"AAAKH..." Juna langsung menumbuk bogem ke salah satu tembok beton sekitar pantai. Sementara di belakang, para Riders hanya mampu mengekor sambil menjaga El Cepak supaya nggak membabi buta di sana.
"Ededeh, tenang ma ki, nggak perlu anarki gitu." 💜
"Siapa yang anarki? Aku cuma kesal ke diri aku sendiri, nggak pernah bisa jaga orang di sekitarku." Juna spontan menyentak saking emosi tinggi kehilangan Badra.
"Bah, apa pula omonganmu itu?" Eran segera back-up agar Rein nggak terus dimakan Juna. "Nggak perlu kau salahin diri kau sendiri, Jun, semua yang terjadi 100% ulah geng busuk satu itu, bukan kau."
"Udah ya, Jun, tenang, kita bantu ki kok, Badra bakal balik sama ki, percayalah." 💜
Dasar Juna orang yang kalem, sekalipun tadi sempat marah besar, dirinya tetap cepat dingin dan usai melepas semua amarah di dinding.
Rein pun menuntun Juna ke barisan, dan fokus membantu rekan-rekannya memikirkan cara menyelamatkan Badra dari jerat Dinasti Kegelapan.
"Manteman, lihat deh!" Rana yang sejak tadi menggenggam botol Imaji, tau-tau menyeruak menunjukkan kertas yang ada di botol itu.
"Mirip peta ya?" Elang paling awal sadar makna gambar dalam tuh kertas.
Eran, Rein, dan terutama Juna, kontan larut dalam penasaran yang sama dengan mereka.
"Ini kan, bukit di batas kota itu? Artinya..." Rein gantian menatap para Riders.
"Benar, artinya kita tau harus kejar tuh orang ke mana." Rana pun menegasi kalimat teman berhijabnya tersebut.
"Oke, Manteman, nggak perlu buang-buang waktu, anggap aja ini extra liburan kita." ❤️
Eran pun bersiap dengan korek sakti, tapi tiba-tiba...
"Er..." Juna bikin yang lain menunda sesaat transformasi mereka.
"Biar aku, orang-orang itu harus tau apa akibat bikin marah introvert." 💙
Eran mengangguk memahami Juna, dan menepuk El Cepak sebelum kasih tempat pada tuh anak.
"SAATNYA BERUBAAAAAH!!!" 💙
======
Juna berlari paling depan kala Volt Riders tiba di bukit pada peta tadi. Dia lalu melihat-lihat sekitar, dan mendapati Badra terikat di satu tiang dikerumuni sejumlah kuyuk yang bikin pagar melingkar mengitari tuh cewek.
"Badra..." Juna segera mendaki, namun...
"Aaaaaakh..." Juna terpental oleh ledakan yang mengarah padanya.
Para Riders pun merapat, memastikan si biru baik usai serangan mendadak yang ia terima.
"Kalau masuk rumah orang, ucap salam dulu, kalian ini diajarin budi pekerti kan?" suara Pak Bayang mengalihkan Riders ke area belakang tuh bukit.
"Jadi kau yang namanya Bayang?" ❤️
"Astaga, benar ya kalian nggak tau sopan, sama yang tua panggil nama aja, dasar bocil zaman sekarang." 😈
Pak Bayang pun mengetuk tongkatnya, dan sekejap, tempat itu berubah jadi perairan dengan para Riders terjebak di tengahnya.
Aji memetik jari, dan seketika predator air keluar menyerang mereka berlima secara bergantian.
"Jangan takut, Manteman, ini cuma ilusi, kita hanya perlu fokus." tegas Juna, sembari lalu mematung memusatkan fokus secara penuh.
Seekor gurita lantas timbul menyerang Riders, namun kini Juna sigap dengan gestur dia saat menjala.
"Apa-apaan bocil itu?" Pak Bayang tentu kaget melihat ilusinya dipatahkan si biru.
"Ayo, Manteman!" Juna pun memandu Riders, berpegangan di kaki gurita yang telah dia jinakin.
Volt Riders pun berhasil melewati ilusi optik, tapi Cantik nggak tinggal diam dan menyeru separuh kuyuk agar menghalangi gerak mereka.
