Dua hari ini, Rein dibuat uring-uringan oleh situasi di sekitarnya. Cuaca panas cenderung kering, hingga siklus bulanan yang bikin mood labil, sepertinya cukup jadi alasan El Hijab tantrum bak bayi kehilangan botol susu.
Tapi sebenarnya, kejengkelan Rein berakar pada air bersih yang belakangan jadi langka di kampungnya. Akibat seret aliran air di sana, keluarga Rein pun jadi terganggu dan sedikit ribet karena harus cari alternatif agar stok air tetap terjaga memenuhi bak mandi mereka.
"Ededeh, Ecce, manre olo mi, dari pagi belum ada isi perut ki." Umi Rein pun menghampiri saking cemas melihat gadisnya melamun.
"Entar ji, Mi, Rein masih pusing, lemas." 💜
"Kalau ki turuti terus, nggak bakal berhenti itu." Umi Rein membujuk lagi demi sang anak mau nurut pada instruksi yang Beliau berikan.
"Ayo mi makan! Tambah sakit ki kalau nggak ada masuk nasi nanti."
Sulit Rein bantah kalau Uminya udah turun tangan. Ditinggal sang Abi sejak kecil, praktis membentuk El Hijab jadi sosok berbakti dan mendengar apapun omongan dari sang Umi untuknya.
Rein pun kini telah siap di depan nasi plus bawal bakar favoritnya. Dan walau lambat efek kondisi kurang fit, hidangan itu tetap bisa habis dan dibawa Rein ke dapur guna dicuci seketika itu juga.
"Mana Bang Hilmi, Mi? Dari tadi nggak ada Rein lihat." Rein langsung celingukan setelah balik membawa tangan basahnya.
"Assalamu'alaikum." seorang lelaki tiba-tiba masuk dan langsung cium tangan pada Umi Rein. Sepertinya ini jawaban penasaran Rein barusan.
"Darimana kita, Bang?" kayaknya benar, lelaki ini yang dari tadi Rein cari-cari.
"Cari tandon, Ce, langganan air kita baru bisa datang malam nanti bilang."
"Ededeh," Umi Rein auto lesu dengan laporan laki-laki jenggotan tersebut.
"Kalau gitu caranya, nggak bisa kita mandi sore ini. Jangan lagi mandi, wudhu pun belum tentu, air di bak kritis kodong."
Rein sendiri diam-diam putar otak di tengah dialog segitiga mereka kini. Beruntung sesaat berselang...
"Anging mammiri ku pasang, pitujui...*)"
Rein pun serta-merta merespon panggilan di ponselnya itu.
"Iya, Ran, gimana? Bisa? Alhamdulillah, ya deh, aku otw sama keluargaku ya? Ki tunggu!" 💜
"Siapa, Ce?" Umi Rein jadi penasaran melihat anak gadisnya ditelepon tiba-tiba.
"Teman, Mi, tadi memang Rein WA dia, tanya apa bisa kita ikut mandi di sana, ternyata dia mau." 💜
"Ededeh, apa ki buat tuh? Ngapain numpang kamar mandi orang? Jangan ki kasih malu kita." pria bernama Hilmi itu tampak protes mendengar inisiatif Rein yang ia nilai ngaco.
"Udahlah, Bacco, ikuti dulu adikmu, toh cuma sekali ini kita numpang kan?" Umi Rein pun menengahi, dan terlihat lebih pro dengan ide dari anak gadisnya.
======
Aji sedang asyik bentuk badan di ruang gym Istana Kegelapan. Ruang ini memang selalu jadi favoritnya, karena di sini ia bisa berkreasi mengembangkan diri sesuai hobi yang dia suka.
Berbagai alat pun nggak luput dari jamahan jari kekar Imaji. Mulai barbel, treadmill, hingga spin bike, semua ia coba hingga...
"Oh, di sini kamu rupanya." 😈
"Eh, Ayah, iya nih, Aji lagi workout." jawab Aji, sembari tipis-tipis pamer pahat yang terukir di biceps-nya.
"Gimana, Yah, oke gas belum?" 🥊
"Keren, Ayah jadi ingat pas dinas dulu." puji Pak Bayang, yang jelas bikin hidung Aji megar sampai ke ubun-ubun.
