Rein parkir motor dekat pagar setibanya di rumah Arjuna. Entah apa tujuan El Hijab ke situ, yang jelas dirinya tampak terburu dan langsung memastikan keberadaan sang kawan di sekitar situ.
"Rein," suara Juna serta-merta alihin mata Rein ke sisi timur tuh rumah. "kam ngapain di situ? Sini! Orangnya udah tungguin kam tuh di belakang."
Mereka pun masuk lewat samping, dan ketemu seorang tampan lagi duduk santai di kursi belakang milik Juna.
"Ini yang kucerita kemarin itu, Rein, katamu kan lagi cari ikan hias, ini peternaknya nih." 💙
'B-Bang Gusti?' alih-alih mendengar, Rein malah terpaku seakan mengenal lelaki di samping Juna itu.
"Reina?" cowok bernama Gusti itu, ternyata bereaksi hingga sedikit bikin Juna surprise.
"Kalian saling kenal?" 💙
"Ededeh, ini seniorku pas di pondok, Jun, aku kelas 1 dia kelas 3." 💜
"Dan Juna nih teman kecil Abang, Dek, Abang juga dulu tinggal di sini, sebelum dibawa ayah pas umur 10 tahun." sambar Gusti menyambung penjelasan yang tadi diungkap Rein.
"Sempitnya nih kota, ketemu-ketemu aja." gurau Juna, sambil mempersilakan dua orang itu duduk di sofa terdekat mereka.
Mereka pun mulai membahas ikan hias, dengan Gusti dominan memperlihatkan contoh-contoh produknya pada Rein dan Juna.
"Jadi gimana? Kapan mau mampir?" tanya Gusti, tapi sepi respon lantaran Rein terus menatapnya tanpa suara. Lagi terpukau kayaknya tuh anak.
"Rein." sikut tipis Juna serta-merta bikin Rein balik fokus. "Ditanyain tuh."
"Eh, iya, Bang, gimana kalau 3 hari lagi?" 💜
"Oh boleh." Gusti menyambut positif ide dari El Hijab.
"Oke, Abang tunggu Reina di sana, ya!"
Gusti pun minta diri, lalu balik ke depan diiringi langkah Juna dan Rein di belakang.
"Ededeh." Rein tau-tau tepuk jidat sehabis Gusti hilang.
"Lupa aku." 💜
'Lupa apalagi?' Juna jelas bingung melihat kelakuan random El Hijab.
"Kontak Bang Gusti, lupa mi kuambil tadi." 💜
"Makanya, jangan dilihatin terus, mentang-mentang cakep." celetuk Juna, yang kontan bikin Rein merah pipi kena skak. "Ededeh, ki nih."
"Adakah?" 💜
======
Berjumpa Gusti agaknya bikin Rein sedikit lupa daratan. Di tongkrongan Riders, cewek itu terlihat asyik sendiri bicara ke boneka badaknya seolah sedang ngobrol dengan tuh lelaki.
"Ededeh, Bang Gusti kenapa kah diam aja?" kalau dilihat-lihat, kelakuan Rein hari ini persis cegil diaspora Timnas.
"Abang tuh sebenarnya sadar nggak sih kalau Abang ganteng? Alis semut beriring, dagu sarang lebah, masih sama mi kayak di pondok dulu." 💜
Rein terus meracau, sampai nggak sadar dua orang lagi menahan geli melihat ia dari pintu tongkrongan.
"Bah, kenapa pula genduk kau itu?" ❤️
"Tau, kesambet jin tomang kali." 💚
El Klimis dan El Gondrong lalu mengendap, memperlambat kaki supaya nggak sampai terdeteksi El Hijab.
"Nduk," teguran Elang kontan bikin Rein kelabakan sendiri. "Tuh Dodo apa Gusti?"
"Ededeh, Udin!" tanggap Rein tajam, tapi Elang malah ngakak mendengar nada El Hijab tersebut.
"Lagian kau sih, Rein, segala semut beriring kau bawa-bawa, sarang lebah, mau jadi ahli serangga kau?" Eran pun menyambung sembari menaruh ransel di antara ia dan El Hijab.
"Hmm, aku tau," senyum Elang kentara banget bertujuan iseng. "kamu lagi jatuh cinta ya? Ngaku aja, nggak perlu ngumpet."
Rein menghembus nafas, lemas namun terasa lega.
"Iya ji, aku CLBK sama seniorku di pondok dulu. Habis ketemu kemarin di rumah Juna."
"Rumah Juna? Kok bisa di sana?" heran Elang seketika dijawab lugas dengan cerita Rein.
