Eran dan Rein jadi yang pertama berjalan. Berbekal jaket serta safety riding lainnya, mereka berdua berboncengan kayak driver ojol dan customer jemputannya.
El Hijab sendiri sebetulnya masih tegang efek trauma kemarin. Tapi keikutsertaan El Klimis, bikin tuh cewek sedikit tenang dan lebih fokus di tugas mereka kini.
"Aimak, ini cocoknya disebut pemakaman, Rein, bukan perumahan." Eran kaget sama suasana gelap yang mereka jumpa.
"Kubilang apa tho?" sahut Rein sembari merapat ke punggung tegap Eran.
Mereka pun kembali senyap, tapi di dekat tikungan...
"Makasih, Mbak, dapat satu dus, pesta-pesta lagi kita."
"Mereka yang ganggu kau?" tanya Eran, yang serta-merta diangguk El Hijab tanpa suara.
Eran dan Rein pun memantau dari jauh, hingga menangkap nggak sengaja sosok yang selama ini mereka kenal.
"Betul kan?" bisik Eran, seraya balik badan kembali menghadap Rein di sebelahnya.
"Kau shareloc yang lain!" ❤️
Eran menarik nafas sejenak, dan lantas...
"Ededeh, mau mana ki?" 💜
"Ehem..." Eran serta-merta mengalihkan perhatian orang-orang sekitar situ.
"Udah kutebak, pasti kau di belakang ini." ❤️
"Siapa kamu?" lelaki yang kemarin disepak Rein, seketika menyentak guna menciutkan Eran.
"Ededeh, apa-apaan ma ki?" Rein yang khawatir terpaksa menyusul usai gagal menghentikan El Klimis.
"Kalian kenapa? Aku cuma bagi-bagi berkat lho, salahnya di mana? Toh mereka kayaknya suka." 🌹
"Ededeh, berkat apa mi? Barang haram ki anggap berkat? Darimana rumusnya?" 💜
"Sayangnya mereka salah pilih korban, Nona, bodat-bodat kau ini, nggak sepintar itu bedain mana yang bisa diganggu mana nggak." Eran ikut mencecar, yang ternyata menggesek harga diri para jamet di sekitar Cantik.
"Lima dus lagi, Sayang, 5 dus gratis asal kalian tangkap dua cecunguk itu." 🌹
Janji manis Cantik terang menyulut dada para berangasan itu. Tapi baru selangkah, dua motor lain melesat dan bikin mereka terjun mencium aspal.
"Nggak semudah itu, Fergoso." celetuk Elang, nggak lama usai menghampiri Eran dan Rein.
Riders pun mengambil korek saktinya, dan transformasi sebelum benar-benar berduel.
======
Duel sengit memecah bisu malam. Riders berjumlah enam orang, menghadapi tujuh lelaki tanggung plus Cantik selaku back up mereka.
Tarung relatif seimbang dengan semua Riders kebagian lawan. Pangeran bahkan meladeni dua orang, sambil memantau rekan-rekannya yang juga asyik one on one di sudut lain.
Cantik sendiri memantau dari pendopo, namun saat Riders mulai unjuk taring...
"Gawat nih..." 🌹
Cantik mengambil dua botol di dekatnya, dan langsung menyiram random tepat ke wajah para Riders.
"Akh..." Eran dan Rana sangat apes kena alkohol dari Cantik itu.
Momen itu jadi titik balik, lantaran mereka kini tercekal oleh para lelaki kasar tersebut.
"Kalian pikir, mentang-mentang nggak ada monster, terus gampang kalahin aku gitu?" seperti biasa, Cantik jumawa melihat para Riders nggak berdaya.
"Kalian lupa, miras jauh lebih bahaya dari monster manapun." 🌹
Semua Riders menatap Cantik, kecuali Rein yang tampak lemas di tangan cowok pencekalnya.
"Bawa mereka! Aku punya tempat bagus buat pesta." 🌹
Semua Riders dipaksa jalan, tapi belum semeter kaki mereka beranjak...
"Aaaakh, hiyaaaa..." Rein mendadak brutal, dan melempar cowok itu hanya dalam satu kali dorongan. Tuh cewek ternyata hanya pura-pura, demi konsentrasi penuh supaya roh badaknya bisa segera bangkit.
Berubahnya angin jelas bikin Cantik tercengang, tapi di sisi lain, Rein keburu menyeruduk saat dia hendak mengulang taktiknya.
"Satu hal juga ki lupa, orang mabuk cuma perlu tidur biar waras." Rein balik omongan Cantik, sesaat usai tuh gadis tersungkur di atas aspal.
"Tunggu balasanku." Cantik menahan nyeri, dan hilang di balik sinar redup malam jalanan.
Riders pun balik normal, namun tiba-tiba...
"Wiuuw, wiiiiiii..."
"Kalian di sini juga rupanya." walau heran, Bu Rianti terlihat senang sama keberadaan Riders di sana.
"Iya, Budhe, olahraga malam ternyata seru ya." 💚
"Eh, tapi omong-omong, kenapa muka kau itu, Cok? Sama kau juga, Butet pirang." Bu Rianti heran lagi, usai senternya menyorot muka kedua korban penyiraman Cantik.
"Luka kecil aja, Nantulang, namanya anak muda." walau meninggalkan sakit, Eran tampak nggak ngefek dan justru jawab sambil cengengesan.
"Kau ini." naluri keibuan sang komandan keluar, dan bikin Beliau gemas dengan sikap El Klimis.
"Lebih baik semua ikut! Biar kalian berdua dikasih treatment sikit di kantor, ya?"
Riders pun saling tatap, tapi kemudian mengikuti arahan wanita komandan intel tersebut.
======
Para Riders serentak mendatangi kantor Sektor Utara. Mereka hadir atas undangan Bu Rianti, di lahan belakang area sekuritas tingkat tinggi tersebut.
"Jadi gitu, anak-anak, bukan berarti kita tunggu viral atau hepeng kayak omongan selama ini, semua ada prosesnya."
Riders menyimak yang disampaikan Bu Rianti.
"Apalagi sekarang, miras udah kayak kanker, tentu bukan gampang membasmi itu, perlu taktik biar semua tuntas."
"Benar juga tantemu ini, Ran, kadang kita terlalu fokus kritisi petugas, sampai lupa sebagai sipil pun, kita berkewajiban bantu beresin penyakit sosial." 💜
"Kenapa aku pula? Urusannya apa?" Eran heran melihat El Hijab tiba-tiba meliriknya.
"Kak Eran lupa? Seminggu lalu kan, Kakak ditilang gara-gara lupa pakai helm?" DUER, seisi lapang guncang oleh celetukan Dewi.
"Kau kena razia besar itu juga?"
Eran nggak menjawab, tapi salting-nya kasih validasi atas celetukan Dewi.
"Kau ini." tanpa ampun, jemari Bu Rianti mampir ke cuping kuping El Klimis.
"Berapa kali Nantulang bilang, berkendara tuh yang safety, kau anak hukum kan? Masa nggak tau aturan sedasar itu?"
"I-ya, Nantulang, ampun, sakit." jerit Eran heboh, direspon gelak olwh kawan-kawan Riders lainnya.
***
ns216.73.216.69da2


