"Uhuk uhuk..." baru sampai kampus, Rein langsung batuk akibat debu tronton yang kebetulan lewat. Spot parkir memang nggak gitu jauh dari jalanan, hingga aktivitas transportasi pun jadi barang umum dan biasa dijumpai oleh mereka yang parkir di sana.
"Ededeh, hampir jam tujuh masih ada aja tronton. Kayak apa sih peraturan kota?" 💜
Rein tetap memandang ke jalan, sebelum akhirnya...
"REIN..."
Spontan Rein berpaling, dan melihat seorang wanita berjalan agak buru-buru menghampiri dirinya.
"Di sini kamu, baru datang kah?" wanita itu langsung basa-basi saat jarak mereka saling rapat.
"Eh, Bu Mira, ya, Bu, saya ada kelas 15 menit lagi." 💜
"Oh, 15 menit lagi." wanita bernama Mira itu tau-tau menggamit erat tangan Rein.
"Masih lama itu, ayo ikut!"
"Ededeh, ke mana, Bu?" Rein menahan kaki, dan menatap heran ke arah wanita tua itu.
"Ikut aja dulu!"
Keduanya lalu beriringan, hingga akhirnya tiba di satu ruangan kecil pada ujung koridor timur kampus.
"Duduk!" pinta Bu Mira, sambil tanpa ragu mengambil kursi depan di ruang berpenyejuk ganda itu.
"Jadi, kemarin seniormu Micky sama Dina berkunjung ke mari, mereka datang bawa proposal ini nih."
Rein menerima proposal dan membaca sejenak.
"PT. Putra Kencana Sanjaya?" Rein auto ingat tulisan di truk yang bikin dia batuk tadi. "Ini kan..."
"Iya, mereka berdua kerja di tuh perusahaan sekarang." Bu Mira sepertinya paham bahan yang hendak ditanyakan El Hijab.
"Ededeh, terus hubungan sama saya apa, Bu?" 💜
"Nah ini," Bu Mira tampak sumringah dengar omongan Rein. Kayaknya memang itu reaksi yang dia tunggu dari El Hijab.
"Jadi kemarin siang, mereka minta tolong dicarikan ROHIS untuk kajian minggu tuh perusahaan."
Rein hanya menyimak, namun perubahan mimik menyiratkan jika dia tau ke mana arah perbincangan ini.
"Nah saya terus ingat kamu, Rein, sebab di antara semua mahasiswa wali saya, kayaknya cuma kamu yang paling aktif di organisasi keagamaan."
"Ededeh, Ibu yang benar aja, masa saya sih? Apa nggak ada yang lain? Saya terlalu muda untuk isi acara-acara gitu." 💜
"Ini bukan soal umur, tapi kelayakan." Bu Mira tampak kurang berkenan sama alasan murid walinya ini.
"Kamu kan ROHIS, alumni pesantren lagi, masa sih acara gitu nggak mampu? Coba aja dulu!"
Rein mendorong nafas karena jawaban Bu Mira barusan. Mau nolak, nggak enak, diterima juga, bebannya terlalu berat bagi gadis muda kayak dia.
"Gini deh, Bu, saya tawarin orang lain boleh?" Rein coba ambil win-win solution.
"Siapa?"
"Salah satu guru ponpes saya, Bu, dari segala sisi, saya rasa Beliau lebih pas isi acara-acara kayak gini." 💜
"Jadi maksudnya, kamu suruh saya ke sana?" si dosen auto tarik kesimpulan.
"Ededeh." Rein jelas harus ekstra sabar sama situasi yang lagi dijalaninya.
"Buat apa Ibu jauh-jauh ke sana? Kan ada saya? Pulang kuliah nanti saya kabari deh Beliau." 💜
"Ya udah, saya ikut aja." Bu Mira setuju juga sama usulan Rein itu.
"Tapi jangan lama-lama lho, pihak sana nunggu juga."
"Ada lagi kah, Bu? Saya mau masuk kelas nih, matkul Pak Sani 2 menit lagi." Rein langsung mohon izin keluar.
"Ya deh, saya tunggu kabarnya ya!"
Rein pun bergegas usai Bu Mira memberi izin melenggang.
======
Rein memenuhi janji sepulang kuliah. Kalaupun ada yang meleset, itu karena dia transit dulu ke rumah Elang.
Dua anak muda itu boncengan memakai motor ungu milik Rein. Cuma repotnya, El Hijab sedikitpun nggak kasitau destinasi, dan hanya memandu hingga Elang buta map soal kelana mereka kini.
"Nduk, kita nih mau ke mana sebetulnya?" Elang terang nggak tahan membendung heran.
"Ededeh, ki banyak tanya banget." Rein tetap ngeyel merahasiakan tujuannya.
"Udah mi, jalan aja kita!" 💜
Nggak ada yang dapat Elang perbuat selain menurut dan memacu motor lebih kencang.
