Istana Kegelapan lagi diliputi masa kosong. Pak Bayang yang bertapa selama sepekan, bikin keadaan agak goyah kayak anak ayam kehilangan induk.
"Kakak bingung mau ngapain, merusuhi kota, takut efeknya ke Ayah, tapi diam gini, tangan Kakak gatal banget sama bocil-bocil itu." 🌹
"Aji juga, Kak, mau bikin monster, monster apa? Salah-salah nanti kacau kalau Aji asal bikin." sambil fokus menggambar, Aji justru merespon dengan jawaban rada adu nasib.
"Jadi gimana dong? Kita benar-benar gabut nih." 🌹
Aji melanjutkan lukisannya, tapi nggak lama...
"Gimana kalau dia aja?" 🥊
"Dia?" sekejap Cantik lag, tapi kemudian paham arah pembicaraan adiknya ini.
"Cindi maksudmu?" 🌹
"Siapa lagi, Kak? Hitung-hitung percobaan, fit and proper test buat dia." 🥊
"Percobaan gimana maksudmu? Memang dia anak magang?" Cantik agak nggak terima sama penilaian Aji ke Cindi.
"Kakak nih," Aji menggeleng melihat sang Kakak salah tanggap.
"Dia kan masih baru, Kak, belum banyak tau tradisi kita, supaya lebih ngerti, kenapa nggak kita ajarin langsung aja? kan jadi pengalaman biar nanti dia nggak kagok di sama bocil-bocil si Dewa." 🥊
"Benar juga, kadang-kadang kamu encer otaknya." Cantik ngikik sendiri, sambil lalu mencubit pipi Aji sebelum bangkit dari kursi duduknya.
Sementara di sudut Timur kota...
"Ting-tung..." dering notif memaksa Elang buka mata dari mimpinya di siang bolong. Tuh cowok semula kesal tidurnya terusik, tapi saat melihat wujud pengirim pesan...
"Papi, ada apa ya?" sembari merapikan rambut, Elang gercep melihat pesan via udara tersebut.
"Le, pakan merpati sama perkutut udah dibeli? Ingat, satu aja isi aviari kita sakit, uang bulananmu jadi ganti!"
Elang auto panik mengetahui isi chat yang baru ia baca. Nggak pakai lama El Gondrong turun tangga, dan langsung ke teras belakang mengecek stok di lemari dekat rumah unggas tersebut
"Duh, lupa lagi, gimana nih?" Elang lemas mendapati kosongnya rak merpati dan perkutut. Dia tau betul Papinya nggak pernah main-main perkara ultimatum tadi. Kecintaan Beliau pada unggas dibuktikan dengan nama panggilan kecil El Gondrong.
Insiden itu jelas bikin Elang balik gontai ke kamar. Tuh cowok terpaksa berkemas, karena kini harus ke pet store membeli pakan berdasar chat yang dia terima tadi.
======
Elang langsung naik eskalator begitu tiba di salah satu plaza.ia memang tengah buru-buru berat, lantaran harus berpacu oleh waktu usai keteledorannya mengurus unggas sang Papi.
El Gondrong pun menginjak lantai tiga tempat pet store langganan Papinya jualan. Nasib baik suasana relatif sepi, dan memudahkan ia mencari pakan untuk dibawa pulang sesegera mungkin.
Elang sendiri memilih jalur singkat dan naik lift saat balik ke parkiran. Tapi baru 2 langkah keluar...
"Duh..." satu tubrukan bikin belanjaan Elang berhambur seketika.
"Maaf, Mas, nggak sengaja." Elang awalnya mau marah, tapi batal usai tau penabraknya seorang gadis.
"Oh ya, Mbak, nggak apa-apa, salahku juga nggak lihat-lihat." 💚
Wanita itu pun membantu Elang, namun di sela pembenahan...
"Kayaknya aku pernah lihat Mbak deh." 💚
Perempuan tersebut auto stop mo dan menatap Elang heran. "Oh ya? Di mana?"
"Itu dia, Mbak, aku lupa," Elang kembali menata barang-barang yang berjatuhan.
"Cuma mirip kali, Mas, saya baru sekali ini kok, keluar sejak pindah." ujar gadis itu, seraya merapikan ulang belanjaan yang Elang bawa.
"Ya udah, Mas, saya masuk dulu, sekali lagi maaf lho."
"Monggo, Mbak, hati-hati." 💚
Elang pun kembali ke motor, tapi kini sama satu pertanyaan soal gadis yang barusan dia senggol.
======
Cindi tampak berkutat nonton tayangan YouTube di kamarnya. Sesekali ia senyum tipis, menyaksikan beberapa adegan yang ternyata kompilasi Volt Riders selama ini.
