Rana dan Bella tiba di sebuah komplek berisi deret rumah hijau tentara. Mereka berdua pun turun dari mobil, dan beriring menyusuri tuh komplek demi mencari pria yang lagi dirindu El Pirang.
Satu sisi Kirana excited, tapi sisi lain, dirinya heran juga sama situasi komplek yang sunyi seperti tanpa penghuni.
Wajar sih Kirana merasa, sepanjang jalan, ia cuma dua kali melihat orang asing di sekitar situ. Pertama orang tua yang duduk dengan baju safari, dan kedua, sepasang muda-mudi yang lagi ngobrol di rumah dekat Rana berdiri.
"Bener ga sih, Bel? Sepi gini tempatnya." 💛
"Tenang, Bang Ray memang di sini." Bella pun meredakan, sambil terus jalan hingga masuk satu rumah berukuran luas.
"Tuh!" Bella membawa Rana ke bagian samping, dan langsung menunjuk seseorang yang tampak gagah dibungkus atribut loreng di badan.
"Bang Ray..." Rana nggak bisa menahan rindu, dan kontan menghambur memeluk Ray saat itu juga.
"Abang ke mana aja? Rana kangen lho, kok Abang mesti bohong bilang Abang gugur?" 💛
"Cieeee, hihi..." melihat adegan mesra itu, Bella langsung menggoda dan bikin Kirana berbalik tersipu.
"Orang bucin memang ogeb."
"Maksudnya?" belum sempat mengerti, leher Rana mendadak dicekal oleh lelaki yang tadi dipeluknya.
Semua topeng terbuka menguak kedok. Bella jadi Cantik, muda-mudi itu jadi Aji dan Cindi, sementara sang sepuh tentu jadi Pak Bayang dengan senyum licik khas miliknya.
Tubuh Ray sendiri berubah jadi monster belalang, dan komplek itu pun seketika hilang diganti bukit angker favorit Dinasti Kegelapan.
"Hihihi, makanya, cil, jadi cewek jangan terlalu bucin." dengan sengak, Cantik meledek Rana yang kini terpaksa berjuang hidup dan mati.
"Kamu udah tinggalin kawan-kawanmu, dan itu membawamu sendiri di sini. Siapa mau tolong kamu sekarang?" 🌹
"Dia nggak sendiri." sepotong suara tiba-tiba muncul mengagetkan orang-orang di sana. Suara itu disusul derap beberapa kaki, di mana Juna, Eran, dan Rein, hadir dari jauh dalam mode transform mereka.
"Ededeh, kenapa mi? Kaget lihat kita di sini?" dengan palu di tangan, Rein psywar memanfaatkan efek kejut yang Riders ciptakan.
"Maaf ya, sebelum kam pergi tadi, aku udah lempar tracker diam-diam, ke barang itu tuh." sambung Juna sambil menunjuk tas yang memang sejak awal digendong Rana.
"KURANG AJAR!!! Kuyuk!" Cantik lempar semacam bola, yang kemudian pecah dan menghambur kuyuk mengepung Riders.
======
Eran, Juna, dan Rein, seperti biasa, mudah menghabisi kuyuk di sekitar mereka. Terlebih senjata udah di tangan, makin superior mereka di depan muka-muka anjing tersebut.
Trio Riders itu pun bersiap, tapi seketika...
"Berani kalian maju selangkah, leher dia taruhannya." tuh monster mengintimidasi, dan mengarahkan lengan guntingnya ke leher Rana yang masih tercengkeram.
"Hey, Bung, lepaskan dia dan ayo duel!" Eran pun menggertak, namun hanya dibalas kekeh oleh kreatur jenis serangga itu.
"Lepas, lepas, ndasmu lepas."
Sang monster pun melepas sinar mata, yang serta-merta bikin Riders terjungkal menerima serangan tersebut.
Pak Bayang, Cantik, dan Aji, jingkrakan melihat Riders tersiksa mental. Sementara Cindi sebenarnya masih belum ngerti, tapi karena hormat, dia pun ikut senyum walau masih awkward sama situasi yang ia lihat.
Si belalang sendiri terus main di pipi Rana, dan mulai mengelus tuh area seolah hendak merasakan mulus yang tercipta di situ.