Mereka pun tiba di sebuah bangunan, di mana Elang nggak bisa kedip mendapati El Hijab membawanya ke sana.
"Mau ngapain, Nduk, ke sini?" 💚
Rein sama sekali nggak jawab, dan hanya menata ulang make-up di depan spion motor listriknya.
"Jangan bilang kamu mau aku tobat di sini." 💚
"Ededeh, GR, siapa bilang kita ke sini karena ki?" agak meledek nada yang Rein keluarin.
Rein lantas mengajak Elang masuk, tapi tanpa mereka sadari, sejumlah mata udah kepo sama gerak-gerik mereka dari jauh.
"Tempat apa itu?" 😈
"Itu namanya pesantren Yah, tempatnya belajar agama." Cantik pun menjelaskan tempat yang tengah mereka pantau.
Obrolan itu terjeda kehadiran Aji, yang kelihatannya baru keluar dari ruang gym jika melihat peluh di sekujur ototnya.
"Kayaknya ada yang seru nih." 🥊
"Aji, kebetulan, coba lihat itu!" Pak Bayang tanpa basa-basi menunjuk portal cahaya buat 'welcome drink' kedatangan Aji.
"Ini sih, ponpes di timur kota itu, Yah." rupanya Imaji tau juga lokasi yang lagi di-spill Pak Bayang.
"Memang ada apa, Yah?" 🥊
"Lihat siapa itu!" Pak Bayang kasih clue lagi agar Imaji lekas paham.
"Bocil-bocilnya Dewa?" Aji kaget campur geli saat sadar Elang dan Rein ada di tuh tempat.
"Ngapain mereka di situ?" 🥊
"Ayah nggak peduli tujuan dua bocil itu." Pak Bayang tersenyum samar merespon Aji.
"Yang Ayah tau, Ayah ada ide buat kerjain mereka." 😈
"Maksud Ayah?" ganti Cantik yang kepo.
"Pergilah ke sana dulu!" mata Pak Bayang kemudian ganti melirik Imaji.
"Aji, siapin monster untuk Kakakmu!" 😈
"Siap, Yah, Aji ambil kuas dulu ya." 🥊
Cantik dan Aji pun bergerak beriring, bersiap mengerjakan instruksi dari Ayah mereka itu.
======
Eran, Rana, dan Juna, kumpul bareng di markas. Tapi alih-alih serius, mereka bertiga tampak enjoy menyaksikan drakor dari gawainya El Pirang.
"Nah, Kim Woo ini, Manteman, dia itu ada hubungan sama Eun Ri, tapi karena Eun Ri tau Kim Woo yang bunuh bapaknya, dia pasang syarat tinggi buat lamaran Kim Woo." 💛
Eran dan Juna manggut-manggut beo mendengar cerocos Rana me-review tuh film. Entah deh karena fokus, atau sekedar respek biar Rana nggak tantrum merasa dicuekin.
"Ehem..." dehem Mahaguru serta-merta menyetop keasyikan tiga anak muda tersebut.
"Kalian lekas ke pesantren timur kota! Dua teman kalian lagi dalam bahaya." 🧝
"Mahaguru nggak salah? Tumben kali kita disuruh ke pesantren." Eran tentu heran sama perintah harian yang Riders terima.
"Kamu dengar kan tadi?" Mahaguru auto menegur sikap kesusu si pemimpin Riders.
"Elang sama Rein sedang diincar Dinasti Kegelapan, aku belum tau rencana mereka Saat ini. Yang jelas, Cantik dan kuyuk udah stand by di sekitar sana." 🧝
Mahaguru lalu jentik jari, memperlihatkan situasi ponpes melalui visualisasi portal cahaya. "Kalian lihat!"
"Waktu kita nggak banyak, Dinasti Kegelapan sangat cepat. Lebih baik kalian turun sebelum rencana itu terlaksana!" 🧝
Eran, Rana, dan Juna serentak bersiap, dan menuju ponpes di mana Elang lagi menemani Rein ngobrol bareng seorang lelaki oriental di sana.
"Bisa ya, Tadz? Kita dikejar deadline nih." 💜
"Insha Allah, Insha Allah ana bisa." ucap tuh bapak-bapak sedikit banyak bikin Rein jadi plong.
"Tapi apa ana bisa minta waktu untuk hal ini?"
"Ededeh, kenapa lagi?" Rein yang sempat lega, panik lagi mendengar lanjutan bicara sang Ustadz.
"Ana kan harus konfir dulu dengan pihak ponpes, Rein? Antum kan alumni ponpes ini, masa lupa aturan sini?"
"Memang kapan sih deadline-nya?" belum sempat Rein jawab, satu ledakan tiba-tiba menggelegar diiringi kehadiran Cantik dan pasukan kuyuk.
"Kamu ngerti aturan nggak? Ini ponpes, bisa-bisanya kamu masuk pakai pakaian LC gitu." Elang langsung bersungut usai ledakan tadi mereda.
