Pangeran gagah berdiri di atas podium. Dikelilingi kawan-kawan aktivisnya, tuh cowok tampak berapi-api menyampaikan keresahan yang mereka rasa selama ini.
"Yang muda mabuk, yang tua korup, yang muda mabuk, yang tua korup, korup terus, mabuk terus, jayalah negeri ini, jayalah negeri ini, MERDEKAAAAA!!!"*) Eran sedikit bersenandung, dan ditutup pekik sambil berkepal menantang langit.
"MERDEKAAAA!!!" pekikan Eran disambut pendemo dengan nada mirip El Klimis.
"Jadi nggak perlu tawar-menawar, Manteman, rantai feodalisme wajib kita putus, nggak zaman lagi kita lihat silsilah, kalau salah, harus kita tegur, nggak peduli siapa dia." sekali lagi Eran dapat aplus dari kawan-kawan sesama demonstran.
Pangeran merunduk sejenak, menatap sekeliling yang dipenuhi anak muda. Dari situ dia melihat, Rein dan Elang ternyata hadir memenuhi janji di tongkrongan kemarin.
Eran pun melanjutkan orasi, tapi belum sampai sepuluh kata...
"Duar, DUAAAAAAAR..." serta-merta situasi chaos akibat ledakan dari arah utara. Eran pun minta rekan-rekannya turun, untuk kemudian lompat menghampiri Elang dan Rein dekat titik ledakan.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Eran, yang cuma digelengi dua rekan sejawatnya itu.
Ketiganya pun memantau sekitar, di mana asap mengebul mengganggu pandangan mata mereka bertiga.
"Ededeh, apa itu?" nggak sengaja Rein melihat wajah di balik pudar asap. Eran dan Elang pun fokus, sambil pasang kuda-kuda guna menjagai segala kemungkinan.
"Hahaha, aku benar-benar lapar. Siapa mau kutelan duluan?" dari balik kabut, cacing raksasa tau-tau muncul di hadapan mereka.
3 anak muda itupun langsung berubah di tengah kekacauan. Mereka lantas gantian menyerang si cacing, tapi agak kesulitan karena si monster sangat lincah dengan ekornya.
Si cacing justru menyerang balik begitu para Riders berhenti. Lidahnya tau-tau melesat, dan mengenai salah satu di antara mereka.
"ELAAAAANG..." ❤️💜
======
Jerat lidah sang monster sulit dilepas para Riders. Ukuran tebal plus liur yang rupanya berlistrik, bikin mereka pusing tujuh keliling membebaskan Elang dari lilit di lehernya.
Eran dan Rein pun hanya pasrah melihat Elang ditarik si cacing. Tapi belum sempat si hijau tertelan...
"Wusssssh, DUAAAAAAAAR!!!" dua anak panah melesat mengganggu lidah listrik sang cacing. Elang sendiri terpental efek ledakan, sementara si monster gelagapan mendapati lidahnya nggak bisa menjulur lagi.
"Kau nggak apa-apa?" Eran menghampiri Elang, bareng Rein mengonfirmasi kondisi terkini si hijau.
Rein sendiri mencari sumber panah tadi, dan ketemu 2 rekannya yang berdiri persis sang cacing yang tengah terkulai.
",Maaf, Manteman, kita telat." ucap Rana, sambil terkekeh di samping Juna yang menggenggam busur.
"Gimana? Beresin sekarang?" tanya Juna seraya melirik monster yang udah nggak berdaya.
"Entar!" cegah Elang, sambil bangkit walau masih menahan rasa sakit.
Si hijau pun mengeluarkan nunchaku-nya, dan melepas tuh senjata ke leher sang monster yang belum bangkit.
"Dia cekik aku, aku cekik dia, baru impas." kelakar Elang sembari menekan nunchaku yang lagi dia genggam.
"Tunggu apa lagi, Jun? Ayo cepat!" 💚
Teguran Elang mengembalikan Juna pada misi awal. Sebatang panah dilesatkan lagi, dan seketika mengakhiri chaos di sekitar area unjuk rasa.
======
Riders kumpul di sebuah konter ponsel. Mereka menemani Rana, yang mau nggak mau ganti lensa akibat serangan 'Dinasti Kegelapan' kemarin.
