Para Riders langsung menyebar begitu sampai rest room mall. Para gadis masuk ruang toilet, sementara para lelaki berjaga di luar kalau-kalau di dalam terjadi apa-apa.
Suasana yang cukup ramai bikin Rangers lebih hati-hati dan berusaha natural demi menghindari keributan. Trio cewek sendiri berpencar, tapi mata mereka tetap kontak satu sama lain memastikan situasi aman terkendali.
"Ki yakin kah kaca ini?" bisik Rein seraya tipis-tipis merapat ke Rana.
"Aku lihat pakai mata kepalaku sendiri, Rein, Dini terisap dalam sini." Rana agak kurang terima kalimat Rein yang terkesan meragukannya.
"Tanya Komang kalau nggak percaya." 💛
"Ededeh, kita kan cuma tanya." 💜
"Kakak..." Dewi yang muncul dari kloset, tiba-tiba muncul menyetop pertengkaran Rana dan Rein.
"Udah ketemu celahnya?" 🤍
"Belum." Rana dan Rein koor ketus pada Dewi. Kasihan El Kuncir.
Dewi pun menempelkan jarinya, tapi tiba-tiba...
"Aaakh..." satu perempuan muda tersedot usai melakukan swafoto di depan cermin.
Keramaian kontan chaos usai kejadian. Semua pengunjung berhambur ke luar, hingga terlihat para cowok di sisi samping toilet khusus cowok.
Mereka pun menyusul masuk toilet, dan langsung kaget alang kepalang karena para gadis kini turut terisap dan lumayan struggle melepaskan diri.
Para cowok pun melesat menarik trio cewek dari jebakan cermin tersebut. Tapi sekuatnya Juna tarik Rana, Eran tarik Dewi, serta Elang tarik Rein, mereka tetap nggak kuasa dan mampir di bukit batas kota usai terisap masuk cermin.
"Ah, yang ditunggu, selamat datang, bocil-bocil." seperti biasa, Cantik menyambut para Riders dengan nada genit khasnya.
"Di mana kamu kurung mereka, cewek-cewek nggak berdosa itu?" Rana langsung menyentak.
"Tenang, mereka aman, tuh." 🌹
Volt Riders melihat puncak, dan seketika kaget menyaksikan korban dikurung bedol desa dalam satu kerangkeng besi raksasa.
"Kau apakan mereka?" ❤️
"Apakan apanya sih, Ganteng? Mereka cuma kita amanin kok." Cantik masih kalem membalas gertakan El Klimis.
"Amanin untuk kepentinganmu, gitu?" 💚
"Ededeh, kita bukan bocah polos, jangan ki tipu kita kodong." El Hijab menambah pancingan yang dikasih El Gondrong.
"Hihihi, kalian tau aja," Cantik pun jentik jari saat itu juga. "Kuyuk!" 🌹
Semua Riders seketika bersikap, dan transformasi dipimpin Eran selaku leader.
======
Para Rangers masih begitu tangguh buat para anjing Dinasti Kegelapan. Nggak lebih lima menit, mereka terlihat superior melumpuhkan kuyuk di tempat panas itu.
"Hihi, harus kuakui kalian memang bukan sembarang bocil." Cantik tetap keep smile walau kuyuk-nya kini lumpuh total.
"Tapi apa kalian sanggup kalahin karya terbaru Aji?" 🌹
Cantik jentik jari lagi, sambil agak teriak memanggil nama adik lelakinya itu.
Aji pun muncul, bareng seekor monster lintah menemani di sisi kerangkeng atas.
Para Riders kontan naik bukit untuk adu kuat. Menerobos kuyuk penjaga kurungan, mereka pun tiba dan pertarungan nggak mampu lagi dielak.
Permainan sendiri dibagi dua. Elang, Rana, dan Eran melawan Aji, sementara Rein, Juna, dan Dewi, gotong royong menghadapi monster ciptaan El Otot.
Sebisa mungkin Riders menyudahi duel, namun kekuatan kedua lawannya benar-benar tangguh hingga bikin mereka agak kerepotan.
"Aaaaaakh..." serangan serempak tanpa ampun menjungkal Riders ke lereng bukit.
"Udah tau kan?" sinis Aji seraya terkekeh melihat Riders berhambur ke tanah.
"Gadis-gadis ini bakal dibersihin lintahku. Darah mereka bakal dikuras habis, dan mereka bakal jadi zombie tanpa sedikit pun sakit serta emosi." 🥊
Riders geram dengan nada meremehkan Aji. Terlebih Rana, yang tentu nggak terima rekannya kini ada di ambang siksa.
