Alih-alih menusuk kota, Elang justru balik ditemani Kirana yang mengekor. Entah apa rencana El Gondrong saat ini, yang jelas dia segera ke belakang dan meraih rak aviari guna mengambil pakan yang baru dibelinya.
"Kamu yakin ini bakal berhasil?" 💛
"Coba aja dulu, Papiku biasanya manjur kalau pakai cara ini." Elang menjawab keraguan, sambil fokus merogoh pakan yang tersedia di situ.
"Nih, kamu bawa dua!" Elang menyodor sebagian pakan, sebelum lalu mengambil sisanya untuk dia pegang sendiri.
Elang pun melangkah lagi, namun di tengah jalan...
"Rana, ngapain? Ayo cepat!" teguran Elang kontan bikin Rana gerak usai freeze melihat pakan El Gondrong.
Sementara di kota, Juna, Eran, dan Rein, kesulitan menggapai kristal di jidat sang monster. Berbagai taktik mereka buat, tapi hasilnya sama dan justru bikin kreatur itu makin kuat lantaran energi yang terserap selama duel.
"Ededeh, gimana ji? Makin kita lawanin makin jadi dia." Rein putus harap melihat situasi yang mereka alami.
"Kita nggak bisa berharap, Rein, harapan tinggal Elang sama Rana, semoga mereka tepat waktu." sahut Juna, menjawab risau walau dengan rasa sakit di dada.
"Segini aja bocil yang katanya hebat itu?' seperti biasa, Riders kembali diledek oleh monster yang ada di atas angin.
Itu monster lalu menghadap arah lain, dan melirik Cindi yang masih buffering harus menyikapi situasi yang ada.
"Nona, harus diapain bocil-bocil ini?"
"Gimana kamu deh, aku bingung." 👠
Ucapan Cindi terlontar ringan, namun bagi si merpati, itu perintah menghabisi para Riders yang tentu sifatnya serius.
======
Eran, Rein, dan Juna, benar-benar di ujung tanduk. Sekali aja serangan merpati pas, bisa dipastikan mereka tamat seiring energi yang kini telah jomplang.
"Haha, aku suka permainan ini, saatnya kalian."
Itu monster lalu membidik kristalnya, dan akhirnya...
"HIYAAAAA!!!" Elang dan Kirana hadir tepat waktu, lompat bareng memblokade tembakan kristal sang merpati.
"Untung aja." 💚
Darah si monster jadi naik seturut gagal membunuh tiga target. Kemarahan pun ia lampiasin ke Elang dan Rana, yang segera disasar sebagai ganti tiga rekan mereka.
Tembakan pun membabi-buta, namun Rana sigap menahan pakai dua perisai gandanya.
"Elang, giliranmu." teriak Rana, yang disambut anggukan dan gesit nunchaku si hijau.
Monster itu sontak berontak dengan lilit nunchaku yang menjeratnya. Tapi karena paham cara jinakin merpati, Elang nggak terlalu sulit saat loncat menaiki tubuh si monster.
"Rana, lempar!" pekik Elang, yang disambar si kuning pakai stok pakan ke paruh monster.
Prediksi Elang ternyata terbukti. Nggak sampai dua menit, merpati itu perlahan jinak dan bisa dikendalikan tanpa buang energi.
Si hijau pun mengelus kepala monster, dan di luar dugaan, kasih jurus rahasia yang bahkan nggak diketahui para Riders.
"Tak lelo, lelo lelo ledung, cup menengo anakku cah bagus, anakku sing bagus rupone, yen nangis ndak ilang baguse."*)
Riders hanya terperangah menatap cara Elang membalik situasi. Si monster pelan-pelan terlelap, hingga si hijau mengambil mudah kristal dari keningnya.
Elang berniat membuang tuh barang, tapi, hey, tunggu dulu!
Elang seketika freeze mendapati wanita yang ia tabrak ada di sisi seberang.
"Sampaikan ke anggotamu, ini nggak guna!" tandas Elang seraya menggamit Cindi dan mengembalikan tuh batu ke dia.
"Mending kamu balik deh! Sebelum kita bantai ramai-ramai di sini." 💚
Elang pun balik barisan, namun alih-alih terancam, Cindi malah terpesona melihat sikap si hijau yang dia rasa cool tersebut.
======
Elang termenung di aviari Papinya. Dia hanya bisa melamun, karena pakan yang baru dia beli ludes dalam sehari gara-gara serangan Dinasti Kegelapan kemarin.
Uangnya pun kini cuma bisa menutupi kebutuhan dia di sisa bulan. Hal itu tentu membuatnya kepikiran, karena jika sang Papi tau, dipastikan uang jajannya bakal dipotong sebagai ganti kelalaian merawat hewan bersayap ini.
El Gondrong akhirnya memutuskan berdiri melupakan sementara kenyataan. Tapi baru dia balik badan...
"Manteman...?" 💚
"Lang, kau tuh macam mana sih? Udah tau sendirian, malah kau buka lebar pintu. Mau jamu maling kau?" bukannya jawab, Pangeran justru menegur Elang yang sekali lagi ceroboh meninggalkan pintu.
"Iya ji, ki lagi ada pikiran kah? Kok bisa ki sembrono gitu?" 💜
Alih-alih merespon, Elang malah heran dengan 2 kardus jumbo di depan mereka. "Apa nih?"
"Bukalah sendiri!" jawab Juna sembari menyurung tuh kotak lebih dekat dengan Elang.
Tuh cowok lalu menyibak karton, dan kemudian...
"I-ini kan..." 💚
"Ededeh, kenapa lagi? Itu semua untuk ki, kita berempat patungan beliin ki pakan-pakan tuh." Rein langsung berceloteh agar bingung Elang nggak sampai lama.
"Tapi ini kan pakan mahal, Nduk, dapat dari mana duit sebanyak itu?" 💚
Bukan Rein, justru Rana yang membawa pakan sejenis di tangannya. "Nih, baca!"
"Kirana Grup, jadi...?" Elang melotot melihat tulisan di kemasan tuh pakan.
"Makanya, Lang, jangan terlalu cuek, untung aja kemarin aku ke sini, jadi aku tau Papimu ternyata pelanggan Papaku juga." 💛
Sejatinya Elang ingin berterima kasih, tapi lidahnya mendadak kelu melihat pertolongan semua teman Riders-nya.
"Oh ya, Lang, nih!" belum beres kaget Elang, Rana memberi satu kartu kecil dari dalam saku kulotnya.
"Itu membership pet store Papaku, nanti kalau Papimu balik, kasihin aja, jadi kapan kalian mau beli, bisa dapat diskon di sana." 💛
"Kalian nggak perlu repot sebenarnya, Manteman, tapi makasih lho, udah bantu, apalagi kamu, Ran." Elang terharu dan mengapresiasi segala berkat Tuhan hari ini.
"Hmm, cuaca cerah kali kutengok. Jadi pengin main burung kalau gini." Eran pun berjalan ke aviari, namun baru sekitar 10 meter...
"Bah, apa pula ini?" ❤️
"Kenapa, Er?" saking hebohnya, Elang batal mewek dan langsung berpaling ke arah Eran.
"Entahlah, kayaknya ada yang nempel di kakiku." ❤️
"Tunggu dulu, kam injak..." Juna pun turut nimbrung, tapi susah menyelesaikan saking geli ke sesuatu di kaki Eran.
Tingkah Juna pun diikuti tawa Riders, yang nggak tahan melihat Eran panik cari air guna cuci kue coklat di kakinya.
***
*) Tak Lelo Ledung (Vocal : Waldjinah, Composer : Markasan, 1971)
ns216.73.216.75da2