"Lama-lama kulihat, kamu manis juga ya, aku bisa naksir beneran kalau gini." ucap sang monster, sambil sesekali melakukan intimidasi dengan meletakkan guntingnya di pipi Rana.
Si kreatur pun bersiap eksekusi, tapi belum sempat lengan tajam itu gerak, serangan kejut tiba-tiba muncul dan membelit tuh monster hingga terguling membebaskan El Pirang saat itu juga.
"Manteman," dari ufuk, Elang menyapa santai sambil menggenggam nunchaku miliknya. Si hijau sendiri kini dalam posisi terbang, menggunakan roh burung elang yang dikasih Mahaguru dalam jiwanya.
"Mau lihat atraksi helikopterku nggak?" 💚
Nggak pakai nunggu, Elang pun berdansa di udara memutar nunchaku bak baling-baling helikopter.
Putaran itu sendiri menimbulkan angin ribut super, yang tentu bikin Riders lain kelabakan menahan badan supaya tetap seimbang.
"Helikopter, helikopter..." Elang malah cosplay Fazlija, walau suaranya terlalu nggak potensi untuk menarik perhatian agensi idol.
"Woy, Lang, berhenti!" Juna setengah mati pegang tanah, dan teriak menyuruh Elang menyetop sirkusnya.
Angin pun mereda, diiringi Elang yang turun begitu diomeli Juna.
"Sorry, Jun, kebablasan." 💚
Si hijau pun melirik monster, dan beralih memandang Riders yang perlahan mapan usai tersapu ulahnya.
"Kalian tunggu apa lagi, selesaikan udah!" 💚
Eran pun kasih kode, dan dalam sekali tebas, pedang si merah sukses melumat sang belalang dibantu Juna dan Rein.
"Aaaaaaah, bocil, tunggu pembalasanku!" Pak Bayang sampai harus dipapah saking shock dibuat malu para Riders.
"Rana..." Rein segera membantu Rana, dan dibalas dekap El Pirang yang sadar telah salah ambil keputusan.
"Maaf ya, Rein, udah bentak kamu dan Juna di kafe tadi." 💛
"Iya, iya, yang penting ki jangan ulangi." ucap Rein lembut, sambil mengelus Rana agar hati tuh cewek tenang.
"Ya udah, baiknya kita pergi, Manteman, tempat ini terlalu panas buat kita." Eran pun beranjak, diikuti empat teman Riders-nya di belakang.
======
Para Riders akhirnya paham problem Rana dan ortunya. Mereka pun sepakat bantu, dan lewat lidah Juna, meyakinkan Mama Rana bahwa El Pirang fokus belajar hingga belum memikirkan pernikahan.
Mereka lalu move on usai acara saling maaf tuntas. Mereka pun tiba di sebidang taman makam, di mana Rana langsung ke pusara Ray yang agak dalam dari pagar tempat sunyi tersebut.
"Mustahil, Manteman, mustahil aku bisa lupa Bang Ray. Dia yang pertama betul-betul bikin aku jatuh cinta, bikin aku merasa diratukan di balik sifat tomboyku ini." 💛
Eran, Elang, Juna, serta Rein, mendengar sambil menatap bunga yang ditabur Rana. Makam itu sendiri tampak masih seperti baru, karena El Pirang sangat telaten mengunjungi nisan berusia satu setengah tahun itu.
Rana pun berlutut di depan makam Ray, dan kemudian...
"Bang Ray tenang ya, Rana udah kuat kok, nggak cengeng lagi kayak Abang mau." 💛
Monolog Rana disaksikan Volt Riders, walau sejatinya mereka sulit menahan air mata yang ditular El Pirang.
"Abang mau bukti? Nih Rana tunjukin!" 💛
Rana lalu mundur 3 langkah, dan kemudian...
"Kepada, para pejuang negara, HORMAT, GERAK!!!" 💛
Ridera awalnya kaget mendapati tingkah Rana yang bak komandan upacara. Tapi karena tau itu suara pencinta, keempatnya pun mencoba respek dan turut mengekor sikap hormat yang Rana perbuat.
***
ns216.73.216.75da2


