Pak Bayang tampak mondar-mandir di ruang utama Istana Kegelapan. Terlihat banget raut wajah gelisah, diiringi kaki yang terus-terusan jalan seolah bingung mau menuju ke mana.
"Ayaaah..." bukannya peka, Cantik dan Aji justru datang tersenyum menghampiri Pak Bayang.
"Ini lho, Yah, kita habis eksperimen di dapur tadi. Ayah cobain deh! Ini namanya 'sup jamur neraka'." 🌹
"Iya, nanti Ayah cobain, kalian taruh aja di meja!" Pak Bayang stop mo meladeni dua anaknya yang kini belepotan.
"Ayah ada apa sih? Dari tadi kita perhatiin, bolak-balik kayak setrikaan arang aja." rupanya Aji merasakan gelagat aneh dari tingkah laku sang Ayah.
"Ayah lagi cari akal, Ji, bocil-bocil Dewa itu selalu aja hoki tiap kita serang, Ayah heran taktik apa yang mesti Ayah pakai biar mereka kena batu." 😈
Cantik dan Aji akhirnya mengerti alasan Pak Bayang mondar-mandir. Mereka pun seketika ikut berpikir, hingga akhirnya...
"Ayah, Cantik ada ide." Cantik pun rapat, dan langsung memberitau lewat bisikan ke telinga Pak Bayang.
"Hmm, boleh juga," senyum licik Pak Bayang keluar usai Cantik kelar kasih usul. "Tapi Ayah boleh ikut main juga dong?"
"Boleh dong, apa sih yang nggak buat Ayah kesayangan Cantik." ujar Cantik, sembari mencubit genit keriput Ayahnya di pipi.
Sementara itu di sudut lain kota.
"Sinanggar tulo, tulo atulo oo, sinanggar tulo, tulo atulo oo..."*) Eran kelihatan asyik manortor dalam kamar kontrakannya. Aura itu anak terlihat ceria, karena rekom KKN yang dia ajukan, di-ACC oleh pihak-pihak terkait kampus.
Tapi yang paling bikin senang Eran, lokasi KKN bakal dekat sama kampung halaman dia. Sebuah privilege menanti, lantaran beberapa bulan, dia akan lebih mudah kumpul komunikasi bareng keluarganya.
"Tinggal cari partner aja lagi, buat survey lokasi, siapa ya?" Eran pun merogoh ponsel, dan langsung mengeker nama-nama yang tertera di list kontaknya.
"Agak laen kau, agak laen bapakmu, agak laen..." **) belum sempat pencarian kelar, kontak bernama 'Ratu' singgah dan ngebel Eran tiba-tiba.
"Ratu, kau rupanya, Abang ada kabar gembira nih, sebentar lagi Abang KKN." ❤️
"Bang..." sesenggukan di sisi ujung auto bikin mimik Eran berubah drastis.
"Kenapa pula kau nangis? Ada masalah apa?" ❤️
"Sultan, dia hilang sejak 3 hari lalu. Kita udah cari tapi belum kita jumpa sampai sekarang."
Eran jelas terbelalak merespon laporan tersebut. "Kok bisa, Ratu? Udah kau lapor polisi?"
"Udah, Bang, tapi belum lagi mereka gerak, jantung Ibu kumat saking mikirin Sultan."
Hati Eran seketika terjun mendengar wanita itu menyebut Ibunya. Mustahil dia bahagia kalau Ibunya nggak dipenuhi rasa yang sama.
"Ya udahlah, nggak perlu kau risau, Bang Eran akan secepatnya ke sana, kebetulan Abang juga mau survey lokasi KKN Abang. Jangannya kau nangis lagi, gadis Batak harus strong." ❤️
Ucapan terakhir Eran terasa kayak lip service lantaran dia sendiri lemas setelah telepon putus.
El Klimis pun putar haluan, dan langsung VC brutal mengajak semua Riders kumpul.
======
Seperti biasa, para Riders auto gercep usai dengar kabar kurang enak Pangeran. Mereka semua mengupas satu per satu keadaan, hingga di tengah pembahasan...
"Memang adikmu kerja di tuh pabrik ya?" 💛
"Belum sih, masih sebatas melamar aja." jelas Eran singkat, tapi cukup memuaskan penasaran di diri El Pirang.
"Tapi kata adik perempuanku, habis itu Sultan nggak balik-balik lagi, itu yang jadi pikiranku sekarang." ❤️
"Eh, jangan-jangan Dinasti Kegelapan lagi nih." Elang meluncurkan prasangka yang bikin para Riders berpaling.
"Jauh kali pikiran kau, urusan apa mereka sama kampung halamanku?" ❤️
"Justru karena rumahmu, Er, makanya kamu harus lihat, kurasa mereka memang lagi incar tempat yang berkaitan sama kita deh, ingat nggak di kampusku kemarin?" 💚
"Ededeh, benar juga mi Elang, Dinasti Kegelapan nggak mungkin asal bertindak." Rein memperkuat argumen yang ditandas Elang barusan.
"Secara itu ki punya kampung, bisa aja mereka sengaja pancing biar ki datang ke sana sendiri." 💜
"Udah, mending ke Mahaguru aja, aku yakin dia punya jawaban soal ini." 💛
Para Riders setuju, dan beranjak bareng mengikuti saran El Pirang tadi.
======
"Ya, ini Dinasti Kegelapan. Apa yang kalian ceritakan, itu trik yang tergolong klasik. Beberapa pihak melakukannya di masa lalu. Seperti ingin ulang sejarah." 🧝
Para Riders mendengar penjelasan El Mentor dengan seksama.
