Momen langka tiba di kota tempat tinggal Riders. 'Shine On Solaris', boyband Korea yang lagi hits dan naik daun, diagendakan mampir menghelat satu konser akbar di sana.
Tuh event jelas menarik perhatian seluruh fans K-Pop. Termasuk Rana, yang juga gandrung sama tuh boyband sejak awal debut mereka di entertainment.
Rana sendiri tergolong hoki lantaran salah satu pamannya jadi promotor event super bersejarah ini. Dua tiket pun mampir ke itu cewek, ditambah janji sang paman yang akan mempertemukannya dengan para personil begitu konser kelar.
El Pirang kontan berbunga-bunga, tapi kemudian bingung sendiri lantaran satu tiket masih tersisa.
"Kasih siapa enaknya ya?" Rana berpikir sesaat, sebelum kemudian kepikir sosok yang tepat untuk ia kasih.
"Halo, Dew, lagi di mana?" tanya Rana saat panggilannya disahut sisi seberang.
"Oh di kost, ya udah, Kakak ke sana boleh? Ada yang mau Kakak kasih nih, nanti juga kamu tau, yang penting sekarang, Kakak boleh kan ke sana?" 💛
"Ya udah, kalau gitu Kakak siap-siap dulu. Mungkin sekitar setengah jam lagi lah, Kak Rana sampai." Kirana pun memungkas, dan sepertinya dapat respon positif dari El Kuncir di seberang sana.
======
"Kertas apa ini, Kak?" walau menerima, Dewi tetap polos mempertanyakan benda yang kini ia pegang.
"Itu namanya tiket, Dew, akses masuk ke sebuah acara. Kalau kamu pegang itu, kamu bisa lihat artis sesuai yang tertulis di situ." 💛
Dewi cuma manggut-manggut merespon. Dia lalu memandang lagi tuh tiket, sembari bibirnya komat-kamit kayak mengeja tiap huruf yang tercantum di situ.
"Shine On Solaris? Siapa mereka, Kak?" ⚪
",Kamu belum tau? kaget Rana cuma dibalas oleh gelengan El Kuncir.
'Ya ampun, Dew, ke mana aja kamu?' El Pirang tarik nafas melihat polos Dewi yang dirasanya akut.
"Mereka nih terkenal banget, boyband top dari Korea, fanbase-nya merata di seluruh dunia." 💛
Mulut Dewi hanya membulat. 'Oooooh...'
"Sini deh!" Rana pun menyuruh Dewi dekat, dan langsung mengarahkan mata ke tiket yang dipegang sang adik.
"Kakak kenalin satu-satu ya! Paling kiri ini namanya Yohan, terus sebelahnya, yang pakai piercing, namanya Taesung." Kirana mulai mengabsen bak guru kelas di awal jam pelajaran.
"Terus yang tengah, Dew, dia yang paling Kakak idolain, si Hae Min, di sebelahnya nih, namanya Do Hyun, terus yang paling kanan ini, namanya Ji Woo." 💛
"Ganteng-ganteng ya, Kak?" ⚪
"Jelas dong,, kalau nggak mana mungkin mereka digilai cewek termasuk Kakak?" Rana malah jumawa membuka sikapnya yang pandang fisik itu.
Handphone Rana mendadak berdering nggak lama usai bicara. Gadis itu pun bergegas rogoh kantong, dan kemudian...
"Ada info bagus nih dari grup WA Kakak. Coba lihat!" 💛
Mata Dewi kembali beralih, dan melihat semacam round on dalam pesan bersifat terusan itu.
"Gimana? Mau ikut sambut mereka di bandara nggak?" tanpa basa-basi, Rana menawarkan Dewi sebuah kesempatan kecil melihat idolanya.
"Boleh tuh, Kak, kayaknya asyik." Dewi perlahan kena sama S3 marketing ala El Pirang.
"Kalau gitu, besok kamu stand by jam 2 ya! kita berangkat jam setengah 3, deal?" 💛
"Iya." Dewi pun mengangguk, tanda nggak sabar menanti janji manis kakaknya itu.
