Hujan badai mengamuk di malam buta. Menjebak sebuah kapal penumpang yang lagi berlayar melintasi batas dermaga kota.
Kapal pun seketika oleng dicecar ombak yang datang tanpa permisi. Sekali dua kali, hingga akhirnya betul-betul terhempas kibas gelombang yang hadir buas melebihi bobot kapal sesak itu.
Sekoci lantas diturunkan seiring panik di dalam kapal. Satu demi satu penumpang dilepas sesuai prioritas, tapi karena situasi chaos, l akhirnya nggak semua tertolong dan jatuh terbawa karam serta keganasan badai.
"Abah, Mama..." seorang bocah meronta ingin balik ke kapal. Dari teriaknya, terlihat jelas tuh anak lagi terpisah sama ortunya.
Anak itu sendiri kini dalam penjagaan salah satu awak kapal. Di sebelah mereka, petugas lain tampak memegang dua bayi gadis demi keselamatan mereka di sekoci mini tersebut.
"Nggak mau, Abah, Mama," walau sang ABK menasehati, si bocah nggak peduli dan berkeras ingin ke kapal yang udah jadi bangkai.
Rengekan terus terjadi, dan akhirnya...
"ABAH!!!" Juna terjaga dari tidur, dan auto tersengal usai teriakannya memecah hening malam.
"Kakak..." Dita dan Yana seketika panik setiba mereka di kamar El Cepak.
"Kakak mimpi Abah lagi ya? Dita ambilin air ya?" tanpa menunggu, Dita langsung gercep sambil menyeru Yana jaga Kakak mereka dulu.
Juna lalu menenggak air yang diberi Dita. Lelaki itu bernafas sebentar, sebelum akhirnya menatap bergantian dua adiknya.
"Dit, Yan, Kakak rasa ini bukan mimpi biasa deh." 💙
"Maksud Kak Juna?" mata Dita makin sipit mencerna ucapan saudara lelakinya itu.
"Entah Kakak benar apa salah, feeling Kakak, ada something yang Abah dan Mama mau sampaikan lewat itu mimpi." 💙
Juna menghela nafas, dan mendadak memalingkan pandang yang sejak tadi terus mengarah ke adik-adiknya.
"Udahlah, kalian istirahat aja! Biar Kakak yang pikirin apa di balik ini. Kalian nggak perlu terbawa." 💙
Juna pun mengembalikan gelas yang dia pegang, untuk kemudian melihat dua adiknya menjauh dari kamar yang ia pakai tidur.
======
"AAAAAKH..." Suasana istana kegelapan mendadak buncah gara-gara Cantik teriak bak kesurupan. Tuh cewek sewot bukan kepalang, lantaran alat timbang di kakinya memberi angka 61 yang berarti melanggar standar diet hingga lebih sepuluh kilo.
"Apa-apaan nih? Kok naik segini banyak? Pasti ada yang salah, pasti timbangannya rusak nih." 🌹
"Kenapa sih, Kak? Heboh amat siang-siang? Kepala Aji pusing nih, jadi bangun mendadak gara-gara Kakak." 🥊
Bukannya menjawab, Cantik justru menarik leher baju Aji demi meluapkan emosi. "Kesal, kesal, kesal!!!"
"Hey," Pak Bayang turut keluar kamar, dan seketika menyentak bikin Cantik serta Aji berhenti. "ribut apalagi sih kalian?"
"Nona kecil, ada apa kamu tadi? Ganggu istirahat orang aja." 😈
"Ini, Yah," tanpa banyak bicara, Cantik langsung memberi timbangan sebagai jawaban pertanyaan sang Ayah.
"Iya, 19, terus?" Pak Bayang belum ngeh sama sebab-musabab teriakan Cantik.
"Iiiiiih, kok 19 sih,? Ayah coba lihat baik-baik dong!" Cantik jelas gemas mendapati Pak Bayang salah baca angka timbangan.
"Ini 61, Yah, 61, Cantik sekarang gendut, jelek." 🌹
"Astaga, kirain kenapa." 🥊
Mendengar respon aji, Cantik tantrum dan mencengkram lebih keras baju cowok itu.
"Hey." tegur Pak Bayang lagi, kali ini plus tongkat agar Cantik dan Aji benar-benar stop.
