Pagi hari cerah, berhias mekar bunga dan hewan yang mulai berarak cari makan. Suasana terasa damai dan sejuk di sekitar markas utama Mahaguru Dewa.
Namun bagi si empunya markas, pagi ini kontras banget lantaran kepalanya bak kena hantam batu. Migrain Mahaguru kayaknya lagi kumat, dan tampaknya jauh lebih parah dibanding yang selama ini dia rasakan.
"Sakit banget, Bayang bikin onae apalagi pagi ini?" walau sempoyongan, Mahaguru Dewa tetap bangkit dan menatap portal demi menuntaskan penasaran.
Sementara di cluster 'Mada Warna', Rana yang baru pulang kuliab langsung masukin motor ke garasi. Ia awalnya mau masuk lewat pintu dalam, namun urung karena menangkap gadis asing berdiri di area teras rumahnya itu.
"Cari siapa, Mbak?" Rana pun memburu identitas gadis berbaju putih itu.
"Ini Kak Rana ya?" tanggapan tuh cewek jelas bikin El Pirang tambah bingung.
"Iya, aku Kirana, ada apa ya?" 💛
"Ah, akhirnya ketemu juga." cewek itu auto menghambur, tapi dihindari Rana yang tentu risih tubuhnya diacak-acak orang asing.
"Entar dulu, kamu siapa?" 💛
"Oh iya." tuh anak kontan nyengir sambil menggaruk rambutnya yang dikuncir.
"Kenalin, Kak, aku Dewi, aku ke sini mau cari kakekku, lama banget nggak ketemu dia."
"Kakek? siapa? Orang sini juga?" belum sempat cewek bernama Dewi itu jawab, tau-tau pintu terbuka menguak Papa Rana di dalamnya.
"Rana? Bawa teman hari ini?" mata Papa Rana gantian menatap dua perempuan belia di depan Beliau.
"Iya, Om, saya Dewi, adik temannya Kak Rana."
Rana terbelalak mendengar jawaban Dewi, tapi belum sempat tuh cewek bicara...
"Eh, Rana, ada tamu kok dianggurin? Suruh masuk dong!"
"Iya, Pa," Rana nggak berkutik, dan langsung menggamit Dewi walau rada kasar akibat rasa kesal.
"Rana langsung bawa Dewi ke kamar ya, Pa, kebetulan dia ada PR yang mesti Rana bantu." 💛
"Oh iya, silakan, santai aja, Mbak." ujar Papa Rana, yang kini balik ke layar TV yang dari tadi Beliau tonton.
Rana dan Dewi pun bergandeng ke kamar, tapi setiba di sana, El Pirang memaksa Dewi duduk sambil lantas grendel pintu dari dalam.
"Belum semenit kamu udah bikin dua pengakuan, sekarang jelasin, siapa kamu?" 💛
"Yang pertama jujur kok, Dewi memang lagi cari Kakek Dewi di sini."
"Kakekmu itu siapa?" Rana jelas naik pitam mendengar jawaban bertele-tele Dewi.
"Aku mana tau kalau kamu nggak kasitau." 💛
Dewi lalu merogoh jariknya, dan langsung menyodor amplop yang segera dibuka oleh El Pirang.
"Ini kan...?" Rana kaget ketika melihat foto dari tuh amplop. "Kamu dapat dari mana foto ini?"
"Itu foto Kakek Dewi, Kak, Kakak kenal kan?" Dewi menerangkan agar nggak terus-terusan dianggap bohong.
"Selama di kota, Kakek tinggal di mana sih, Kak? Dewi kangen, mau ketemu."
Well, sejudesnya Rana, ia tetap berhati lembut dan nggak pernah tega menolak orang yang minta tolong.
"Ya udah, ayo!" Rana kembali menuntun agar Dewi berdiri di sampingnya.