======
Walau udah mewanti Dewi, faktanya justru Rana yang telat gara-gara kelamaan di depan cermin. Cewek itu baru tiba pukul 2.15, di mana Dewi udah siap menunggu di depan gerbang kost yang tinggi.
"Kakak dari mana aja sih? Hampir Dewi bad mood tadi." ⚪
"Sori deh, Dew, udah bikin kamu nunggu," walau terkekeh, Rana tetap minta maaf sambil kasih helm ke Dewi. "yuk gas!"
Mereka pun tiba di bandara usai sekitar setengah jam injak aspal. Kirana lantas memandu Dewi berbaur, mengikuti irama massa yang telah padat oleh dominasi kaum hawa di bandara.
Semua terlihat bersemangat di sana, tapi hingga satu jam sejak jadwal pesawat landing...
"Mana, Kak? Katanya mereka datang?" ⚪
"Duh, mana Kakak tau, Dew? Ini di luar rencana udah." sambil menyejukkan diri dengan mini fan, Rana hanya sekenanya menjawab pertanyaan Dewi barusan.
Dewi sendiri cukup memaklumi walau rada kurang puas sama respon El Pirang. Dia pun memutuskan wait and see, namun nggak lama...
"Apa jangan-jangan, mereka ke hotel diam-diam lagi, dibawa panitia?" 💛
"Maksud Kakak?" jidat Dewi kembali kerut mendengar statement acak Rana itu.
"Iya, Dew, bisa jadi gitu." Rana lebih dalam memberi Dewi penjelasan tambahan.
"Biasanya taktik EO tuh gitu, Dew, untuk menghindari kerumunan. Apalagi yang datang kan, bukan sembarang artis? Level internasional lho." 💛
"Jadi?" ⚪
"Susul ke hotel aja, tunggu apa lagi?" Rana langsung menggaet tangan Dewi, dan balik ke parkiran mengambil motor yang masih di sana.
El Pirang pun memacu lagi tuh motor, tapi belum sempat menginjak teras hotel, lagi-lagi kejutan hadir lewat garis kuning serta konvoi mobil patroli di area sekitar.
"Ini kenapa banyak polisi, Kak?" ⚪
"Duh, Dew, nggak usah banyak tanya dulu! Kakak juga bingung nih." saking paniknya, Rana jadi ekstrim menanggapi kelakuan Dewi yang interogatif.
Rana pun mengamati situasi sekitar, tapi kemudian terpaku tajam ke sektor barat yang tampak jadi pusat aktivitas petugas.
Rana pun berlari ke sana, diekori Dewi yang juga kepo terhadap kondisi saat ini.
"Om Sony!" teriakan Rana memancing seorang pria buncit yang terselip dalam kerumunan.
"Lana, ngapain lu olang ke sini? situasi lagi dalulat, semua olang dalam tekanan." pria bernama Sony itu terlihat kurang nyaman dengan kehadiran mendadak Rana.
"Ada apa sih, Om? Bukannya personil..." 💛
"Itu masalahnya, Lana," Om Sony cepat menyela sebelum Rana tuntas ngomong. "Om dan tim sedang kecolongan, semua pesonil 'Shine On Solalis' diculik pihak nggak dikenal. Meleka nyalu jadi anggota tim plomotol, dan bawa pesonil tanpa izin."
"Apa, Om, diculik?" Rana kontan limbung mendengar keterangan Om Sony barusan. "Om serius?"
"Haiya, segini banyak polisi, dan lu olang masih mikil Om becanda?" Om Sony agak tersinggung Rana meragukan informasi Beliau.
Salah satu petugas lantas menghampiri Om Sony, dan serta-merta berbisik yang diangguk sang promotor saat itu juga.
"Udah, lebih baik lu olang pulang aja! di sini bukan tempat buat lu olang."
Dingin menyelimuti tubuh Rana usai Om Sony menjauh. Beruntung Dewi setia mendampingi, dan gercep kasih sandaran supaya El Pirang tetap bisa jalan.
