Suasana pantai tampak ramai saat Volt Riders tiba. Dari jauh hari mereka telah janjian libur bareng, dan baru hari ini rencana tersebut bisa terlaksana tanpa hadangan.
Mereka pun menjelajahi pantai sesaat setelah semua ganti baju. Dan seperti diduga, Juna jadi yang paling antusias dan hampir nggak terkendali oleh darah pantai yang mengaliri tubuhnya sejak lahir.
Dua jam berlalu, satu-satu Riders kembali ke darat akibat dilanda kelelahan. Namun semua nggak berlaku buat Juna, yang masih terlihat enjoy menikmati cebur-cebur di atas debur ombak penghias laut tersebut.
"Ededeh, Ya udah, kita mau ke tuh warung dulu, kalau ki udah puas, susul mi nanti." tukas Rein mewakili para Riders yang capek minta Juna keluar dari laut.
"Beres." ujar Juna singkat, sambil tetap santai menikmati ombak di bawah pelampungnya.
Untungnya Juna nggak sampai kelamaan di suasana amat membuai itu. Kurang lebih 15 menit berselang, El Cepak akhirnya keluar dan menarik pelampung untuk menyusul para Riders yang mungkin udah kenyang di depot yang tadi ditunjuk Rein.
"Aduh..." belum 3 langkah, Juna tanpa sengaja menabrak seseorang kala dia memutar balik badannya.
Serta-merta Juna freeze akibat benturan yang terjadi barusan. Namun yang bikin dia lebih kaget, di depannya ada seorang gadis yang terkapar jatuh tertubruk tubuh tegapnya tadi.
"Maaf, Mbak, nggak sengaja." Juna kontan berinisiatif membantu perempuan tersebut bangkit.
"Nggak apa-apa, Kak, aku juga lari nggak lihat situasi tadi." dengan intonasi empuk, wanita itu tampak maklum sama insiden yang baru mereka alami.
"By the way, Kakaknya mau balikin ban ya?" Juna hanya mengangguk merespon gadis kulit kuning langsat tersebut.
"Kebetulan kalau gitu, mending bareng aja, aku juga mau balikin alat diving nih, yuk!"
Mereka pun melangkah ke tempat rental alat renang di sekitar situ. Di perjalanan keduanya pun mulai ngobrol, hingga akhirnya Juna tau tuh cewek bernama Badra dan maniak dunia air juga seperti halnya dia.
"Badra aja, Kak, biar lebih akrab." Badra pun mengingatkan supaya Juna nggak tambah kata 'Mbak' padanya.
"Oh iya, Mbak, eh, maksudku, Badra." 💙
"Kak Juna sendiri, ke sini sama siapa?" Badra pun melanjutkan lagi obrolan yang tadi agak terputus.
"Sama teman-teman sih, tapi mereka..." belum habis bicara Juna, ponsel di kantong lehernya tiba-tiba bunyi tanda seseorang mencarinya saat ini.
"Kamu lagi cari ikan hiu, Jun? Kita tunggu kamu lho dari tadi." suara sopran Rana menyambut usai 'halo' telah dilontarkan Juna.
"Eh, iya, Ran, otw." 💙
"Dipanggil pulang ya?" tanya Badra usai Juna menutup telepon.
"Nggak, cuma diajak makan aja," Juna pun menjelaskan agar Badra nggak salah paham. "Badra udah makan? Yuk bareng."
"Nggak ah, Kak, repotin entar." entah ragu atau jaim, Badra menolak halus ajakan teman laut barunya itu.
"Nggak lah, kita makan sama teman-temanku juga kok." 💙
"Benar nggak repotin?"
Juna kontan geleng kepala, hingga Badra pun bersedia saat tuh cowok menegaskan ajakannya lagi.
======
Cantik dan Aji sedang main uno di ruang utama Istana Kegelapan. Entah dari mana kartu mereka dapat, yang jelas keduanya terlihat enjoy menikmati permainan asah otak tersebut.
"Giliranmu, Ji!" tandas Cantik usai Aji bagi kartu sebagai re-start permainan mereka. Wajah masing-masing tampak cemong, lantaran sejak awal mereka bikin aturan yang kalah harus digosok arang oleh si pemenang.
"Kalian ngapain?" permainan baru teralih oleh suara Pak Bayang yang menghampiri mereka.
"Main uno, Yah, mau ikut?" ajak Cantik tanpa basa-basi menyambut kehadiran Beliau di situ.
"Hadeh, kalian ini," alih-alih sumringah, Pak Bayang justru geleng-geleng menyaksikan tingkah dua anak kesayangannya itu.
"Udah tau misi kita belum kelar, malah santai di sini." 😈
"Sesekali refreshing nggak apa-apa kali, Yah, tuh di kota juga, Aji lihat banyak yang liburan." 🥊
"Libur kita kalau udah menguasai kota, sekarang belum." Pak Bayang mengoreksi agar visinya tetap di kepala dua saudara tersebut.
