Suasana beda terlihat di rumah Juna. El Cepak yang biasanya mengisi sore dengan mancing, nggak tumben-tumbenan ada di rumah dalam kondisi segar usai mandi.
Dirinya pun mematut cermin, kemudian keluar menghampiri Dita yang menyetrika di ruang depan tuh rumah.
"Kemeja Kakak udah belum, Dit?" 💙
"Sabar, Kak, punya Yana dulu nih." ujar Dita sambil fokus bolak-balik baju anak yang ia tengah gosok.
"Memang Kakak mau ke mana sih? Buru-buru banget minta kemeja."
"Kakak belum cerita ya, sore ini mau ada tamu?" ucapan Juna serta-merta bikin Dita memicing.
"Tamu? Siapa, Kak?" Juna nggak sempat jawab, karena ponselnya tiba-tiba bunyi memaksa ia menjauh dari sang adik.
Sekitar 3 menit terpisah kesibukan, dan tau-tau Juna kian tergopoh menghampiri Dita di titik yang sama.
"Dit, buruan dong! Mereka udah di gang depan tuh." 💙
"Nih!" Dita pun menyerahkan kemeja yang udah ia setrika rapi.
"Dita udah nebak, pasti yang call itu tamu, makanya Dita duluin nih kemeja."
Juna pun balik ke kamar, dan bergegas keluar begitu penampilannya dirasa telah memuaskan.
"Tin tin..." Juna langsung sumringah ke arah mobil yang parkir di depan rumahnya.
"Om Cahya." ternyata Papa Rana-lah tamu Juna itu.
"Gimana pabrik? Aman?" tanya Papa Rana sambil tangannya dicium Juna. Beliau sendiri ditemani putri tunggalnya, dan lelaki seumurnya yang tampak sipit kayak Beliau.
"Puji Tuhan, Om, sejauh ini aman." Juna berusaha keep smile, walau rada nggak nyaman akibat sisa lengket gosokan di kemeja.
"Oh ya, kenalin, kawan Om dari Surabaya."
Juna mengulurkan tangan, dan langsung tau nama tuh orang Brian Halim Candra Wijaya.
"Om Brian ini, Jun, rencana mau invest di pabrik Papa, itu lho, yang selama ini kamu urus." sambung Rana menjelaskan tujuan kedatangan ramai-ramai mereka.
"Oh gitu, ya udah, kita bahas di dalam aja. Yuk!" 💙
Juna pun memandu, dan memanggil Dita untuk kasih mereka sedikit suguhan.
======
Suasana beda juga ada di Istana Kegelapan. Jika biasanya ramai oleh bawel Cantik, kini justru Imaji yang uring-uringan sambil sesekali garuk otot di badannya.
"Maaf, Ji, Mbak nggak tau kamu alergi ikan laut." Cindi merasa bersalah melihat tubuh Aji penuh ruam.
"Lagian Mbak sih, masak nggak tanya dulu, lihat kulit Aji merah gini. Hilang deh ganteng Aji."🥊
"Sejak kapan kamu ganteng? Brengosan kok ngaku ganteng." Cantik nimbrung, dan meledek Aji yang wajahnya cukup penuh bulu.
"Ya deh, nggak lagi Mbak masakin kamu ikan laut." 👠
"Aji sakit, Ayah jadi bingung mau bikin apa di kota." 😈
"Rencana apaan, Yah?" Cantik kontan cari tau isi kepala sang Ayah.
Pak Bayang menjentikkan jari, dan terlihat kampung Juna dari portal sinar. "Lihat itu!"
"Itu pabrik keluarga bocil kuning, dan dikelola bocil biru, Ayah mau kerjai mereka di sana." 😈
"Maksud Ayah?" 🌹
"Tadinya Ayah rencana Aji bikin monster buat mengacau tuh pabrik, tapi lihat situasi sekarang, harus ada plan B." 😈
Pak Bayang lalu menatap Cindi. "Kemari kamu!"
"Tabur ini ke sarden pabrik itu! Besok kita temui kejutannya." 😈
"Apa ini, Yah?" Cindi jelas bingung dengan botol yang ia terima.
"Hanya obat," seringai Pak Bayang tentu mengisyaratkan ucapannya nggak 100% benar. "obat untuk Imaji."
"Maksud Ayah?" saking kagetnya, Imaji sampai lupa gatal yang dia derita.
"Kamu istirahat aja, biar Mbakmu yang kasih beres ini semua." 😈
Pak Bayang melirik Cindi lagi usai tuntas omongan.
"Berangkat!" 😈
======
Rombongan Kirana mengunjungi pabrik 2 hari berselang. Om Brian dan Papa Rana tampak antusias, dan banyak cengkrama selama berkeliling ke tiap sudut pabrik.
Juna sendiri menyampingi El Pirang di belakang para bapak yang asyik ngobrol. Tapi saat mau pulang dari pabrik, empat orang itu dibuat heran oleh massa yang membludak kayak melakukan unjuk rasa di depan pagar utama.
