Juna, Rana, dan Elang berpencar sesuai tugas. Si kuning dan si biru menerobos pabrik, sementara dari jauh, si hijau fokus mengawasi di balik drone yang ia rancang tembus pandang.
Earphone bluetooth juga terpasang demi jaga komunikasi satu sama lain. Nggak henti mereka koordinasi, seraya merayap mengintip jengkal demi jengkal tuh pabrik.
"Gimana, Manteman, ada yang aneh?" tanya Elang, sambil mengeker 2 rekannya di area krusial pabrik.
"Sejauh ini belum, semua masih wajar." Rana yang mengendap di belakang Juna, agak berbisik menjawab Elang.
"Kresek..." sepotong suara mengalihkan seketika Rana dan Juna di dalam.
Mereka pun beriring ke asal suara, dan kemudian...
"Biar rasa tuh bocil-bocil, terutama yang gondrong itu, berani banget bikin aku malu kemarin." Cindi tampak menyeringai, sambil menuang cairan dari botol milik Pak Bayang.
"Benar, Mbak-mbak itu pelakunya." 💙
"Ya udah kalau gitu..." Rana coba kasih ide, tapi dipotong Juna yang mengamati semua lebih dulu.
Keduanya pun memantau tindak-tanduk Cindi, tapi hal itu bikin mereka lengah dan kurang awas sama bahaya yang datang di belakang.
"Manteman, jam 6!" Elang yang sadar spontan teriak, dan direspon Rana oleh gerak cepat tubuh kecilnya. "Juna, AWAS!"
Benar aja, seekor monster todak tau-tau melontar ujung hidung ke arah mereka berdua. Untuk Rana lebih gesit, hingga dia dan Juna terlindung dengan perisai ganda andalannya.
"GDOMBRANG!!!" sejumlah kaleng serta-merta rubuh efek tertubruk dua Riders itu. Keributan bikin Cindi teralih, dan paham ada pihak lain tengah mengusik aktivitas dia di sana.
"Kalian rupanya." 👠
"Biadab, harusnya kamu tanggung jawab dan minta maaf ke warga yang kamu rugikan." Rana kontan mencak-mencak, seraya menahan nyeri akibat jatuh di rak kaleng tadi.
"Minta maaf?" Cindi menanggapi sinis amukan si kuning.
"Harusnya teman kalian yang gondrong itu yang minta maaf, udah bikin malu aku hari itu." 👠
"Elang nggak salah apa-apa ke kam, kam yang bikin malu diri sendiri taulah." 💙
"BACOT, Todak!!!" seruan Cindi disambut sang monster dengan lontaran kedua buat mereka.
"My God, bahaya nih." Elang auto inisiatif, tapi tiba-tiba...
"Aaaaaaakh..." 💚
Sementara di dalam, Juna dan Rana terlibat duel dengan todak sang seteru mereka. Dan meski melumpuhkan tuh monster dalam waktu singkat, mereka tetap mode waspada dan pasang kuda-kuda di depan Cindi yang masih kalem.
"Rupanya benar saudara-saudaraku, joulie berdua nggak bisa diremehkan." 👠
Cindi lantas bertepuk tiga kali, dan di luar dugaan, 3 hidung todak melesat menjepit tubuh Juna dan Rana di tembok.
"Tapi kalian lupa, dalam sekaleng sarden, selalu ada 4 ekor ikan." 👠
Cindi tertawa lepas, didampingi pasukan todak yang kini mengapitnya di kanan kiri.
======
Juna dan Rana malah tersandera Cindi di dalam. Tubuh mereka balik normal lagi, dan tertahan di satu tiang dengan kondisi terikat serta mulut tersumpal lakban.
"Ternyata mudah jebak kalian, harusnya dari dulu aku turun tangan bantuin Ayah." Cindi puas melihat kedua tangkapannya nggak berdaya.
"Memang aku yang bikin ini semua, aku yang racuni warga, aku juga yang gosok biar mereka benci kalian." 👠
Juna dan Rana tampak ingin bicara, tapi lakban menghalangi hingga mereka hanya bisa menatap geram.
"Kenapa? Keluarin aja." lanjut Cindi lagi, tentu dengan niat meledek ke Riders yang kini ia culik.
"Kalian tau terlalu banyak, nggak bisa aku biarin." 👠
Cindi lalu berkode ke seluruh todak, tapi belum sempat keduanya dieksekusi...
