Eran santai menyetir motor listriknya di jalanan. Entah ke mana tujuan tuh anak, tapi jika dilihat dari arah jalan, sepertinya dia lagi mengincar tongkrongan dan niat menjumpai kawan-kawannya di sana.
Benar aja, nggak sampai 15 menit, El Klimis akhirnya tiba di tempat Riders biasa rehat. Dia lalu keliling pandang usai turun, memastikan empat motor lain ada juga di parkiran tempat bernuansa ramai tersebut.
"1,2,3,4, mantap." Eran sumringah usai menghitung kertas di tangannya. Tuh cowok lalu masuk spot utama, dan melihat Volt Riders berkumpul di sudut yang selama ini mereka tempati.
"Manteman..." ❤️
"Weh, Pak Notaris makin ganteng aja nih." sambar Elang, sambil gimme five menyambut kehadiran Eran di situ.
"Kayaknya ada kabar baik nih, dari tempat futsal." melihat sungging bibir Eran, Juna pun ikut kepo dan segera mengekor pertanyaan Elang.
"Betul kau, Jun," sambil tersenyum simpul, Eran merogoh saku dan mengeluarkan kertas yang tadi dia hitung. "nih."
Rana, Juna, Elang, dan Rein, mengambil bergilir lembar yang dibagikan Eran itu.
"Apa ini, Er?" nggak pakai lama, Rein tanya soal kertas yang Eran beri padanya. Lebih ke malas baca kayaknya nih cewek.
"Kau lihatlah!" ❤️
"Turnamen futsal 'Garuda Cup', Jamita FC versus Kuat Baja FC." gumam Rana, tapi tiba-tiba dirinya terbelalak seakan teringat sesuatu dari apa yang tadi ia baca.
"Wait, wait, Jamita ini, tim futsal yang kamu perkuat itu kan, Er?" 💛
"100 buat kau, Ito," sahut Eran lugas, walau bibirnya tetap nggak tutup gigi di depan lima kawan Riders-nya itu.
"Itu sebabnya aku bagi kalian tiket. Jangan lupa ya! Ini final pertamaku lho." ❤️
"Ededeh, kenapa nggak bilang, selamat ya." Rein pun ulur tangan, yang disambut Eran dengan perasaan riang tiada tepi.
"Sebentar, Manteman," El Klimis menahan momen, saat ponselnya berdering setelah ia pisah tangan sama Rein.
El Klimis pun menerima panggilan, dan kembali pada kawan-kawannya begitu telepon ditutup dari seberang.
"Aku mau latihan dulu, Manteman, jangan lupa lusa nanti, ya!" Eran pamit undur diri, dan nggak lupa gimme five sebelum betul-betul hilang dari empat temannya.
======
Eran langsung ganti kostum setelah tiba di futsal centre langganan timnya. Gelanggang tampak nggak gitu ramai, karena waktu masih pukul empat di mana mayoritas warga fokus di jalan demi menuju rumah sepulang kerja.
3-5 menit pun dipakai El Klimis melentur semua otot di tubuhnya. Ia lalu masuk arena usai merasa siap, dan langsung mendekati salah satu bola guna ia coba sepak sebagai adaptasi sebelum latihan nanti.
"Eran," seorang pemuda mendadak datang mendistraksi Pangeran dan bola di kakinya.
"Ah, Julius, mana Coach Stevan ini? Belum pula kulihat batang hidungnya." ❤️
"Tenang, Er, entar juga hadir." Julius gercep menjamin agar rekannya itu nggak sampai khawatir.
"Lebih baik kau lihat kawan kau itu! Entah apa pula dia buat di situ."
Pangeran pun mengikuti mata Julius, dan mendapati seorang anggota tim justru joget alih-alih adaptasi sama atmosfer di sana.
"Manuel." persis harapan Eran, laki-laki itu seketika menoleh melupakan aktivitas depan kameranya.
"Apa kau buat? Kita nih latihan futsal, bukan boyband." ❤️
"Ini juga latihan, Er, latihan selebrasi, mana tau aku cetak gol di final nanti." bukannya ciut, cowok bernama Manuel itu malah kian tengil merespon omelan Eran barusan.
"Mimpi lah kau, kiper mau cetak gol." Eran lalu merangkul Manuel dan mengajak masuk sambil memegang bahu cowok tersebut.
"Tapi omong-omong, lagu apa tadi? Enak pula kurasa." ❤️
"Judulnya 'Dola-Dola', Er, lagu Timur itu."
Pangeran pun lanjut latihan, yang tanpa disadari dilihat juga oleh para petinggi Istana Kegelapan.
"Ini saatnya, ini saatnya." menggebu Pak Bayang menyaksikan portalnya Imaji.
"Saatnya apa, Yah?" tanya Cindi merespon polos sikap berapi-api Pak Bayang.
"Cindi, apa Cantik belum kasitau kamu?" Pak Bayang terang gemas sama keluguan Cindi yang nggak kelar.
"Kita di sini, bertujuan menguasai kota, jika itu berhasil, kita bakal bisa monopoli bisnis, apapun yang kita mau." 😈
"Kita juga bisa balas semena-mena yang pernah kita terima, Mbak, kita bisa buktiin, kalau mereka salah rendahin kita." walau lagi asyik gambar, ternyata Aji menyimak juga dan turut nimbrung obrolan mereka.
