Pangeran sedang bersiap di salah satu ruangan kampus. Pagi itu dirinya memang punya kuliah wajib, dan harus tiba lebih awal agar dibolehkan dosennya mengikuti kelas.
Notebook mini pun jadi yang pertama dibuka cowok berkacamata itu. Ia lalu meng-klik folder bertuliskan 'Pak Silaban', dan mengulik sejumlah file di situ kayak dilakukan seisi kelas.
"Pagi semua." semua mata serta-merta beralih saat seorang bapak buncit masuk. Kayaknya sih, ini dosen yang bernama Pak Silaban itu.
"Apa kabar kalian?"
"Baik, Pak." kelas koor menyahut sapa sang dosen.
Pak Silaban pun membuka laptop, tapi tau-tau...
"Eh, kau yang di pojok!" nggak ada angin nggak ada hujan, Julius yang duduk di samping Eran tau-tau menerima telunjuk dosen berperawakan pendek tersebut.
"Saya nggak suka lihat muka kau. Keluar!"
"S-saya, Pak?"
"Iya, kau." suara Pak Silaban malah makin tinggi. "Cepat keluar!"
Sejenak Julius menatap Eran, tapi tuh anak cuma geleng-geleng dan menyuruh Julius patuh.
"Kau mau keluar sendiri, atau saya yang seret? Cepat!" Julius terpaksa keluar oleh ultimatum Pak Silaban.
"Oke, menurut kalian, tindakan tadi benar atau salah?" sepeninggal Julius, Pak Silaban bicara lagi walau kini nadanya lebih halus.
Kelas sesaat bisu, sebelum akhirnya...
"Jelas salah lah, Pak, alasan apa Bapak keluarin dia?" Pangeran angkat suara membela nasib sial temannya itu.
"Lalu kenapa kau, dan teman-teman kau, nggak mencegah saya tadi?" bukannya terpantik, Pak Silaban Justru makin tenang menghadapi darah berapi-api Eran.
"Soalnya..."
"Soalnya saya dosen? Lebih tua dari kalian?" Pak Silaban skak mat seketika hingga bikin Eran mati gaya.
"Itu kenapa negara susah kali maju. Kalian generasi muda, selalu takut menindak hal yang salah."
Dada Eran terantuk mendengar kalimat Pak Silaban. Dalam hati ia akui, ucapan itu memang penuh daging dan berbobot buat panduannya di masa depan.
"Ini pelajaran pembuka, sekarang, ubah mindset kalian, berani menyuarakan kebenaran! Katakan hitam ke yang hitam, putih ke yang putih! Jangan lihat siapa yang buat, lihat apa yang dia buat."
Pak Silaban pun ke meja usai berceramah, diiringi dehem saat Beliau hendak mulai mengajar.
"Ya udah, panggil lagi kawan kau itu! Suruh dia balik."
======
Pak Bayang dan anak-anaknya kumpul bareng di ruang utama Istana Kegelapan. Mata mereka terlihat lancip, seolah tengah diskusi hal penting soal masa depan organisasi.
"Ayah yakin bakal berhasil?" tanya Aji begitu Pak Bayang rapi berbicara.
"Sangat, kota lagi panas jelang pilkada. Ambisi petahana bisa kita mainkan untuk memuluskan rencana." jawab Pak Bayang sambil berpaling ke portal cahaya mereka. "Lihat itu!"
"Tumpukan beras dan minyak itu, bukti nafsunya pada kekuasaan. Kita sama-sama tau anaknya ikut pemilihan, dan dia sangat ingin memenangkan walau dengan cara apapun." 😈
"Terus hubungan dengan rencana Ayah?" 👠
"Seperti Ayah bilang, kita mainkan ambisinya." Pak Bayang lugas menjawab pertanyaan Cindi itu.
"Di satu sisi, kita kenyangi ego tuh walkot, dan sisi lain, kita bakar warga biar chaos, dan warga akan hilang simpati ke dia." 😈
"Jadi mau Ayah, kita adu domba mereka?" Cantik akhirnya paham yang diinginkan Pak Bayang.
"Bukan kalian aja, Ayah juga akan ikut dari balik layar"' Pak Bayang ternyata belum tuntas bicara.
"Nona Kecil, kamu dan Cindi bagi sembako ke tim sukses si Walikota!" Pak Bayang gercep bagi tugas ke anak-anaknya.
"Sementara kamu, Aji, bikin monster yang punya daya ledak, kita jadiin itu kejutan." 😈
"Terus Ayah?" 🌹
"Ayah akan datang ke tuh walikota, kasih dukungan, dan kalau memungkinkan, nego biar bisnis kita lebih lancar." seringai horor mengakhiri semua ucap Pak Bayang itu.
======
"Dor..." satu tepukan sukses bikin Eran lompat dari kursi.