"BLETAK, DUAAARR..." satu benda asing melayang tiba-tiba menghambur badan empat monster itu.
Benda itu lalu balik arah, yang rupanya palu godam Rein yang kini hadir di mode Riders Ungunya.
Rein nggak sendiri di sana, karena Eran dan Dewi turut menyandingnya di deret kiri barisan Riders.
Di belakang mereka, kabut tebal menutup sebagian ruang yang mereka lewati. Dan saat asap mulai reda, sosok yang dicari Cindi tersibak berdiri memutar nunchaku andalannya.
"Maumu apa? Aku minta maaf?" tanya Elang datar, tapi disusul sabet nunchaku ke arah salah satu todak.
"Manteman, ayo!" 💚
Suasana pun chaos seiring aksi Riders untuk ajakan Elang. Duel berlangsung seimbang satu sama lain, di mana mereka berhadapan dengan satu todak sambil mencari celah di tali ikat Juna dan Rana.
"Dewi, mainkan karambit kau!" Eran yang melihat Dewi udah beres, seketika kasih instruksi minta tuh anak pakai senjatanya.
"Iya, Kak." Dewi mengangguk, dan segera melempar karambit ke tali pengekang itu. "Ctas..."
"Kam nggak apa-apa?" tanya Juna, yang hanya dijawab Rana pakai gelengan.49Please respect copyright.PENANAsiNxBhvtOP
Keduanya pun transformasi lagi, dan langsung membantu Riders menghabisi todak yang mulai habis daya.
"Hup..." nunchaku Elang mengikat empat monster yang kini pada tumbang.
Eran lantas menebas semua hidung todak, dan dalam sekali bidik, panah Juna menamatkan hidup seluruh jasad lumpuh tersebut.
"Maaf." Elang menutup aksi, dan berucap ke Cindi usai seluruh kekacauan reda.
======
Suasana kampung berangsur kondusif pasca sabotase pabrik. Om Brian yang sempat ragu pun, berkat lobi El Pirang, akhirnya bersedia investasi di sana dalam waktu dekat.
Papa Rana sendiri menepati janji untuk tanggung jawab pada seluruh korban. Dibantu sejumlah relasi bisnisnya, lelaki itu memindahkan para korban ke rumah sakit yang lebih memadai.
Ortu Rana pun mampir ke rumah Juna usai semua urusan beres. Bareng teman-teman putrinya, mereka semua berbicara hangat ditemani dua piring sarden karya tangan para gadis Riders.
"Gimana, Om, Tan? Enak sarden kita?" Rein yang memang paling aktif di dapur, terang kepo mau tau review ortu Rana.
"Maknyus banget, Nak Rein, bumbunya resap, kena di lidah Om."
"Iya, Nak, ini bikin Tante ingat pas kost di London dulu, pas seumur kalian." Mama Rana menimpal, sambil terus melahap si ikan kaleng tanpa gengsi di depan para Riders.
"Oh ya, Jun," Papa Rana lagi-lagi mencari Juna. "Kapan mulai beresin pabrik kita?"
"Mungkin 3-4 hari lagi lah Om, biar olah TKP beres dulu." wajar Juna jawab gitu, kasus yang baru kelar ini, memang bukan kasus ecek-ecek yang bisa selesai dalam waktu singkat.
"Lagipula, saya masih tunggu kabar, Om, dari teman-temannya Rein, mereka bilang mau ikut bantu, biar perbaikan lebih cepat lagi." 💙
"Maksudnya? Papa Rana terang melirik Juna dan Rein bergiliran.
"Sesekali kasih andil buat ortunya teman tegaga salah tho? Lagipula saya suka ikan, Om, tentu saya senang kalau bisa andil sesuatu buat Om Cahya punya pabrik." 💜
"Nek jenengan perlu, Om, saya siap bantu juga, Om tau kan reputasi Jawa? Urusan kuli mengkuli, kami jagonya." meski narsis, sambaran Elang tentu bikin ortu Rana terpana dengan soliditas kompatriot sang putri.
"Om bahagia kalian sekompak ini, Om lega Rana dapat circle kayak kalian, kalian bhinneka yang sebenarnya. Tolong dijaga!"
Mereka menikmati santap sarden lagi, diiringi matahari yang genit berlenggok ke barat.
***
ns216.73.216.69da2


