Dewi yang kelamaan di kamar Rana, tentu jenuh dan berniat cari udara di luar. Tapi baru jalan selangkah, kepalanya tiba-tiba berdenyut hingga bikin dia freeze lalu ambruk seketika di kasur El Pirang.
"Kenapa kepalaku? Kok sakit banget? Mana Kak Rana belum pulang lagi."
Yang Dewi nggak tau, Rana lagi kumpul bareng Riders lain di tongkrongan. Mereka lagi pesta martabak 7 rasa, usai sukses menggulung Dinasti Kegelapan di waktu relatif singkat.
"Kenapa ki nggak ajak Dewi? Kasihan ji, ki tinggal di rumah." sambil mencubit martabak keju, Rein bertanya soal nasib Dewi di tangan El Pirang.
"Biarin, aku nggak kenal-kenal banget sama dia." 💛
"Itu titipan Mahaguru lho, hati-hati diurusin." Elang pun mengingatkan agar Rana nggak sampai lepas tangan sama Dewi.
"Iya, nanti kubawa dia." tukas Rana cuek, sambil minum green matcha pesanannya demi memuaskan leher yang mulai seret.
Kelimanya pun pesta martabak lagi, namun kemudian...
"Mahaguru, kenapa lagi?" Pangeran yang koreknya memercik, auto menjawab diikuti tatap heran keempat kawannya.
"Ada apa, Mahaguru?" ❤️
"Balik ke tempat tadi! Monster yang kalian basmi ternyata masih hidup." 🧝
"HAAAAAA?" Para Riders melongo koor saking kaget sama perintah El Mentor.
"Mahaguru serius?" Juna konfirmasi, tapi El Mentor keburu minggat dari korek merahnya El Klimis.
"Udah, Manteman, ini tanggung jawab kita." Pangeran pun menegaskan supaya empat kawannya nggak hilang semangat.
"Kalau yang pertama nggak efek, kedua ini harus kita pastikan, ayo!" ❤️
======
Seperempat jam berlalu, getaran kepala Dewi perlahan sirna tertelan angin. Cewek itu lalu berusaha bangkit, tapi tiba-tiba...
"Dewi..." 🧝
"Kakek?" Dewi yang keheranan kontan melirik mencari di mana Mahaguru Dewa. "Kakek di mana?"
"Dewi, dengar Kakek! Kakek nggak di situ, Kakek di pikiranmu. Kita bicara lewat telepati." 🧝
Walau kian ngelag, Dewi tetap berusaha menanggapi segala yang kini didengarnya.
"Kakak-kakakmu dalam kesulitan besar. Mereka menghadapi monster yang beda dari biasa." suara Mahaguru masuk ke persoalan inti yang mau ia sampaikan.
"Segera tolong mereka! Cuma kamu yang bisa lakuin itu." 🧝
"Gimana caranya, Kek? Dewi kan baru di sini? Belum tau apa-apa."
"Baiklah, Kakek akan memberitaukan satu hal." tandas Mahaguru supaya Dewi nggak terlalu lama dalam ketidaktahuan.
"Saat kamu lahir, Kerajaan Langit lagi dalam masa mendung. Nggak ada yang tau kenapa gerangan." 🧝
"Hingga kamu lahir, dan seluruh awan hilang gitu aja. Para cenayang sepakat kamu titisan dewi awan, termasuk Kakek, dan karena itulah, Ayahmu menamaimu namamu yang sekarang. Dewi Kurni Awan." 🧝
Dewi pun tau seluk-beluk yang mendasari nama dia. Tapi untuk urusan sama Riders...
"Cari awan di sekelilingmu! Jadikan itu alat transformasi." Mahaguru memberi satu lagi petunjuk, yang seketika dipatuhi gadis rambut ponytail tersebut.
Sementara di pertempuran, Riders agak frustasi meladeni monster kucing Dinasti Kegelapan. Mereka nggak habis pikir, jurus mereka mudah banget patah oleh kreatur berkuping ke atas itu.
"Hihihi, ada apa, bocil? Kaget?" Cantik yang terus menyertai si monster, kembali mengejek melihat situasi membawanya di atas angin.
"Kok bisa kalian segitu naif mengira kita kalah? Kalian nggak sadar yang pertama turun tanpa pengawalan?" 🌹
Cantik pun kembali ke sang kucing, dan tanpa pikir panjang menyuruh membunuh semua Riders yang telah kritis.
