Rein sedang dalam perjalanan pulang usai melaksanakan sholat isya di masjid. Namun dalam derapnya kini, keheranan mengganjal itu cewek lantaran jumlah jama'ah menurun drastis dibanding hari-hari sebelumnya.
Perjalanan sendiri udah tertempuh separuh dan condong rapat ke rumah tinggal Rein. Tapi saat melintasi sebuah gang, senter El Hijab tiba-tiba menangkap kelebat hitam yang melintas beberapa detik usai terlihat.
Rein yang penasaran auto melesat mencari arah bayangan yang dia jumpai. Pengejaran pun mentok di sebuah semak ilalang, di mana seorang perempuan tampak melotot bersama sejumlah pria dengan busana Timur Tengah di sana.
Awalnya Rein nggak ngeh dan tetap berpikir ini adalah tetangga yang Umi dia bahas tadi siang. Namun saat benda di tangan tuh orang memantulkan cahaya...
"Ededeh, harusnya aku sadar ini memang permainan kalian." 💜
"Mainan apa? Kami nggak bikin hal apa-apa di sini." ibu-ibu itu menjawab Rein pakai nada polos seperti nggak ngerti omongan El Hijab.
"Berhenti pura-pura, Bu Syifa, atau aku harus panggil, Nona Kecil?" 💜
Alih-alih tersinggung, tuh ibu justru jumawa mendengar intimidasi Rein barusan. Dia lalu membuka cadar yang ia kenakan, dan sekedip mata, tersingkap topeng Cantik berikut semua lelaki yang ternyata pasukan kuyuk miliknya.
"Platipus, serang!" komando Cantik seketika menerbitkan lagi kelebat yang membawa Rein ke tempat aneh ini.
Rein sendiri terpental sebelum transformasi ke mode Ungu miliknya. Dan saat bayangan itu mau menyerang untuk kali kedua...
"DUAR, DUAAAAAAAAR..." sebuah serangan hadir meng-counter sekaligus membuka rupa kreatur asuhan Cantik itu.
Ledakan sendiri lantas disusul Volt Riders yang berlompatan demi melindungi Rein dari serangan Dinasti Kegelapan.
"Kamu pikir kamu aja yang punya trik? Kita juga." tanpa tedeng aling-aling, Elang mencibir Cantik sembari memutar jahil nunchaku saktinya. Counter attack tadi kelihatannya dia yang melakukan.
Cantik pun mengubah taktik dan menyuruh kuyuk maju menyerang Riders. Namun karena level yang memang jomplang, kuantitas anjing tersebut tetap nggak dapat menyetop skill para Riders yang terlalu di atas rata-rata.
Platipus sendiri auto memasang kuda-kuda merasa Cantik terancam usai pasukan kuyuk lumpuh. Tapi Cantik mencegah, dan malah petik jari yang tanpa disangka memunculkan banyak orang mengepung Riders di sana.
"I-ini kan..." Rein dengan cepat mengenali massa yang berjalan bak zombie tersebut. "Hei, ki apakan semua tetanggaku?"
"Nggak aku apa-apakan, cuma kasih air aja." tanpa merasa dosa, Cantik menjawab enteng gusar yang disalurkan Rein padanya.
Jawaban itu kontan membongkar dua fakta secara berantai. Bagi-bagi air gratis dan jumlah jama'ah masjid yang turun, rupanya memang disusun rapi sebagai skenario besar menjebak dia dan teman-temannya di sini.
Riders pun masuk posisi terkurung, dan harus berpacu waktu memikirkan jalan keluar dari senjata massal Cantik ini.
======
"Tenang, Manteman, mereka pasti punya kelemahan." Eran coba memotivasi supaya teman-temannya nggak sampai patah arang.
"Hihihi, bocil-bocil naif, kalian bisa lawan segitu banyak orang?" ejek Cantik mendengar si merah terus kasih para Riders semangat.
Para Riders sendiri tetap fokus tanpa hirau provokasi Cantik sama sekali. Rein lantas menemukan celah di balik kerumunan, dan serta-merta mencari cara paling tepat supaya bisa bawa rekan-rekannya keluar menerobos dinding hidup yang kini mengepung mereka.
Di luar dugaan, fokus Rein memantik bangun insting roh badak di badannya. Seperti nggak kenal takut, si ungu melesat dan menerobos barikade pakai satu terjangan kaki ke depan.
"Manteman, ayo!" seru Rein cepat usai para zombie tumbang efek tendangan yang baru ia lakukan.
"Platipus, kejar!" Cantik yang merasa dibobol, jelas emosi dan sontak menyuruh si platipus bergerak.
Volt Riders sendiri terus menjauh, dan tiba di satu rumah tua nggak berpenghuni.
Eran yang merasa mulai aman pun bertindak, dan mendobrak pintu utama sambil mengajak yang lain berlindung sementara di situ.
