Effort total ditunjukin Elang. Demi bujukin Rein, El Gondrong rela potong waktu rihat dan bertandang ke kampus politeknik tempat El Hijab sepulang ia kuliah.
Harapan Elang berbalas saat menangkap sosok Rein di situ. Elang pun segera parkir, dan gercep melangkah supaya Rein nggak sampai jauh meninggalkannya.
"Nduk..." Elang langsung stop mo usai telah dekat dengan Rein. El Hijab hanya sekilas berpaling, tapi kemudian melengos pura-pura menerusi jalan yang terjeda.
"Nduk, mau sampai kapan sih kamu gini?" Elang pantang menyerah, dan meraih siku Rein agar tuh cewek betul-betul berhenti.
"Apa sih, Lang?" Rein yang risih melepas kasar tangan Elang.
"Aku cuma mau kamu balik, Nduk, bareng lagi sama kita." 💚
"Ededeh, bisa ki bilang gitu?" Rein terlihat julid menanggapi Elang.
"Balikin dulu Ustadz Fajar, baru berharap." 💜
Lidah Elang serta-merta kelu ditantang gitu. Dia paham betul El Hijab lagi kecewa berat padanya.
"Bisa mi? Nggak bisa tho?" tanpa ampun Rein men-skak Elang yang hanya terpaku di sana.
"Udah mi, jangan ganggu aku lagi, aku sibuk, tugasku banyak." 💜
"Nduk..." Elang masih nekad.
"Maju ki selangkah, aku teriak." 💜
Elang pun membawa tangan hampa seiring sikap Rein yang bergeming. Dia pun berkendara tanpa fokus, dan akhirnya jadi...
"DUAAAAR, DUAAAR..." dua ledakan tepat kena motor Elang, dan bikin El Gondrong terseret hingga motornya lepas kendali.
Ledakan itu sendiri diekori kemunculan Cantik dan satu monster tikus di depan hidung Elang.
"Kok diam aja sih? Ayo dong tangkap dia!" seruan Cantik jadi 'pecut' untuk tuh monster bergerak.
Namun saat tuh kreatur ingin menerjang, sepasang perisai tiba-tiba menghantam hingga bikin dia jengkang di tempat.
Perisai itu sendiri diikuti kehadiran Rana dan Juna dalam wujud transformasi.
"Jangan Kam jadi pengecut, beraninya sama yang udah jatuh." 💙
Sindiran Juna sontak membakar Cantik guna menggerakkan monster lebih jauh. Tapi baru sang tikus bangkit, anak panah Juna menjatuhkannya lagi buat kedua kali.
"Udah, aku cuma mau antar ini." seraya menggerutu kesal, Cantik melontar surat yang dititipkan Pak Bayang.
"Ayo, Mole, cabut!" Cantik memanggil sang tikus, dan kemudian lenyap bareng dari mata Elang, Rana, serta Juna.
"Kam nggak apa-apa?" walau masih cuek, Elang menerima juga dia dipapah bangkit Juna.
"Bukit batas kota lagi, di sana mereka sandera gurunya Rein." Kirana yang membuka surat, langsung paham teka-teki yang harus mereka pecahkan.
"Ya udah, langsung aj-aaaah..." saking diburu nafsu, cedera Elang serta-merta kambuh dan memberi kejut pergelangan tangannya.
"Lebih baik kamu diobati dulu di markas, Lang, sekalian kita beritau ini ke Mahaguru dan Eran." 💛
Mata Elang kayak nggak senang dengar nama terakhir yang disebut Rana.
"Lang, gimanapun Eran tuh pemimpin kita. Bukan saatnya kam marah-marahan sama dia. Ini saat kita bersatu." melihat gelagat Elang, Juna segera menengahi dan membawa El Gondrong ke markas.
======
Rein termenung di sebuah tapak pinggir taman. Pikirannya pecah antara komitmen Riders, dan kekecewaan ke rekannya yang ia nilai lalai menjaga gurunya di ponpes.
Kegelisahan terpancar di wajah manis tuh cewek. Setengah mati ia menguatkan hati, seraya memandang bunga berharap inspirasi muncul dari benda aneka warna tersebut.
"Cess..." korek sakti Rein mendadak bunyi dan mengalihkan perhatiannya seketika.
"Sampai kapan kamu merajuk?" El Mentor hadir dalam versi 3D menasehati Rein.
"Ededeh, apa maksud Mahaguru?" Rein masih sembunyi seolah semua berjalan seperti biasa.
"Rein, aku tau kecewamu." Mahaguru hanya senyum melihat Rider bontotnya ini ngeles.
"Tapi satu kamu harus ingat, aku juga gurumu, tiap guru pasti punya pikiran yang sama, mereka akan lebih kecewa ketika muridnya nggak menerapkan ilmu yang mereka kasih." 🧝
Satu sisi Rein pengin membantah, namun Mahaguru kelewat rasional bikin cewek itu kesulitan menepis.
