Elektrino betul-betul bikin Riders kewalahan. Gerak gesit terbantu kegelapan malam, jadi nilai plus yang bikin tuh monster agresif dan memaksa Riders pakai mode bertahan sambil terus menghindari sengatan listriknya yang mengejutkan.
"Ededeh, nggak bisa kita terus gini, monster itu pasti telan kita bulat-bulat kalau kita cuma menghindar aja." meski tersengal, Rein tetap memotivasi supaya Riders nggak kehilangan spirit tempur.
"Benar kau, kita harus cari cara agar monster itu nggak terus menginjak-injak kita. Pasti ada celah." Eran pun menimpali, walau nafasnya juga senin kamis efek serangan bertubi-tubi Elektrino.
"Segini aja makhluk Bumi? Kirain sejago itu." cibir Elektrino usai puas memberi jurusnya ke lima anak yang sedang ia hadapi.
"Manteman..." tanpa gubris Elektrino, Elang mengajak Riders mendekat seperti punya ide bagus untuk menghadapi tuh monster.
"Oke, Lang, kami paham." Rana mewakili yang lain mengutarakan kesiapan pada ide Elang.
Para Riders berdiri serentak, untuk kemudian pasang kuda-kuda yang tadi sempat tumbang akibat terus-terusan ditekan.
Elektrino sendiri melihatnya sebagai bentuk provokasi. Namun beda sama keadaan awal tadi, serangannya kini cuma berjumpa angin dan dapat dihindari tanpa sedikitpun cedera dari para Riders.
"Kenapa, Ndut? Kaget seranganmu nggak ngefek?" ganti Elang yang meledek monster itu kali ini.
"Kami hanya pakai mata lebar kam dan arah angin sebagai petunjuk. Biar gerak kam nggak kelihatan, kami tau yang kam rencanain." Juna pun nggak ketinggalan pamer agar bikin si monster kelihatan culun.
"Lagian, banyak cara melihatmu lebih jelas kok, contohnya..." 💛
Rana lantas mematung, dan dalam hitungan detik, sekujur tubuhnya tiba-tiba bersinar oleh unsur matahari yang dia aktifkan penuh.
"Tuh, kelihatan kan?" 💛
Elektrino sendiri tampak kalem menatap si kuning pamer kekuatan. Tapi alih-alih gentar, monster bulat itu justru terkesan kayak ngiler dan bereaksi di luar nalar dengan mengisap habis sinar dari tubuh Rana.
"Nyam, nyam, nyam..."
Para Riders tentu kaget menatap peristiwa yang baru terjadi. Terlebih Rana, yang nggak mengira jurus andalannya hanya berakhir di perut sebagai snack bonus si monster gembul.
======
"Wow, enak banget tadi. Ada lagi nggak?" Elektrino justru ketagihan usai melahap habis cahaya Rana barusan.
Empat Riders auto balik ke mode siaga, tapi Rana mencegah dan malah kelihatan santai menantang monster yang tampak kenyang tersebut.
"Jadi kamu mau lagi? Boleh, tapi aku pastiin ini makanan terakhirmu." 💛
"Rana, apa-apaan kau?" Eran seketika panik melihat si kuning mengaktifkan unsurnya lagi.
Rana sendiri nggak bergeming, dan tetap fokus walau badannya kini mulai terasa berat. "Uhuk, uhuk, heeeegh..."
"Rana, berhenti, jangan gegabah." 💚
"Ededeh, perhatikan ki punya badan, Ran. Ki mulai batuk. Jangan teruskan!" 💜
Meski dua suara memberitau, Rana tetap ngeyel dan nggak mau stop memberi cemilan buat sang monster gembul.
Elektrino sendiri terlihat menikmati sinar yang dia telan dari Rana. Tapi tanpa monster itu sadari, cahaya yang dimakannya ternyata memberi efek fatal karena perutnya jadi kian buncit dan tinggal tunggu waktu...
"DUAAAAAAAAAAARRRRRRRRR..."
Kota pun benderang lagi seiring hancurnya Elektrino oleh unsur matahari Rana. Namun sebaliknya bagi El Pirang, yang kini terkulai dan balik mode normal usai pakai energi pol-polan demi menjebak tubuh sang monster.
"RANAAAAAA..." Riders kontan panik melihat kondisi Rana yang malah melemah.
"Manteman." Dalam keadaan nggak berdaya, El Pirang tetap senyum agar kawan-kawannya nggak merasa khawatir.
"Kam nggak apa-apa kan?" 💙
Rana hanya menggeleng menanggapi rasa cemas Juna untuknya.
"Justru aku bahagia, Jun, bisa selamatin kota ini." ujar Rana, namun seketika diiringi kejang akibat tuh gadis hilang kesadaran di pangkuan si biru.
