Eran dan Rana saling diam sepulang dari rumah Juna. Hati mereka betul-betul kosong, karena Juna tetap membiarkan Rein dan Elang di tangan geng Dinasti Kegelapan.
Mereka pun fokus menuju rumah Rana di jantung kota. Namun baru keluar dari gerbang, secara nggak sengaja Eran nyaris menabrak seekor kucing yang kebetulan melintas di depan mereka.
Naluri cat lover Rana seketika bangkit oleh pemandangan mendadak itu. El Pirang pun buru-buru menahan Eran, guna mengejar tuh kucing sambil buka ransel berisi dry food di dalamnya.
Eran sendiri hanya memandangi, tapi dalam beberapa detik, dibuat kaget oleh kemunculan dua benang ke tangan Rana secara tiba-tiba.
"PANGERAN!" Rana coba berontak, tapi sia-sia karena dirinya terjebak menyusul Rein dan Elang dalam sangkar si Kenari.
Feeling Eran mengendus keganjilan. Dia llu memutar lagi motor, kembali ke rumah Juna demi cari proteksi sambil melapor hal ini.
"Kenari, kejar dia!" Cantik yang ngumpet di balik semak, segera kasih perintah ke kreatur binaannya di dahan pohon.
Si monster pun terbang, dan bergegas menyerang saat menemukan pelarian El Klimis.
Beruntung Eran masih bisa lolos dari jerat si Kenari, walau satu serangan bikin motor ringsek dan memaksanya berlari manual buat sisa jarak yang masih ada.
"Ke mana dia? Cepat banget larinya." Kenari yang kehilangan jejak, seketika heran melacak keberadaan Eran saat ini. Si burung pun lesat ke arah lain, tanpa tau targetnya mengintip di balik rimbun daun sekitar situ.
Pangeran pun sedikit lega, tapi nggak bisa lama karena ada hal lain yang harus dikejar.
"Junaaaa!" Eran langsung memanggil, tapi Juna pura-pura budeg dan terus jalan dengan alat pancing di tangan.
"Jun, balik, Jun!" ❤️
"Jun, kumohon, Rana udah tertangkap." jurus terakhir pun Eran keluarkan, dan itu yang menyetop Juna dari sikap cueknya.
"Apa kam bilang?" Juna pun mendekati Eran yang nafasnya sisa senin-kamis. "Serius kam?"
"Bah, kau nggak lihat kondisiku, nafasku ini hampir habis, bisa kali kau tanya serius apa nggak." Pangeran jelas emosi melihat laporannya dipertanyakan Juna.
"Jun, kau boleh resah sama situasi yang kau alami. Tapi kalau itu jadi alasan kau menyerah, lebih baik buang korek kau, kau nggak pantas dapat atribut Riders." ❤️
Eran lari lagi usai bicara, meninggalkan Juna ditelan rasa bersalah karena Riders mulai pecah.
======
Hari sial nggak pernah ada di kalender. Itu yang dialami Pangeran. Meski cowok itu udah berusaha menghindar, si kenari ternyata dapat melacak dan merongrong tanpa henti hingga bikin dia terpojok di sebuah batang pohon.
El Klimis pun nggak ada pilihan selain alih wujud ke mode super. Namun karena yang dia hadapi lagi nyaman di udara, mau nggak mau ia cuma bertahan menghindari hujan benang dari sayap tuh monster.
Apes, seutas benang gagal dihindari hingga tubuh Eran terikat di dada. Namun tepat sebelum Kenari menarik si merah, satu anak panah tau-tau muncul memutus untaian tuh benang seketika.
Eran pun selamat walau terpental efek putusnya benang. Monster Kenari pun ikut terpelanting, dan mencium darat bersama rasa sakit jatuh dari ketinggian.
"Juna." Eran tampak ceria, seraya berdiri perlahan memapankan tubuhnya lagi.
Juna sendiri telah ada di mode komplit, dan langsung membaur kondisi usai rapi menapak tanah.