"Aji, hari ini kamu nggak perlu bikin monster, Ayah punya tugas khusus untukmu." 😈
"Tugas apa, Yah?" mata Imaji serta-merta jadi sesipit Cantik saat menanggapi.
"Buka portalmu!" 😈
Aji pun membuka portal, yang menunjukkan para Riders lagi menikmati wisata mereka di pantai kota.
"Itu tugasmu," Pak Bayang menunjuk saat portal memperlihatkan Juna dan Badra. "culik perempuan itu! Bawa dan jadiin dia umpan bocil-bocilnya Dewa, biar mereka ke bukit tempat Ayah biasa healing."
"Bukit itu? Tumben." ganti Cantik yang heran pada Ayahnya.
"Sesekali Ayah juga mau main sama mereka, terus terang Ayah penasaran." 😈
"Terus Cantik?" Cantik lumayan cemas dirinya bakal ditinggal sendiri di istana.
"Jelas kamu ikut dong, sayang," ujar Pak Bayang supaya Cantik nggak kelamaan takut.
"Tapi saat ini, temani Ayah dulu aja! Nanti di sana, baru kamu bantu Aji, oke?" 😈
Siasat pun tersusun, dan Aji memulai langkah turun menuju tempat liburan Riders kini.
=====
"Manteman." kedatangan Juna dan Badra, kontan bikin para Riders melongo. Saking kagetnya, bakso di garpu Rana batal masuk mulut dan balik ke mangkuk yang ada di depan El Pirang.
"Bah, cewek mana rupanya kau bawa?" Eran jadi yang pertama menanyai asal-usul cewek bawaan Juna.
"Ngeri kamu, baru dua jam di sini, udah gebet cewek aja." Elang nggak ketinggalan, walau rada ambigu antara memuji atau mem-bully El Cepak.
"Oh ya, kenalin." Juna pun kasih ruang biar Badra bisa kenalan sama mereka.
"Ededeh, dapat di mana itu cewek?" bisik Rein kala Juna telah duduk rapi di sebelah dia.
"Mau tau aja kam." ujar Juna enteng, yang lalu direspon cubit meski mereka koor cekikikan pada akhirnya.
Perhatian pun sementara tumpah ke Badra, dan setelah tau jati diri tuh cewek, semua Riders akhirnya maklum kenapa Juna bisa lengket meski mereka baru aja kenal.
Mereka pun keluar dari warung begitu seluruh hidangan telah masuk perut. anak-anak muda itu terlihat begitu gembira, tapi tiba-tiba...
"DUAR, DUAAAAAR..." lagi-lagi serangan kejut menimpa mereka secara mendadak.
"Hahaha, aku suka ini." sembari terkekeh, Aji lompat melewati kuyuk yang baris di depannya.
"Ayo, siapa dulu yang mau kutonjok nih?" 🥊
"Badra, kam nggak apa-apa?" beda kayak yang lain, Juna pilih menolong Badra alih-alih meladeni Aji saat itu juga.
"Mau bikin kacau apalagi kamu?" meski menghadapi lelaki tegap, Kirana kelihatan nggak gentar dan tetap menggertak pakai nada melengking.
"Nona, kamu terlalu cantik untuk gelid, gimana kalau kita pacaran aja? Kubayarin deh UKT-mu semester depan." 🥊
"Lancang banget kamu, dia cewek baik-baik, nggak cocok karo rai bosok kayak kamu." tanpa ampun Elang mencaci agar Aji sadar dan berkaca.
"Anj*ng kamu, beraninya menghinaku, kuyuk!!!" Aji terang terkipas, dan kontan tawuran pecah seiring seruan tuh cowok ke pasukan anjing yang dibawanya.
"Badra, sembunyi!" Juna mengamankan Badra lebih dulu, sebelum pasang ancang-ancang melawan para kuyuk yang menghampirinya.
Tarung sendiri dimenangi para Riders walau mereka tetap pada wujud normal. Tapi ketika mau lanjut...
"Ke mana dia?" pertanyaan Eran terjawab dengan jerit Badra yang melengking tiba-tiba.
"Badra..." Juna jelas shock mendapati Badra terjebak dalam pelukan Imaji.
"Hahaha, segampang ini prank kalian ya? Pantas Kak Cantik semangat tiap disuruh ketemu kalian."
"Lepasin Badra!" Juna pun adu urat saraf saking nggak terima Badra disakiti.
"Oh ya, boleh, tapi nggak di sini." Aji lantas melempar sebuah botol, yang seketika kena badan Juna dan direspon kaget oleh El Cepak.
"Pinjam cewekmu dulu ya, sampai jumpa." 🥊
Aji pun hilang tanpa bekas, meninggalkan botol tanda dirinya sempat ada di sana.
======
ns216.73.217.151da2