"Hari gini pakai aturan?" Cantik merespon sinis omelan Elang. "Kuyuk!"
"Ustadz, cepat sembunyi!" Rein reflek komando, sebelum berjibaku sama kuyuk yang mulai menyerang dirinya.
Chaos kontan tercipta seiring duel sengit Elang dan Rein. Sayangnya akibat fokus berlebih, mereka jadi lengah berjaga pada hal buruk yang bisa menimpa.
Benar aja, situasi dimanfaatkan Cantik dengan menyandera sang ustadz pakai tali sihir cerminnya. Rein yang mengetahui coba menyelamatkan, tapi nirhasil karena kalah gesit oleh Cantik yang unggul posisi.
"Hihi, ternyata segitu aja," kembali Cantik sinis, yang dibarengi instruksi agar kuyuk pergi membawa sang ustadz.
Eran, Rana, dan Juna pun sampai, tapi hanya mendapati 2 rekannya mematung di sisa chaos.
"Kam nggak apa-apa?" alih-alih dijawab, Rein justru lari meninggalkan Riders yang telah berkumpul.
"Nduk, ke mana?" Elang coba menahan, tapi Rein bergeming dan pergi membawa air mata menggenang.
Elang sendiri cuma mendengus, sebelum lantas mengejar Rein yang kini udah jauh ke jalan raya.
======
"Kalian kalau nggak niat bantu, nggak usah datang, lihat sekarang! Gara-gara kalian, Genduk ngambek dan sulit ditemui." Elang menumpahkan kekesalan di markas Mahaguru.
"Bah, nggak tau terima kasih kali kau, kita jauh-jauh ke sana buat selamatkan kalian, tapi kau malah mencak-mencak gini." Eran kontan naik pitam merasa Elang terlalu memojokkan dia.
"Selamatkan apa, Er?" Elang kian murka melihat Pangeran membantahnya.
"Yang ada sekarang, guru Genduk diculik Dinasti Kegelapan, bisa kamu balikin?" 💚
"Kau kenapa jadi nyolot? Mau ajak duel? Boleh, ayo!" Eran bangkit ingin menyerang, tapi disekat Rana yang kebetulan duduk di sebelah tuh anak.
"Er, udah, akui aja ini salah kita." 💛
"Udah, mending urus diri masing-masing aja, aku mau cari Genduk, semoga aja dia masih bisa dibujuk buat balik." 💚
"Lang, kita bisa bicarain baik-baik, Lang, Lang..." Juna coba menengahi, namun gagal lantaran Elang udah terlanjur cuek.
"Ehem..." Mahaguru yang mengamati dari tadi, akhirnya angkat suara melihat konflik internal anak asuhnya.
"Rana, Juna, susul Elang, jaga dari jauh!" 🧝
Mata Mahaguru lalu beralih ke El Klimis. "Dan kamu, stay! Kita perlu bicara empat mata soal peranmu sebagai leader."
Juna dan Rana beranjak oleh instruksi Mahaguru, meninggalkan Eran di ruang itu dalam suasana tegang bareng El Mentor.
Situasi terbalik di Istana Kegelapan. Di mana Cantik dan Aji larut pada euforia bak orang mabuk ditemani beberapa kuyuk.
Pak Bayang sendiri sebetulnya menikmati pesta anak-anaknya itu. Tapi karena kian lama suasana semakin bising, beliau pun terpaksa bangkit dan menegur mereka usai minum kopi hitam favoritnya.
"Kalian itu nggak capek apa? Hampir dua jam lho, kalian joget nggak jelas." 😈
"Sekali-kali lah, Yah, jarang-jarang kan kita bisa kalahin bocilnya Dewa?" Cantik kontan protes, namun tetap keep party dan menolak stop joget sekarang.
"Iya, Yah, lagian juga ini belum seberapa, di kota Aji sering lihat orang-orang dugem horeg, pagi sampai pagi malah." 🥊
"Aji, kamu ingat kan, tugas buatmu?" 😈
"Ingat, Yah, monsternya udah di kandang belakang, tinggal dikeluarin aja." Aji sama cueknya menjawab tanya Pak Bayang.
"Kalau gitu lakukan sekarang! Kita masih perlu finishing." 😈
Mata Pak Bayang lalu beralih sepeninggal Aji dari gegap gempita pesta.
"Nona Kecil, kamu juga masih ada tugas." 😈
Mendengar kata 'tugas', Cantik jadi lemas dan berhenti pargoy saat itu juga. "Ih, Yah, apalagi sih?"
"Nih," Pak Bayang nggak menggubris, dan cuma kasih sepucuk surat untuk jawaban keluhan Cantik tadi.
"Kasih ke bocil-bocil itu! Biar gimana juga, mereka tetap target asli kita." 😈
Walau merengut, Cantik nggak berdaya membantah perintah sang Ayah barusan.
***
ns216.73.217.151da2


