya.
Ketiganya pun tersipu, dan segera menuruti instruksi buat menemui Rana dan Eran.
======
"Ibuuuuuuuu..." Eran langsung bersimpuh begitu jumpa ibunya di kampung. Naluri tuh cowok seketika buncah, melihat sang bunda di atas kursi roda yang dituntun wanita muda seusia dia.
Elang, Juna, Rein, dan Rana yang ikut pun akhirnya paham. Menjadi harapan keluarga dengan ibu berkebutuhan khusus, wajar kalau Eran terkesan emosional dan arogan nggak ingin mendengar siapa-siapa.
Perselisihan pun akhirnya tuntas usai Eran dialog dengan orang yang melahirkannya itu. Kelimanya pun balik ke kota sore hari, dengan para Riders pisah duduk agar El Klimis punya ruang untuk merenung selama dalam bus.
"Sulit di posisi Eran, banyak beban harus dia pikul." tukas Rana seraya memangku wajah melihat Eran dari posisi belakang bus.
"Andai kita nggak ikut, mungkin selamanya kita bakal berprasangka jelek ke Eran. Ada hikmahnya juga nih perjalanan." Elang pun spontan afirmasi omongan El Pirang barusan.
"Biar gimanapun, Eran itu ketua kita, terlepas kondisi keluarganya, jadi kewajiban kita respek sama dia." Rein yang duduk di sebelah Elang pun, ikut nimbrung mengutarakan opini.
"Ya, respek, benar kam." Juna menggenapi semua, dan mengajak komit untuk bareng menjaga sang pemimpin Riders.
***
ns216.73.217.151da2