"Manteman, segera cari barang berat! Pintu ini harus cepat ditutup biar mereka nggak ada akses masuk." ❤️
Riders pun serentak menyebar, dan akhirnya kembali membawa aneka barang yang dirasa cocok sebagai ganjal pintu.
Elang dengan meja besi dari ruang tengah, Rana dengan sofa di salah satu kamar, serta Rein yang menggotong tabung gas kosong dari dapur.
Semua itu Eran perkuat dengan satu lemari tinggi yang ia dorong sendiri beberapa senti dari titik asalnya.
Riders pun lega usai pertahanan darurat itu tersusun. Tapi situasi mendadak gelisah lagi, lantaran...
"Ededeh, manakah si Juna? Nggak ada balik dia." 💜
"Jangan-jangan, dia ketangkap para zombie lagi." Elang tentu nggak salah menimpali Rein. Tapi karena tuh ucapan meluncur di kondisi kayak gini...
"Ngomong jangan sembarangan, Lang, kita lagi terancam nih." Rana kontan membentak, merasa Elang terlalu toxic merespon gelisah Rein soal El Cepak.
Situasi pun kembali genting tatkala Cantik hadir diiringi monster serta para zombie. Tapi tepat saat pintu dan tembok darurat roboh...
"Manteman, AWAAAAAAS!!!" Juna yang dari tadi 'hilang', tau-tau muncul sama gelombang siraman dari selang di tangannya.
Kondisi pun chaos seketika akibat para zombie tumbang dihajar air tiba-tiba. Namun bagi para Riders, kekacauan ini justru jadi titik balik karena nggak ada jarak antara mereka dan lawan yang harus dihabisi.
Sang platipus sendiri berusaha menyerang, tapi Rein yang udah membaca, menghantam palu godam hingga bikin monster itu terjepit bumi.
Elang lalu menjerat paruh kreatur tersebut, dan kemudian Eran membereskan dengan eksekusi pedang dalam sekali tebas.
Juna dan Rana lantas menyamakan visi, dan dalam satu koreo, Juna pun mengakhiri hidup si monster lewat bidikan panah yang begitu presisi.
"Konyol, konyol, KONYOL! Rencana besarku kok akhirnya gini?" seperti biasa, Pak Bayang cuma bisa ngomel menyaksikan kegagalan misi Cantik di kota.
"Cepat suruh Cantik pulang! Ayah nggak tahan mau evaluasi kalian." 😈
======
Usai viral krisis air kampung Rein, bantuan pun mondar-mandir menyinggahi lokasi padat penduduk itu. Semua kasih sumber daya yang mereka punya, sambil gotong royong rekonstruksi kampung bareng para warga yang udah kembali normal.
Nggak terkecuali para Riders, yang datang berbondong dengan donasi komunitas masing-masing.
Eran dengan beberapa pompa sokongan LSM independen BEM, Elang yang sumbang air mineral hasil urunan rekan-rekan sesama pemain drone.
Rana bahkan jauh lebih effort dengan donasi jor-joran gabungan circle dia dan relasi bisnis Papanya. Sementara Juna, walau nggak kasih materi, tetap memberi tenaga dan mengajari warga hingga kampung Rein ini terlihat lebih estetik.
"Ededeh, makasih, Manteman, segini banget kalian demi kampungku." Rein sampai terharu mendapati para Riders amat total membenahi kampung yang selama ini terpinggirkan.
"Nggak perlu dibesar-besarin, Rein, kita juga senang kok kalau kampung kam lebih baik." Juna coba merendah merespon pujian dari El Hijab tadi.
"Oh ya, Jun, kemarin kok bisa kamu dapat air segitu banyak? Ambil dari mana?" 💛
Juna pun merogoh saku sebelum menjawab rasa penasaran Rana. "Nih."
"Apa tuh?" ganti Elang yang kepo menatap handuk kecil di tangan Juna.
"Ya ini sebabnya, Dinasti Kegelapan sengaja sumbat semua sumber air, terus jalurnya mereka sabot biar cuma sampai ke wilayah mereka doang." 💙
"Gila otak kau, Jun, aku bahkan nggak terpikir sampai sana." Eran geleng-geleng mendengar analisa El Cepak barusan.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..." kumandang adzan tau-tau terdengar dari masjid tempat Rein beribadah.
"Aku tinggal zuhur dulu ya, Manteman." Rein kontan pamit dan segera balik ke rumah guna mengambil semua perabot ibadahnya.
"Kam nggak ikut, Lang?" 💙
Ditembak gitu, Elang cuma nyengir sembari sesekali mainin rambut gondrongnya.
"Cari tempat duduk yuk! Capek nih berdiri." Eran pun kasih usul, yang tentu disetujui oleh para Riders yang masih bersamanya.
***
ns216.73.217.151da2


