Papi Elang balik usai sebulan lebih terbang keliling Jawa. Sebagai pilot senior maskapai ternama, jam terbang Papi Elang memang terhitung tinggi dan dibutuhkan banget buat penerbangan jarak jauh dengan waktu yang lama serta melelahkan.
Elang, selaku anak berbakti, tentu nggak mungkin diam membiarkan Papinya pulang sendiri. Berbekal mobil pinjaman Rana, dia pun bergegas tancap dan menanti di parkiran hingga si Papi mengabari dirinya via chat.
"Papi..." Elang kontan cium tangan ketika sang Papi merapat padanya. Ia pun manut seketika, waktu Papinya minta dibawakan dua koper ke tempat mobil mereka di parkiran.
Jika melihat Papi Elang lebih teliti, barangkali orang bisa maklum kalau Elang berfisik tegap dan bermata tajam. Bahkan di usia hampir 50 tahun pun, Papi Elang masih kelihatan gagah dan punya kharisma sendiri ketika berbalut seragam kayak sekarang.
"Gimana kuliahmu?" di sela perjalanan, Papi Elang langsung menuntaskan kepo mengenai perkembangan studi sang anak.
"Gitu, Pi." Elang agak cuek menanggapi sikap perhatian Papinya itu. Mungkin karena fokus menyetir.
"Gitu gimana?" Papi Elang jelas kurang puas oleh jawaban El Gondrong barusan.
"Gitu, Pi, naik turun." entah kebetulan apa nggak, jawaban itu meluncur seiring mobil Elang yang masuk area jalan berbentuk bukit.
Mereka berdua pun tiba di rumah, dan setelah melepas penat sesaat...
"Elang buatin Papi kopi, ya." 💚
Papi Elang membiarkan anaknya bangkit, tapi menampik tawaran dari Elang barusan.
"Es jeruk aja, Le! Seret banget dari tadi."
Elang pun segera ke dapur, dan balik dengan segelas es jeruk usai kurleb sepuluh menit di dalam.
"Papi perhatiin koen dari tadi diam aja, ada apa tho, Le?" sambil meminum pesanannya, Papi Elang rupanya heran memandang gestur bujangnya yang terlihat agak lain.
"Elang stres, Pi, kelas Elang lagi konflik sama pihak kampus." 💚
Papi Elang jelas kaget mendengar keluh aneh anaknya itu.
"Kok iso? Koen nggak bermasalah sama para petinggi kampus kan?"
"Mereka duluan, Pi, memperluas kampus, tapi hidroponik buatan kelas Elang, mau digusur seenaknya, yang benar aja, rugi dong." Elang kelihatan emosi saat menjelaskan persoalan pribadinya.
"Ada-ada aja kuliah zaman sekarang. Beda era Papi dulu." Papi Elang pun geleng-geleng, tapi setelahnya malah menyedot habis es dalam gelas yang Beliau genggam.
"Wis lah, Lang, entar sore sambung, Papi meh tidur, capek pulang kerja."
Papi Elang beranjak ke kamar, namun tanpa Beliau sadari, El Gondrong tampak kecewa saat memandang dari sofa yang dia duduki.
======
"Papi kau balik? Bah, enak dong kau." Eran kelihatan sumringah mendengar kabar yang dibagi Elang di tongkrongan.
"Ya nih, pasti banyak oleh-olehnya, bagi dikit bisa kali." timpal Rana iseng mencandai El Gondrong.
"Boro-boro, Manteman, sekarang aja dia lagi tidur di kamarnya." Elang tarik nafas lemas sambil menyandarkan pipinya di tangan.
"Sejak Mami wafat, aku merasa Papi berubah sikap. Sekarang lebih cuek, nggak kayak dulu selalu ditanyain." 💚
"Ededeh, buah nggak jatuh jauh dari pohon, Lang, ki omongin Papi ki gitu, sama aja buka borok ki sendiri." 💜
Elang kontan kicep ditampar fakta. Barangkali El Hijab ada benarnya, sifat suka-suka Elang memang hasil DNA cuek yang diwarisi sang Papi padanya.
Ponsel Elang tau-tau berdering membuncah situasi yang agak hening. Dia lalu mengambil jarak sejenak, dan melayani telepon dengan mimik tanpa senyum seperti biasa.
"Siapa, Lang?" Juna kontan penasaran siapa yang se-tega itu bikin Elang manyun.
"Anggota, Jun, aku dan seisi kelasku memang rencana mau demo dalam waktu dekat." Elang menjelaskan sembari duduk lagi di kursinya.
"Demo soal apa? Ajak-ajaklah kalau ada demo." darah aktivis Eran menggelegak saat mendengar kata 'demo' dari Elang.
"Pembangunan kampus, Ran, semua protes," perlahan Elang cerita soal konflik internal di kampusnya.
"Jadi ceritanya kampusku mau luasin wilayah buat bikin gedung baru. Dalihnya sih tambah kuota taruna tahun depan." 💚
"Terus masalahnya di mana? Bukannya malah bagus, Lang, artinya kampusmu makin maju." Rana agak bingung mendengar alasan Elang yang dinilainya mengada-ada.
"Kelasku menolak, karena pembangunan itu bakal gusur hidroponik yang kami bikin, Ran, itu yang kami nggak mau." 💚
"Ada benarnya juga sih, Ran, mau dibikinnya di sekitar kampus, tapi kalau kampus nggak ikut andil, nggak bisa juga mereka asal gusur." Rein membela Elang dalam situasi kali ini.
Tapi di Istana Kegelapan, situasi sepertinya total berbeda. Pak Bayang dan Aji tampak full senyum menyaksikan para Riders dari portal cahaya mereka.
