Cuaca malam ini sedang nggak baik-baik aja. Gerimis yang mulai merintik, angin yang terus berhembus ganas, dan sambaran kilat tanpa henti. Bumi agaknya muak sama tingkah laku manusia yang kadang berlebihan menyakiti dirinya.
Hujan pun perlahan deras diikuti suara petir yang sesekali berdentum. Tapi di balik amuk alam ini, satu benda sekilas jatuh dan turun bareng rinai yang lagi menyiram bumi. "Plek..."
Esok paginya, Kirana yang lagi libur tampak semangat karaokean di depan LED kamarnya. Namun saat dia asyik mengulik koleksi lagu Korea favoritnya...
"Pet..." hingar-bingar seketika senyap seiring padamnya elektronik dalam tuh kamar.
"Kenapa lagi sih?" Rana yang heran kontan keluar untuk mencari tau sebab pemadaman ini.
"Bik, Bibik..." 💛
"Dalem, Non." si Bibik pun menjawab begitu jumpa Rana di ujung tangga.
"Bibik nyalain elektronik apa sih di dapur?" 💛
"Nggak ada, Non, Bibik cuma habis potong ikan aja, buat makan siang Non." jelas si Bibik sambil menunjukkan tangan basah di depan sang majikan kecilnya tersebut.
"Nih buktinya."
Rana pun segera mengecek sekring di tiga titik berbeda rumah. Tapi usai dirinya keliling, hasil yang didapat justru menunjukkan nggak ada masalah pada instalasi di kediamannya tersebut.
"Ya udah, Bik, panggil aja kalau makan siap! Rana mau sama Manis dulu di atas." Kirana pun mengomando, seraya mengangkut kucing kesayangannya buat dia bawa dalam kamar.
"Dalem, Non." si Bibik pun patuh, dan balik ke dapur begitu Rana hilang dari pandangannya.
Rana sendiri berpikiran pemadaman nggak akan berlangsung segitu lama. Tapi asumsi tinggal asumsi, karena hingga sore situasi tetap nggak berubah dan bikin El Pirang panik sendiri akibat terlalu boros memakai gawai pintarnya seharian.
"Duh, Sisa 16% lagi." Kirana kontan menaruh handphone, pusing sendiri mikirin alternatif komunikasi ke dunia luar.
Gadis itu pun main sama si Manis lagi, tapi dasar cuma gabut, dia segera merasa jenuh dan keluar kamar lagi demi cari angin sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar.
"Bik, Bibik..." merasa cukup puas, Rana lanjut menemui si Bibik yang masih tampak gelut sama semua piring bekas dia makan tadi.
"Dalem, Non."
"Nanti kalau Papa Mama cari, bilang Rana ke tongkrongan biasa, ya!" 💛
"Iya, Non." si Bibik pun patuh dengan pesan yang disampaikan Rana barusan.
Rana pun beranjak, tapi kini hanya jalan kaki kecil lantaran motor listriknya belum sempat ia charge sejak tadi pagi.
======
"Tuh kan, kena semua?" Rana kaget dengan dua hal. Pertama oleh sambutan Elang saat ia tiba, dan kedua gara-gara menemukan Riders telah mendahuluinya kumpul di tongkrongan.
"Rumah Kam kena pemadaman juga, Ran?" Juna pun mengonfirmasi begitu Rana tiba di area mereka.
"Apalagi? Mana motor sama HP drop semua juga." 💛
"Ededeh, jadi jalan kaki ki ke sini?" Rein auto panik, dan celakanya itu dianggukin oleh Rana yang mulai kucel.
"Astaga," Rein tepuk jidat usai paham situasi yang dialami El Pirang. "jangan ki tolak ini ya! Ki harus minum biar segar lagi."
Rein pun bangkit, dan justru bikin kaget Elang yang tiba-tiba ia gandeng menemaninya antri minuman di outlet depan.
Rana pun minum teh yang dipesan buatnya. Dan usai El Pirang mampu atur nafas...
"Kemarin air, sekarang listrik, jangan-jangan ini ulah baru geng busuk satu itu lagi." mulai deh Eran mancing para Riders ghibah.
"Iya ya, mirip banget pola dua-duanya." Juna tampak setuju dengan rekan klimisnya itu.
"Ededeh, belum kapok mereka ya, udah tau gagal terus bukannya tobat malah tambah bertingkah." Rein yang masih keki dengan Dinasti Kegelapan pun, turut geram dengar teman-temannya menyebut nama mereka.
"Gimana kalau ke Mahaguru aja? Siapa tau ada info lain yang belum kita dengar?" Elang pun ngide agar melibatkan El Mentor dalam kasus ini.
Perbincangan pun kian hangat, namun tanpa Riders sadari, geng yang mereka gosipin juga dapat masalah sama dengan yang mereka alami saat ini.
"Ayah, kapan hidupnya sih ini? Cantik gerah banget udah, make up Cantik sampai luntur tuh, lihat!" 🌹
"Ya nggak tau, kok tanya Ayah." Pak Bayang pun angkat bahu menanggapi cecar cerewet Cantik barusan.
"Ayah juga pusing nih, nonton nggak bisa, ngopi nggak bisa, bingung mau ngapain." 😈
"Portal juga nggak bisa hidup, Yah, Aji nggak bisa lihat deh kondisi kota." Imaji nggak kalah gabut mengeluh sembari melukis di kanvas dia.
"Lebih dari itu,, bocil-bocil Dewa pasti bakal tuduh kita dalang ini semua." Pak Bayang pun overthink dengan apa yang nanti disangkakan para Riders.