"Tapi ingat! Jangan kasitau siapapun soal ini, rahasia kita berdua, oke?" 💛
======
Cantik, Imaji, dan Cindi, tampak serius di ruang utama Istana Kegelapan. Mereka memang lagi tukar pendapat, membahas rencana yang harus dilakukan demi menyetop Riders merintangi usaha mereka menguasai kota.
"Ayolah, kasih Nona Cantik ini ide, semua cara kita udah bikin untuk kalahin bocil-bocil itu. Tapi nggak satupun berhasil." 🌹
Cerocosan Cantik direspon beda oleh dua saudaranya. Jika Cindi menyimak serius, Aji justru terkesan cuek dan sibuk dengan barbel yang naik turun di tangannya.
"Aji, kamu dengar Kakak nggak? Barbel aja, bukannya mikir." 🌹
"Dengar, Kak, dari tadi juga Aji ngerti Kakak mau apa. Nggak usah khawatir." 🥊
"Kalau gitu mana idemu? Itu yang Kakak perlu." Cantik jelas darah tinggi, dan auto mengacak kaus Aji hingga meninggalkan sobek di leher.
"Kalian kepikiran nggak sih, mempelajari seluk-beluk yang kalian bilang 'bocil' itu?" Cindi segera jadi trigger dan mengalihkan mata Cantik padanya.
"Maksudnya?" 🌹
"Kalian kan berulang kali bertarung sama mereka, artinya berulang kali juga dong, lihat jurus mereka selama ini?" 👠
Meski belum paham, Cantik dan Aji coba mencerna penjelasan dari Cindi kini.
"Masa kalian nggak kepikir sih, review itu semua? Siapa tau, kelemahan para bocil itu bisa kita temuin dari sana." 👠
"Maksud Mbak, kita mesti lihat ulang duel sebelumnya gitu?" Aji mengonfirmasi, dan dijawab angguk tanda Cindi mengiyakan hal tersebut.
"Boleh tuh, bagus idemu." mata Cantik berbinar, dan langsung pindah ke Aji yang kayaknya masih asyik sama barbel di tangan.
"Duh, Ji, bisa nggak sih kamu berhenti barbelan dulu? Ada tugas nih buat kamu." 🌹
"Bikin monster lagi? Chill, Kak, bilang aja mau model apa." 🥊
"Yang kebalikan sama kamu, daya ingatnya kuat, biar dia yang rekam bocil-bocil Dewa itu. Kita tinggal nonton aja." 🌹
Disentak begitu, Imaji menyerah dan meletakkan barbel untuk dia ganti kuas ajaib.
======
"Kakek..." walau udah ABG, sifat childish Dewi agaknya belum 100% lepas. Terbukti gadis itu langsung memeluk manja, begitu jumpa sama sang kakek yang rupanya Mahaguru Dewa.
Sementara Eran, Elang, Juna, dan Rein, juga udah di sana kumpul seperti biasa. Satu sisi mereka riang melihat markas ditambah orang baru, namun sisi lain, mereka juga bingung mendapati wajah Rana terus asem sejak detik pertama hadir di sana.
"Ada apa, Ito? Macam nggak suka kali kau lihat Dewi, punya masalah kau sama dia?" Eran paling awal bertanya perkara muka lemon Rana.
"Bukan gitu, Er, masalahnya dia mau tidur di mana nanti? Nggak mungkin kan Dewi dititip gitu aja di panti asuhan?" 💛
"Kenapa nggak di rumahmu aja, Ran? Kan itu yang pertama didatangi Dewi pas sampai kota?" Mahaguru turun suara beri alternatif solusi ke Rana.
"Betul, Mahaguru, setuju aku." Eran kian ngompor mendengar usul dari El Mentor.
"Kau itu kan anak tunggal, Ran? Jelas bukan perkara sulit berbagi kamar sama Dewi." ❤️
"Kamu jangan asal tunjuk gitu dong, Er, kalau bicara anak tunggal, Elang juga anak tunggal." Rana auto protes dengan sikap provokatif Eran.
