Tengah malam buta, Elang nekad menyelinap ke hidroponik bikinan kelasnya. lewat jalur belakang yang dia rintis saat membentuk nih kebun, El Gondrong menyusup secara senyap dan mulai melirik guna mengetahui suasana di sekitar.
"Di sana, pokoknya..." Elang sayup mendengar suara orang berbincang dari balik rerimbunan pohon. Dia lalu memusatkan mata ke sumber suara, dan benar aja, di balik temaram, Elang melihat tiga orang melakukan aktivitas nggak wajar di tempat mereka berdiri.
Salah seorang dari mereka bahkan sepertinya sangat Elang kenal baik. "Itu kan...?"
"Auuuuuuu...", lolongan tiba-tiba terdengar dan mendistraksi Elang di sana. Sial, semua target Elang juga ikut berbalik dan akhirnya tau ada yang sedang membuntuti mereka di situ.
Ketiganya pun mengejar Elang, namun di sela pelarian, sekilas makhluk tau-tau menyambar dan bikin El Gondrong jelantang terhantam kecepatan tinggi makhluk tersebut.
"Pak Fredi?" sambil berupaya bangkit, Elang menatap tajam ke seorang berkumis baplang di hadapannya. Di sekitar bapak kumis itu, 2 lelaki serta sepasang monster rubah tampak bersiaga penuh menjaga dirinya.
"Aku nggak sangka, dosen waliku sendiri." 💚
"Fredi siapa?" bapak itu lalu tarik kumis, dan sekejap, terbuka semua topeng digantikan Cantik dalam wujud genit.
"Kenapa? Kaget lihat cewek kumisan?" 🌹
"Mana Pak Fredi?" Elang yang ngerti kontan sengit menghadapi Cantik.
"Kenapa tanya yang nggak ada sih? Sama aku lho sini, mumpung sepi nih." 🌹
Elang nggak hirau rayuan Cantik, dan lantas transformasi memakai korek sakti yang selalu dibawanya.
"TANGKAP DIA!!!" Cantik pun komando, tapi belum sempat Elang disergap, empat Riders lain muncul memberi kaki ke masing-masing anak buah Cantik.
"Kau belum lecet kan, Lang?' tanya Eran yang langsung disambut gelengan oleh Elang.
"Ededeh, beraninya keroyokan ki." ledek Rein sambil pasang kuda-kuda untuk pertarungan yang bakal segera pecah.
Kuyuk pun muncul jadi tenaga tambahan buat Cantik. Pertempuran pun seketika sengit, di mana Riders harus konfrontasi melawan tiga kekuatan sekaligus dari arah mata angin yang ada.
======
Meladeni 3 kekuatan berbeda jelas bukan hal yang enteng. Pasukan kuyuk mungkin tetap jadi lalap para Riders, tapi nggak untuk dua monster rubah dan dua budak bawaan Cantik kini.
Alhasil Volt Riders jadi kerepotan dan mulai tumbang oleh serangan lawan-lawan mereka. Cantik sendiri melihat momen sambil senyum kembang, dan mulai pragmatis mengarahkan anak buahnya menuntaskan duel segera.
"Ambil mereka, dan habisi!" 🌹
Dua pria serba hitam itu pun gerak, tapi tanpa diduga, sepasang rubah yang tadi membantu, kini justru balik menyerang keduanya tanpa banyak basa-basi.
"Apalagi ini?" Cantik jelas shock menyaksikan para budaknya malah saling serang.
Volt Riders sejatinya kaget juga sama situasi di luar rencana tersebut. Tapi karena berada dalam posisi untung, mereka berlima segera memanfaatkannya dan bangkit melancarkan balasan saat itu juga.
"Iya ya, harusnya aku ingat rubah bermasalah sama penglihatan." 💚
"Kam tau dari mana, Lang?" Juna se-heran itu mendengar pernyataan Elang.
"Sempat baca di google." tandas Elang seraya cengar-cengir melayani bingung si biru.
"Nanti aja les kilatnya, Manteman, sekarang saatnya eksekusi." Pangeran pun merentang tangan, yang lantas diikuti Riders memanggil senjata andalan mereka keluar.
"Tadinya aku mikir mau selesaikan kasus ini baik-baik, tapi ternyata..." Elang yang kadung jengkel, seketika melepas nunchaku untuk mengikat kedua rubah Cantik.
"Manteman..." Elang auto kasih kode, yang kontan direspon oleh keempat temannya secara bersamaan.
Riders cewek menyatukan tangan di perisai Rana, yang kemudian jadi tumpuan Eran serta Juna dalam mengeksekusi monster dalam Nunchaku Elang.
"PLAK, PLAK!" tamparan Cantik mampir pada wajah budak-budak yang dibawanya.
"Kalian tuh ngapain sih? Malah ribut sendiri." 🌹
Namanya juga budak, sekalipun nggak salah, tetap aja harus terima getah dari hasrat bos yang nggak terpenuhi.
