Sekumpulan anak muda terkungkung dalam kerangkeng besar di sebuah ruko. Di depan mata mereka, Dinasti Kegelapan tampak mondar-mandir sambil sesekali melirik wajah dalam sekap mereka itu.
"Hmm, nggak layak kamu, sana!" seorang pemuda dilempar Aji usai wajahnya dinilai kurang memuaskan oleh tuh cowok.
"Ayah, coba lihat nih!" dengan intonasi genit, Cantik memanggil Pak Bayang yang kebetulan lewat di depannya.
"Ganteng kan?" cewek itu agaknya naksir berat sama cowok yang lagi ia 'periksa'.
"Kamu ini benar-benar pemain, dapat aja bibit unggul ginian." Pak Bayang sampai geleng-geleng mendapati Cantik begitu jeli menemukan pria berwajah di atas rata-rata.
Cowok kacamata itu tampak gemetar selama tubuhnya dipegangi Cantik. Dia paham betul orang-orang itu para bandit, dan tentu dalam bahaya besar andaikata mereka tertarik mau memakainya demi kepentingan sendiri.
"Boleh juga," Pak Bayang tampak sepakat setelah mengecek wajah tuh anak muda.
"Ya udah, Yah, dia aja kita jadiin kelinci percobaan selanjutnya." 🥊
Pria muda itu jelas panik mendengar kata 'kelinci percobaan'. Tapi belum 2 langkah El Otot menyeretnya...
"BRRRUUAAK..." pintu utama jebol, diiringi masuknya Riders ke tuh gedung secara berbarengan.
"Kalian lagi, kalian tau nggak harga pintu yang kalian rusak tuh? Mahal tau." Pak Bayang jelas ngomel melihat bangunan berharganya diacak-acak.
"Pak Tua, salahmu sendiri cerobong, udah tau punya ceroboh, bukan ditutup malah diumbar, kemana-mana asapnya kan?" Elang meledek balik melihat rival utamanya emosi.
"Ededeh, terbalik ki punya omongan tuh." 💜
"Yo ben." sahut Elang santai merespon Rein yang mengingatkannya.
"Sultan?" Eran shock saat berjumpa mata dengan cowok yang dipiting Aji.
"Kamu kenal dia?" 🌹
Alih-alih menjawab, si merah menghujam Cantik langsung lewat cahaya yang keluar dari pedang andalannya.
Hal itu pun bikin Cantik murka, dan tanpa basa-basi melepas kuyuk guna menyerang balik Riders segera.
======
Kuyuk, seperti biasa, cuma bahan lemas otot buat para Riders. Tapi bukan Pak Bayang jika diam gitu aja dijepit situasi.
Orang itu lalu menyuruh Aji memainkan kuas ajaib, dan sekejap entitas asap hadir usai kuas tergosok di keramik bangunan.
Volt Riders pun tanpa ragu melawan. Namun di luar dugaan, senjata mereka ternyata nggak kasih dampak mengingat sang monster bisa menyatu meski dihajar bergilir mereka berlima.
"Tau istilah 'menggeggam asap' kan? Itu kalian sekarang." Pak Bayang puas melihat monsternya di atas angin.
"Beresin mereka!" nggak pengin hilang waktu, Aji pun memerintahkan si monster menghabisi Riders saat itu juga.
Para Riders serentak terhempas akibat bulir asap tiupan sang monster. Kondisi yang tentu memaksa lima anak muda itu bertahan, sambil mencari celah dari tubuh kebal kreatur berbentuk gas tersebut.
"Kayaknya proyek fabrikasi ini akan dapat bonus, anak-anak, Ayah suka." Pak Bayang kian ceria melihat keadaan yang menimpa Riders.
Volt Riders pun beranjak saking terdesak tekanan asap si monster. Sialnya di atas juga terasa nggak aman, karena sifat gas memungkinkannya buat menembus antar lantai dalam waktu singkat.
"Ayo, Yah, susulin!" Cantik pun memberi usul, yang langsung disetujui Pak Bayang dan Aji di sana.
"Ededeh, benar-benar monster gila." 💜
"Dan kita nggak paham cara kalahin dia, Rein, itu lebih gila." Rana menimpal segera keluh El Hijab barusan.
Monster asap pun menyiapkan serangan pamungkas, tapi tiba-tiba...
"Tit..." kenop merah nggak sengaja nyala tertekan punggung Juna yang tersudut. Hal itu bikin blower gedung berputar-putar, sekaligus memusnahkan senyum Pak Bayang akibat jagoannya tersedot kipas berukuran besar tersebut.