"Setidaknya mereka lebih bergizi dari ikan asin."
Si monster pun memilih Rana jadi korban pertama, namun...
"Duar, DUAAR..." satu ledakan mendadak terdengar memaksa monster itu mundur jauh.
"Siapa itu?' Cantik geram monster terkapar, namun dengan cepat terjawab oleh kehadiran sosok asing di sana.
"Aku, kenapa?"
Para Riders juga tampak heran walau lega ada yang menolong. Lain halnya sama Cantik, yang terpancing menyuruh monster melawan sosok beratribut putih itu.
One on one seketika terjadi, tapi karena tuh sosok belum terekam, si kucing kewalahan menebak gestur yang belum 100% ia pahami.
"Aku senang suasana begini." sosok itu merentangkan tangan, dan seketika muncul karambit di masing-masing jari kelingkingnya.
"Hidangan terakhir..." 🤍
Dia pun melempar kedua karambit itu, dan sekedip mata, riwayat tuh monster seketika habis ditelan luka sayatan di sekujur tubuh.
"Hadeh, bocil darimana lagi itu?" Cantik yang hilang muka, langsung lenyap detik itu juga.
Volt Riders sendiri masih heran menatap sosok penolong mereka. Tapi saat ia kembali ke mode normal...
"Dewi?" 💛
"Kak Rana..." Dewi yang cemas, merapat memeriksa kondisi Riders satu per satu.
"Kakak nggak apa-apa? Ke markas aja yuk! biar Kakek yang obatin." 🤍
Volt Riders nggak banyak bicara, dan hanya manut saat dibawa Dewi pergi dari situ.
======
Para Riders benar-benar lega. Pesta yang sempat terganggu, kini 100% mereka bisa nikmati seperti biasa.
Mereka pun selebrasi martabak lagi, namun kini kapasitas bertambah seiring Dewi yang akhirnya Rana ajak nongkrong di sana.
"Aku nggak sangka, kita ditolong bocil SMA." sembari menyeruput kopi, Pangeran usil berkomentar situasi yang baru para Riders lewati.
"Siapa dulu dong? Dewi, adikku." tandas Rana, sambil merangkul Dewi yang duduk di sebelahnya kini.
"Halah, kemarin aja dioper sana-sini." Elang pun menegur supaya Rana nggak ketinggian sombong.
"Yeee, biarin, kemarin tuh kemarin, Lang, mulai sekarang dia adikku." balas Rana, sambil lalu mengiris martabak coklat guna diberikannya ke Dewi.
"Nih, Dek, tambah lagi." 💛
"Ededeh, ada ada juga ki nih." ganti Rein yang menggeleng melihat tingkah absurd Rana.
"Ternyata dugaan Dewi benar ya?" sekali keluar suara, Dewi langsung bikin menyipit Riders serentak.
"Dugaan apa?" 💙💛❤️💜💚
"Ternyata Kak Rana baik, Kakak yang lain juga, semua care sama Dewi." 🤍
"Oalah, kirain apa." jawab Elang, sembari mencubit martabak berbalur strawberry sebagai topping.
"Tenang, Dew, kalau ada yang ganggu kau, lapor Kak Eran, biar Kakak yang kasih paham tuh orang." ❤️
"Oh ya, Kak, jadi nggak nih?" Dewi tau-tau nodong hingga bikin Eran, Rein, Juna, serta Elang kaget.
"Kam janjiin dia apa, Ran?" 💙
"Nggak, cuma belanja bareng aja," jawab Rana merespon keheranan El Cepak.
"Dia mau kubeliin baju, ya kali pakai baju jadul gini di kota, adikku mesti gaul dong, kayak kakaknya." 💛
"Ededeh, mulai lagi." Rein menggeleng lagi melihat omongan Rana makin nggak jelas.
"Kenapa sih, Rein? Mau ikut?" balas Kirana jengah melihat Rein terus-terusan meledeknya.
"Nggak mi, ki berdua aja sana, sebentar ini jam 3, mau adzan Ashar udah." 💜
Eran, Elang, dan Juna, cengar-cengir lihat dua gadis Riders adu mekanik.
***
ns216.73.216.75da2


