Alergi Aji belum pulih hingga hari ini. Ruam di tubuhnya masih menempel, hingga dia sulit aktivitas akibat gatal yang mendera sana-sini.
Cindi yang merasa salah pun menawari Aji untuk dirawat olehnya. Keadaan yang tentu bikin Pak Bayang puyeng, lantaran misinya terbengkalai usai hanya Cantik yang betul-betul free di samping Beliau.
"Kamu yakin, Nona Kecil?" 😈
"Banget, Yah, Cantik tau betul karakter anak muda sekarang. Mereka bakal nurut kalau kita kasih sesuatu." Cantik optimis memberitau rencananya ke Pak Bayang.
"Mau kamu kasih apa mereka?" Cantik senyum, dan memilih berbisik sebagai jalan penjelasan pada sang Ayah.
"Haaaaa?" Pak Bayang terbelalak begitu Cantik tuntas berbisik.
"Dapat ide dari mana kamu?" 😈
"Ayah kayak nggak pernah muda aja, dulu Ayah juga candu kan, sama tuh barang?" 🌹
"Sampai sekarang juga sih." Pak Bayang jujur mengakui ide Cantik sangat relate.
"Tapi Ayah pikir, sekarang lebih beradab, barang gitu ditinggalin dan dicap kuno sama mereka." 😈
"Siapa bilang, Yah? Sekarang malah lebih parah, nggak kayak zaman Ayah dulu." 🌹
Pak Bayang terpekur menimbang saran anak gadisnya. Detik-detik arloji jadi saksi, sebelum nafas membuncah sepi di Istana Kegelapan.
"Gimana, oke gas nggak?" Cantik nggak sabar menanti keputusan akhir.
"Ya udah, berangkat! Ayah tunggu kabar baiknya!" 😈
======
Udah sekitar sepekan Rein pulang lebih larut. El Hijab memang disibukkan side job barunya, di mana tuh cewek jadi volunteer buat jaga perpus sepulang kuliahnya.
Rein pun menebas aspal agar dapat tiba tepat waktu. Tapi dasar apes, jalan yang biasa ia lalui kini diportal tenda nikah dan memaksanya cari alternatif di lajur dua ruas tersebut.
"Ededeh, mau lewat mana lagi?" Rein mendesis gelisah, sambil meneliti maps yang kini dia kulik ulang.
Mata Rein pun menyipit saat ketemu jalan yang kira-kira cocok. El Hijab lantas kembali menyetir, namun kemudian...
"Ededeh, bilang perumahan, tapi gelap banget, lagi mati listrik kah ini?" 💜
Rein pun menyalakan lampu lebih terang, tapi nggak diduga sinar itu lampu nyasar terkena sejumlah lelaki yang kumpul di pendopo sekitar situ.
Rein jelas panik menghadapi situasi ini. Apalagi dari kejauhan, beberapa pemuda terlihat mendekat dengan wajah garang khas mereka.
"Maaf, Bang, nggak sengaja kita." 💜
"Ada bidadari nih, masuk wilayah kita." sambil sempoyongan, salah satu di antara mereka mengintimidasi lewat tatapan dan bicara. Bau alkohol amat santer, hingga El Hijab jadi agak risih dikitari cowok-cowok kumal tersebut .
"Neng mau kemana, masih sore udah balik aja." cowok di belakangnya, turut menyambung dan malah lebih rapat tubuh Rein.
"Mending ikut Abang, happy-happy kita di karaoke langganan Abang."
"Maaf nih, Bang, kita bukan nggak mau, saya udah ngantuk, mau balik ke rumah, tidur." Rein coba santun menolak lelaki itu.
"Duh, Neng, tidur nggak harus di rumah kali, kita bisa kok kasih tidur nyaman buat Neng."
"Yuk, Neng! Neng cantik deh." pemuda di dekat Rein kian nekad dan mulai mencolek molek El Hijab.
"Ededeh, apakah ini?" merasa dilecehkan, Rein menampik dan bikin mereka kaget serentak.
"Cantik-cantik galak juga si Neng." makin mesum, cowok itu justru tambah panas menggoda wanita anggun tersebut.
"Ayolah, kamu sendirian, kita bertujuh, nggak akan ada yang tolong kamu, pasrah aja mending." cowok pertama ikut meraba Rein, tapi El Hijab udah nggak tahan dan menyepak agresif biji vital tuh cowok.
Tuh serangan tentu bikin para jamet itu emosi. Perkelahian nggak bisa dielak, tapi El Hijab mengimbangi pakai bekal wushu yang ia punya.
'"STOP!!!" sepotong pekik tau-tau muncul diiringi letus sebuah pelor. Para pemabuk merasakan bahaya, dan meninggalkan lokasi dengan langkah sangat kocar-kacir.
"Kami tim intel Sektor Utara, saya Aiptu Rianti, komandan tim." sembari unjuk ID, orang-orang itu menghampiri Rein untuk cari tau kondisi yang terjadi.
"Saya hanya niat pulang aja, Bu, lewat sini karena jalan biasa ditutup buat orang nikahan." perlahan Rein menerangkan kronologi yang barusan ia alami.
"Tapi mereka tau-tau cegat saya, Bu, mau lecehin saya, dan kayaknya mereka habis pesta miras juga tuh." 💜
"Oh gitu," sang komandan seketika kode agar anggotanya langsung olah TKP.
"Kalau gitu lebih baik Mbak ikut dulu ke kantor! Kami perlu keterangan lebih untuk kepentingan penyelidikan."