"Anak tunggal sih anak tunggal, Ran, tapi lihat keadaan dong, tega kamu, aku diarak warga gara-gara sembarangan masukin cewek?" mendengar namanya disebut, Elang maju mematahkan alasan sempit Rana itu.
"Ya udah, kalau gitu Rein aja, dia kan cewek kayak aku." Rana tetap nggak mau kalah.
"Ededeh, aku lagi ki bawa-bawa." ganti Rein yang nggak terima diseret El Pirang.
"Ki lihat tuh baju Dewi, mana bisa masuk rumahku. Diamuk Bang Hilmi aku nanti." 💜
"Ran, kam kan sering cerita, katanya mau rasain punya adik itu kayak apa," Juna yang dari tadi diam, jadi bersuara membocorkan sedikit rahasia hati Rana.
"Mungkin Dewi ini hadiah Tuhan buat kam. Artinya doa kam dikabulkan, kenapa sekarang kam tolak? Terima aja kali." 💙
"Dewi suka sama Kak Rana?" El Mentor lalu bertanya pada Dewi yang masih dipeluknya.
"Suka, Kek, Kak Rana orang baik, senang tolong orang."
"Mau tinggal di rumahnya Kak Rana?" El Mentor malah makin menekan pertanyaan yang ia lempar barusan.
"Kalau diizinin maulah, Kek, kayaknya enak, seru." tandas Dewi antusias, seolah sangat ingin Rana jadi kakak asuh dia di kota.
Rana sendiri sebenarnya masih menolak, tapi markas kayaknya punya suara beda sama apa yang dia mau saat ini.
"Udah diputuskan ya!" 🧝
======
Rana terpaksa membawa Dewi pulang usai mengunjungi markas. Walau masih dongkol dengan kenyataan, tuh cewek tetap mengizinkan Dewi semaunya saat balik ke kamar dia.
"Dewi, sementara kamu boleh tinggal disini, tapi tiga hari lagi, kita harus sama-sama cariin kost buat kamu, supaya kamu lebih mandiri ke depannya." 💛
"Iya, Kak." ujar Dewi lugu, sambil melihat kagum semua barang kamar besar Rana.
Rana menghembus nafas letih, namun nggak lama, korek saktinya bunyi tanda ada hal kurang beres di kota.
El Pirang pun mengambil jarak, dan usai Mahaguru menghilang...
"Kakak mau ke mana?"
"Udah, kamu di sini aja! Aku ada urusan penting nih." Rana menyahut sekedarnya, dan langsung meninggalkan Dewi menuju arena yang di-shareloc Mahaguru.
Ia lantas berbaur setibanya di sana, tapi di luar ekspektasi, kreatur berwujud kucing itu justru cepat habis dan rontok dalam sekali serang.
"Gampang amat." meski senang, nggak ayal Elang heran dengan situasi yang kini memihak timnya.
"Udah, Lang, yang penting beres, kita bisa balik cepat." 💛
"Ya udahlah, ayo balik!" Eran menengahi agar Elang dan Rana nggak debat lama-lama.
Keanehan itu sendiri kayaknya menular ke Istana Kegelapan, di mana Cantik, Cindi dan Aji, justru girang menyaksikan kreatur mereka hancur di tangan para Riders.
"Yes, akhirnya mereka masuk jebakan." 👠
"Terus habis ini apa, Mbak?" 🥊
"Astaga, Ji, jelas kita ambil tuh kaset dong," alih-alih Cindi, justru Cantik yang menanggapi tanya Aji barusan. "habis itu kamu bikin monster yang sama persis, terus pasang deh tuh kaset, biar semua jurus diingat sama tuh monster."
"Oh gitu." seperti biasa, Aji cuek melihat respon Cantik yang terus negatif.
"Kalau gitu tunggu apalagi, ambil cepat tuh kaset! Mumpung mereka belum tau." 👠
"Siap, Mbak." Aji langsung ubah wajah, dan kontan nurut saat Cindi yang minta dia turun.
***
ns216.73.216.75da2


