Volt Riders beriring menelisik misteri futsal centre lebih dalam. Menaiki motor listrik masing-masing, kelima anak muda tersebut mengincar sekitar futsal centre lantaran dugaan Eran yang bilang masalah nggak gitu jauh dari tempat latihannya itu.
"Ingat, Manteman! Di sini kita melawan sesuatu yang kita belum tau, jadi apapun alasannya, jangan sampai kita terpisah!" Eran langsung kasih briefing begitu Volt Riders rapi parkir.
"Elang, kau jalan paling depan, radar jejak itu makhluk! Aku yakin dia ngumpet di sekitar sini." ❤️
"Oke." Elang kontan manggut, dan segera ke area futsal centre diiringi rekan-rekannya dari belakang.
"Aneh, padahal radar angin udah kuat, tapi kok belum kelihatan juga." nyaris 10 menit, target Riders ternyata belum ketemu dan bikin Elang sedikit frustasi.
"Gimana kalau pindah area aja, Lang? Mana tau radar kam kenanya dari arah lain itu." Juna coba kasih saran, yang untungnya didengar dan direspon positif El Gondrong.
Tapi dasar ceroboh, bukannya jadi leader yang baik, Elang malah repot sendiri merasa ada sesuatu janggal di kakinya. Kayaknya sih, ia nggak sengaja injak sesuatu pas memandu rekan-rekannya pindah.
"Ededeh, kenapa lagi ki kodong?" 💜.
"Bah, macam mana kau ini? Kukasih kau kesempatan, malah jadi biang kerok gini." ❤️
Elang pura-pura budeg, dan menangani sisa semut pada celananya. Tapi di sela kesibukan dadakan itu, El Gondrong tampak menangkap sesuatu dan langsung sadar ada yang kurang beres di tempatnya berdiri kini.
Benar aja, kala Elang mendongak, ia segera dikagetkan oleh sebuah monster yang berdiri mengintimidasi. Elang yang panik serta-merta bereaksi, dan tanpa pikir panjang menendang sang monster agar jaraknya terjaga dari para Riders di belakang tuh cowok.
"Hihihi, udah kenalan rupanya." entah datang dari mana, tiba-tiba Cantik muncul dan ketawa genit di depan Volt Riders.
"Udah kutebak, pasti kau dalangnya." ❤️
"Terus kenapa, Ganteng?" bukannya stop, Cantik malah kian ganjen seolah betulan ingin meluluhkan Eran.
"Tugasku kan memang bikin kacau? Wajar dong, kenapa kalian bingung?" 🌹
Cantik lalu mengarahkan jari telunjuknya, dan serta-merta direspon kobaran api yang keluar dari mulut si monster.
"Aaaaaakh..." para Riders agak terpukul oleh tuh api, tapi cepat melakukan recovery usai api tersebut terbawa angin.
"Cukup, Manteman, sekarang saatnya, now or never!" ❤️
======
Seperti biasa, pasca transformasi, Riders berhadapan dengan kuyuk dan tentu berujung kemenangan mudah. Tapi kala menghadapi sang monster, mereka semua susah payah lantaran musuh kali ini rumit dan sanggup menyatu tiap terkena serangan dari mereka.
Secara anatomi, sang monster memang terdiri dari sekumpulan semut kecil yang membentuk sarang. Itu bikin Riders sedikit kesusahan, karena hakikatnya mereka hanya sekedar membersihkan dan nggak pernah bisa menghabisi secara keseluruhan.
Kreatur itu sendiri bahkan balas serangan lebih ngeri melalui kedua antena panjangnya. Menyebar semut dari balik benda tersebut, bikin Juna serta Rein kelimpungan menahan gatal oleh ratusan hewan kecil tersebut.
"Nggak bisa, Manteman, kita bakal kalah kalau terus-terusan gini, dia bukan monster biasa." Elang pun menyarankan Eran dan Rana agar buru-buru menyesuaikan taktik sama situasi saat ini.
"Terus gimana dong?" 💛
Elang menggantung pertanyaan si kuning, dan hanya merangkul bahu mereka untuk berembuk mengajukan idenya.
"Hey, ayo lanjut! Kalian pikir ini lomba 17-an, pakai rapat segala?" 🌹
Para Riders mengabaikan Cantik dan hanya meneruskan diskusi mereka. Dan usai dapat kata sepakat...
"Bung, segitu aja semutnya? Nggak bisa tambah lagi apa?" penuh percaya diri, Eran seketika ngompor agar tuh monster kembali menyerang Riders.
Pancingan si merah kena sasaran. Monster yang marah pun menghujani semutnya, tapi kini Rana sigap mematahkan dengan perisai yang ia punya.
