Pemandangan nggak biasa terlihat di pintu masuk Istana Kegelapan. Seorang wanita tampak bergulat sama sejumlah keamanan di sana.
Gadis itu nggak terima dengan perlakuan para lelaki di sekitarnya. Dia lantas melakukan perlawanan, tapi nggak lama lantaran segera diringkus oleh tim binaan Cantik tersebut.
"Apa-apaan sih kalian nih? Aku cuma mau cari kawanku aja, katanya dia tinggal di sini." sembari berontak, tuh cewek terus komplain sepanjang dibawa keamanan ke ruang utama.
"DIAM!!!" salah satu pasukan mengintimidasi pakai sentakan yang bernada berat.
Rombongan pun tiba di ruang utama, dan langsung tatap muka dengan 3 bos mereka di sana.
"Kami baru aja menangkap seorang wanita mencurigakan di depan, kami rasa dia ini penyusup yang ditugaskan mengacak-acak markas dari dalam."
Pak Bayang dan Aji hanya menyaksikan, tapi Cantik tiba-tiba maju dan menatap tuh cewek seolah pernah berjumpa sebelum hari ini.
"Cindi?" 🌹
"Kalian, lepasin dia!" Cantik menyuruh para budaknya membebaskan tuh cewek.
Wanita ber-style eksekutif itu pun bebas, dan langsung menata ulang blazernya yang kusut akibat tingkah para lelaki itu tadi.
"Kakak kenal?" Aji pun nggak kuat menahan rasa herannya pada Cantik.
"Ya iyalah, Ji, ini tuh bestie Kakak dari SMP." Cantik pun alih tatap ke cewek bernama Cindi tersebut.
"Kamu apa kabar, Cin? Lebih sepuluh tahun lho, kita nggak kontak-kontakan." 🌹
"Tadi sih, baik aja, Tik, tapi gara-gara mereka tuh..." 👠
Jawaban Cindi serta-merta jadi trigger yang bikin Cantik mengepruk budaknya satu-satu.
"Kalian tuh gimana sih? Mestinya tanya dulu kalau ada orang asing masuk. Asal tangkap aja." cerocos Cantik usai puas mencap pipi para budaknya. "Udah sana! Awas memang ini terulang."
"Tamumu nggak disuruh duduk apa?" tegur Pak Bayang ketika pasukan udah kembali ke habitatnya semula.
"Eh ya, ayo, Cin," Cantik pun membimbing, dan memperkenalkan Cindi ke semua lelaki yang ada di depan mereka.
"Anyway, apa tujuanmu ke sini?' Pak Bayang langsung to the point usai Cindi duduk.
Cindi pun cerita terbuka soal apa yang lagi dia alami. wanita itu ternyata punya problem rumah tangga, dan dalam situasi kalut, nama Cantik tau-tau muncul dan menggerakkan dia hingga jumpa dengan tempat ini.
"Oke, kamu kita terima di sini." Pak Bayang pun mengangguk, mengizinkan Cindi tinggal bersamanya di Istana Kegelapan.
"Dan untuk 'do and don't-nya', kamu boleh tanya Cantik nanti!" 😈
"Baik, Pak." sahut Cindi, walau masih agak canggung terdengar.
"Jangan 'Pak' lah, 'Ayah' aja, anggap saya ayahmu sendiri." gila hormat Pak Bayang belum sembuh 100% rupanya.
"Oh ya, baik, Ayah." 👠
Pak Bayang pun berdiri, dan jalan beberapa langkah hingga segaris dengan badan Cindi.
"Lebih baik kamu mandi! Kamu pasti capek kan, habis jalan jauh tadi?" Pak Bayang pun beralih, menatap Cantik yang masih duduk di samping Cindi.
"Antar dia ke kamar belakang!" 😈
"Siap, Yah," Cantik pun bangkit, dan bergegas menuntuk Cindi menuju area belakang Istana.
"Ada-ada aja." 😈
======
Rana lagi sebal banget ke Mamanya. Kondisi rumah pun bergejolak, gara-gara mereka sengit terus membahas sumber jengkel El Pirang saat ini.
"Maksud Mama apa jodohin Rana sama Koh Aheng? Mama nggak lihat kuliah Rana lagi sibuk-sibuknya?" 💛
"Ini juga demi masa depan kamu, Rana, kurang apa si Aheng, sampai kamu tolak? Udah baik, royal, punya depo sembako di berbagai tempat, dan yang penting, dia masih keluarga kita juga, hidupmu bakal terjamin kalau nikah sama dia." Mama Rana nggak mau kalah batu dengan gadis tunggalnya itu.