"Daripada kamu mencak-mencak nggak jelas di sini, mendingan ke kota! Lepasin marahmu di sana." 😈
Mata Pak Bayang lantas berbalik, melirik Aji usai puas memarahi gadisnya.
"Kamu juga, Ji, berhenti ledek Kakakmu! Bantu dia kayak biasa." 😈
Aji pun konsennke kuas ajaibnya, tapi karena masih terpikir body melar Cantik...
"Ada-ada aja kamu, Jun, hari gini masih percaya mimpi." di tongkrongan, Elang tampak skeptis menanggapi keresahan Juna soal mimpinya.
"Iya ji, ki kayak nggak punya agama aja," Rein menegaskan komen yang dilempar El Gondrong.
"Mimpi cuma bunga tidur, Jun, kenapa ma ki pikir? Biarin, nanti juga stop sendiri." 💜
Juna sama sekali nggak bicara, namun matanya menunjukkan kekecewaan atas feedback dua kawannya itu.
"Ya udah, yuk!" Elang bangkit seolah hendak pergi dari tongkrongan. "Katamu tadi mau ke perpus, cari bahan buat ujian mid semester."
Rein pun mengekor Elang, melangkah bareng meninggalkan tiga teman mereka di tongkrongan.
"Udah, Jun, nggak perlu kau baper. Toh nggak semua ketawain cerita kau kan? Buktinya aku dan Rana masih di sini." Eran buru-buru menghibur supaya Juna nggak kepikiran mulut Elang dan Rein.
"Benar, Jun, jangan merasa ditinggal gitu dong, nih aku sama Eran paham yang kamu rasa, memang susah sih di posisimu itu." 💛
"Cesss..." korek Eran terpantik usai Rana tuntas berbicara. El Klimis pun menggapai celananya, dan langsung berjumpa wujud 3D Mahaguru di atas benda kecil tersebut.
"Segera ke kota! Dinasti Kegelapan lagi rusuh hebat di sana." 🧝
Eran pun menatap Juna dan Rana, guna kemudian gerak bareng usai menyatu visi lewat angguk kepala.
======
Elang dan Rein bonceng bareng menuju perpustakaan kota. Tapi di tengah jalan, mereka berdua dibuat kaget oleh massa yang berhambur seolah menjauhi sesuatu dari arah berlawanan.
"Ededeh, ada apakah ini?" 💜
"Tau," Elang menepi demi menjawab rasa heran Rein. "turun, Nduk! Kita lihat ada apa."
Elang dan Rein berbaur di kerumunan, tapi karena suasana chaos, mereka tentu sulit mengetahui apa yang sebenarnya kini terjadi.
"Oh My..." di sela kekisruhan, Elang tanpa sengaja melihat hal aneh di kejauhan. Tuh cowok akhirnya ngerti, dan langsung kasih Rein kode agar tuh cewek melihat yang ia lihat.
"Ededeh, harusnya dari awal kita tau." tukas Rein lugas, seraya pasang kuda-kuda kayak yang Elang lakukan duluan.
Di hadapan mereka, Cantik dan kuyuk stand by ditemani monster kenari ukuran jumbo. Cantik sendiri sebenarnya malas memandang tuh monster, lantaran bagi ia itu hanya ledekan lain Aji soal body melar yang kini menjeratnya.
Beruntung di situasi genting, tiga Riders lain hadir membantu Elang dan Rein tepat waktu.
Mereka pun transformasi, dan langsung menggeprek kuyuk yang diumpan Cantik seperti biasa.
"Iiiiiih, bocil-bocil k*****t, bikin aku makin jengkel aja." Cantik yang menyaksikan kian emosi sama kekalahan cepat para kuyuk.
"Kalem, Non, aku bisa hentikan mereka." monster kenari itu menahan, dan tampak bersiap mengeluarkan jurus andalan yang ia punya. "Lihat nih."
Kreatur itu lalu melepas sejenis benang ke arah Riders, yang celakanya nyangkut di leher Elang dan Rein hingga keduanya harus jibaku melepas jeratan.
Sang kenari lantas menarik tuh benang, dan sekejap, si hijau serta si ungu masuk sangkar yang menggantung di atas kepala sang monster.