"Ayah suka ekspresi mereka, dan Ayah yakin mereka pasti tambah kaget pas tau dalang di balik kebijakan itu."
"Ayah selalu bikin Aji kagum, selalu aja punya ide buat rongrong bocil-bocil itu dari dalam." Aji terbuka memuji langkah Pak Bayang saat merencanakan kejahatan.
"Tapi nggak akan lengkap nih kalau nggak ada monster." sebuah kode dilepas Pak Bayang untuk Aji kini.
"Yang seperti apa, Yah?" Aji ternyata tau yang diinginkan sang Ayah.
"Sesuaikan tempat aja, hewan hutan." 😈
"Oke, Yah." 🥊
Aji pun memainkan kuas ajaibnya, dan dalam sekejap, satu kreatur tercipta ulang dan siap menerima perintah jahat apapun dari tuannya.
======
Elang pulang disambut pemandangan mengejutkan. Papinya yang mungkin belum lama bangun, tau-tau udah dandan kayak ABG dan bersiap cuci mata setelah berhari-hari di udara.
Well, selain heran, Elang sebenarnya insecure juga melihat penampilan Papinya kini. Dalam hati dia mengakui, pesona sang Ayah masih sangat ampuh buat menarik hati para gadis.
Tapi justru itu sumber kecemasan Elang kini. Kondisi Papinya yang lama sendiri, ditambah kerja mapan yang Beliau jalani, amat mungkin jadi target empuk cabe yang lagi cari mangsa lewat aneka jurus-jurus menggodanya.
Elang wajar berpikir sejauh itu. Karena kalau sampai Papinya terjerat, tentu bakal berakibat negatif dan kurang sehat untuk pertumbuhan diri serta keluarganya secara keseluruhan.
"Mau ke mana, Pi?" 💚
"Jalan-jalan dong." Papi Elang sedikit bangga di balik suaranya.
"Jalan-Jalan ke mana?" Elang tentu nggak puas dengan balasan singkat Papinya itu.
"Ada deh, Papi ada janji sama teman-teman Papi sebelum rute terakhir kemarin."
Sambil duduk di sofa, Elang meletakkan ransel dan menghirup nafas kayak habis jalan berkilo-kilo.
"Nopo tho, Lang? Koen nggak suka Papi duwe pergaulan? Maunya Papi di rumah terus gitu?" Papi Elang terlihat tau gelagat dari putranya tersebut.
"Bukan gitu, Pi," Elang pun menjawab walau nafasnya masih lumayan ngos-ngosan.
"Papi kan tadi janji mau dengar curhat Elang soal kampus, kok sekarang malah lain lagi sih?" 💚
"Halah, ngono ae mbok pikir, Le," si Papi justru santai dan menanggapi sambil minum kopi di depannya. "koen wis gedhe tho? Mahasiswa? Yo hadapi ae."
"Tin tin..." suara klakson seketika memancing Papi Elang bangkit dari sofa duduknya.
"Mobil Papi datang tuh. Koen baik-baik jaga rumah ya!"
Elang sesungguhnya masih mau protes, tapi jika itu dilakukannya, pasti akan berbuntut panjang dan panen hujatan dari warga sekitar.
"Cessss...", korek sakti Elang tiba-tiba bunyi selepas Papinya pergi. Pintu seketika ia tutup, sebelum kemudian pindah ke kamar guna menanggapi tuh kode secara privat.
"Segera ke markas! Semua menunggu. Kita mau bahas soal hidroponik yang katamu mau digusur itu. Migrainku mengatakan Dinasti Kegelapan ada di balik itu semua." 🧝
"Baik, Mahaguru." Elang pun mengangguk, dan langsung beranjak begitu korek saktinya balik normal lagi.
======
Ketakutan Elang terbukti. Bahkan hingga balik dari markas, Papinya belum kunjung pulang dari acara bareng teman-teman Beliau di luar.
Elang pun memilih bersih diri dan berendam di bak mengusir stres. Namun sampai bosan main air pun, tuh anak ternyata tetap sendiri seiring sepatu sang Papi yang belum nongol hingga detik ini.
Elang yang bad mood serta-merta balik badan hendak meneruskan rebahan di kamar. Tapi saat lewat meja samping kamar sang Papi, mata Elang tiba-tiba terpaut sama cover VCD bergambar wayang yang tergeletak di situ.
Sebagai Kejawen garis keras, Elang tau betul Papinya sangat tergila pewayangan. Dia sendiri sebenarnya nggak terlalu passion di sana, namun entah kenapa kini kepo pengin menonton kaset yang ada di tanganya itu.
El Gondrong pun menyalakan VCD player, dan mulai menikmati satu per satu adegan meski hatinya masih hampa. Tapi saat punakawan mulai masuk layar...
"Cah sae, dados jaler-jaler puniku boten angsal ajrih. Kedah kiyat, kedah siap, kedah wantun. Amargi jaler-jaler Dipuntakdiraken dados imam, imam kanggi sadherekipun, bangsanipun, ugi agamanipun."*)
"Sendiko, kanjeng Romo."
Dialog Semar dan 3 anaknya bagai tamparan telak di pipi Elang. Cowok itu akhirnya paham, sifat cuek Papinya memang sengaja supaya dia lebih mandiri dan tau cara bersikap secara lebih tegas.
Elang lantas mematikan video yang ia tonton, dan langsung merogoh saku guna mengambil handphone yang masih ia simpan di situ.
"Halo, Eran..." 💚
***
*) Laki-Laki Bukan Pengecut (Vocal : DEWA 19, Composer : Ahmad Dhani, 2024)
ns216.73.217.151da2


