Kota lagi dilanda pancaroba. Berbulan-bulan gelut sama kemarau, air hujan pun mulai unjuk gigi dan turun ke bumi dalam jumlah besar.
Perubahan ini tentu bikin banyak tubuh jadi drop. Salah satunya Elang, yang udah dua hari harus absen kuliah akibat demam tinggi usai kemarin pulang kehujanan.
"Ededeh, 39.7, ki yakin nggak mau dibawa ke rumah sakit ini?" Rein sampai geleng-geleng melihat termometer di mulut Elang. Selain El Hijab, Eran dan Rana juga turut menemani sambil memastikan kondisi fisik El Gondrong.
"Emoh, di sini aja, takut suntik." 💚
"Bah, macam bocil aja kau ini, kapan kau sembuh kalau gitu caranya?" Eran yang jengkel jadi tarik urat merespon penolakan Elang barusan.
"Tau nih anak, dibantuin bukannya terima kasih malah drama." Rana pun ikut ngomel saking kesal pada kemanjaan Elang.
"Kamu tuh cuma demam, Lang, bukan kena air keras, cengeng amat jadi laki." 💛
"Tapi ini menyiksa, Ran, rasanya nggak kuat, pengin..." 💚
"Apa ki omong tuh? Jangan ki melantur kodong." Rein buru-buru menyekap Elang biar cowok itu nggak sembarangan bicara.
Kehebohan baru terhenti saat HP Elang berdering. Eran yang ada dekat tuh ponsel, serta-merta gerak dan melihat penelepon di seberang sana.
"Papi kau VC nih." ❤️
Elang pun mengizinkan Eran menekan tombol 'answer', namun kemudian...
"RUNGOKNO YO, LE, koen ngotot nggak mau ke rumah sakit, Papi bel sisan Pak Zainal tukang gali kubur itu, ben awake dewe sing ngurus."
Video call sesingkat itu, tapi mampu bikin Elang shock lantaran Papinya ngomong sambil melotot.
"Kubilang apa kan?" Eran langsung alih pandang usai memberi sarkas buat Elang.
"Udahlah, kalian salin bajunya Elang! Biar aku yang telepon ambulans." ❤️
======
Cindi hari keramas siang itu. Gerah plus gatal di kepalanya, jadi alasan yang cukup untuk basah-basahan di iklim sedingin ini.
Cindi lantas keluar usai rambutnya rapi. Namun pas nongol di ruang utama, tuh cewek dibuat heran oleh tingkah Cantik dan Aji yang melihat langit tanpa alasan pasti.
"Kalian ngapain sih?" 👠
"Eh, kamu," Cantik yang berdiri di sisi luar, seketika menoleh menanggapi tanya kecil Cindi itu. "nggak, kita bingung aja kok ada gluduk cerah-cerah gini."
"Masa sih?" Cindi auto kepo, dan turut menatap langit seperti dua saudaranya ini.
"Mana? Nggak ada apa-apa, salah dengar kali." 👠
"Demi Tuhan, Mbak, Aji aja kaget pas dengar, untung jantung Aji kuat, biasa nge-gym." Aji memperkuat kesaksian yang tadi dikasih Cantik.
"Udahlah, mungkin cuma sepintas, gejala alam." Cindi pun beranjak dan masuk lagi ke ruang utama.
"Yuk balik!" 👠
"Gluduk, gluduk..." tepat Cindi berbalik, suara petir bergaung ulang mengagetkan orang-orang di sekitar pintu.
"Tuh, Cin, kamu dengar sendiri kan?" 🌹
"Iya ya, tapi kok bisa?" Cindi mulai reken semua omongan yang masuk kupingnya.
"Coba Mbak, balik badan lagi!" Imaji kayaknya melihat hal yang nggak dilihat dua gadis itu.
"Apa maksudmu?" tanya Cantik, namun Aji nggak gubris dan memperkuat pinta lewat anggukan.
"Gluduk, gluduk..."
"Ternyata benar, jangan-jangan..." 🥊
======
"Jadi guntur tadi, berasal dari rambut Cindi?" Pak Bayang tenang menanggapi laporan Imaji.
"Iya, Yah, Aji lihat sendiri." Aji sampai angkat dua jari saking ingin meyakinkan Pak Bayang.
Pak Bayang mengangguk, dan jalan beberapa langkah menuju pintu. "Cindi..."
"Coba praktekkan!" seru Pak Bayang, yang tentu Cindi balas pakai kibas rambut ke belakang.
"Gluduk, gluduk, gluduk..."
"Benar juga." Pak Bayang reflek melihat langit saat guntur mampir di telinganya.
"Tuh kan, Aji..." Aji yang hendak berkoar, serta-merta mingkem oleh jari telunjuk Pak Bayang.
"Ternyata kamu punya kekuatan, Cindi, ini bagus untuk kalahin bocil-bocilnya Dewa." 😈
"Maksud Ayah?" justru Cantik yang kini bingung.