"Mantan suamimu tuh contohnya, kamu sendiri kan yang bilang, mau balas kelakuan kasarnya pas kalian berumah tangga?" 🌹
Cindi auto terkipas mendengar mantannya dibawa-bawa Cantik. Cindi merasa dia cukup rasional, dan akhirnya manggut sambil komit batin menolong mimpi Dinasti Kegelapan.
"Nanti aja curhatnya, Nona-Nona, ada yang lebih penting." Pak Bayang melihat portal lagi, di mana Eran tersorot mengikuti latihan jelang final yang bakal dia hadapi.
"Bocil itu akan tanding dua hari lagi, Ayah mau kalian menggagalkannya!" 😈
"Gimana caranya, Yah?" 👠
"Gimanapun, intinya dia harus rasain apa yang kita rasain, di-bully dan hilang percaya diri." Pak Bayang lugas menjawab pertanyaan polos Cindi barusan.
"Maksud Ayah, Aji mesti turun gebukin dia gitu?" 🥊
"Nggak harus gitu, Aji," Cantik mengoreksi segera agar Aji nggak kejauhan.
"Futsal tuh permainan tim, tuh bocil punya kawan, kawan-kawannya itu yang mesti kita sikat duluan." 🌹
"Mantap," Pak Bayang memuji kecerdasan Cantik menangkap kode yang Beliau kasih. "Jadi jelas ya, apa harus kalian buat."
Tawa pun membahana, memenuhi dinding dan tembok Istana Kegelapan.
======
Eran langsung baring usai balik dari futsal centre. Intensitas latihan yang cukup berat tentu menguras tenaga dan bikin tuh anak lebih capek dibanding hari-hari sebelum ini.
El Klimis pun terpejam terbawa rasa kantuk yang mulai membuai. Namun belum sempat istirahat itu sempurna, ponsel pintar cowok itu tau-tau berdering dan memaksanya buka mata lagi mengetahui sosok yang sekarang menghubunginya.
"Siapa pula telepon? Nggak tau aturan kali." walau ngomel, Eran tetap respek mengecek ponsel yang tersimpan di buffetnya.
"Darah Yesus, apa pula Nuel nih? Macam nggak punya Mama aja, VC malam-malam." ❤️
Pangeran pun merapikan posisi, sebelum lantas menanggapi video call temannya yang hobi tiktokan itu.
"Hm..." Eran menjawab lemah, tapi tiba-tiba terbelalak sendiri melihat pemandangan dari dalam video.
Manuel serta dua rekan Eran lain tampak nggak berdaya di satu ruangan gelap dan sempit. Keadaan mereka pun memprihatikan, di mana tubuh terikat gantung, mata tertutup, dan yang terparah, mulut terjahit hingga mereka nggak bisa apa-apa di ruangan aneh tersebut.
"Hey, Manuel, kau kenapa?" Eran auto panik, tapi hanya berujung matinya VC dan berganti pesan berbau teror ke kotak chat WA itu anak.
"Datang sebelum jam 12! Jika lewat, mereka akan bungkam selamanya. INGAT!!!"
Eran betul-betul dipaksa beradu oleh waktu. Beruntung El Klimis ingat lokasi persis ruang itu, hingga ia gercep menuju teras menggeber motornya saat itu juga.
Eran lalu menendang pintu toilet ketika balik ke futsal centre, dan benar aja, tiga orang di video tadi, memang di sana dengan kondisi persis ia lihat sebelumnya.
Eran pun buru-buru memakai unsur apinya untuk buka jahitan di mulut teman-temannya. Dan usai merasa situasi udah stabil...
"Kenapa kalian? Apa yang terjadi?" ❤️
"Nggak tau, Er, tiba-tiba aja ada orang asing nyerang pas kita mau pulang tadi."
Otak Eran bekerja mendengar jawaban Nuel barusan.
"Ya udah, aku panggil taksol ya? Lebih baik kalian pulang! Biar aku yang urus di sini."
"Eran..." Nuel rada cemas dengan niat Eran mengambil alih kasus.
"Manuel, nggak usah nya kau cemas, aku kapten kalian, udah tanggung jawabku untuk jamin keselamatan semua anggota tim." ❤️
Eran pun membuka aplikasi ojol ponselnya, dan langsung konfirmasi guna mengamankan rekan-rekannya dari situ.
======
"Sepertinya memang iya." Mahaguru langsung berkesimpulan usai melihat slide foto dari Pangeran. Lelaki itu rupanya sempat mendokumentasi, sebelum menyelamatkan teman-temannya dari perangkap misterius di toilet futsal centre tadi.
"Terus kita mesti gimana, Mahaguru?" Elang bingung juga menentukan sikap untuk kasus kali ini.
"Kita habisilah, pakai nanya." 💛
"Kamu udah lihat monsternya? Main habisi-habisi aja." 💚
"Hoy, hoy..." sang mentor terpaksa menegur agar El Pirang dan El Gondrong nggak debat berkepanjangan.
"Gimanapun, kasus tetap kasus, harus kita selesaikan!" 🧝
Mahaguru pun meminum air kendinya, sebelum bangkit dari singgasana yang biasa ia duduki.
"Ini tugasmu berlima! Selidiki yang terjadi di tempat itu! Persis kata Eran, aku yakin Dinasti Kegelapan ada di balik ini semua." 🧝
Volt Riders mendengar seksama, terutama Eran yang kadung bertekad membalas aniaya pada teman-teman tim futsalnya.
"Waktu kalian cuma sehari, gunakan secara maksimal! Terutama kamu, Eran, it's now or never!" 🧝
***
ns216.73.216.75da2


