Satu jam diikat infus, kondisi Elang pelan-pelan membaik. Suhu tubuhnya berangsur turun, walau belum menyentuh angka ideal buat izin pulang saat itu juga.
"Piye iki? nggak diurusin, mentang-mentang bayar pakai subsidi." entah sebal atau bosan, Elang mengomel mendapati ia dianggurin dalam waktu lama.
Elang pun gabut memandangi UGD, tapi saat matanya bertemu selang infus...
"Gitu aja kali ya?" sambil berpicing, Elang terlihat dapat ide untuk tuh selang.
Tuh cowok lantas celingukan, dan dalam satu kali tiup...
"Gini kan enak?" Elang nyengir melihat efek anginnya bekerja sempurna.
Elang pun mengamati sambil pura-pura gosok bekas infusnya. Dan kala peluang hadir di depan mata...
"Ya Allah, pasien kabur." jeritan salah satu perawat auto jadi trigger bagi paramedis yang lagi bertugas.
Mereka pun kompak mencegat Elang, tapi meski dibantu security dari luar, El Gondrong tetap bisa lolos dan bahkan meledek saking gesitnya dia berlari.
"Ini kan...?" di markas utama, Mahaguru terlihat tegang sambil memegang lembar kertas di tangan.
"Bahaya nih, harus cepat kutindak." 🧝
Sang mentor pun rentang tangan ke portal, dan dampaknya...
"Hiyaaaa, hiyaaaaa..." di bukit batas kota, Riders telah adu mekanik dengan seluruh pasukan kuyuk. Namun saat kemenangan hampir 90%...
"Kenapa nih? Aaaakh..." hal janggal tiba-tiba terjadi, melenyapkan Juna dan Rana dari tempat favorit Pak Bayang itu.
Rein, Eran, dan Dewi, jelas heran melihat situasi. Sementara di sisi lawan, walau juga heran, Cindi dan Cantik tersenyum bareng mendapati situasi menguntungkan lebih mereka.
"Rejeki nomplok nih." 🌹
"Lynx, tau harus apa?" Cindi menyeringai, dan beralih pada monster kucing salju di depan mata para Riders.
Mereka semua nggak tau, jika Juna dan Rana sebenarnya hanya ditarik pulang ke markas sebentar.
"Mahaguru apa-apaan sih? Kita lagi seru tadi." bisa ditebak, Rana langsung ngomel begitu tau mereka pindah tempat.
"Ada yang lebih penting, Nak, kalian harus cari Elang! Aku khawatir sama kondisinya." 🧝
"Duh, Mahaguru, nggak usah lebay deh, Elang baik-baik aja di sana. Toh kita juga..." 💛
"Kamu yakin?" tanpa basa-basi, El Mentor mengerem mulut bawel El Pirang.
"Kalian perlu tau fenomena turbulensi." 🧝
"Turbulensi?" Juna penasaran dengan arah omongan Mahaguru.
"Ya, gejala yang akan bikin Elang sangat nggak terkendali. Hanya pemilik unsur angin yang kena gejala ini. Dia mengalami itu jika panas tubuhnya di kondisi nggak stabil. Bisa karena sakit, atau di kondisi sangat marah."
Juna dan Rana saling tatap mendengar itu.
"Turbulensi Elang mungkin bikin kalian menang cepat. Tapi jika dia nggak kuat, resikonya dia akan koma, bahkan boleh jadi meninggal." 🧝
Juna dan terutama Rana kontan kaget dengar sambungan El Mentor. Mereka berdua akhirnya tau, ada resiko sangat tinggi di balik kesendirian Elang saat ini.
"Bergegaslah ke rumah sakit! Jangan sampai Elang sempat transformasi." 🧝
======
Nggak pakai lama, Juna dan Rana bareng menuju tempat Elang dirawat. Tapi setibanya di sana, mereka justru terkejut oleh laporan perawat yang bilang Elang kabur meninggalkan rumah sakit.
Mereka pun ganti haluan, dan lebih jauh melacak keberadaan El Gondrong saat ini. Namun hingga perempatan depan rumah sakit, batang hidung Elang tetap nggak kelihatan dan bikin Rana capek dengan yang dia alami seharian.
"Sakit-sakit masih aja repotin, an***g." umpat Kirana sambil bangkit usai melepas penat.
"Kam bisa diam dikit nggak? Yang kita perlu sekarang ketenangan, lain omelan." Arjuna yang dari tadi diam, akhirnya nggak tahan dan menegur El Pirang blak-blakan.
"Cesssss..." korek El Cepak tiba-tiba bunyi saat mereka lanjut jalan. "Iya, Mahaguru."
"Balik ke bukit angker! Kita telat." 🧝
"Hup, hiyaa..." walau hanya bertiga, Eran, Rein, serta Dewi tetap dominan dan bikin lawan mereka tersungkur.
"Pilihan di tangan kalian, kita habisi, atau sudahi trik murahan ini." gertak Dewi, usai si monster jatuh di titik berdirinya.
"Hihihi, bocil polos, seberapa kuat kamu?" Cantik kasih Cindi kode, yang ditangkap sempurna oleh cewek berparas dewasa itu.
Deru badai tiba-tiba hadir seiring rambut yang mulai Cindi kibas. Angin tanpa henti berputar, menyerang para Riders yang kelabakan oleh tornado di depan mereka.
"Cuma segitu?" Cantik mengejek lagi di tengah kalang kabut para Riders.
Situasi serta-merta berbalik, dan sang monster leluasa menghajar Riders yang masih tersisa.
Duar, DUAAAAAR!!!' baru mendominasi sebentar, serangan lynx tau-tau terhenti oleh sinar asing dari langit.