"Oh ya, Yah, omong-omong rencana kemarin gimana?" Aji tiba-tiba ingat skenario yang tampak telah mereka susun.
"Tenang, langkah pertama kayaknya bagus." tutur Pak Bayang, yang langsung duduk agar kopinya lebih nikmat diseruput.
"Cantik juga udah siap ke langkah lanjutan, kamu tinggal bikin monster keren aja untuk jaga dia." 😈
"Gampang, Yah, monster kayak apa sih yang Ayah mau? Bilang aja ke Aji."🥊
"Gimana kalau yang bersifat penjaga?" satu ide terbetik usai Pak Bayang puas berpikir. "Tapi tentu yang punya kekuatan ya? Supaya bocil-bocil itu nggak sampai ganggu rencana kita lagi."
"Beres, serahin semua ke Aji." 🥊
Aji pun mulai corat-coret, dan segera dilepas menuju kota tempat tinggal Volt Riders.
"Ki yakin ini rumahnya?" wajar banget Umi Rein bertanya ke anak gadisnya.
"Ecce, ki nggak circle sama koruptor kan?" entah takut atau sekedar meledek, Hilmi jadi menimpali dengan cukup tepi jurang dan ekstrim.
"Ededeh, Abang nih bicara apa? Rein nggak mungkin punya teman koruptor," Rein jelas risih dapat pertanyaan gitu dari sang Kakak.
"Rein punya teman nih memang orang kaya, Bang, bapaknya pengusaha, wajar dia punya rumah gini, maega duitna." 💜
"Ededeh, kenapa kalian bertengkar terus?" Umi Rein pun menetralisir friksi di antara kakak beradik ini.
"Ya udah, Ce, panggil teman ki itu keluar!"
Rein pun masuk dan menekan bel sang empunya rumah. Dan saat pintu terkuak dari dalam...
"Astaghfirullahal'adzim..." Hilmi auto balik badan pas sadar seorang gadis pirang hanya pakai tanktop dan celana pendek di depan mereka.
"Ededeh, apa ki bikin, Mi? Jangan ki norak kodong." Umi Rein jelas kecewa dan menegur kelakuan si anak bujang.
"Jadi gimana, Ran? Boleh mandi di rumahmu sebentar?" 💜
"Oh boleh, ayo silakan masuk!" sang pemilik rumah yang jelas Kirana, tentu mengizinkan sembari memandu keluarga Rein ke dalam.
Rein lantas mempersilakan Kakak dan Umi duluan, sementara dia memilih stay di ruang tamu ditemani oleh El Pirang di sana.
"Sorry ya, abangku tadi." Rein cemas juga Rana tersinggung oleh spontanitas Hilmi.
"Udah, nggak usah dibahas, aku nggak marah kok." tandas Rana memastikan baik-baik aja terhadap perlakuan Hilmi tadi.
"By the way, tumben kamu ke mari, ada apa di rumahmu?" 💛
Rein menghela nafas, sebelum cerita semua yang terjadi di kampungnya.
"Seminggu? Ngeri banget." Kirana terlihat shock saat tau durasi terhentinya air bersih kampung Rein.
"Tapi kok nggak ada isunya di media ya?" 💛
"Ededeh, apa ki harap? Kita orang pinggir, media mana mau liput soal kampungku?" 💜
"Gimana kalau kita kasitau yang lain aja? Siapa tau mereka punya solusi." Rana pun kasih usul demi menolong rekan hijabnya tersebut.
"Boleh, bisa," Rein manggut mendengar ide yang tadi dikasih Rana. "kalau perlu lapor Mahaguru sekalian. Biasa dia ngerti tuh akarnya tiap masalah."
Dua gadis itu lantas saling tos, dan bersiap menuju markas tempat El Mentor tinggal.
======
Para Riders lagi diskusi serius dengan Mahaguru mereka di markas. El Mentor agak bingung, karena masalah Rein sama sekali nggak dia jumpa data dan faktanya di situ.