"Ada kau simpan fotonya? Coba kulihat!" Eran pun penasaran, dan direspon El Hijab yang langsung mengambil gawai dari tas tangannya.
"Bah, pantas aja kau naksir, seganteng ini." ❤️
"Mana? Coba lihat!" Elang ikutan kepo, dan minta Eran gantian melihat ponsel Rein.
"Iya juga ya, Er, ada jenggotnya kayak aku." 💚
"Besok aku rencana ke dia punya fish farm, Manteman, aku janjian sama dia di rumah Juna kemarin." Rein pun meneruskan cerita ia tadi.
"Tapi jujur mi, aku grogi, aku takut salah tingkah kalau berduaan sama dia di sana." 💜
"Nggak apa-apa, Nduk, pepet aja kalau pengin." 💚
"Ededeh, malu ji, aku kan cewek, masa iya aku yang kejar duluan? Calleda namanya itu, genit." Rein menampik tegas usul Elang barusan.
"Katanya sekarang zaman kesetaraan gender, masa untuk kayak gitu, kau masih pikir gengsi?" Eran memihak Elang dengan segera.
"Kalau memang suka, katakan aja, Rein, cowok bukan Tuhan yang bisa tau isi hati kau." ❤️
"Benar tuh, kalau kamu pendam lama-lama, entar malah jadi penyakit, hati-hati." Elang pun membalas jasa El Klimis ke dia tadi.
Rein cuma merunduk, pura-pura menyedot es teh yang sejak tadi hanya sisa es batu doang.
======
"Cinta lagi, lagi-lagi cinta." dari ruang utama Istana Kegelapan, Pak Bayang terdengar ngomel melihat polah Rein dari balik portal.
"Apa anak muda sekarang nggak punya kerjaan lain selain pacaran? Benar-benar bikin muak." 😈
"Ada apa sih, Yah? Marah-marah melulu dari tadi." Cindi yang baru kelar bikin kopi, segera bertanya supaya herannya nggak terpendam lama.
"Lihat itu!' Pak Bayang menunjuk portal dan menyuruh Cindi melihat sendiri.
"Bocil ungu itu betul-betul muka dua. Dia asyik jalan sama pacarnya, sampai lupa fungsi hijab di kepalanya." 😈
"Biar aja kali, Yah, namanya anak muda." Cindi coba menenangkan panas hati Pak Bayang. "Ayah kan pernah jadi mereka juga dulu?"
"Zaman dulu lain, Cindi, waktu Ayah muda, cewek-ceweknya tuh penuh rasa sungkan." Pak Bayang mulai membandingkan situasi dua era yang berbeda.
"Bahkan sekedar lewat depan cowok pun, mereka nggak berani. Mereka lebih pilih putar arah daripada diusilin sama cowok-cowok itu." 😈
Cindi nggak balas lagi, dan hanya melihat pemandangan antara Rein dengan Gusti.
"Mana Aji? Ayah lagi perlu monster." 😈
"Kalau nggak salah sih, di kamarnya, Yah, tidur siang." Cindi pun menjelaskan sesuai ingatan terakhirnya.
'Bangunin! Ayah benar-benar jengkel sama tuh bocil ungu.' perintah Pak Bayang tentu nggak mungkin Cindi tolak walau terdengar absurd di telinga.
"Hey, Jun," di tongkrongan Riders, Eran dan Elang tampak menghampiri Juna yang saat itu lagi makan roti bakar. "gila kamu, diam-diam bikin sejarah aja."
"Sejarah apaan?" Juna jelas heran dan auto berhenti saat itu juga.
"Bah, pura-pura polos pula kau, macam kita nggak tau aja, kau sukses jodohin anak gadis kan, kemarin?" ❤️
"Jodohin siapa? Kam berdua bicara apaan sih? Datang-datang bikin bingung aja." 💙
'Ayolah, Jun, Rein sendiri yang cerita.' Eran pun kasih pendalaman agar Juna nggak kelamaan bingung.
"Katanya kau ketemuin dia dengan kakak tingkatnya di rumah kau kemarin, namanya tuh, siapa, Lang?" ❤️
"Kalau nggak salah, Gusti." di luar dugaan, jawaban Elang malah bikin Juna terbatuk keselek roti bakar di mulutnya.
"Siapa tadi? Gusti?" Juna pun membahas lagi usai dibantu Eran dan Elang meredam sedaknya.
"Serius Rein ngomong gitu?" 💙
"Iya, Jun, salah ya?' alih-alih disahut, Juna malah jawab Elang dengan meminta ia dan Eran merapat.