"Ran, RANAAAA..." 💙
"Udah, Jun, lebih baik bawa Rana ke rumah sakit." Eran gegas memberi usul, yang tentu disetujui Elang dan Rein yang turut manggut berbarengan.
Sementara di Istana Kegelapan, listrik yang balik normal bikin Cantik berlompatan kayak gadis ketemu boneka Barbie. Ia menghambur serta-merta ke Pak Bayang, dan mendekap tubuh sang Ayah hingga hampir menjatuhkan kopi panas yang baru Beliau buat.
"Kamu nih, hampir Ayah kebanjur air panas." 😈
"Sorry, Yah, namanya juga lagi happy." Cantik malah mesam-mesem melihat Pak Bayang ngomel oleh tingkah gelagapannya.
"By the way, skin care Cantik mau habis nih, Yah." 🌹
Pak Bayang udah menduga, pasti bukan listrik yang bikin Cantik jadi semanja ini.
"Kamu tuh, ya udah, lusa Ayah transfer, apa aja kebutuhanmu?" 😈
"Apa ya?" Cantik mengawang sebentar mengingat daftar kebutuhan dia dari kepala sampai kaki.
"Toner, bedak, foundation, terus lipstik Cantik kayaknya sisa pangkal juga deh, Yah." 🌹
"Hadeh," Pak Bayang hilang nafsu ngopi, dan memilih putar balik tanpa hirau Cantik yang tantrum merasa nggak didengar.
"Ayah, kapan?" 🌹
"Dua hari lagi." 😈
======
Para Riders membesuk Rana ramai-ramai di hari ketiganya dirawat inap. Berbekal dua dus apel fuji favorit El Pirang, keempatnya pun disambut ortu Rana yang harus menepikan bisnis demi menemani gadis tunggal mereka itu.
"Ya udah, have fun ya, Om dan Tante mau balik dulu, ambil baju ganti untuk Rana." Papa Rana serta-merta pamit usai sedikit basa-basi dengan teman-teman anak gadisnya.
"Jangan lama-lama, Pa, Rana masih kangen." Rana terlihat amat kolokan di ranjang rawat ia saat ini.
"Iya, Sayang," Papa Rana pun mengecup dahi gadisnya demi memberi rasa tenang pada tuh cewek.
"Kamu istirahat aja. Papa dan Mama cepat balik kok."
"Ya udah, kami balik dulu, tolong jagain Rana sebentar!" Mama Rana pun minta diri lagi usai merasa anak gadisnya telah tenang.
"Iya, Tan, hati-hati." Juna yang paling akrab sama keluarga Rana, mewakili para Riders melepas ortu El Pirang dari sana.
"Gimana keadaan kau? Masih lemas?" Eran yang duduk di samping bahu Rana, seketika bertanya selepas Papa dan Mama El Pirang berlalu.
"Sedikit, Er, masih nyeri kalau dibawa gerak." jawab Rana, agak parau impak energinya yang belum 100% pulih.
"Ededeh, ki juga terlalu nekad. Nggak perlu ki sebenarnya forsir tenaga ki, kalau kayak gini kan, badan ki juga yang sakit kodong." 💜
"Diagnosa dokter apa, Ran?" Elang bergegas menetralisir agar dua cewek itu nggak sampai adu mekanik di sini.
"Cuma suruh bed rest aja sih, Lang, paling lama juga, lusa aku balik." 💛
"Kam udah makan belum?" Juna yang dari tadi sibuk di wastafel, tau-tau balik sama apel dan pisau dari buffet kasur.
"Aku potongin apelnya ya?" 💙
Rana sendiri mengunyah perlahan kepingan apel yang disuapkan Juna. Dan usai tuh buah mulus masuk kerongkongan...
"Thanks ya, Manteman, udah perhatian gini i ke aku." 💛
"Rana, udah jadi kewajiban kita saling tolong dalam kebaikan. Nggak perlu ki kasih besar itu." Rein pun menimpal supaya Rana nggak sampai merasa hutang budi.
"Rein benar, Ito, kita ini kayak anggota tubuh, walaupun berasal dari tempat berbeda, kalau ada satu sakit, semuanya ikut sakit." ❤️
"Tenang, Ran, apapun yang terjadi, kita tetap saudara. Kita akan terus sama-sama sebagai kesatuan yang utuh." Elang pun menyambung, sambil menumpu tangan untuk memegangi lengan mulus tuh gadis.
Gerakan itu kontan memicu Riders, yang seketika saling bergandeng dan membentuk rantai dengan Rana sebagai pusat mereka.
***
ns216.73.217.151da2