"Rekan-rekanmu sekarang di bukit batas kota, mereka lagi tebus dosa, segera ke sana!" 🧝
Ucapan pamungkas Mahaguru memecut hati Rein yang sempat layu.
"AAAAAAKH..." Riders terguling serempak menerima tackle monster mole dari dalam tanah.
Cantik dan Aji seketika toss mendapati performa tikus binaan mereka. Si kreatur sendiri, kayak namanya, sangat lihai ketika bertarung dari dasar bumi.
"Masih mau lanjut? Ayo aja aku." ejek tuh monster saat Riders roboh oleh serangan brutal yang ia kasih.
Monster itu pun bersiap menyerang lagi, namun belum sempat dapat target, Rein tiba-tiba hadir menghujam palu godam hingga bikin ia terpental plus kliyengan parah sebagai bonus.
Rein lantas melihat sejenak gurunya yang diikat di puncak, dan kemudian fokus lagi melawan monster yang kini oleng akibat hantaman palunya.
"Aku senang kamu balik, Nduk." Elang pun menghampiri, mengapresiasi pilihan gadis petite tersebut.
"Oke, Manteman, sekarang waktunya." para Riders kecuali Rein, seketika rentang tangan mengikuti gestur yang Eran bikin.
"Ayo, Mole, lawan mereka!" tanpa peduli kondisi, Cantik terus menekan sang tikus untuk bertarung.
Itu kreatur sebetulnya coba bangkit, tapi Riders nggak kasih kesempatan dan terus menghajar pakai senjata mereka masing-masing.
"Ayo, Nduk, selesaikan!" dibantu Eran dan Juna, Elang mempertahankan nunchaku yang mendarat di kaki pengerat monster.
Rein pun lompat tinggi dibantu perisai Rana, dan dalam sekali pukul, palu godam itu menghabisi segera riwayat sang tikus dengan berkeping-keping.
"Kakak, Kak..." Aji seketika panik melihat Cantik terjun bebas ke sisinya. Dia pun mendengus ke Riders, untuk selanjutnya lenyap diikuti kuyuk yang menjaga guru Rein di puncak.
"Kamu nggak apa-apa?" Rana konfirmasi sambil memegang tubuh si ungu yang terlihat letih. Rein membalas pakai angguk pelan.
"Ayo, Manteman, bebasin tuh ustadz!" Juna pun inisiatif, dan langsung mengajak Riders naik melepas guru favorit bungsu mereka.
======
Alhamdulillah, nego yang dijembatani Rein menemukan kata sepakat. Pihak kampus maupun guru El Hijab, keduanya setuju untuk bermitra di kantor tempat senior Rein bekerja.
Rein pun menyambut lega deal antara mereka. Dia pun mengajak teman-teman Riders-nya nongkrong, guna merayakan lebih privat momen penuh lika-liku itu.
"Nah, sekarang kan udah maaf-maafan, ada baiknya kita perkuat persahabatan kita lagi." gagas Rana usai mereka hadir dalam sebuah meja bundar tongkrongan.
"Benar, Manteman, kita mesti komit, apa pun terjadi, nggak boleh saling ngambek lagi." Juna menyambung bicara El Pirang barusan.
"Kita ini tim! Satu sakit, semua ikut sakit." 💙
"Apalagi kalian tuh, jadi laki egonya tinggi banget, udah nggak zaman dikit-dikit pakai kekerasan." 💛
Eran dan Elang cengar-cengir mendengar Rana meledek mereka berdua. Mereka sendiri telah rangkulan, melupakan konflik saat kumpul di markas kemarin.
"Kam juga, Rein ai, nggak perlu ngambek kayak kemarin. Kita anggap kam dewasa, masa iya tingkah masih kayak anak kecil?" 💙
Nasihat Juna direspon senyum oleh El Hijab.
"Okelah, udah jam makan siang nih." Rana pun bangkit seolah mau mengajak Riders move on.
"Gimana kalau siang ini, kita lunch di resto Mamaku aja?" 💛
"Restoran?" mata Pangeran jadi ikut sipit mendengar ajakan Rana.
"Tenang, aku yang traktir." kayaknya Rana ngerti ketakutan yang diperlihatkan Eran.
"Anggap aja ini treatment tambahan buat baikin hubungan kita." 💛
"Nah, kalau itu aku setuju." Elang yang nafsu auto bangkit, tapi karena asal gerak, lengan tuh cowok jadi nyeri lagi dan bikin ia teriak spontan saat itu juga.
"Ededeh." Rein tersenyum, dan menyusul rekan-rekannya puas tertawa meledek El Gondrong.
***
ns216.73.217.151da2


