Dalam suasana prihatin, Riders kumpul di markas utama. Rana dan Dewi memeluk Rein yang makin meraung, sementara para cowok tampak fokus sama rekaman yang diperlihatkan sang mentor.
'Udah, Rein, semua bakal aman, aku yakin ini nggak akan lama, tuh monster pasti ada kelemahan yang bisa kita manfaatin." walau agak sengak, nggak bisa dipungkiri itu cara terbaik Rana motivasi Rein yang sedang kacau.
"Tapi Bang Gusti..." 💜
"Kak Rana benar, Kak, Kakak nggak perlu sedih, Kak Rein nggak sendirian, ada kita yang bakal bantu Kakak." Dewi membantu Rana sambil terus memeluk tubuh mungil El Hijab.
"Kalian semua lihat?" di sisi lain, Mahaguru Dewa tenang melempar tanya ringan pada para cowok.
"Lihat apa, Mahaguru?" Juna terang blank sama arah pertanyaan El Mentor.
"Kepala kaleng itu. Apa kalian menyadari?" 🧝
Eran, Juna, dan Elang, garuk-garuk bareng mencerna pancingan mentornya.
"Tuh kepala terus-terusan mengeluarkan asap gelembung. Aku yakin ada nitrogen di sana." Mahaguru pun menjelaskan agar Riders nggak sampai bingung lama.
"Dan aku tau apa solusi buat ini semua." 🧝
Mahaguru Dewa lalu menarik salah satu laci, dan mengambil sebuah batu hitam yang tergeletak dalam benda tersebut.
"Ini bukan batu biasa, anak-anak, ini batu sisa vulkanik ledakan Krakatau yang amat legendaris itu." 🧝
"Lantas hubungannya sama misi kita apa, Mahaguru? To the point aja, nggak perlu bahas sejarah." Eran sepertinya capek mendengar penjelasan Mahaguru yang agak berbelit.
"Batu ini yang akan beresin kepala kaleng itu, Elr tanpa sisa." Mahaguru Dewa tetap tenang. "Tapi untuk nyalain batu ini, kita perlu kekuatan api yang besar."
"Berarti...?" Elang reflek menolehi Eran.
"Benar," Mahaguru Dewa mengalihkan segera pandangan matanya. "bawa batu ini, Eran! Bidik kepalanya, dan kalian akan lihat itu monster hancur berkeping-keping, di depan mata kalian."
Eran menerima batu itu, dan langsung menyimpannya dalam kantong celana yang ia pakai.
"Sekarang kembalilah! Kota memanggil."
"Nggak, Mahaguru." instruksi Mahaguru terhadang oleh sikap menolak Rein yang tiba-tiba.
"Aku benar-benar malu ke sana. Aku gagal lindungi Bang Gusti. Aku nggak berguna sebagai Riders." 💜
"Bah, apa pula kau itu? Jangan...' tanpa basa-basi, Elang menyumpal Eran demi menahannya menyakiti Rein.
"It's very bad treat, Er, nggak gitu caranya." 💚
Elang lalu menghampiri Rein, dan berlutut usai Dewi dan Rana memberinya ruang.
"Nduk, kita semua tau perasaanmu, kita pun sama terpukulnya." Elang mulai bisik nasehat secara lembut.
"Tapi kamu harus ingat, Nduk, kita ini tim. Aku dan yang lain, bakal bantu sebisa kita. Tapi tetap kamu yang harus mulai. Kita semua cuma bisa tambah semangatmu, bukan menciptakannya." 💚
"Elang benar, Rein ai, dan aku yakin, Gusti pasti bangga banget kalau kam tolongin. Semangat dong, keluarin Rein yang biasa kita kenal." 💙
Taktik Elang dan Juna terbukti cespleng. Rein menyeka air matanya perlahan, dan bangkit memburu Dinasti Kegelapan sama kawan-kawannya.
======
Jalanan kota seperti menjelma serupa museum lilin Madame Tussaud. Ulah si monster betul-betul berefek ngeri, melihat deret patung hasil sihir yang dia tebar dari kepala kalengnya.
Cantik yang mendampingi monster, jelas sumringah melihat pemandangan itu. Gigi putih nggak henti-henti ia pamerin, sambil terus memuji kreatur hasil tangan Aji kali ini.
"Kamu memang hebat, Paint, nggak sia-sia aku temani kamu di sini." Cantik menepuk-nepuk kepala sang monster usai satu lagi warga dibuatnya kaku.
"Kalau gini, manusia akan punah secara instan. Dan impian ayah untuk menguasai kota, bisa jadi kenyataan.'
"Nggak akan mi, selama kita ada." gelegar suara Rein seketika menghentikan tawa yang dikeluarkan Cantik.
"Kamu siapa mau seenaknya menguasai kota? Selama ambisi halumu masih kamu piara, selama itu kami akan mencegahnya, paham?" ⚪
"Kurang ajar, kuyuk!" Cantik yang kesentil ego, kontan berteriak diiringi kedatangan pasukan anjing andalannya.
Riders lalu transformasi bareng, dan mulai menyebar menghadapi rival rutin mereka ini.
Monster kaleng cat coba memperkeruh keadaan, namun Riders bisa menghindar walau agak jatuh bangun akibat fokus ke pasukan kuyuk.
"Eran, waktunya!" Rana yang berdiri di samping Eran, bergegas mengingatkan rencana yang mereka susun dari markas.