Pertarungan pun bergejolak, namun pada sisi lain, penjaga yang melonggar rupanya dilihat Badra sebagai peluang meloloskan diri.
Badra pun diam-diam cari celah di tali yang erat mengikat tangannya. Gadis itu lalu pelan mengendap, sebelum akhirnya menggigit salah satu kuyuk dan bergegas menjauhi mereka.
Juna yang sadar pun, merapat melindungi pelarian Badra di sana.
"Kam tunggu sini! Kita mau tuntasin dulu ini." Juna gercep mengonfirmasi, sebelum lantas balik usai memastikan Badra aman.
Pertarungan pun berakhir nggak pakai lama, dan meski cukup payah, Volt Riders tetap unggul usai kuyuk lumpuh satu per satu.
"Awas aja kalian, bocil, tunggu balasanku!" ucap Pak Bayang murka, seraya mengajak dua anaknya pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Kam nggak apa-apa?" tanya Juna begitu dia rapat lagi pada Badra. Si gadis sendiri hanya menjawab pakai geleng kepala yang terlihat lumayan lemas.
85Please respect copyright.PENANAQfdTowPj66
"Ya udah, ayo balik! Kam pasti capek habis disandera tadi kan?" 💙
Juna lalu mengomando rekan-rekannya, dan beranjak dari bukit sambil merangkul Badra yang tampak trauma hebat.
======
Para Riders mengakhiri liburan dengan mood campur aduk. Satu sisi wajah lelah mustahil mereka sembunyikan, tapi sisi lain, apa yang mereka dapat sepertinya lebih dari cukup untuk kasih energi baru ke depan.
Badra sendiri mereka ajak, namun entah sungkan atau takut merepotkan, gadis itu menampik halus dan memilih jalan pulang secara mandiri.
Namanya anak muda, biar capek, tetap aja tingkah receh nggak mereka tinggal. Namun beda dengan kawan-kawannya, Juna cuma cengar-cengir sembari mainin ponsel di pojok kiri tengah mobil.
"Apa ki lihat? Senyum-senyum sendiri." Rein yang duduk di tengah serta-merta kepo usai menerima kode dari Elang.
"Apa sih, Rein? Mau tau aja kam." Juna kontan menghindar, tapi mata Rein lebih gesit hingga paham itu cowok lagi stalking akun Facebook Badra.
"Cieeeeee, yang lagi jatuh cinta, hihi." 💜
"Pepet udah, Jun, peluang nih, tunggu apa lagi?" Rana yang duduk di bangku depan, nimbrung melihat rekan-rekannya ghibah di belakang.
"Peluang apa, Ran? Tadi aja dia nolak pas kita ajak bareng." 💙
"Tapi kamu dapat WA-nya kan?" celetuk Elang tanpa ampun kasih Juna skak mat. "Itu kode sebetulnya, benar kata Rana."
"Cewek memang gitu, Jun, di awal selalu malu-malu kucing." Rana memperkuat omongan yang barusan dilontar Elang.
"Coba aja dekati dulu, barangkali dia mau lihat effort-mu lebih jauh." 💛
"Ayolah, Jun, kau tuh cowok, jadilah gentle, sejak kapan cewek kejar cowok, nggak ada ceritanya itu." Eran yang menyetir, jadi ikut komen saking serunya Riders kompori Juna.
"Kam fokus nyetir aja, Er, dilarang bicara sama driver." 💙
"Ah, kau tuh." meski kesal, Eran tetap tau Juna nggak berniat merendahkannya.
"Udah, Jun, nggak usah ki ragu, nggak akan ki rugi sama perempuan kayak Badra tuh." Rein memotivasi agar Juna lebih pede merawat bunga di hatinya.
"Aku lihat dia cewek baik, kuat, cerdas, cocok mi sama ki." 💜
"Lihat nantilah, kam semua kan tau, aku lain laki-laki yang mudah jatuh hati."💙*)
"Halah, sok senja kamu." ejek Elang lagi, sembari menoyor Juna yang disambut tawa Riders dari dalam mobil.
***
*) Kasidah Cinta (Vocal : DEWA 19, Composer : Ahmad Dhani, 2002)
ns216.73.217.151da2