"Bikin kaget aja kalian, untung jantungku kuat." ❤️
"Kam pikirin apa? Pina khusyu melamun." timpal Juna, sambil bareng Rein, Elang, serta Rana, duduk mengelilingi Pangeran.
"Aku lagi merenung, pikir nasehat dosenku, Manteman, memang udah seminggu, tapi kok terbayang terus kurasa." ❤️
'Nasehat soal?' Rana penasaran dengan jawaban Eran.
Si klimis pun mengulang yang ia dengar tempo hari, dan menerangkan lebih jauh ke rekan-rekan Riders-nya itu.
"Betul aja, Er, dosenmu, aku juga kadang gemas tiap lihat anak sekarang, lebih suka diam sama ketidakadilan." Rein jadi suara pertama yang mendukung.
"Sebab mental kompeni masih dipiara, Nduk, itu sebabnya." Elang merespon lugas resah hati El Hijab.
"Kayaknya kita nggak boleh mungkir deh, budaya feodal masih kuat di negara ini. Masih banyak orang silau sama nama, dan makin parah karena banyak juga yang normalisasi." 💚
'Nggak mungkinlah, ini kan yang maju anaknya walikota? Kita tau siapa mereka, leluhur mereka Kyai lho, pejuang juga, nggak mungkin kita pakai cara-cara kotor. Jangan gampang dimakan HOAX."
"Tuh, baru juga diomongin." Elang dengan cepat menyambar sekilas wawancara itu.
"Alamak, hari gini jualan silsilah, terlalu." Eran geleng-geleng mendengar statement si relawan tadi.
"Oh ya, Er, omong-omong soal pilkada, circle aktivismu jadi demo akbar besok?' tau-tau Rana banting topik dan bertanya rencana unjuk rasa Eran.
"Jadilah, kita udah rencanakan dari lama, masa batal gitu aja?" ❤️
"Santai kali, kan cuma tanya." 💛
"Tapi kayaknya, aku mau ikutan deh, pas hari H nanti." Rein mencuat di depan seluruh Riders.
"Kam serius?" 💙
"Yo wis, aku temani ya?" 💚
"Udah, semua bisa ikut, nggak ada yang larang." Eran pun menengahi supaya nongkrong mereka tetap pada jalur.
"Makin banyak yang ikut, makin keras suara kita, makin keras, aku yakin bakal terdengar sama mereka." ❤️
======
Riders pulang masing-masing habis nongkrong. Kecuali Juna dan Rana, yang udah janjian mau belanja buku di book store langganan Rana.
Keduanya pun balik dengan masing-masing dua komik di tangan. Mereka pun boncengan menuju rumah El Pirang, tapi di tengah jalan...
"Jun, Jun, menepi dulu deh!" 💛
"Kenapa lagi?" lagi-lagi, Juna dibikin heran sama kerandoman Rana.
"Tuh!" bisik Rana nggak lama usai Juna menuruti maunya.
"Ini sih bakal viral kalau aku upload di Tiktok atau IG." 💛
"Rana, kam nih apa-apaan?" Juna kontan panik saat tau yang direkam El Pirang. "Ngapain kam urus itu? Nggak usah cari penyakit lah, musim politik gini."
"Siapa cari penyakit, Jun? Justru kayak gini tuh fakta, harus disebarluaskan. Kamu lihat atribut yang bagi-bagi sembako itu kan? Baru aja korlap mereka sok bicara silsilah dan sopan santun tadi." Rana pun menjelaskan dasar yang bikin dia agak nekat.
"Kamu nggak marah dibohongin gitu? Aku sih jijik banget." 💛
Juna pun nyerah, dan membiarkan Rana semau gue di balik persembunyian mereka.
"Ini juga bisa kita kirimin Eran, Jun, jadi pas hari H nanti..." belum sempat Rana tuntas, sebersit sinar tiba-tiba muncul menerpa lensa kamera gawai tuh anak.
Juna dan Rana kontan sadar mereka lagi diperhatikan orang. Mereka pun keliling mata, dan kemudian...
"Mau apa kalian?" 🌹
El Cepak dan El Pirang seketika langkah seribu melihat Cindi dan Cantik ada di atas mereka. Sialnya itu jadi blunder, lantaran oknum yang bagi-bagi sembako, ternyata melihat dan mengejar keduanya di sela sempit tuh gang senggol.
"Kam sok jadi detektif segala sih, diburu banyak orang kan kita?" Juna nggak bisa membendung kecewa di tengah pelarian.
"Paling nggak kita tau dalangnya, Jun, ini juga bagus untuk yang lain." dasar cewek, Rana tetap nggak mau kalah.
Pelarian pun berujung di gang buntu usai 10 menit berlalu. Para pengejar pun buka topeng, dan menunjukkan wujud sebagai pasukan kuyuk binaan Cantik.
Pergulatan nggak terelakkan, tapi seperti biasa, muka-muka anjing itu kembali takluk di kaki dua murid Mahaguru Dewa ini.
***
ns216.73.216.69da2