Riders pun kembali menyebar, dengan si merah lebih fokus menghampiri monster yang ada di depan mereka.
"Aaaakh..." tubuh Eran cukup terpental usai terkena serangan tuh monster. Ia paham pedangnya nggak akan menyelesaikan, hingga segera mengganti tuh senjata dengan batu titipan Mahaguru Dewa.
Pangeran pun melompat tinggi, beratraksi 'slam dunk' di atas kepala si monster, dan menutup aksi heroiknya pakai koreo indah saat mendarat.
"A-apa ini? Panas banget." sang monster auto memekik sambil memegang batok kepalanya yang bengkak.
Riders lantas kumpul di sekitar Eran, dan sesuai prediksi Mahaguru, menyaksikan tuh kreatur hancur oleh ledakan vulkanis di kepalanya.
"Awas aja kalian!" meski terhempas dan menahan nyeri, Cantik tetap sok keras sebelum hilang dari gelanggang sesaat berselang.
Kematian sang monster mengembalikan serentak semua patung. Termasuk juga Gusti, yang seketika terpelanting akibat posisi tubuh kurang seimbang efek kena sihir sebelumnya.
"Bang Gusti..." tanpa banyak cakap, Rein langsung menghampiri tubuh lelakinya itu. "Abang nggak apa-apa kah?".
Para Riders awalnya kalem, tapi kontan melotot mendapati El Hijab memeluk tiba-tiba tuh cowok.
"Alamak..." Eran coba bertindak, namun dihadang Elang dengan rentang panjang tangan kirinya.
"Ojo, Ran, biarin aja!" 💚
Pangeran pun manut, dan tetap tenang membiarkan Rein tumpahin perasaan hatinya.
======
Rein menyampingi Gusti menelusuri hiruk-pikuk ramai bandara. Belum jelas tujuan mereka di sana, tapi langkah menghampiri arrival gate, menunjukkan ada seseorang yang hendak dijemput salah satu antara mereka.
"Siapa mau kita jemput ini, Bang?" di sela melangkah, Rein melepas kebingungan yang dari tadi ia rasakan.
"Nanti juga Reina tau, nggak usah takut. Reina perlu kenalan sama dia, dia orang paling cerdas yang pernah Abang kenal."
Jawaban Gusti bikin Rein bungkam, dan kembali melangkah walau masih heran sama cowok tersebut.
"Windy..." Gusti teriak begitu melihat sosok perempuan dari balik keramaian.
Rein juga melihat si cewek, namun sambil menyipit pada bayi yang terselip di dada dia.
"Bang Gusti..." gelendotan spontan cewek itu tambah bikin Rein deg-degan. Alarm kuning serta-merta berbunyi dalam hati El Hijab.
"Gimana liburannya, Dek? Seru?" dasar Gusti nggak peka, dia malah cengkrama mesra sama perempuan bernama Windy itu.
"Banget, Bang, rasanya Di nggak pengin balik deh, dari sana." sejurus kemudian, mata Windy beralih segera ke Rein. "Siapa ini, Bang?"
"Oh iya, kenalin," dengan antusias Gusti memberi Rein kode untuk lebih merapat.
"Ini Reina, teman Abang pas di ponpes dulu."
Mereka pun saling kenalan, namun wajah Rein tampak kaku dan terkesan memaksa saat senyum di hadapan Windy.
"Windy ini, Rein, istri paling hebat sedunia, ide-idenya banyak bantu usaha fish farm Abang. Rein bisa lho belajar bisnis sama dia."
"Ah, Abang ini." kemesraan yang bagai surga bagi Windy, tapi kayak neraka dalam mata indah Rein.
"Ya udah, yuk kita balik!" Gusti mengajak beranjak, namun auto ditampik Rein yang kadung patah melihat fakta di muka.
"Nggak usah, Bang, Reina masih ada urusan sedikit di kampus, langsung ke sana habis ini." 💜
"Ya udah, kalau gitu sama-sama aja, kita mampir kampus Reina."
"Nggak perlu, Bang, Reina bisa pesan ojol, nggak usah repot-repot mi." 💜
Gusti pun memaklumi, dan menggamit Windy tanpa tau ada tangis pecah ditelan keramaian.
"Tuh kan, apa kubilang?" Elang serta yang lain, rupa-rupanya khawatir dan sepakat mengekor Rein diam-diam.
"Telat kita, Lang, udah nangis tuh anak." 💙
'Bicara apa kau, Jun, kita telat kasitau, bukan berarti kita gagal, ayo!' Eran pun mengoreksi Juna, sambil mengomando agar kawan-kawannya menghampiri Rein.
"Udah, Nduk, ikhlasin, nggak selamanya cinta harus memiliki."*) suara Elang serta-merta bikin Rein angkat wajah melupakan tangis.
"Elang benar, Rein, nggak seharusnya kamu nangis gara-gara itu cowok," lanjut Kirana menegaskan nasehat lembut Elang tadi. "justru mestinya kamu bersyukur, Tuhan menyelamatkanmu dari situasi berbahaya di masa depan."
"Kamu gadis cantik, Rein, cerdas lagi, aku yakin kok kamu bisa dapat yang lebih dari dia. Percaya deh." 💛
Rein menyapu air mata di pipi, dan lantas menurut saat diapit dua anak itu berlalu.
***
*) Roman Picisan (Vocal : DEWA 19, Composer. : Ahmad Dhani, 2000)68Please respect copyright.PENANAcGzQB80L3O