"Kok bisa?" 😈
Mereka pun hilang dari mata Riders, yang masih nggak percaya sama situasi yang barusan terjadi.
"Waduh, baru ini kita menang hoki." 💚
"Udah, Lang, yang penting menang," ujar Eran menegur Elang yang dia rasa kurang bersyukur.
"Lebih baik kita ke bawah, lepasin anak-anak itu segera." ❤️
Para Riders pun berlompatan dari atas, dan langsung membobol gembok penjara milik Dinasti Kegelapan itu.
======
Elang, Juna, Rana, dan Rein, mengawal Eran membawa Sultan ke RS. Mereka berniat membesuk Ibu El Klimis, yang kini tergeletak tanpa daya di ruang kelas tiga rumah sakit tersebut.
Keempatnya pun serempak melepas usai Eran bertemu wajah Ratu. Mereka paham tuh cowok perlu privasi, dan memilih ke kantin bawah mengingat jam makan siang kini telah menjelang.
"Memang mesti hati-hati loker sekarang, apalagi yang dari sosmed, banyak abal-abalnya." Rana langsung buka cerita usai mereka order makan masing-masing.
"Gimana, Ran, umuran kita rata-rata mau instan. Kerja dikit gaji gede, gitu sih, jelas empuk dibohongi broker kurang kerjaan." Elang mempertegas lagi maksud kalimat Rana barusan.
"Penting juga literasi, soalnya di kampus, sering banget aku temui orang-orang asal, nggak tau sebab, main hujat aja." Juna setengah curhat menyampaikan opini.
Empat hidangan pun menghampiri meja tempat Riders duduk. Rein sama Coto Makassar, Rana dengan bakso urat, Juna dengan soto Banjar, dan Elang, sederhana aja sama nasi campur bakwan jagungnya.
Mereka pun menyantap pesanannya dan jeda bicara satu sama lain. Tapi di tengah sesi makan siang itu...
"Eh, Er..." Rana ambil jarak menanggapi panggilan masuk dari Eran.
"Lagi di kantin nih, ke sini aja! Kita pada makan kok, gih." 💛
Rana pun balik usai Eran memutus telepon. Dan 10 menit berselang, El Klimis muncul walau jalannya tampak gontai dari ruang rawat.
"Ededeh, kenapa ki? Kupesanin makan ya, apa ki mau makan?" Rein segera melihat lelah fisik yang mendera Eran. Di sisi lain, Elang dan Juna bareng cari bangku untuk sandaran pemimpin mereka itu.
"Sembarang kaulah." ❤️
"Gimana Ibumu?" Rana memuntahkan penasaran begitu Eran dirasa nyaman.
"Lumayanlah, Beliau membaik begitu ketemu Sultan. Ini mereka juga makan sama-sama di ruangan." ❤️
"Terus kenapa kam masih lemas? Bagus dong, keluarga kam kumpul kayak biasa." 💙
"Benar, keluargaku memang kumpul lagi." Eran menghela nafas panjang sebelum meneruskan. "Tapi saat ini, aku jadi mikir menunda KKN setahun lagi aja. Sepertinya aku harus fokus dulu ke keluargaku."
"KKN?" Riders kompak memicing dengar ucapan El Klimis.
"Iya," Eran mengangguk melihat kaget teman-temannya. "Udah kuterima rekom kampus, dua pekan lagi aku jalani KKN."
"Tapi habis insiden ini, aku jadi pikir ulang, keluargaku paling utama. Terutama ibuku, aku nggak mau Beliau kenapa-napa." ❤️
"Ededeh, salah ki begitu," Rein menampik kalimat yang dilontar rekan klimisnya.
"Justru kalau ki sayang ibu ki, kasih lanjut ki punya program tuh. Jangan tunda lagi." 💜
"Betul, Er, membahagikan Ibu jelas mimpi seorang anak, apalagi laki kayak kamu." Rana menimpali ucapan Rein barusan.
"Tapi percaya, hal paling membahagiakan Ibumu saat ini, cuma kamu jadi sarjana. Dengan itu kamu bisa gapai impianmu." 💛
"Kamu tuh pemimpin kita, Er, lepas plus minus sifatmu, kita selalu meneladanimu, ayolah, kamu bisa lewati ini. Kayak yang kamu sering bilang, orang Batak terkenal strong, itu kamu." 💚
"Iya, Er, kam bisa, yakin deh." Juna pun menerusi, dan memeluk Eran yang lantas diikuti tiga Riders lain di sana.
***
ns216.73.217.151da2