"Apa itu?" Cindi yang heran seketika stop, dan melanglang angkasa bareng Cantik.
Misteri terjawab dengan kehadiran Elang yang telah berubah ke mode hijau. namun lain dari biasanya, tuh anak tampak lebih dingin dan diliputi kabut dari kepala hingga ujung kaki.
"Elang, kau..." penasaran Eran terpotong oleh dua pekik dari kejauhan.
"MANTEMAN, JANGAAAAAN!!!" 💛
"IYAAAA, ITU BUKAN ELANG YANG KITA KENAL." 💙
Eran, Rein, dan Dewi auto menoleh. Tapi hanya sekian detik, gema burung elang tiba-tiba terdengar diiringi gestur si hijau yang seperti telah siap menerkam.
Ketakutan El Mentor betul-betul terbukti. Tanpa belas kasih, Elang membantai habis kucing salju di depannya itu.
Cindi yang melihat gelagat jelek auto mengibas ulang rambutnya. Namun badai yang Riders alami, hanya dirasa sepoi oleh mode turbulensi Elang kini.
Cabik demi cabik Elang menyayat kreatur itu. Pertarungan pun ketemu klimaks, kala si hijau merobek leher monster pakai lima cakar di tangannya.
"Aaaaah, lagi-lagi." Cantik dongkol lagi, dan segera membawa Cindi minggat dari tempat tersebut.
Elang sendiri terjerembab usai menghabisi sang monster.
"ELAAAAAAANG!!!" 💜❤️🤍💙💛
"Lang, bangun, jangan pergi, kita semua sayang kamu." Rana paling mewek melihat kondisi cowok yang sempat ia umpat.
Elang sedikit batuk, tapi kemudian...
"Kalian ngapain? Nggak habisi monster?" 💚
Riders seketika melongo. "Haaaa?"
======
Di luar dugaan, kondisi Elang membaik pasca turbulensi. El Gondrong pun mulai beraktivitas normal, walau masih belum terlalu berat dan hanya di sekitar rumah yang ia kini tempati.
Teman-teman Elang sendiri intens wara-wiri memastikan keadaan tuh cowok. Termasuk para Riders, yang siang itu ramai-ramai bawa makanan untuk lunch bareng El Gondrong.
"Kam serius udah baikan?" tanya Juna di sela persiapan makan siang mereka.
"Serius, Jun, nggak lihat apa, aku udah jalan enteng gini?" 💚
"Bukan karena takut disuntik kan?" Rein malah mengingatkan situasi ketika Elang masih parah.
"Jangan mulai deh." 💚
"Lagian kau ada-ada aja sih, segala kabur dari UGD. Untung aja mereka nggak jadiin kasus sama kau." ❤️
"Habis gimana, Er, sejam dicuekin, siapa juga jengkel digituin." tanpa bersembunyi, Elang buka ulang pengalamannya demi meluruskan omongan Eran.
Obrolan pun terjeda seiring santap siang para Riders. Dan entah karena rasa atau yang lain, Elang terlihat antusias hingga menambah porsi sampai dua kali.
"By the way, Kak Elang dapat kekuatan kemarin dari mana sih?" Dewi buka lagi obrolan pas perut mereka udah kenyang.
"Kekuatan apa sih, Dew? Kakak nggak ngerti." 💚
"Bah, nggak perlu kau merendah, jelas-jelas kemarin kau makan sendirian tuh monster. Semua kita lihat." Pangeran pun membantu agar Elang paham pertanyaan Dewi.
"Bukannya kalian yang gelud kemarin? Aku aja heran, tau-tau udah di sana." Elang kayaknya bingung beneran sama ucapan rekan-rekannya itu.
"Udah, nggak usah terlalu dipanjangin. Mungkin itu sisa penyakit, makanya Elang lupa." Juna melerai, merasa mereka belum perlu tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Omong-omong ke mana kah ini Rana? Habis makan main hilang aja." rupanya Rein sadar Rana lenyap dari pandangan.
"Tau, tadi sih izin ke toilet, tapi..." jawaban Elang dipotong jerit El Pirang dari dalam. "KYAAAAAAA!!!"
Riders pun berbondong ke belakang, dan mendapati Rana jongkok di ambang pintu dengan mimik pucat sampai ke tulang.
"Ono opo tho, Ran?" 💚
"Itu..." sambil gemetar, Rana menunjuk ke dalam seakan ketemu hal menakutkan di sana.
Riders pun melongok ke dalam, dan ikut kaget seketika mendapati benda mirip ular nangkring dekat closet.
"Oalah," saat yang lain ketar-ketir, Elang justru santai memungut objek panjang hitam itu. "kamu di sini tho, pantas kucari di rak nggak ada."
"Bah, apa pula itu? Bikin panik orang aja." Eran jelas ngamuk melihat Elang santai sama tuh barang.
"Oh, teman tidurku nih, namanya Devi, dari kecil susah tidur aku kalau nggak ada dia." tanggap Elang, sembari melingkarkan tuh benda ke leher dan sebagian dadanya.
"Mau kenalan?" tawaran Elang seketika direspon keplak Rein yang selalu geli lihat hewan melata.
"Ededeh, apa-apa ki nih?" 💜
"Tenang, Nduk, cuma mainan, nih lihat! Lucu kan?" Elang makin jadi, dan gerakin tuh 'ular' di depan semua kawan Riders-nya.
"Apanya yang lucu? Mending segera kau bawa ke kamar kau! Sebelum kita semua serangan jantung di sini." ❤️
Elang hanya cengar-cengir, dan berlalu diiringi Riders yang menggeleng bareng.
***
ns216.73.216.69da2