"Eran..." Juna menghampiri Pangeran, dan langsung berbisik kasih ide alternatif padanya.
"Oke," sahut Eran usai si biru menjauh. Si merah pun membidik fokus, dan beberapa detik, roh beruang bangkit membawanya mengejar sang monster tanpa kenal takut.
By one pun terjadi seiring terjang Eran ke monster di hadapannya. Secara fisik si monster unggul jauh, tapi via roh beruang di raga, si merah berusaha mengimbangi hingga tercipta sengit antar makhluk beda kasta ini.
Satu yang monster itu luput, duel yang dia jalani ternyata cuma akal-akalan Juna supaya dia bisa dapat ruang lebih. Si biru pun membidik sangkar sang kenari, dan berikutnya...
"WUSH!!!"
Rein, Elang, dan Kirana, serempak lepas dari sangkar yang mengurung mereka. Di sisi berlawanan, panah Juna bikin monster itu gelagapan kehilangan kekuatan energi tuh sangkar.
"KYAAAAAAAA, SANGKARKU!!!"
Eran menendang demi menjaga jarak, dan pada sekali tebas, pedang menghabisi seketika si kenari dalam kondisi berkeping.
"Ayaaah..." Cantik nangis setiba di Istana Kegelapan. Jengkelnya memuncak setelah kekalahan sekali lagi di depan wajah para Riders.
"Nggak apa-apa, minimal kamu udah berjuang, lemakmu pelan-pelan terbakar tuh." Pak Bayang menunjukkan sisi lembut, dan mengelus rambut Cantik supaya dia nggak sampai illness parah.
"Nggak usah khawatir, Nona Kecil, kurus atau gemuk, kamu tetap cantik di mata Ayah, udah, berhenti nangisnya!" 😈
======
Juna termenung di ujung pelabuhan. Matanya memandang kosong ke depan, bagai napaktilas insiden yang belakangan terekam di mimpinya.
Sementara di belakang, semua Riders tampak berjalan mengamati tingkah diam El Cepak ini. Rasa bersalah menyelimuti mereka, terutama Elang dan Rein yang kini sadar lisan mereka melukai tuh cowok.
Keduanya pun menguatkan diri ketemu Juna, usai dimotivasi lintas gender oleh dua Riders yang tersisa.
"Maaf, Jun, yang kemarin. Aku nyesal sama omonganku." sebagai lelaki tulen, Elang gentleman buka suara mengakui kesalahannya.
"Yaitu, Jun, kita nggak maksud remehin mimpi ki, kita paham kok ki punya situasi." lanjut Rein sambil menunduk walau mulai agak berani menatap Juna.
"Nggak apa-apa, Manteman, aku salah jua terlalu drama sama kalian." Juna lalu kasih kode agar Elang dan Rein merapat.
"Coba kam lihat!" Juna pun menunjuk laut lepas yang ada di depan mereka.
"Waktu kecil, Abahku pernah cerita, laut itu makhluk terunik di dunia." Juna mulai berbagi sebagian cerita masa kecilnya.
"Warnanya langit, tapi dia membumi, bentuknya pun luas, tapi sejauh pandang, nggak ada kata selain keindahan." 💙
Elang, Rein, termasuk Eran dan Rana, hanya mengangguk menanggapi. Mereka belum berani bicara, khawatir El Cepak marah lagi kalau mereka sampai salah ucap.
"Itu nasihat paling membekas yang pernah kudengar, Manteman, aku harus belajar dari laut, nggak boleh merasa tinggi, dan selalu berhati luas." 💙
"Udahlah, lupain aja. Gimanapun, kam semua tuh kawan-kawanku, aku mustahil marah ke kalian, sampai kapanpun kada kawa." 💙
Juna lalu merangkul Riders, dan jalan bergandeng menjauhi dermaga tempat ortunya bersemayam.
***
ns216.73.216.75da2