"Siapa mereka?" Papa Rana terang heran mendapati ratusan massa menyesaki pabriknya.
"Entah, Om, tapi kayaknya warga sini juga deh." sahut Juna, walau sekedar menerka sambil menghampiri tuh kerumunan.
"Juna, Jun," Rana coba mencegah, namun telat karena El Cepak kadung melangkah.
Mereka pun mengamati Juna dari jauh, tapi belum lima belas menit...
"Rana, temani Papa! Papa mau lihat yang terjadi."
"Papa..." Rana tambah cemas Papanya juga ketularan Juna.
"Come on!" sambung Papa Rana, yang kontan bikin El Pirang takluk menuruti cinta pertamanya itu.
"KAMI MINTA GANTI RUGI! PABRIK BIKIN HAJAT HIDUP WARGA TERGANGGU!' orasi liar terdengar saat Rana dan Papanya telah rapat.
"Ada apa ini?" Papa Rana kontan bertanya demi mencari penjelasan Juna saat itu juga.
"Tau, Om, mereka tiba-tiba protes soal pabrik." 💙
"Kok bisa?" Rana nggak bisa lagi bendung kaget.
"Kalau gitu biar Om yang maju, kalian tunggu di belakang!"
Papa Rana menghadapi para demonstran, meninggalkan Juna dan Rana yang jelas cemas dengan keselamatan Beliau.
"Saya udah di sini, sekarang sampaikan ada apa!"
"Koh, asal Engkoh tau, gara-gara sarden nih pabrik, anak-anak kita pada kena gatal-gatal, beberapa dari mereka bahkan harus nginap di rumah sakit."
Riuh rendah spontan menggema begitu bapak tadi tuntas bicara. Di sisi lain, Juna dan Rana kaget bareng sama aspirasi yang terlihat jujur itu.
"Kok bisa, Jun?" 💛
"Tau, 2 hari lalu masih baik-baik aja deh." 💙
"Oke oke," Papa Rana tetap fokus melihat mata demonstran.
"Saya akan tanggung jawab dan ganti semua kerugian yang kalian derita, saya akan evaluasi juga pabrik saya, mungkin dalam waktu dekat kita dapat jawabannya."
Papa Rana memang orang kharismatik, dalam sekali omong, Beliau sukses bikin semua mulut terbungkam.
"Eh, Jun, jangan-jangan..." 💛
"Mungkin juga, Ran," Juna kayaknya ngerti isi dalam kepala Rana.
"Tapi di situasi gini, kita nggak bisa solo fighting. Mending ke Mahaguru aja, kita diskusiin apa yang mesti kita perbuat." 💙
Rana mengangguk dan angkat jempol.
======
Situasi jadi kacau sepulang demonstran. Om Brian ragu menanam modal ke pabrik, Juna yang dapat teguran keras dari Papa Rana, jadi semacam insiden berantai yang kini memusingkan kepala El Pirang.
Mahaguru pun jadi solusi untuk problema yang sedang mereka hadapi. Ditemani para Riders yang juga hadir, dua anak muda ini cerita tanpa secuilpun ditutup di depan El Mentor.
"Tapi aku yakin banget, Mahaguru, Juna nggak ada kaitan sama ini. Aku yakin dia cuma korban dari pihak-pihak tertentu, yang nggak suka pabrik Papaku di sana." 💛
"Aku sependapat, Ito, aku bahkan yakin geng busuk satu itu dalang sebenarnya." timpal Pangeran blak-blakan menunjuk hidung rival utama mereka.
"Mereka sabotase pabrik Papa kau, lalu adu domba agar semua membenci Juna. Termasuk Papa kau juga." ❤️
"Ededeh, jahat banget kalau dugaanmu benar." Rein geleng-geleng menanggapi analisa rekan necisnya.
"Nggak perlu berprasangka, anak-anak, buktiin aja." 🧝
Mata Elang tau-tau jadi target Mahaguru.
"Kalau nggak salah, kamu ahli drone kan?" 🧝
"Iya, Mahaguru," sahut Elang menanggapi pertanyaan El Mentor.
"Bawa itu, pasang spycam di dalamnya! Intip kondisi pabrik dari jauh!" 🧝
Mahaguru Dewa pun berpaling, gantian melirik Juna dan Rana.
"Kalian menyusup dalam pabrik! Cek apa aja yang beda di sana! Aku rasa Pangeran benar, Dinasti Kegelapan ada di balik ini semua." 🧝
"Terus kita?" 🤍
"Tenang, kalian juga ada porsi, tapi bukan sekarang." Mahaguru lebih detil merincikan pembagian tugas ke Dewi.
Elang, Juna, dan Rana pun transformasi, siap kerja sesuai arahan dari El Mentor.
***
ns216.73.216.69da2