"Ha? Serius?" giliran Eran dan Elang yang kaget usai Juna berbisik.
"Gawat kalo?" Juna pun konfirmasi seraya menyambung rotinya yang tertunda.
"Bukan gawat lagi, Jun, ini jelas bencana, gimana kalau dia tau?" ❤️
"Benar, Er, Genduk pasti berantakan kalau tau. Hati tuh anak terlalu halus, nggak bisa langsung kena banting.' Elang sependapat dengan rasa khawatir Eran.
"Cessss..." baru dua detik, korek sakti Elang mendadak terpercik mengalih trio ganteng tersebut.
"Segera ke markas! Kota lagi chaos." call singkat Mahaguru Dewa, serta-merta bikin mereka move on dan gercep keluar dari tongkrongan.
======
Rein menepati janji berkunjung ke fish farm Gusti. Namun akibat terlalu terpesona, niat awalnya yang hanya ingin beli louhan, jadi berujung kalap memborong sepasang kura-kura dan ikan cupang sebagai bonus.
Walhasil El Hijab bingung sendiri menata semua belanjaan di atas motor mungilnya. Kepulangan Rein akhirnya tertunda, karena gadis itu berulang kali eksperimen dengan tata letak plastik yang tentu nggak muat buat kapasitas kecil motor ungunya.
"Reina," suara soft spoken Gusti auto bikin Rein menoleh ke arah fish farm lagi. 'belum pulang?'
"Hehe, iya mi,, kebanyakan barang kita." 💜
"Ya udah, Abang antarin aja, biar plastik ikannya bisa Reina pegang sebagian."
Rein terang girang menanggapi tawaran lelaki idamannya tersebut. "Serius, Bang?"
"Ededeh, tapi gimana kah fish farm Abang nih? Terus nanti Abang balik pakai apa?" nalar Rein sepertinya masih cukup waras meski hatinya kini bergolak nggak karuan.
"Urusan fish farm kan karyawan Abang yang handle, kalau soal balik, kan Abang bisa order ojol?" sesaat Rein tertegun, tapi kemudian salting dan mengizinkan begitu Gusti mengulang tawarannya.
Motor pun melaju dengan Rein tersibak dari punggung simetris Gusti. Rein sendiri berusaha bersikap biasa, tapi angin jalanan bikin hormonnya meningkat hingga tanpa sadar menaruh kepala di punggung atletis itu.
"Reina kengatukan? Abang lajuin dikit ya!" teguran Gusti serta-merta bikin Rein kaget dan mengangkat segera kepalanya.
"Dikit, Bang," Rein salting lagi menghadapi romansanya ini. "tapi nggak perlu ngebut ji, slow aja kita."
"Oh ya, lusa nanti, Reina mau ikut Abang ke Bandara nggak?"
"Ke bandara? Mau ambil siapa kita?"
"Mau..."
"DUAAAAAAAAAAR..." satu ledakan singkat menjatuhkan Rein dan Gusti dari motor ungu yang mereka pakai.
El Hijab sendiri awalnya heran, namun saat kuyuk terlihat dari pudar asap, ia langsung tau apa yang kini mesti dilakukannya.
"Ada apa, Rein?"
"Ededeh, tenang, Bang, biar Reina yang urus.' ucap Rein meredam, sambil lantas melesat sebelum dicegah pria jenggotan itu.
Situasi kian chaos seiring hadirnya para Riders membantu Rein. Pasukan kuyuk bisa dengan mudah ditaklukkan, tapi nggak buat monster kaleng cat yang turun bareng mereka.
"Paint, mainkan!" Cantik yang menyertai itu monster, seketika berseru saat para Riders mulai habis obor.
'Glup, glup, glup...' kepala kaleng monster itu tiba-tiba menggelegak, dan sejurus melontar cairan ke arah para Riders yang berjatuhan.
Beruntung kegesitan menyelamatkan para Riders, tapi itu berakibat cairan jadi liar dan justru mengenai pihak yang seharusnya mereka proteksi.
"Bang Gustiii..." Rein bangkit cepat, namun hanya bisa pasrah menyaksikan cowok itu jadi patung batu.
"Hihihi, bocil sinetron, gimana rasanya ditinggal kekasih, hm?" 🌹
Riders nggak menjawab, hanya menatap geram sambil menenangkan El Hijab yang mulai sesenggukan.
"Ayo, Paint! Kita bikin kacau lagi." Cantik move on dengan segera, dan lenyap sama tuh monster meninggalkan para Riders.
***53Please respect copyright.PENANAqNpPJIy6ZZ


