Elang, Rana, dan Juna mengendap saat tiba di bangunan yang mereka tuju. Usai melumpuhkan dua penjaga pintu, mereka bertiga lekas jalan walau harus ngumpet menghindari CCTV yang sewaktu-waktu bisa mampir ke badan mereka.44Please respect copyright.PENANAM1X6uxlzA2
Penyusupan pun tiba di lantai lima yang merupakan puncak gedung tersebut. Dan karena di sana pusat aktivitas penculikan, para Riders mau nggak mau menahan diri dan merayap sejenak di rak besar dekat tangga yang baru aja mereka naiki.
"Jun, Lang, aku ada ide, kalian percaya aku kan?" bisik Rana, yang jelas aja bikin Juna dan Elang kaget bareng.
"Ide apa lagi?" bukannya dijawab, Juna justru digeret Rana dari tempat mereka sembunyi.
"Suami brengseeeek! PLAK!!!" nggak ada angin nggak ada hujan, Rana mendadak ngamuk diiringi tamparan pedas ke pipi Juna.
"Apa-apaan sih kam nih?" Juna spontan protes seraya memegangi bekas sengat Rana.
"Kamu ya, aku rela lawan ortuku, tinggalin sekolahku demi kamu, tapi balasanmu malah gini." 💛
Keributan itu sontak mengalihkan penjaga dari tugas keamanan mereka. Keadaan pun seketika berubah, di mana Rana dan Juna kini dihimpit pasukan mungil tapi mengangkat belati di tangan mereka.
"Ada apa ini?"
"Kamu masih kecil buat tau, Dek, suami Kakak yang goblok ini, berani-beraninya selingkuh di belakang Kakak, barusan Kakak pergoki main di gedung ini." Rana pun menerangkan, walau masih diiringi lengking memenuhi seisi gedung.
"Jangan panggil aku 'adek' ya! Aku udah gede, umur 13." bocil yang bertanya tadi, tau-tau menghunus pisau ke arah mereka berdua.
"Mana selingkuhan suamimu?"
"PELAKOOOOR, KELUAR KAMU!" Rana pun teriak lagi, namun kini matanya ke Elang yang tampak masih ngumpet di balik rak.
"IYA, KAMU!" sentak Rana, ketika Elang mengonfirmasi apakah dia yang El Pirang maksud 'pelakor'.
Elang nggak punya pilihan kecuali nongol dari petak umpetnya.
"Berapa lama kamu main sama suamiku? Hah? Dasar serakah, sesama jenis juga diembat." 💛
"Gimana ya?" Elang yang tau permainan Kirana, seketika beraksi menjamah tubuh Juna dengan gemulai.
"Habis badan suami Mbaknya cucok sih, lihat tuh dadanya, kencang banget kan? Belum perut roti sobeknya nih." 💚
"Ih, apaan sih kam nih?" Juna yang risih auto menjauh sembari menepis tangan Elang.
"Dia lain pacarku, sumpah." 💙
"Kamu ya? Kita udah main bareng, terus kamu nggak ngakuin aku? Dasar jan*uk." ganti Elang yang menampar Juna di pipi kiri.
"Cukup semuanya, pokoknya mulai detik ini, AKU MINTA CERAI! Aku nggak mau lagi lihat muka kalian selamanya." amuk Rana lagi, tapi kali ini bareng tendangan yang tepat kena tangan salah seorang penculik.
Perkelahian kontan pecah seiring jatuhnya pisau orang tadi. Elang pun kembali ke mode jantan, dan bareng Juna adu otot membantu Rana menghadapi mereka.
Sayangnya usai sukses jatuhin lawan, gelombang kepungan tau-tau membesar memaksa ketiganya tertahan dari misi utama.
'DIAM DI TEMPAT!!!' seorang wanita paruh baya, membentak sambil menodongkan beceng ke kepala Riders. Kayaknya sih, dia dalang penculikan menggemparkan ini.
"Mau jadi pahlawan buat suami-suamiku ya? Boleh juga, tapi sekarang kalian nggak punya pilihan."
"Duh, Gusti, udah effort ngondek masih aja kena." Elang terlihat paling menyesal di antara para Riders.
======
Riders yang terkepung dipaksa adu mental oleh para penculik. Utamanya El Pirang, yang kepalanya betul-betul head to head dengan beceng yang dipegang tuh emak-emak.
Sementara sedikit di belakang, Elang dan Juna hanya bisa diam di tengah tekanan para bocil. Tapi meski demikian, dua pria tersebut tetap berusaha awas memantau gerak-gerik yang tersaji antar komplotan satu sama lain.
"Jangan coba ganggu suami-suamiku ya! Aku jauh-jauh dari ibukota cuma mau jemput mereka pulang."
"Ternyata benar tuh pepatah, usia cuma angka." bukannya takut, Rana justru makin sinis merespon gertakan emak-emak itu.
"Dan kamu buktiin, makin umur, ternyata nggak jamin orang bakal makin dewasa." 💛
"DIAM KAMU!!!" perempuan itu kembali menyentak Rana. "Aku udah habisin uang dan waktuku untuk ini semua, jadi nggak boleh seorang pun menghalangi yang aku mau."
Emak-emak itu pun mengokang pistolnya, bersiap melubangi kepala Rana dari satu tarikan pelatuk.
"Jadi sebaiknya, kalian nggak usah ikut campur urusan ini, kalau nggak..."
"Kalau nggak kenapa?" suara Eran tau-tau bergema mendistraksi fokus seisi gedung.