Polwan itu lantas merangkul tubuh kecil Rein, dan menuntunnya masuk mobil yang dia serta tim bawa melintas.
======
Eran dan Elang bareng memasuki area kantor polisi. Mereka sepertinya dikabari Rein, dan berpacu dengan waktu menemui rekan hijab mereka tersebut.
Keduanya pun masuk beranda, dan mendapati Rein lagi di-BAP oleh sejumlah petugas di sana.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Elang, yang serta-merta Rein tanggapi gelengan.
"Nantulang?" berbeda dengan Elang, Eran malah terbawa oleh keberadaan Bu Rianti di antara anggota tim.
"Pangeran." balasan sang polwan seakan konfirmasi bahwa mereka memang udah saling kenal.
"Nggak sangkanya aku jumpa Nantulang di sini. Mana malam-malam pula." ❤️
"Apa kabar kau, Cok? Masih kuatnya kau kuliah hukum?"
Tali kasih itu jelas bikin Elang dan Rein heran berjama'ah. El Hijab pun sadar, logat Bu Rianti memang identik El Klimis selama interaksi di mobil tadi.
"Er, kamu kok malah reuni sih? Genduk gimana nih urusannya?" 💚
"Eh iya, sori, Lang." Eran nyengir saking kagok kelakuannya ditegur.
"Habis lama aku nggak jumpa tanteku ini, zaman kecil dulu, dibelikannya aku pistol-pistolan pas ultahku yang ke 10." ❤️
Elang nggak merespon, dan kasih kode kecil mengingatkan ada gadis yang perlu diurus.
"Udahlah, tunggu aja di lobi! Nanti kelar BAP, Nantulang antar teman kalian ini ke sana." Bu Rianti pun menetralisir, dan kasih win-win solution biar dua cowok ini nggak jadi adu batok.
Sementara di Istana Kegelapan, Pak Bayang tampak cerah mengamati portal. Beberapa menit Beliau habiskan dengan senyum, tapi kemudian...
"Ayah..." 🌹
"Hadeh, kamu bikin kaget Ayah aja." 😈
"Tapi senang kan, lihat hasilnya?" seraya sandar manja, Cantik bergegas menodong review Pak Bayang soal taktiknya.
"Kamu memang kesayangan Ayah, Nona Kecil, nggak sia-sia ilmu yang selama ini Ayah tularkan sama kamu." Pak Bayang mengelus rambut Cantik yang kini duduk di pangkuannya.
"Tapi lebih baik, kamu balik dulu ke kota. Ayah yakin bocil-bocil itu nggak tinggal diam sama kelakuanmu. Mereka pasti bertindak cepat atau lambat." 😈
"Ayah, manja-manja sebentar boleh kali." Cantik agak tantrum manjanya diinterupsi sang Ayah.
"Beresin dulu misimu, kalau udah, baru deh kita manja-manja berdua, oke?" 😈
Cantik merengut, namun nggak menolak rambut hitamnya dielus oleh Pak Bayang.
======
"Red label?" Rana terbelalak saat melihat merk botol temuan Rein. Para Riders kini hadir di markas utama, mengupas situasi yang dialami Rein sepulang part time tadi.
"Kamu yakin masuk gang senggol, Rein? Itu minuman elit lho, nggak mungkin anak gang bisa beli, apalagi sampai berbotol-botol kayak kamu tadi bilang." 💛
"Memang kamu pernah minum, Ran? Hafal banget." Elang agak curiga melihat wawasan Rana soal minuman.
"Ini bukan soal pernah apa nggak, Lang, tapi soal circle, Papa Mamaku juga punya relasi yang jual kayak gini, sedikit banyak aku tau kastanya." 💛
"Rana benar, Lang, beberapa keluargaku tukang minum juga, malah ada yang berat kali candunya." Eran memvalidasi info Rana itu.
"Tapi seumur-umur, belum pernah aku ketemu mereka minum red label, paling mewah amer pun, biasa malah tuak atau cap tikus." ❤️
"Jadi menurut Kak Eran, tuh miras ada sponsornya?" pertanyaan Dewi auto bikin semua mata tertuju padanya.
"Kali-kali aja, Kak, Dewi kan cuma tanya." 🤍
"Kada apa-apa, Dew, pertanyaan bagus kam." Juna langsung mendukung supaya mental Dewi nggak terjerembab.
"Terus terang Kak Juna tergelitik gara-gara kam, bisa jadi itu benar, ada pihak di belakang layar semua ini." 💙
"Tapi kalau Dewi benar, siapa pelakunya?" 💜
"Bah, pakai tanya pula kau," Eran seketika menyambar kepolosan Rein. "jelas geng busuk itu lah, siapa lagi?"
"Nggak perlu prasangka, Anak-anak, kita belum tau betul yang terjadi." El Mentor akhirnya turun menengahi adu argumen para Riders.
"Kembali ke sana! Lakukan penyamaran, dan intip semua aktivitas tuh gang." 🧝
Mahaguru lantas bangkit, dan menatap mereka seakan ada yang masih perlu ia sampaikan.
"Rein, kamu yang pimpin!" 🧝
"Ededeh, kok aku, Mahaguru?" Rein kaget mendengar dirinya didapuk El Mentor.
"Karena kamu korbannya, dan paling tau situasi di sana." 🧝
Keputusan yang bikin Rein melirik Riders, namun anggukan Elang kayaknya cukup untuk El Hijab berbulat tekad.