"Dew, hubungi yang lain! Kita perlu ketemu Mahaguru di markas." 💛
======
Sesenggukan Rana masih belum berhenti walau kini Rein telah mendekapnya. Mata dan pipi tuh cewek masih bersemu merah, tanda dirinya benar-benar geram pada kasus yang kini dia temui.
Sementara di sudut lain, Eran, Elang, dan Juna hanya mampu menatap simpati ke El Pirang. Dewi sendiri tampak bolak-balik dapur, menyediakan secangkir teh agar mood Rana balik kayak sedia kala.
"Aku nggak peduli, Manteman, siapapun pelakunya nggak akan kuampuni, akan kuhajar mereka sampai babak belur." 💛
"Ededeh, tenang mi, kita semua ada kok di samping ki. Jangan ki bawa emosi, nanti semua kacau kodong." Rein menenangkan Rana, sambil tetap memeluk mengelus rambut pirang milik tuh anak.
"Pasti ulah geng busuk itu lagi, nggak ada berhentinya mereka bikin ulah." seperti biasa, Eran menunjuk hidung 'Dinasti Kegelapan' sebagai dalang penculikan ini.
"Bisa jadi sih, Kak, Dewi juga pikirannya ke sana.' Dewi yang menaruh teh di meja Rana, menyeruak mengamini opini Eran tersebut.
"Bukan." cukup 5 huruf, Mahaguru sukses bikin mata anak didiknya beralih.
"Hasil pelacakanku, ini kerjaan iseng sekelompok sasaeng dari luar kota. Mereka sepertinya terobsesi ingin memiliki para korban, makanya jadi nekad begitu." 🧝
"Sasaeng?" Elang tampak asing dengan istilah dari Mahaguru Dewa.
"Sasaeng itu istilah di dunia fandom, Lang, ditujukan ke mereka yang kelewat fanatik ke para artis. Mark Chapman contohnya." Eran pun bantu mengurai biar Elang nggak kelamaan bingung.
"Tapi lawan kita kali ini cukup unik, anak-anak, mereka didominasi ABG sekitar usia 12-15 tahun." 🧝
"Haaa? Mahaguru serius? Jadi target kita sekarang bocil ya?" El Mentor senyum aja merespon kaget yang dikeluarkan Elang. "Astaga!"
"Pelacakanku menemukan mereka di sebuah gedung tua dekat cluster yang baru dibangun itu, kalian tau kan?" Mahaguru kasih keterangan lagi ke para Riders.
"Karena itu, kalian bertiga menyusuplah ke sana! Biar para gadis back-up di belakang." 🧝
"Mahaguru, aku nggak terima!" Rana yang sejak tadi nangis, serta-merta bangkit menyentak Mahaguru tanpa tedeng aling-aling.
"Shine On Solaris itu idolaku, gimana pun caranya, aku ingin turun menyelamatkan mereka. Dan Mahaguru menempatkanku di tim back up, Mahaguru yang benar aja dong." 💛
"Ini terlalu bahaya untuk wanita, Rana, kamu, Rein, dan Dewi, cukup muncul habis tuh gedung diobrak-abrik mereka." 🧝
'Nggak, aku tetap mau ikut, nggak akan aku diam melihat idolaku dalam bahaya, mereka harus aku tolong, itu yang aku mau." Rana kian sengit melawan instruksi dari El Mentor.
"Rana...'"Juna coba menegur, tapi terjeda kode tangan Pangeran yang menahannya. "Udah, Jun, nggak perlu."
"Mahaguru, iyain aja Rana, biar aku yang ngalah bareng Dewi dan Rein sebagai tim kedua." ❤️
"Okelah kalau itu pilihan kalian." El mentor pun pasrah membiarkan anak asuhnya berbagi tugas mandiri.
"Juna, Elang, jaga Rana baik-baik selama di sana! Pastikan boyband itu keluar tanpa lecet sedikitpun!" 🧝
***47Please respect copyright.PENANAomcPgbfe7N