"Terus kita harus gimana, Yah? Cantik nggak tahan banget udah." Cantik tampak putus asa melihat peluh jagung perlahan mulai muncul di sekitar wajahnya.
Pak Bayang sesaat mengepul asap rokok.
"Mau gimana lagi? Udah resiko. Mau nggak mau kita harus terima." 😈
======
"Aku nggak merasakan migrain sama sekali. Alarm pun nggak berbunyi dari pagi. Mungkin aja 'Dinasti Kegelapan' nggak terlibat." di luar ekspektasi, Mahaguru justru merespon santai insiden mati listrik yang menimpa kota.
"Bah, lalu siapa lagi, Mahaguru? Nggak ada lagi yang bisa kita curigai selain geng busuk satu itu." Eran jelas protes mendengar analisa El Mentor yang ia nilai kurang masuk.
"Benar, Mahaguru, masa sih mereka nggak terlibat? Kan cuma tuh geng aja yang doyan bikin kota kacau balau?" timpal Rana dengan nada lebih keras ketimbang El Klimis.
"Bisa aja cuma peristiwa biasa, anak-anak, boleh jadi pusat listrik kota memang lagi ada trouble, makanya tuh pemadaman terjadi." 🧝
Para Riders sebenarnya mau menyanggah, tapi akhirnya memilih diam karena penjelasan El Mentor terasa logis dan punya dasar kuat.
"Lebih baik gini, kalian selidiki pembangkit listrik kota! Cek sedetil mungkin tanda-tanda 'Dinasti Kegelapan' di sana." Mahaguru pun ambil jalan tengah supaya mereka berlima lebih mandiri mencari fakta dan bukti.
"Kondisi kota sekarang gelap. Karena itu, Rana, bagi unsur mataharimu! Biar semua lebih jelas dalam gelap." 🧝
El Pirang nggak banyak bicara, tapi tampak paham maksud instruksi Mahaguru untuknya.
"Dan kamu, Lang, bimbing yang lain dengan radar yang kamu punya!" 🧝
Volt Riders pun menyatukan tangan, untuk selanjutnya...
"Ayo, Manteman, kita selesaikan tragedi ini!" ❤️
======
Volt Riders langsung masuk ke TKP sesaat usai mereka bertransformasi. Dipimpin Elang selaku pemandu jalan, kelimanya tampak begitu siaga dan sangat hati-hati mengingat tempat ini beresiko tinggi walau kondisinya sedang tanpa sengat sama sekali.
Satu demi satu titik pembangkit mereka jelajahi, hingga tepat di tower dekat trafo utama...
"Manteman, ada dengar suara orang makan nggak?" Juna agaknya sadar ada yang kurang beres terjadi di sana.
"Dari mana suaranya, Jun?" tanya Elang, buat memastikan arah suara itu berasal.
"Nggak gitu jelas juga sih." Arjuna pun lebih fokus menguji insting telinga dalam gelapnya.
"Tapi kayaknya, sebelah kiri deh, persis trafo besar itu tuh." 💙
Keterangan Juna jadi petunjuk bagus Elang menentukan langkah mereka berikutnya. Cowok itu lantas menuntun rekan-rekannya ke sana, dan betul aja, sesosok hitam tampak sangat gembul menyedot pasokan listrik yang dihasilkan benda bertenaga besar itu.
"Oke, kita ketemu masalahnya." 💚
"Ya udah, Lang, tunggu apa lagi? Ayo!" Rana kelihatan udah gatal ingin adu mekanik saat itu juga.
Mereka pun kembali mengintip, namun kini target mereka justru lenyap meninggalkan trafo kosong tanpa jejak se-inci pun.
"Ededeh, kayak apa nih, Lang?" Rein kontan panik mendapati keadaan berubah sebegitu cepat.
"Sabar, Manteman, biar aku cari dulu." 💚
Elang pun meletakkan telunjuknya ke depan dada, tapi tiba-tiba...
"MANTEMAN, JAM 9..." pekik Elang, namun karena kalah cepat, kelimanya pun terkapar dihajar kelebat hitam yang menubruk tanpa permisi.
"Makhluk nih planet nggak sopan ya, ganggu kenikmatan makan malamku aja."
"Siapa kau?" gertak Eran sembari bangkit usai terhempas serangan kilat tuh makhluk.
"Aku?" makhluk bundar itu tersenyum samar menanggapi nada sengit dari si merah.
"Namaku Elektrino, dari planet Paneli, hobiku ngemil energi listrik, dan aku ke sini karena melihat banyak cemilan yang bisa kulahap."
"Ededeh, berhenti mendongeng, katakan apa misi ki bawa dari Dinasti Kegelapan." 💜
"Dinasti Kegelapan? Apa itu?" di luar dugaan, tuh makhluk malah heran mendengar nama yang dilempar Volt Riders ke arahnya.
"Jangan sok polos, kamu kira kami bego apa, bisa percaya akting sampahmu itu." Elang pun meneruskan intimidasi yang dicipta Eran dan Rein sebelumnya.
"Kalian ngomong apa? Aku memang gelap, tapi sama sekali nggak tau Dinasti Kegelapan itu, siapa mereka? Aku baru sehari di Bumi."
"Bacot, rasain nih." Juna pun melepas panah andalannya, namun tanpa diduga, aksi si biru justru mentah dan jadi abu setelah mengenai badan tuh raksasa.
"Kalian bikin aku marah." monster itu lantas murka, dan kontan kasih senjata setrum guna memberi para Riders pelajaran. "Aaaaaakh..."
Para Riders seketika terpental, sayangnya itu hanya awal karena sang monster terlihat siap tempur melawan anak-anak muda istimewa di depannya.
***
ns216.73.217.151da2