"ELANG, REIN..." 💛
Eran dan Rana auto bersiaga, tapi Juna justru berbalik dan memilih pergi dengan rasa acuh.
"Jun," sikap Juna jelas bikin Rana serta Eran serba salah. Kondisi ini dimanfaatkan jelas sang Kenari, yang melumpuhkan dua anak itu ketika mereka sibuk menahan si biru.
"Hihi, ada yang marahan ternyata, dasar bocil sinetron." Cantik puas mengejek friksi di tubuh Volt Riders.
"Udah ya, aku bawa dulu kawan kalian ini, daaaaaag!" 🌹
Dinasti Kegelapan sirna, meninggalkan Eran dan Rana yang kini dituntut meraih hati Juna.
======
"Astaga, ada apa lagi?" Mahaguru Dewa sampai geleng-geleng menerima info dari Eran serta Rana.
"Kemungkinan Juna marah ke mereka, Mahaguru, sebab di tongkrongan, Elang sama Rein sempat kurang respek waktu Juna curhat." Rana buka sedikit kondisi internal dari para Riders.
"Curhat apa dia?" Mahaguru jadi kepo mengetahui situasi yang sebenarnya.
Eran pun menerangkan mimpi yang belakangan meneror Juna. Mahaguru mendengar seksama, untuk kemudian mengangguk di penghujung cerita El Klimis itu.
"Aku tau perasaannya, tau kenapa Juna begitu." 🧝
"Jadi kita mesti gimana, Mahaguru? Kalau Juna merajuk terus, susah bebasin Elang dan Rein." keluh Eran jengah dengan situasi yang kini ada.
"Ada baiknya kalian datangi Juna! Bujuk sampai hatinya lumer." 🧝
"Ke rumahnya maksud Mahaguru?" Eran mau protes lagi, tapi tangannya digamit Rana yang kelihatan siap sama misi ini.
"Nggak apa-apa, Er, lakuin aja." 💛
Rana pun lantas balik ke El Mentor.
"Oke, Mahaguru, kita ke sana sekarang." 💛
Mereka pun meninggalkan markas, dan boncengan ke rumah Juna dengan motor Rana sebagai tunggangan.
Keduanya pun tiba di rumah Juna nggak lama berselang. Cowok itu lagi mengurus alas pancingnya, sembari sesekali minum susu kedelai di teras depan rumah dia.
"Juna..." teriakan Eran manjur juga bikin El Cepak menoleh.
"Situasi lagi gawat, geng busuk itu terus aja ganggu warga, kita perlu kau, Bung, nggak mungkin aku dan Rana sendirian lawan mereka." ❤️
"Oh." segitu panjang Pangeran bicara, rupanya nggak mempan bikin Juna jadi hangat sedikit pun.
"Jun, Elang dan Rein lagi dalam tangan Dinasti Kegelapan, kamu nggak kepikir bebasin mereka?" saking berharapnya, Rana sampai berlutut ambil hati El Cepak yang sangat halus.
"Mereka tuh kawan kita lho, masa kamu nggak kasihan?" 💛
Iya sih Juna berhenti. Namun mata tuh anak tampak masih kurang puas sewaktu memandang Rana di bawah lututnya.
"Kita? Kam berdua kali, aku kada." 💙
"Bah, apa pula kau nih? Udah lupa kau tujuan awal Mahaguru untuk kita?" Eran jadi terburu melihat Juna tetap bergeming.
"Pahami situasi, Jun, kalau kau masih keras, selamanya Elang dan Rein akan di tangan geng busuk itu, kau biar tau." ❤️
"Kalian sendiri ngerti nggak yang aku rasain?" Juna menghentak argumen yang Eran lepas untuknya.
"Kam nggak usah suara tinggi gitu, Er, kalau betul mereka teman, nggak mungkin mereka ketawain kesulitanku saat ini. Kam tau nggak rasanya hidup dalam gelisah?" 💙
Sejatinya Eran masih ingin debat, tapi Rana menahan demi soliditas tim yang tersisa.
"Terserah kalau kalian masih mau di sini. Aku mau siap-siap ke sungai. Adik-adikku perlu lauk buat nanti malam." 💙
Juna pun bangkit, meninggalkan dua kawannya yang cuma bisa berdiri dalam senyap.
***
ns216.73.216.75da2