Perempuan itu sendiri mencari sumber suara, tapi dalam hitungan detik, Pangeran yang udah transformasi menerjangnya usai memecah kaca di belakang itu emak-emak.
Pelor pun kontan meletus seiring tarikan reflek ke pelatuk. Namun kejutan Riders rupanya belum berhenti, lantaran Rein turut hadir menunggangi Dewi yang hadir dari atap tuh gedung.
Tugas pun terbagi dengan sendirinya. Para cowok melumpuhkan dalang utama, dan yang cewek meringkus semua kroco setelah si ungu bikin mereka kolaps pakai palu godam miliknya.
"Lepas, LEPAAAAAS!!! Kalian nggak tau siapa aku?" sambil meronta, wanita skizo itu terus berupaya lepas dari Eran yang begitu erat menjepitnya.
"Kayaknya nggak penting deh tau identitas kamu, yang kita tau, kamu bikin masalah di kota ini, artinya kamu harus dihukum." 💚
"Betulnya itu, Lang,' Eran merespon Elang, sebelum balik ke wanita yang tengah dia cekal. "dan asal kau tau, di bawah udah banyak polisi menunggu. Dan Berhubung kita masih baik, kita bakal temani kau jumpai mereka. Ayo, Manteman!"
Elang dan Juna pun bantu Eran menyuruk tuh wanita ke lantai bawah, meninggalkan para gadis yang masih sibuk merapikan kroco yang tadi mereka lumpuhkan.
"Eh, 'Shine On Solaris'..." Rana serta-merta ingat habis tuntas mengikat semua kroco.
"Aku cari mereka dulu, Manteman." 💛
Rana pun menyusur pintu demi pintu yang ada dalam gedung tersebut. El Pirang pun ketemu satu pintu terkunci rapat, dan segera menendangnya diiringi keyakinan semua idolanya disekap di situ.
Firasat Rana ternyata terbukti. Jantung El Pirang sendiri nyaris copot pada momen itu.
Rana sangat menyukai 'Shine On Solaris', dan kini dia bahkan menyelamatkan tuh boyband dari kriminal yang mereka derita. Sungguh kesempatan yang nggak bakal datang dua kali.
"Duryeowohaji ma, Oppa! Jeoneun Kirana imnida. Yeoreobeuneul yeogiseo guhareo wasseoyo. Gwaenchaneuseyo?" sambil menjajal skill bahasa Koreanya, Rana pun mengonfirmasi dan melepas tali di tubuh masing-masing personil.
Riders pun menyusul dibarengi kehadiran pihak berwajib, namun kemudian...
"Haiya, Lana, lu olang selamatin meleka?"
Kali ini, Rana tersenyum merespon Om Sony.
======
Walau dihiasi drama dan kasus, konser 'Shine On Solaris' tetap berjalana meriah sesuai ekspektasi. Semua orang sangat gembira, menikmati suguhan berkualitas ala seleb internasional di hadapan mata mereka.
Begitupun para Riders, yang jasanya lunas diganti akses istimewa ke backstage. Dan dapat ditebak, Rana jadi yang terheboh menirukan setiap dance boyband itu dari balik panggung.
Tiga jam berlalu, dan konser berakhir gempita meninggalkan kenangan yang bakal jadi kolosal di masa depan. Tapi bagi Rana ini belum selesai, lantaran tuh cewek kini mengajak kawan-kawannya ke hotel menemui para personil secara lebih privat.
"Kam mau ngapain lagi sih? Di sana kan pasti steril banget, dan lagi mereka pasti capek habis jingkrak-jingkrak di panggung tadi." 💙
"Tenang, Jun, aku yang jamin, Om Sony pasti kasih akses kalau aku yang minta, percaya deh." tukas Rana menanggapi protes Juna yang duduk di bangku kedua.
Para Riders pun terpaksa mengiyakan karena Rana terus mendesak agar belok ke hotel. Dan usai Eran rapi meletakkan mobil, 6 anak muda itu pun jalan menuju lift dengan El Pirang sebagai pemandu paling depannya.
Beruntung badge hibah Om Sony masih melingkar di leher Rana, hingga para Riders bisa leluasa masuk tanpa ketemu pertanyaan berlapis dari pihak-pihak yang berjaga.
Rana pun bersiul kecil demi jaga mood rekan-rekannya yang memang udah lelah. Untungnya nggak sampai sepuluh menit, rombongan 'Shine On Solaris' tiba di lokasi dan bikin El Pirang seketika lompat dari sofa duduknya.
"Oppa!!!" penuh semangat, Rana memekik sambil merapat ke wajah-wajah Korea itu.
Rombongan seketika berhenti, namun senyum manis para personil, jadi tanda Rana diterima hangat oleh mereka. "Hai, Kirana."
"Sajin?" lewat kode jari, Rana menawarkan para personil buat foto bareng.
'Sajin?' para personil saling tatap sejenak, tapi kemudian...
"Ah, eung, iliwa!"
Rana pun menerobos barisan, namun saat hendak berfoto...
"Hey, kok diam aja? Ayo sini!" ajak Kirana, melihat Riders masih mematung di sofa duduk masing-masing.
Riders pun beranjak walau agak sungkan, tapi berkat hati rendah 'Shine On Solaris', sesi dadakan ini tetap lancar membawa El Pirang ke mimpi yang jadi kenyataan.
***44Please respect copyright.PENANAr5LFGq4dca