"Karena itu segeralke sana!" Mahaguru menyambung penjelasan. "Apalagi kamu, Eran, ini lebih dari sekedar keluargamu, kalau perkiraanmu tepat, semua warga lagi dalam bahaya di sana."
"Berani mereka bikin lecet seorang aja di sana." saking kebawa emosi, Eran sampai memukul meja dan bikin Riders berdiri menenangkan batin tuh anak.
"Ededeh, apa ki buat? Kasih itu pukulan ke Dinasti Kegelapan, bukan di sini." 💜
"Segeralah! Kita lagi berkejaran waktu." 🧝
Sementara itu di Istana Kegelapan...
"Nona Kecil! Sampai kapan kita tungguin kamu?" Pak Bayang terlihat jengah melihat Cantik terlalu lama di kaca.
"Sabar dong, Yah, lukis alis itu harus teliti, kalo Cantik kelihatan cantik kan, kalian jua yang bangga?" 🌹
"Come on, Kak, nggak perlu berlebihan, di sana nggak bakal ketemu cowok ganteng juga, kampung kumuh gitu." Aji membantu Ayahnya mengingatkan Cantik berhenti dandan.
Cantik sendiri nggak gubris omongan Aji, dan terus menatap cermin memastikan alisnya telah terlukis sempurna.
"Nah, ayo!."🌹
"Aji, kuas ajaib dibawa kan?' Pak Bayang konfirmasi sejenak kesiapan Aji.
"Aman, Yah, nih." Aji menunjukkan carian Pak Bayang dari saku celananya.
"Bagus," Pak Bayang bergumam singkat seraya tersenyum licik.
"Kita memang harus terus berjaga, walau Ayah yakin taktik ini nggak mungkin bisa dicegah siapapun, termasuk bocil-bocil sialan itu." 😈
======
Rombongan Riders tiba di rumah masa kecil Eran. Kedatangan mereka disambut hangat Ratu, walau gadis itu masih pada zona sedih akibat rangkai peristiwa yang menerpa keluarganya.
Ratu pun menceritakan semua setelah Eran mendekapnya tenang. Dan sesuai perkiraan Mahaguru, separuh anak muda di sana bernasib sama dan mendadak lenyap ketika melamar di pabrik yang baru dibangun itu.
"Bisa kamu tunjukin lokasinya?" Elang berusaha menyelidik dan komunikasi sama Ratu.
"Bisa, Bang," Ratu pun mengangguk dan mulai menjelaskan segala yang ia tau tentang tuh pabrik.
"Di situ rupanya." Eran kayaknya tau letak pabrik yang tengah mereka bahas.
"Aku tau tempat ini, Manteman, nggak jauh dari sini." ❤️
"Kalau gitu apalagi, Er, ayo mainkan!" Rana tampak semangat saat situasi udah mulai terbaca.
"Ratu, kau jaga ibu baik-baik ya! Kita mau pergi dulu. Kita semua janji bakal bawa pulang Sultan." ❤️
"Hati-hati, Bang." Ratu masih khawatir, walau merelakan kepergian Volt Riders ke tuh pabrik.
Mereka pun menuju target berdasar denah yang digambar Rein. Tapi setiba mereka di sana...
"Kam yakin ini tempatnya? Tanah licin aja kulihat." Juna jelas heran mendapati kondisi lokasi yang cuma lahan kosong.
"Jangan terkecoh, aku yakin geng busuk itu pasti sembunyi di sekitar sini." Eran tetap keliling mata memperhatikan situasi sekitar.
"Aku tau betul gimana adik perempuanku, nggak pernah dia bohong seumur hidup dia." ❤️
"Coba, Nduk, denahmu tadi!" Elang pun memastikan lagi kecocokan lokasi sama gambar Rein.
"Ededeh, lihat sendiri ki, udah benar ini." 💜
"Apa jangan-jangan, kita yang salah jalan kali." Rana mencuat dengan dugaan yang bikin Riders terkejut.
"Maksud kau, Ratu menyesatkan kita?" Eran nggak terima dugaan El Pirang itu.
"Bukan gitu, Er, aku tau kok Ratu pasti jujur." Jelas Rana lebih lanjut agar Eran nggak salah paham. Dia tau El Klimis lagi sensitif.
"Maksudku, mungkin aja kita yang salah jalan, tadi kan dia cerita, tuh pabrik dekat minimarket, nah selain sini, sebelumnya kan kita ketemu juga minimarket pas otw ke rumahmu? Bisa jadi itu yang adikmu maksud." 💛
"Bisa jadi, Er, analisa Rana ada benarnya. Di sana kan kita lihat banyak bangunan, mungkin aja salah satunya pabrik garmen yang Ratu maksud. Lebih rasional sih." 💙
Eran mengalah dan mengajak Riders balik badan. Namun belum lima langkah menjauh...
"Manteman, lihat." Rein yang iseng putar leher, tanpa sengaja melihat kepul tipis terbumbung di area tanah licin itu.
"Udah kuduga, benar-benar receh." Eran pun merogoh korek sakti, dan langsung memandu Riders transformasi mengikuti dirinya.
***
*) Sinanggar Tulo (instrumental, Composer : Tilhang Gultom)
**) Agak Laen (Vocal : Agak Laen, Composer : Agak Laen, 2021)
ns216.73.217.151da2