Mereka berlima duduk di bangku yang berbeda. Rana dan Juna menghadapi karyawan counter, sedang yang lain duduk di bangku panjang dekat pintu utama tuh konter.
"Er," tepukan Elang seketika menyadarkan Eran. "kuperhatiin dari tadi kamu diam aja, mikir apaan sih?"
"Iya ji, apa ki pikir? Omongan dosen ki lagi kah, ya?" Rein kayaknya takut juga melihat sikap aneh Eran ini.
Eran menggeleng. "Bukan, Manteman, aku cuma kepikir demo kemarin."
Elang dan Rein bingung, namun berusaha mencerna jawaban El Klimis barusan.
"Satu sisi, aku lega udah terapin ajaran dosenku, tapi sisi lain, chaos kemarin bikin aku merasa gagal jadi pemimpin." ❤️
"Oalah," Elang menepuk bahu Eran lagi. "orang gila mana yang berani bilang itu demo gagal, Er? Kemarin tuh pengalaman paling berkesan lho seumur hidupku."
"Betul mi Elang, nggak perlu ki menyesal. Ki udah ajari kita gimana cara ambil sikap, harus ki bangga sama prinsip itu." lanjut Rein seraya memegang pundak Pangeran menguatkan tuh anak.
Mereka lalu beralih ke TV LED di counter, di mana kanal tampak lagi menyiarkan hasil quick count usai coblosan tadi pagi.
"Lihat! Nggak gagal kan? Anak petahana kamu tumbangin, nggak kaleng-kaleng." 💚
"Ghibahin apa sih? Seru banget kayaknya." Rana yang baru tuntas, mendekat diiring Juna di samping dia.
"Coba ki lihat tuh berita!" pinta Rein yang diikuti Rana tanpa basa-basi.
"Apaan? Berita biasa doang." 💛
"Ededeh, teliti ki dikit, lihat running text di bawah tuh!" Rein pun menegas menyuruh El Pirang melihat lebih detil.
"Eh, itu kan..." alih-alih Rana, justru Juna yang kaget sama yang ditunjuk El Hijab.
"Iya juga ya, terus yang menang..." Rana akhirnya sadar, dan turut surprise melihat angka yang tercantum dalam running text.
"I-ini serius? Oposisi yang menang?" 💛
"Serius, Ran, kota bakal ganti warna lima tahun ke depan." sahut Elang merespon reaksi dinamis El Pirang.
"Ini nih pahlawannya, Ran, demo kemarin ampuh juga ambil hati rakyat." sambung Rein bangga, seraya menepuk Eran yang kayak masih belum bisa bereaksi.
"Keren memang kawan kita, nggak sia-sia kamu jadi pemimpin, Er, pantas memang." 💛
"Nggak perlu kalian berlebihan, aku cuma jalani fungsiku sebagai mahasiswa." Eran down to earth menghadapi pujian yang hilir-mudik menghampirinya.
"Er, yang dibilang Rana itu benar, kam aja yang pina minder." Juna ikut bicara saking Eran yang terus merendah.
"Ayolah, demo kemarin sedikit banyak ngefek jua di hasil vote. Kam kenapa jadi kayak depresi gini? Kam udah berbuat, melakukan, dan berhasil pulang, apa lagi yang kurang?" 💙
"By the way, jadi tuh HP gimana?" Elang banting topik biar Eran nggak semakin tertekan.
"Gimana? Mau nggak mau ditahan dulu, sampai lensanya normal." 💛
"Terus komunikasi ki?" Rein cemas dengan situasi Rana ke depan.
"Tenang, HP-HP lamaku masih banyak di rumah, bisa kupakai sementara." jelas Rana walau terkesan angkuh menjawab pertanyaan Rein.
"Ya udah, yuk balik! Mau Maghrib, kasihan Genduk, nanti ketelatan." 💚
"Ededeh, makasih ji perhatiannya." Rein tampak tersipu oleh atensi kecil Elang itu.
Riders pun keluar, menuju mobil El Pirang di area parkir timur konter.
***
*) Distorsi (Ahmad Band, 1998)
ns216.73.216.69da2