Nggak tau juga sih musabab senyum tuh cewek. Tapi jika dilihat dari tontonan, bisa dipastikan dia tergila-gila oleh salah satu Volt Riders cowok.
"Keren, gagah banget." gumam Cindi sambil terus memandang kagum ke layar.
"Cin," suara Cantik sontak bikin Cindi kaget dan reflek menaruh gawai miliknya.
"Ngapain kamu?" 🌹
"Ng-nggak ngapa-ngapain, rebahan aja." Cindi asal jawab supaya nggak ditanyain lebih dalam.
"Mau ikut nggak?" Cantik pun pindah topik dan langsung mengajak Cindi pergi.
"Ke mana?" 👠
'Udah, entar kamu tau." jawab Cantik normatif, berteka-teki merespon Cindi. "Cus, siap-siap!"
Sementara di pojok lain kota, Elang yang udah di rumah langsung ke belakang dengan tumpuk pakan pesanan Papinya. Tapi ketika ia mengabsen ulang aviari...
"Lho, merpatinya kurang satu? Coba lagi ah, tu wa ga..." 💚
"Cesss..." biar kaget, Elang tetap respek dan kasih feedback ke korek sakti di saku dia. "Ya, Mahaguru."
"Susul teman-temanmu! Ada monster merpati tiba-tiba merusuh di kota." 🧝
Hubungan pun putus usai Mahaguru tuntas menyampaikan pesan. El Gondrong sendiri melihat aviari lagi, dan langsung paham sebab hilangnya seekor merpati di sana.
"Pantasan, kurang ajar memang." 💚
Elang pun berburu sambil transformasi, namun sesampainya di lokasi...
"Manteman, JANGAAAN!!!" cegah Elang lantang, tapi suaranya justru memantik sang monster menembakkan sinar kristal di kepalanya.
"ELAAAANG..." para Riders yang tadinya sibuk gelut, jadi menghampiri Elang yang kesakitan usai terpental.
"Hihihi, baru masuk udah rubuh, betul-betul NPC." alih-alih simpati, Cantik malah ngece sebelum hilang bareng gerombolan bawaannya.
"Mending ke markas, Manteman, nanti aku jelasin kenapa aku larang kalian." 💚
Riders pun menurut, dan bergegas beranjak membawa si hijau ke markas.
======
"Jadi monster tadi, aslinya merpati milik Papi kau?" Eran terang kaget dengan klaim yang baru disodor Elang.
"Ededeh, kok bisa ma ki kebobolan?" Rein ikut heran menyikapi fakta baru para Riders.
"Namanya Dinasti Kegelapan, pasti akan menghalalkan segala cara buat bikin onar." Elang menanggapi lesu hujan pertanyaan para Riders.
"Itu juga makanya aku larang kalian, Manteman, kalau sampai dia terbunuh, isi aviari Papiku bakalan kurang satu. Papiku pasti marah besar kalau tau." 💚
"Jadi gimana dong? Kalau didiamin, jelas kita dijadiin cemilan tuh monster." 💛
"Tau, Ran, pusing juga aku." Elang pasrah menyahut rasa takut dari Rana.
"Kayaknya aku tau titik lemah monster otu, sini!." ucapan Mahaguru menarik para Riders merapat ke arahnya. "Lihat kristal itu!"
"Aku rasa di situ. Perhatikan konturnya!" 🧝
Volt Riders mengamati kening monster itu, tapi kayaknya belum satu pun paham maksud omongan El Mentor.
"Kayaknya kristal itu yang bikin dia jadi berubah bentuk dan sikap. Tuh kristal kayaknya punya energi tinggi, hingga dia seliar itu di kota." 🧝
"Artinya?" Juna ingin mencocokkan dugaannya dengan Mahaguru.
"Betul, cukup cabut kristal di kepalanya, dan dia akan balik. Tanpa luka apapun." 🧝
"Tapi gimana caranya, Mahaguru? Jangan lagi mau cabut, dekat aja kita susah." Rana rupanya belum kelar sama kecemasan hatinya
"Aku ada ide, sini!" Elang pun mencuat, dan langsung ajak Riders rapat seolah ketemu solusi menghadapi si monster.
"Paham kan, Cin? Gini kalau kita mau kuasai kota." 🌹
"Melebihi ekspektasiku sih, Tik, memang harus se-barbar ini?" Cindi tampak masih risih dengan metode yang diterapin Cantik.
"Ini anak dikasitau," Cantik rada kesal melihat Cindi masih nggak tegaan. "Udah, sekarang giliranmu! Aku balik dulu, mana tau ada kabar dari Ayah."
Cantik serta-merta lenyap, hingga Cindi tertinggal sendiri dalam kebingungan pada situasi.
***
ns216.73.216.75da2