"Koh Aheng tukang main perempuan, Ma, dia juga salah satu bandar judol kota. Mama tega lihat Rana gelisah? Tega sama mental health Rana?" 💛
Tembakan El Pirang seketika bikin Mamanya mingkem. Tapi dari sorot yang terus melotot, kelihatan jelas Mama Rana masih jaga gengsi dan nggak ingin kalah di hadapan bocah yang dilahirkannya.
"Udah, Ma, Rana capek bahas ini terus, Rana mau ke kamar, bodo amat sama Koh Aheng." 💛
"Rana, hey..." Mama Rana mengejar, namun segera dicekal Papa Rana yang dari tadi diam mengamati pertengkaran. "Ma, udah, nggak usah!"
"Heran Mama sama dia, dibaiki nggak mau."
"Mama sih terlalu keras, biar apa segitu ngotot jodohin anak?" Papa Rana coba kasih pengertian pada istrinya.
"Let it flow, Ma! Kirana masih muda, biar dulu dia nikmati masa mudanya."
"Papa juga belain Rana terus, gimana anak itu nggak ngelunjak?" Mama Rana masih aja ngotot mempertahankan idealisme otaknya.
"Bukannya belain, Ma, ini tahun berapa? Nggak pantas lagi kita jodoh-jodohin anak, ini bukan zaman Siti Nurbaya."
Bahan ghibah mereka sendiri kini nangis di luxury bed tempatnya tidur. Kesalnya udah di titik puncak, saking nggak tahan dicecar terus oleh perjodohan yang nggak dia mau.
Mata Kirana tau-tau terpaut oleh satu potret berbingkai di buffet. Ia lantas menggapai tuh barang, dan memandang foto seorang cowok berseragam yang tertempel di pigura kecil itu.
"Bang Ray, Abang baik kan? Rana kangen, Bang, nggak ada yang bisa ngertiin Rana sejak Abang pergi." 💛
Rana terus larut di kesedihan, sampai lupa kegiatannya dipantau pihak-pihak yang terus ingin menjatuhkannya.
"Kayak nonton TV ya?" ujar Cindi polos saat ikut melihat dari portal Aji.
"Iya sih, bedanya ini cuma nggak ganti-ganti channel aja." Imaji tampak tersipu mendengar komentar Cindi barusan. Kayaknya ia mengira itu pujian.
"Cantik, Aji," Pak Bayang menjeda omongan untuk minum kopi hitam yang dihidang Cindi. "Tau kan, harus ngapain?"
"Siap." Cantik dan Aji koor bareng merespon permainan kata Ayahnya.
"Maksudnya?" 👠
"Udah, Cin, ikut aja dulu, entar jua kamu tau." Cantik pede menjawab Cindi, sembari jalan bareng Aji menuju ruang persiapan serangan.
======
Eran, Elang, Juna, dan Rein heran bareng di markas utama. Mereka bingung sama absensi Rana, yang hampir sepekan nggak hadir di markas seperti biasa.
Mahaguru sendiri angkat tangan menangani masalah itu. Tracking portal pun rupanya bapuk, karena sinyal korek Rana putus total dari berbagai jalur di markas kini.
"Ededeh, tuh anak kemana kah lagi?" Rein jadi suara pertama yang khawatir soal Rana.
"Jun, kau kan paling akrab sama Rana, apa dia nggak kabari kau selama hilang ini?" Eran langsung menodong karena tau tingkat kedekatan Juna dan Rana.
"Ada nggak ya?" Juna pun mengingat-ingat, sambil membuka riwayat telepon yang masih tercantum di WA-nya.
"Ah, aku ingat." jawaban Juna makin bikin teman-temannya mendekat ingin lebih dalam menerima info.
"Dua hari lalu, Manteman, dia telepon, nangis, katanya nggak tahan sama sikap ortunya belakangan ini." 💙
"Waduh, gawat." Elang sampai menepuk jidat mendengar penjelasan Juna barusan.
"Kita harus segera cari Rana berarti." 💚
"Tenang, Elang, lakukan perlahan." Mahaguru menegur Elang, dan kemudian alih mata ke Juna yang menaruh lagi HP-nya di kantong.
"Jun, coba call lagi! Pastikan Rana baik-baik aja saat ini." 🧝
Juna pun menuruti anjuran sang mentor, namun nirhasil lantaran targetnya sedang asyik sama seseorang di satu kafe dekat kampus tuh cewek.
"Serius, Bel? Bang Ray kan..." 💛
"Ini anak dikasitau, Bella nih, Bos, adiknya Raymond, bestie Rana juga dari sekolah." gadis bernama Bella itu rada nggak terima infonya diragukan El Pirang.
"Terus dia di mana sekarang?" Rana panik merespon berita yang disampaikan Bella.
"Nah itu," Bella tampak menyimpan misteri soal cowok yang sedang mereka bahas. "kata Bang Ray, dia baru siap ketemuan lusa nanti, sekarang masih belum."