"Tapi aku percaya sih, Mahaguru, Rein nggak mungkin bohongin kita, kita udah kenal lama dan tau Rein gimana selama ini." Rana gercep back up, agak khawatir Mahaguru salah ambil sikap ke El Hijab.
"Benar, Mahaguru, nggak mungkin Genduk ngarang. andai dia bohong juga, apa untungnya dia? Nggak ada kan?" Elang turut melindungi agar Rein nggak sampai hilang kepercayaan.
"Iya, aku nggak menghakimi Rein, anak-anak, aku percaya kalian." Mahaguru Dewa bijak klarifikasi situasi dalam markasnya.
"Gini aja, coba selidiki ini lebih dalam, terutama kamu, Rein!" 🧝
Para Riders seketika menyipit menerima instruksi El Mentor itu.
"Feeling-ku bilang Dinasti Kegelapan ada di balik ini. Entah apa tujuan mereka, yang jelas aku melihat kampungmu kayak ingin dikunci, Rein, dari dunia luar." 🧝
"Terus apakah bisa kubikin, Mahaguru?" Rein pun minta pendapat dari El Mentor.
"Cukup selidiki, kamu ketemu aneh sekecil apapun, laporin ke yang lain!" 🧝
Volt Riders lalu saling tatap, tapi kayaknya udah paham taktik ala Mahaguru Dewa barusan.
======
Dua hari berlalu, nggak ada perubahan berarti di sekitar tempat tinggal Rein. Kecuali air yang masih mampet, aktivitas tetap berlangsung biasa dan jauh dari kata 'aneh' seperti prediksi Riders kemarin.
Rein pun kembali hidup normal dan mulai nggak ambil pusing sama situasi. Namun kala menaruh motor sepulang kampus...
"Assalamu'alaikum..." 💜
"Wa'alaikum Salam." dari meja jahitnya, Umi Rein langsung menyambut gestur El Hijab yang ingin cium tangan.
"Umi, ember-ember ditaruh di depan tuh buat apakah?" Rein heran melihat banyak ember menghalang motornya.
"Oh itu," Umi Rein seketika ikut arah mata sang gadis bertaut. "sebentar mau dibawa abangmu ke lapangan samping masjid. Kan habis ashar nanti, Bu Syifa mau bagi-bagi air buat warga sini."
"Bu Syifa tetangga baru itu kah?" Umi Rein hanya mengangguk lantaran fokus ke jahitan yang belum tuntas.
"Ededeh, Umi yakin kah mau ambil dari dia?" 💜
"Kenapa memang?" Umi Rein menyetop lagi aktivitas konveksi Beliau.
"Bukan apa-apa, Mi, Rein rasa nggak beres sama kehidupan Bu Syifa tuh. Kampung kita kan lagi krisis air? Kok bisa dia royal kasih airnya gratis ke warga? Darimana dia punya sumber?" 💜
"Ededeh, jangan ki su'uzon kodong," Umi Rein serta-merta memblok sikap gadisnya yang keluar batas. "mungkin aja Bu Syifa dapat suplai lain di luar, kita kan nggak tau dapur dia?"
Sekali lagi, Rein sulit menepis jawaban sang Umi. Gadis itu pun memilih masuk, tapi nggak lama keluar lagi dan menata ember agar ada ruang untuk motornya parkir secara benar.
"Ededeh, manakah Abangmu nih? Katanya jam dua udah di lokasi." Umi Rein tampak resah saat jarum pendek jam mengarah ke angka 2.
"Umi coba telpon lagi aja Bang Hilmi, kali ada halangan di jalan." 💜
Umi Rein pun mengikuti saran putrinya, dan langsung meraih ponsel yang Beliau taruh di pojok meja.
"Ededeh, jadi nggak bisa di? Udah, hati-hati aja ki, cepat mi balik kalau udah beres!"
Umi Rein pun menaruh ponsel diiringi deru nafas lemas. Sementara di pintu, Rein tampak bingung harus memperlakukan gimana ember-ember itu.
"Kasih masuk mi semua ember itu, Rein! Mobil Abangmu pecah ban lagi di jalan."
***
(Anging Mammiri, Vocal : Iwan Tompo, Composer : Bora Daeng Ngiratte, 1940)
ns216.73.217.151da2