"Kita akan sabotase total cuaca. Kita bikin badai sekuat mungkin di kota, pastiin nggak ada satu pun yang bisa berhentiin tuh badai. Bahkan bocil-bocilnya Dewa sekalipun." 😈
"Ayah yakin sama tuh ide?" Aji agak ragu dengan visi Pak Bayang.
"Itu rencana gila, Yah, Mbak Cindi nggak bakal sanggup sendirian." 🥊
"Jelas Cindi nggak bakal sendiri, Aji, kamu kasihlah monster buat dia!" Pak Bayang terkekeh dengan argumen polos putranya.
"Monster yang daya tahannya bagus di segala macam cuaca." 😈
"Huk, uhuk..." di rumah sakit, Elang masih terkapar di atas tandu yang mengangkut dirinya. Suhu badannya juga masih tinggi, hingga terpaksa harus dibopong ketika pindah tempat ke ranjang rawat UGD.
"Dok, nggak disuntik kan ini?" racau Elang yang kontan bikin kawan-kawannya pada elus dada.
"Mulai lagi nih anak." 💛
"Nggak, Mas, aman," Elang lega dengan jawaban dokter yang merawatnya.
"Tapi sementara, Masnya diinfus dulu ya! Biar badan Mas nggak makin dehidrasi."
Rein, Eran, dan Rana, udah menebak Elang bakal tantrum. Mereka pun buru-buru ambil tindakan, dan mencekal El Gondrong sebelum bikin kisruh di sekitar kasur rawatnya.
"Jangan, Dok, please, infusnya biar saya minum sini." 💚
"Ededeh, apalagi ki? Segala infus mau diminum. Ki pikir es jeruk kah itu?" Rein yang memegangi tangan kanan Elang, jelas terperangah dengan nego ngawur rekan gondrongnya.
"Udah Dok, nggak usah banyak cingkune', langsung aja!" Eran pun menimpal, sambil terus mencekal dari sekat ranjang rawat.
Sang dokter mengarahkan perawatnya, dan walau dihiasi gimik teriak, akhirnya si infus mampir juga menelusup celah area pembuluh darah Elang.
"Kamu gimana sih? Bikin malu aja teriak-teriak gitu." omel Rana begitu nakes pergi serentak dari tuh bilik.
"Untung mereka nggak tau siapa kita, coba kalau tau." 💛
'Ededeh, jangan ki marah-marah, Rana, kesal ya kesal, tapi lihat situasi." Rein kasihan melihat Elang jadi tumbal emosi Rana.
"Cesss..." korek Eran tiba-tiba bunyi dari balik kantong celananya.
"Manteman..." El Klimis minta para cewek rapat, sebelum benar-benar menanggapi panggilan mentor mereka tersebut.
"Juna sama Dewi udah di sini, segera datang! Ada misi harus kita selesaikan." 🧝
"Tapi, Mahaguru..." belum sempat Eran jawab, Mahaguru keburu lenyap dari benda berukuran mini itu.
"Gimana dong?" Rana makin senewen dengan instruksi dadakan Mahaguru Dewa.
"Lang, kau bisa kan ditinggal sendiri?" ❤️
"Jangan, Manteman, aku ikut ya?" Elang ngeyel walau jelas terlihat masih kurang fit.
"Ededeh, jangan ki macam-macam, lihat kondisi, duduk aja susah, mau lagi ikut kita." 💜
Pangeran yang udah di puncak jengkel, seketika mengajak para gadis bergegas meninggalkan El Gondrong.
"Manteman, administrasinya gimana ini?" 💚
======
"Elang dirawat ya?" tanya Mahaguru usai menerima laporan para Riders. Seperti biasa, Rana jubir yang menyampaikan tuh kabar.
El Mentor menghela nafas sejenak, dan minum air kendinya sebelum melanjutkan lagi pembicaraan.
"Kita hilang kekuatan sampai 50%" ucap Mahaguru, yang kontan bikin Riders pada melotot berjama'ah.
"Segitu ngaruh ya, Kek?" 🤍
"Ya, misi ini sangat perlu dia." Mahaguru pun menatap portal usai menjawab tanya El Kuncir.
"Lihat itu!" 🧝
Para Riders seketika terpusat ke portal milik El Mentor.
"Pancaroba ini bukan kebetulan. Mereka desain semua sedemikian rupa." 🧝
"Udah kutebak, pasti geng busuk itu lagi. Keterlaluan." Eran auto mengutuk melihat citra yang ditangkap portal.
"Tapi buat apa mereka gitu?" 💜
"Aku juga belum tau, Rein, tapi mungkin mereka merencanakan semacam teror sosial besar-besaran."
"Teror sosial?" Riders koor merespon penjelasan mentor mereka.
"Iya, sabotase cuaca mereka pakai untuk mainin warga, fisik maupun psikis. Mereka paksa warga survive, tapi sisi lain, mereka nikmati juga emosi warga di kondisi ini." 🧝
Nggak satupun terlepas dari Mahaguru. Semua terus berjaga dengan seksama.
"Tanpa Elang bukan masalah, segera ke kota! Sudahi krisis di sana." 🧝
Eran maju satu langkah, dan memimpin transformasi sebelum menjalani misi kali ini.
***
ns216.73.216.69da2