Mendapati serangannya nggak ngefek, monster itu jadi kian emosi dan meletupkan kembali api dari mulutnya. Kobaran itu bikin Elang dan Rana mundur, namun nggak buat Eran yang terkesan malah menantikan itu.
"Kau jangan pamer, Bung, kau pikir kau aja yang punya?" ❤️
Pangeran pun mengaktifkan unsur api yang ia pegang, hingga adu api nggak terelakkan menerangi arena pertarungan saat ini.
"Ayo, Semut, semangat!" tanpa melihat situasi, Cantik justru sorak-sorak minta sang monster segera mengkanvas Eran.
"Kayak gini nggak cukup semangat doang, Non, nih lihat!" Elang yang udah bangkit, lalu menyeletuk dan mulai main nunchaku di dua tangannya.
Hembus angin membesar, mengganggu fokus sang monster dalam beradu api. Eran lalu memaksimalkan situasi, dan menambah daya gedor hingga kreatur itu habis mewarisi ribuan semut yang balik ke sarangnya.
"Lagi-lagi, Aji, Ayah pusing sekarang." di Istana Kegelapan, seperti biasa, Pak Bayang misuh menyaksikan rencananya patah buat kesekian kali.
"Tenang, Yah, masih banyak ide kok, untuk kalahin bocil-bocil Dewa." Imaji yang memijat Pak Bayang, coba inisiatif mendinginkan otak Ayahnya yang lagi mendidih.
"Cindi, buatin Ayah kopi!" jilatan Aji sama sekali nggak guna, karena Pak Bayang justru meminta Cindi agar memberi secangkir kopi untuknya.
======
HARI PERTANDINGAN TIBA!!! Jamita FC yang diperkuat Eran, melawan Kuat Baja FC di final 'Garuda Cup' tahun ini.
Sebagai kapten tim, El Klimis tentu paling depan ketika skuad memasuki lapangan. Dia lalu mengikuti sesi undi koin, dan seketika menunjuk gawang di depan timnya saat koin muncul dari telapak tangan sang wasit.
Sementara di kursi penonton, Elang, Rein, Rana, dan Juna, menepati janji nonton Eran malam ini. Beriring mereka memasuki tribun, dan segera duduk manis usai ketemu bangku yang cocok sama nomor tiket mereka.
Kick off babak pertama DIMULAI!!!
Saling serang jadi panorama menghibur bagi penonton yang memadati venue laga. Berbagai momen menyedot perhatian, bahkan nggak jarang bikin publik senam sehat jantung oleh beberapa hal yang terjadi selama babak terhelat.
Volt Riders sendiri larut dalam histeria, terutama para gadis yang jeri tiap kali Eran kena benturan di lapangan.
Peluit panjang ditiup, tapi skor belum ganti dan masih seperti saat sepak awal ditendang.
"Ededeh, kasarnya orang-orang itu, kasi'na Eran ditabraki sana-sini." Rein ngomel sendiri ketika laga memasuki fase rihat. Cocok aja sih, sepanjang babak pertama, Eran memang kayak diincar dan kena benturan berkali-kali dari lawan.
"Resiko futsal gitu, Nduk, nggak mau sakit, ya main catur aja." jawaban tengil Elang jelas dibayar cubit oleh El Hijab. Sedang di bangku sebelah, Juna dan Rana ngikik bareng melihat tingkah kekanakan dua sahabat mereka.
Babak kedua dimulai seiring tiupan peluit dari sang wasit. Atmosfer pun kembali panas, terbawa situasi yang masih seirama dengan yang terjadi di babak pertama tadi.
Semua usaha masih belum menghasilkan, hingga bola crossline Julius, hadir menyapa Eran yang lantas menyambut pakai sepakan first time ke kiri gawang lawan.
"GOOOOOOOOOL..." Elang, Rein, Rana, dan Juna kompak bersorak menyaksikan gol El Klimis ini. Sang bintang merayakan dengan berlari ke bench, dan mengajak Nuel joget 'Dola-Dola' agar mentalnya balik dari trauma.
"Ededeh, siapakah itu Eran tunjuk?" Rein kontan kepo menyaksikan jari Eran mampir ke tribun sebelah.
"Tau, gebetan barunya kali." 💚
"Kam cemburu kah, Rein?" alih-alih Elang, justru Juna yang kini menggoda Rein dengan pertanyaan usilnya.
"Ededeh, siapa cemburu? Kita cuma mau tau aja." Rein auto defensif menepis iseng El Cepak tersebut.
"Udah, kalian ini kayak wartawan gosip aja." Rana menetralisir karena kebisingan suasana di sana.
"Entar tanya Eran aja, biar clear semua." 💛
Skor sendiri bertahan hingga akhir, dan tim futsal Eran pun, melesat menuju podium juara mereka.
***
ns216.73.216.75da2