"Udah, mending kita pulang! Bikin malu aja." 🌹
Cantik pun jentik jari, dan hilang dari hadapan para Riders yang mulai stabil.
"Tolong..." di sela kesunyian, sepotong suara tiba-tiba muncul dari sisi Utara hidroponik.
"Pak Fredi...", Elang yang udah balik normal, kontan mengejar diiringi empat sahabatnya yang lain.
"Ya ampun, Pak, kok bisa Bapak di sini? Bapak nggak apa-apa?" Elang jelas shock mendapati dosen walinya terikat dan lemas.
"Nggak tau, Lang, tempo hari saya jalan-jalan lihat nih kebun. Tapi kok mendadak ada yang pukul kepala saya, bikin saya pingsan."
Elang mengatup geram mendengar kesaksian Pak Fredi padanya. Dia sama sekali nggak sangka, Dinasti Kegelapan udah sangat lebar bermain hingga tempatnya menimba ilmu.
"Udah, Lang, kita bawa aja dosenmu ke ICU, Beliau harus segera dirawat." Rana pun ngide, dan tentu diiyakan El Gondrong saat itu juga.
======
"Elang, Elang..." raut khawatir tergambar di wajah Papi Elang. Secuek-cuek Papi Elang, Beliau tetap seorang Ayah. Ayah mana coba, yang tenang mendengar anaknya di ICU saat hari hampir pagi begini?
"Papi..." Elang yang masih bareng Volt Riders, sejurus menegur dan merapat begitu ketemu Papinya.
"Koen nopo meneh? Kok iso ngasuk rene?"
"Bukan Elang, Pi, dosen Elang." Elang kasih pengertian agar Papinya nggak salah sangka dengan situasi yang barusan terjadi.
"Elang habis tolongin dia, dia diculik oknum nggak bertanggung jawab karena ikut menolak perluasan kampus." 💚
Elang pun memandu sang Papi menengok dosen yang ia ceritakan. Namun saat si Papi adu mata sama tuh orang...
"Bang Fredi?"
"Sastro?"
Jangankan empat Riders lain, Elang yang punya relasi pun, kaget melihat momen nggak terduga tersebut.
"Papi, Papi kenal?" 💚
"Ya kenal lah, ini senior Papi pas sekolah penerbangan dulu, waktu masih seumur kamu." Papi Elang pun rinci menjelaskan relasi Beliau dengan Pak Fredi.
"Jadi Elang ini anakmu ya, Sas? Pantas dia pemberani. Pasti kamu ya, yang ajari?"
"Ededeh, buah jatuh nggak jauh dari pohon." ucap Rein seketika, yang kontan disambut tawa Riders dan serta senyum simpul si Papi juga.
Dua hari berselang, tongkrongan para Riders kedatangan tamu agung. Elang yang telah saling ngerti sama sang Papi, mengajaknya nongkrong dan kenalan lebih jauh sama 4 rekan seperjuangannya di sana.
Papi Elang pun memanfaatkan momen untuk membagikan romansa semasa Beliau kuliah. Riders sendiri menyimak dengan antusias, karena gaya bicara Beliau terkesan seru dan cukup update kosakata sewaktu bercerita.
"Sekarang kalian tau ya, Om ini hidupnya lebih banyak di udara ketimbang di darat." Papi Elang menyeruput sedikit kopi capuccino di cangkir Beliau.
"Maka dari itu, Om minta tolong kalian, jaga anak Om ini!" Papi Elang seketika merangkul Elang yang duduk di sebelah Beliau.
"Elang ini harta terbesar Om, dan alasan Om tetap sendiri sampai sekarang." sisi lain Papi Elang terekspos bahkan di muka El Gondrong sendiri.
"Bah, soal itu Om percayakan aja sama Rein ini, dia yang paling tau seluk-beluk Elang." tandas Eran asal tembak ke Rein yang duduk sebelahan sama Papi Elang.
"Benar tuh, Om, di antara kita berempat, cuma mbak-mbak hijab ini nih yang bikin anak Om nurut." Rana nggak mau kalah membumbui gorengan yang baru dipanasin El Klimis.
"Lho, niki pacar barumu tah, Lang?"
"Bukan, Pi, ya kali se-alim Rein mau sama modelan Elang gini." saking grogi, Elang jadi gagap menyapu keisengan kedua rekannya.
Papi Elang pun menatap Rein beberapa saat, tapi kemudian...
"Kalaupun benar, Papi setuju aja, Le, minimal Papi bisa berharap koen potong rambut, nggak brekele kayak gini lagi." Papi Elang jadi menguwel saking gemas lihat rambut nggak terurus putranya.
"Ededeh, itu aja, Om, dia nggak nurut saya." 💜
Mereka berenam pun tertawa bareng setelah Rein menyeletuk demikian.
***
ns216.73.217.151da2