"Kenapa nggak sekarang aja sih? Aku tuh kangen tau, sama dia." 💛
"Iya, iya, ngerti," Bella yang risih, seketika menghindar tipis sambil menenangkan Rana yang mewek.
"Tapi sekarang kamu sabar dulu, lusa nanti kita ketemuan lagi, jam 3, aku sendiri yang bakal antar kamu ke sana."
"Janji?" tanya Rana, yang cuma dibalas tipis karena ponsel Bella berdering tiba-tiba.
"Udah ya, Ran, aku duluan! Ada kerjaan lagi nih."
Rana pun mengiyakan, tapi tetap bertahan dengan muka sendunya yang belum begitu tenang.
======
Baru seperempat jam pulang, Rana udah nggak tahan mau beranjak lagi. Kebetulan hari ini adalah hari yang paling dia nanti, karena dirinya udah janji akan menemui sosok bernama Ray itu bersama Bella.
Rana yang biasa tomboy pun, kini nggak tumben-tumbenan memakai rok selutut kesayangannya. Dengan pede El Pirang turun tangga, tapi baru menginjak ruang tamu...
"Rana..." suara sang Papa serta-merta bikin Rana stop mo dan memperlihatkan wajah asem.
"Mau ke mana? Duduk dulu!"
Rana mendengus, namun patuh dengan cinta pertama di hidupnya itu.
"Papa paham alasanmu menolak Aheng, Papa pasti mikir sama jika di posisimu." Papa Rana mengutarakan isi benaknya.
"Cuma kamu nggak perlu agresif gitu, mau gimanapun, Mamamu tuh orang tua, kasih respek sedikit."
"Respek gimana, Pa? Rana disuruh iyain aja sama semua mau Mama, gitu?" kepala Rana seketika panas mendengar nasihat dari sang Papa.
"Bukan gitu, Rana, dengar dulu baik-baik!" Papa Rana berusaha kalem menghadapi hati putrinya yang lagi beku.
"Papa tau reputasi si Aheng, wajar kamu menolak. Tapi kayak yin & yang, Mamamu juga nggak salah nilai, memang dia baik, royal."
"Terus kenapa kalau dia baik dan royal, Pa? Mestinya Papa bilang ke Mama dong, cinta bukan hanya harta dan tahta*), itu poinnya." 💛
Rana pun berdiri dari sofa, dan berbenah usai agak kumal efek mematuhi Papanya.
"Rana, kamu mau ke mana? Rana..." mungkin ini pertama kali Rana cuekin omongan Papanya.
"Perempuan-perempuanku."
Sementara di sudut lain kota...
"Apa kita ke kampusnya aja kah?" 💜
"Boleh juga, yuk." Juna langsung menyetujui usul yang disampaikan Rein. Mereka memang ditugaskan Mahaguru Dewa, mencari El Pirang di segala penjuru kota.
Mereka pun melintas perjalanan, dan persis prediksi El Hijab, Kirana tampak tengah duduk di teras kafe yang kemarin ia sambangi.
"Kalian?" Rana jelas kaget melihat kedua kawan Riders-nya itu.
"Ededeh, ki kemana aja? Jangan suka bikin khawatir kodong, udah seminggu kita cari-cari ki." tanpa rem Rein nyerocos menumpahkan segala cemas.
"Ada kok, cuma malas kumpul aja." ujar Rana enteng menjawab ocehan memekak telinga Rein tadi.
"Tumben kam pakai rok, mau ke mana?" 💙
"Kepo kamu." Rana menyedot sejenak minuman yang dia beli dari kafe tersebut.
"Aku mau ketemu Bang Ray, kenapa? Ada masalah?" 💛
Juna dan Rein serempak dibuat melongo oleh jawaban El Pirang.
"Ray, pacar ki yang angkatan itu kah?" 💜
"Kam sehat, Ran? Kita sama-sama tau lho berita kematian Ray tuh, masuk TV nasional kan?" 💙
"KALIAN TUH KENAPA SIH? IKUT CAMPUR AJA URUSAN ORANG." sontak Rana emosi saking capek dipertanyakan sana-sini.
"Lagian media kalian percaya, memang media pasti benar gitu? Sekarang banyak hoax bertebaran, nggak ada yang 100% valid." 💛
Sebuah sedan kemudian menghampiri tiga anak super tersebut. Kirana yang tau itu Bella pun beranjak, namun sambil melengos muka meninggalkan 2 rekannya yang masih belum habis pikir.
"Elang benar, tuh anak udah gawat." Juna balik ke motor dan bersiap pergi lagi.
"Rein, hubungi cepat dia sama Eran! Kita perlu tau ke mana Rana pergi." 💙
***
*) Cukup Siti Nurbaya (Vocal : DEWA 19, Composer : Ahmad Dhani, 1995)
ns216.73.216.75da2