"Dan jujur aku senang kalian datang. Artinya pas mereka jadi zombie, kita nggak perlu jauh-jauh cariin mangsa buat mereka, hahaha." 🥊
"Aji, jangan lama-lama pidatonya! Udah terik nih, bedak Kakak luntur kalau kamu kebanyakan bacot." 🌹
Sekilas nggak ada yang salah dari mulut Cantik. Tapi Kirana yang mendengar, tiba-tiba menoleh seakan ada ide terlintas di dalam pikirannya.
"Kam kenapa, Ran?" Juna tampak sadar perubahan tingkah laku drastis si kuning.
"Nggak, cuma lihat sinar kemenangan aja." jawab Rana, sambil bangkit dengan tatapan sedikit lebih tajam.
"Ito, mau apa kau?" Eran menghadang, namun Rana bergeming dan menghampiri lawannya di puncak.
Si kuning lantas mengeluarkan perisai andalan, dan mengarahkan tuh benda ke mentari hingga cahaya memantul kena Aji berikut lintah buatannya.
Semua mata auto silau oleh pantul sinar perisai Rana. Aji sendiri secara pengecut terjun, meninggalkan si lintah membatu kena panas senjata si kuning. "DUAR..."
Para Riders pun menyusul Rana, gitu juga Cantik yang jadi muram durja ke Aji.
"Kamu gimana sih? Bukan bantu malah lari, laki cemen." 🌹
"Gimana, Kak? Gerah banget. Daripada Aji gosong?"
"Udahlah, bikin malu aja!" walau sambil ngomel, Cantik tetap bawa Aji hilang dari bukit favorit mereka itu.
Riders sendiri melepaskan para korban. Rana pun memanfaatkan maksimal, dan langsung mendekap Dini yang trauma hebat begitu ketemu di antara tawanan.
"Tenang, udah aman, jangan nangis lagi!" tukas Rana, yang disambut angguk walau Dini masih sesenggukan.
======
Riders streaming seminar Rana dari layar ponsel Juna. Kelimanya berdecak kagum, karena El Pirang terlihat luwes berbicara dampak efek rumah kaca buat kehidupan seluruh bumi.
Mereka pun ikut standing usai Rana kelar presentasi. Senyum merekah di bibir para Riders, melihat El Pirang kini naik level dan dikenal sebagai aktivis lingkungan kritis di kota.
"Gimana 'Ito'ku? Keren kan?" tanpa basa-basi, Eran mengklaim Rana di depan para Riders.
"Dih, ngaku-ngaku, Rana tuh dekat sama aku, Er ai, dia kalau ada apa-apa curhat ke aku, taulah." 💙
"Kakak berdua ini apa sih? Udah jelas Kak Rana kakak Dewi, pakai debat segala." ujar Dewi telak, tapi karena posisinya di antara Juna dan Eran, kuncir tuh anak auto kusut dirujak dua kakak lelakinya itu.
Sementara di lokasi seminar...
"Bestie, selamat ya!" Komang langsung memeluk begitu Rana masuk ruang ganti. "Bangga deh sama kamu."
"Iya, makasih support-nya ya, Mang, aku sendiri nggak sangka lho, pesertanya sebanyak itu." 💛
Mereka lalu menatap pojokan, di mana Dini tampak murung tanpa ekspresi apa-apa di wajahnya.
"Dari tadi dia tuh, diam aja kayak ogoh-ogoh."
Rana pun menghampiri Dini, diiringi Komang yang mengekor dari belakang.
"Din," sesuai harapan Rana, Dini perlahan mengangkat wajah.
"Kok diam aja sih? Masih trauma insiden kemarin?" 💛
Dini masih diam, namun kepekaan Rana, gampang menebak sorot mengiyakan tuh cewek.
"Nggak usah khawatir, selama ada kita, kamu terlindungi kok." Rana pun memeluk Dini demi menenangkan hatinya.
"Kita kan bestie, apapun yang terjadi kita wajib saling jaga, kita ada di sampingmu kok sampai kapanpun, percaya deh." 💛
Dini belum mau bicara, tapi sikap angkat wajah ditangkap sebagai satu kemajuan usaha Rana.
"Uh, thayank, sini-sini, kita pelukan," Rana pun mengajak berpelukan sembari bangkit dari kursi yang mereka duduki.
"Pokoknya kita harus terus gini sampai tua ya! Jangan sampai pisah apapun yang terjadi, oke?" 💛
Rana, Dini, dan Komang, berpelukan lagi satu sama lain.
***
ns216.73.216.69da2


